PUJAKU Mayang

PUJAKU Mayang
Dunia Maya-ng


__ADS_3

Mayang, kau membuatku mabuk kepayang, kau terbangkan pikiran dan asa ku melayang, tak jarang mulut ini mengerang saat melihat dirimu melenggang.


“Mayang lagi." teruslah kau menari bergeraklah tanpa henti, jangan biarkan tidurku di hampiri mimpi, karna aku lebih menikmati, kenyataan yang pasti ini.


“Mayang teruslah." jangan kau berpura-pura lelah, aku tau kau bukan wanita lemah, hujam lah, hujam terus tubuh ini, bergerak lah jangan berhenti, setiap ditik kenikmatan ini slaluku nanti, kan ku ingat ini, untukku ulangi dalam mimpi.


“Mas … Mas, Mas!”


“Iya, May-ang?”


“Ini mas minuman nya, tadi mas pesen minuman aki-aki jenggot putihkan?”


Owh rupanya pelayan di clube. 'Jangkreek!'


“Liatin mba Mayang ya Mas? Hehe.”


“Heum.”


“Mba Mayang mantep ya Mas?”


“Iya.”


“Tapi mba Mayang tarifnya mahal Mas. Mending sama yang lain deh, masih banyak ko yang sama mantep nya sama mba Mayang. hehe."


“Mayang mahal?”


“Wah Mas nya, pengunjung baru ya? Kalau langganan Mba Mayang kesini, itu mereka naek mobil-mobil mewah mas … malahan ada orang penting yang sering nyamperin mba Mayang.”


Apakah itu alasan Mayang tidak mau menerima uangku? Dan marah karena tidak sesuai dengan harga yang biasa ia dapat, lalu dia merasa dihina olehku, sebab itu dia menamparku, astaga aku benar-benar tidak tau kalau tarif yang Mayang tentukan sangat mahal. Aku harus menjelaskan kepada mayang.


“Mas, nama Mas siapa?”


“Nama ku Rudi. Mas nya siapa?”


“Arjuna Iskandar, minta nomor ponsel mu boleh?”


Rudi pun memberikan nomor ponselnya kepadaku, aku membutuhkan orang dalam, sepertinya Rudi banyak mngetahui soal keseharian Mayang. Aku juga ingin mengetahui informasi apa saja yang Rudi tau tentang Mayang,


*****


Entah sudah berapa tegukan anggur ku minum, sambil menunggu saat yang tepat untuk bergantian *******. satu, dua dan tiga. Sekarang mungkin sudah ke tujuh kalinya ia digandeng lagi, lagi dan lagi. Geram rasa hatiku melihat seorang bidadari sedang melakukan dosa, bersama 4nj1n9 liar yang haus akan gairah, dan wanita itu, slalu bisa membuat dahaga mereka hilang.

__ADS_1


Memandangmu dari kejauhan sudah luar biasa, batinku berdesir tak mengenal waktu.


Membeku diriku, tak bergeming bagai batu


"Haah … apa yang telah kau lakukan padaku?”


Aku tidak pernah letih terdiam, menjadi pengagummu dari belakang. langit mendung sedang berdiskusi, gerimis yang jatuh sore ini adalah rintikan rindu yang menyapa kehadiranmu di bumi. jadi, jangan berteduh dan biarkan tubuhmu terbasahkan hujan. Malam ini, kupeluk angin rindu yang berlalu, Tersaji secangkir anggur perasan pilu,


'Kenapa ada lengkung senyummu di sudut meja pantulan gelas?'


Kau melenggak, aku terpikat. Tubuhmu bergerak bebas mengikuti irama dunia. Matamu terpejam, kepalamu tidak diam, geleng ke kanan geleng ke kiri terkadang kau meloncat, membuat sesuatu terguncang-guncang.


'hay Mayang, malam ini jangan harap kau bisa menghindariku dan sobat kecil ini.'


Malam semakin larut, tapi rasaku tak kunjung ciut, semakin lama semakin kalut.


Kepalaku mulai didera pengar, hasrat kian lapar. Menatap sang pramuria yang sekali lagi sedang digandeng seorang pria.


Aku sudah tak sabar lagi dan beranjak dari tempatku duduk, menghampiri keberadaan mayang yang sedang dalam pelukan orang. ‘Tenang saja, akan ku buat adgean ini serapih mungkin.’


Bruuk .…


“kamu ini, kalau jalan mata itu di pake juga jangan cuma ngandelin dengkul!”


Pria tua yang hendak membawa Mayang kutabrak, dan kutumpahkan minuman ke bajunya. Dia langsung memaki, mencerca dengan berbagai kata.


‘Astaga, aku harus sampai membiarkan diriku di hujat pri tua Bangka ini.’


“Maaf Tuan, saya benar-benar tidak sengaja.”


“Maaf, maaf. Kamu piker ini baju murah! Sial Aku harus segera menggati baju!”


Pria tua itu berlalu pergi, meninggalkan mayang sendiri. Aku merasakan seseorang sedari tadi sedang memandangiku dengan tatapan tajam.


“Kamu lagi … ngapain kamu kesini lagi! Kamu udah menganggu pekerjaan aku!”


“Maaf may aku ga sengaja,”


Mayang tak menghiraukan ucapanku, dan berlalu pergi.


'Hay nona manis, kau membuatku teriris saat sapaku tak kau gubris.’

__ADS_1


Tap kali ini tdak akan terjadi, apa kau mau meninggalkan kuseniri lagi? Tidak bisa nona. Aku menjangkau tangan mayang, aku menariknya dan mendekapnya dalam pelukan. Aku sudah tak sanggup lagi mengontrol kewarasanku. Ku serahkan kisah selanjutnya kepada nona hawa dan tuan nafsu.


“Mayang, kau yang memaksaku begini. Jadi kau harus pergi bersamaku.”


“Apa yang kau lakukan?”


“kyaaa .…”


Aku mengendong tubuh mayang, posisinya seperti karung beras yang di bawa para kuli di pasar. ‘aku sudah gila.’ Aku membawa mayang ke kamar paling atas, satu persatu anak tangga ku naiki. Aku hanya ingin membawa mayang ketempat yang jauh dari suara bising di dalam clube dan selama suara bising itu terdengar aku akan terus berjalan.


“Hey, cepat turunkan aku! Kau sudah gila ya? Aku tau kau mabuk, tapi ini sudah keterlaluan! Kuperingtkan sekali lagi. Cepaat turunkan aku!”


Aku tak memperdulikan perkataan mayang ataupun ancamannya. Terserah dia mau memaki-makiku, aku tak peduli.


Satu, dua dan sekarang tiga. Entah berapakamar kosong sudah kulewati, tapi suara bising itu masih saja bisa kudengar. Dan hingga akhirnya menemukan juga kamar yang tak bisa dicapai oleh si pengganggu telinga.


Braakk ....


Tindakanku sekarang sudah amat brutal.


'Laah ... ku kira pintu ini di kunci, knapa harus kutendang!'


"Arjuna, cepat lepaskan aku! kau sudah gila ya!"


"Arjuna? jadi benar dugaanku, kau memang mengenalku! tapi maaf ... sekarang aku sudah mnjadi Duryudana, pemimpin para Kurawa ... hahaha."


Aku benar-benar sudah tak waras, pikiran yang dipupuk emosi, dan disirami cemburu sedari tadi, kini berbuah nafsu.


'Aku akan menghukum dirimu Mayang. Dasar nakal.'


Kulemparkan Mayang ke atas ranjang. Suara nya memekik kecil, karna ke sakitan mungkin. Dia menatap ku dengan matanya yang sayu


"Ada apa dengan wajahmu? Mengapa hanya kepadaku kau tunjukan matamu yang sayu?"


Aku terus saja berbicara, sambil membuka kancing baju ku satu persatu. Sedangkan Mayang hanya menyilangkan tangan di dadanya. 'Apakah itu isyarat penolakan atas tindakan yang akan ku lakukan? Ayolah Mayang, itu tidak akan berhasil.' dengan senyuman jahat dan otak yang terlanjur keruh, karena anggur dan harapan yang semula terancam akan gugur.


Kini tak ada sehelai benangpun yang menempel dari ujung rambut sampai bawah kakiku. Sambil perlahan mendekatkan jarakku dengan Mayang dan berkata.


"Jangan panggil aku Arjuna, jika tak bisa membuatmu terkulai lemas malam ini. Diam jangan berontak, bantulah aku untuk menuju puncak. Bawalah aku melayang ke dunia mu Mayang."


BERSAMBUNG.

__ADS_1


__ADS_2