PUJAKU Mayang

PUJAKU Mayang
Salah Paham


__ADS_3

Dalam hening malam mata itu memantulkan sinar rembulan, dengan ribuan bintang menghiasi tiap kerlingan. Namun ada kehampaan dalam raut wajah itu, indah mata tak memancarkan kebahagiaan dan lengkung senyuman yang sama indah dengan bulan sabit tak terbentuk kala malam menjelang.


Aku mendadak menjelma pujangga yang merangkai aksara demi menggambarkan wujud indah parasnya, agar terbaca oleh semua mata dan bersama memuji indah wajah itu, berharap akan senyum indah tercipta dalam raut si jelita.


Namun kegagagalan yang sama kembali kurasa, sedikitpun bibir itu tak tergetar oleh rayuanku. Kembali kucoba dan gagal lagi, dia cukup tangguh untukku usik dia terlalu kuat untuk menahan dera godaan, atau aku yang tak bisa mencipta tawa di tipis bibirnya.


Jika pujangga tak bisa mengukir senyuman dengan rayuan, jika penyair tak bisa membuat tersipu dengan rangkaian nada-nada indah. Maka aku akan memakai baju dengan beragam warna dan corak dengan segenggam mawar di tangan dan bermulut komedi bercerita tentang semua yang tidak ada, hanya demi membuatmu tertawa.


Kerlingan mata Hasta.


Dari jauh kuperhatikan dia berjalan dengan irama ketukan tongkat, mengetuk-ngetuk tanah sembari mencari arah. Mata indah itu terbingkai kaca hitam bukan dengan maksud menyembunyikan kerlingan indah matanya. Namun, pandangan itu tak bisa lagi memampah langkah mencari arah.


Bukan pandangannya yang membuat asa dalam hatinya putus. Namun, karena didera derita pahitnya kenangan semasa hidup, membuat ia lebih nyaman dalam kegelapan. Ke dua orang tua yang menjadi musabab terlahir di dunia harus meregang nyawa di depan kedua matanya. Akibat dari perbuatan iblis berkulit manusia berahlak biadab dengan tega dan tanpa ragu mengukir sejarah tragis dalam suratan takdirnya.


Sekitar satu tahun yang lalu bersamaan dengan awal kebutaan peristiwa terperih itu terjadi, kemalangan menimpah satu keluarga harmonis. Di dalam keheningan malam para manusia berjiwa kelam memaksa masuk ke dalam kediaman keluarga harmonis, menjarah tiap harta yang ada, meniadakan nyawa dalam tiap raga tak berdosa.


Si jelitapun tak hanya kehilangan keluarga tercintanya, penglihatan dan kesuciannya harus direnggut paksa oleh para penjarah harta. Para manusia biadab itu tak merasa cukup dengan hanya menjarah harta dan nyawa kedua orang tuanya, hingga sang Juita menjadi pelampiasan hasrat birahi mereka dan dengan brutal menggilir tubuh moleknya.


Hingga pagi hari rumahnya didatangi oleh para tetangga dan menemukan wanita itu dengan kondisi mengenaskan, kelamin juga kepala penuh darah serta tubuh tak tertutup sehelai benang pun. Setelah dirawat, pihak rumah sakit memberi tahu bahwa ia mengalami kebutaan akibat cedera di kepala yang merusak saraf penglihatannya.


Ironisnya pada malam kejadian itu menurut para saksi sempat mendengar bahkan melihat kejadian tersebut. Namun, Karena merasa takut kepada para perampok, mereka


hanya berdiam diri dan berusaha tidak memperdulikan teriakan minta tolong gadis malang itu. Itulah kisah yang kudengar dari seorang perawat rumah sakit jiwa di tempat perempuan malang bernama Hasta dirawat.


Miris hatiku mendengar kisah pilu wanita malang itu, wajah indahnya tak menjadi jaminan bahwa kisah hidupnya akan serupa dengan sosok yang indah dan jelita.

__ADS_1


*****


Awal mula aku bertemu dengan wanita malang itu saat pertama kali menginjakan kaki di tempat kerja baruku, teriakan seorang wanita sedang menjerit se kencang-kencangnya mengalihkan perhatianku dari senior yang sedang menerangkan soal pekerjaan apa saja yang akan kulakukan di rumah sakit jiwa.


Entah kenapa jerit tangis wanita itu terdengar sangat menyedihkan, luapan emosi yang tak dapat ia lampiaskan berubah menjadi tangis sambil meneriakan "Hentikan-Hentikan" berulang-ulang kali.


Dengan hati dipenuhi rasa penasaran aku menghampiri ruangan di mana suara wanita itu berasal. Mataku mengintip dari teralis besi di tengah pintu itu dan terlihat sesosok wanita sedang meringkuk dengan tangis meneteskan air mata yang telah memipi.


Tak berselang lama keluarlah seorang laki-laki memakai seragam perawat keluar dari ruangan tempat wanita itu berada, dan menegurku untuk pergi menjauh dari ruangan itu. Kemudian senior yang tadi menerangkan perihal tugas apa saja yang harus kukerjakan, ikut menyuruhku untuk menjauhi wanita tersebut.


Batinku seketika dipenuhi tanya kenapa dan ada apa? Namun, seolah diri ini terbius suasana dan raut wajah para senior menunjukan ekspresi yang serius, membuatku mengurungkan niat untuk bertanya.


Sekilas kembali kuperhatikan wanita tadi sembari perlahan berlalu meninggalkan keberadaannya, terlihat dari raut wajah itu seolah dia merasa lega dengan kepergian si perawat senior yang semula berada di dalam ruangannya.


*****


"Nama saya Arez surya dilaga, umur saya 25 tahun tinggal di kota Depok lahir di bulan November tanggal 19 tahun 1995."


"Sikap yang sangat bagus, saya suka sikap anda ... apa sebelumnya anda sudah sempat bekerja?" tanya kepala rumah sakit jiwa.


"Saya belum pernah bekerja di perusahan atau pun di tempat lainnya yang terikat dengan kontrak kerja. Namun, saya sering membantu paman saya yang seorang psikologi, dan beberapa kali mempelajari secara diam-diam buku-buku tentang itu lalu beberapa kali pula mendampingi beliau saat melakukan psikoterapi dengan pasien nya."


"Jadi menurutmu dengan sedikit ilmu dan IJAZAH SMA yang kau punya dapat membantu pekerjaanmu di sini?" Tanya kepala rumah sakit jiwa lagi.


"Saya harap demikian dan saya juga berharap bisa membantu pasien yang ada di sini."

__ADS_1


*****


Ketika sesi interview selesai dan mendapatkan hasil yang kuharapakan pertemuan hari ini pun usai, lalu semua calon karyawan baru membubarkan diri kemudian diberi tahu untuk calon karyawan baru yang berhasil lolos test hari ini, kembali lagi besok hari untuk memulai ujicoba kerja selama satu minggu.


Sementara aku yang masih saja diganggu oleh rasa penasaran yang mengusik batinku akan kejadian pagi hari, diam-diam mencoba kembali ke ruangan wanita yang menjerit tadi. Perlahan dengan menyembunyikan wajah menggunakan topi menelusuri koridor menuju ruangan para pasien di tempatkan.


Sesampainya di barisan kamar pasien masih kuingat nomor kamar wanita itu, dan kembali melihat lelaki yang kutemui di pagi hari masuk ke dalam kamar itu lagi, kemudian suara jerit diiringi dengan tangisan kembali bergema memenuhi tiap sudut ruangan.


'Apakah kondisinya separah itu hingga setiap ada orang yang masuk ke ruangannya dia menjerit seperti ini?'


"Apa yang sedang kamu lakukan di sini?"


Suara seorang pria yang tak asing mengejutkanku dari belakang, dan setelah kulihat dia adalah senior tadi pagi mengenalkan beberapa sudut ruangan dan apa saja yang harus kukerjakan sebagai perawat.


Aku beralasan mencari buku catatanku yang hilang saat memasuki area kamar pasien, dan untung nya dia terlihat mempercayai perkataanku. Kemudian aku dan senior yang kebetulan hendak akan pulang, berjalan keluar rumah sakit bersama sambil berbincang dan saling berkenalan.


Namanya adalah Andre usianya tak terlalu jauh denganku hanya terpaut 2 tahun lebih tua, saat berbincang dengannya ternyata dia lumayan ramah dan baik terbukti saat dia menawarkan tumpangan pulang kepadaku.


Karena persoalan kondisi keuangan dan faktor lamanya masa yang kugunakan untuk menganggur, tak ada salahnya menerima tawarannya kemudian kami pun pulang bersama.


Andre berkata kepadaku jika ada pekerjaan yang tidak dipahami aku boleh tanyakan kepadanya, saat mendapatkan kesempatan aku pun bertanya kepada andre perihal pasien wanita yang sering menjerit setiap kali ada orang masuk ke kamarnya, dan dari Andre lah aku tahu kisah tentang Hasta.


Hasta si jelita yang menderita, wanita berwajah indah dengan kepiluan menjadi latar kisah.


BERSAMBUNG.

__ADS_1


Kok


__ADS_2