
Suara sekumpulan wanita sedang tertawa, dan bercengkrama, terdengar merambat di sepanjang dinding koridor. Aku melangkah untuk mendekati sumber suara itu. Ada ruangan yang lampunya masih menyala, dan pintunya tidak tertutup rapat, kakiku terus melangkah menuju ruangan itu, kemudian dengan sangat hati-hati kuintip ruangan itu dari celah-celah pintu yang sedikit terbuka.
Setelah kulihat, rupanya itu adalah ruangan para wanita malam untuk membasuh badan mereka.
Saat ini aku bak Jaka Tarub, yang sedang mengintip tujuh bidadari mandi di sungai. Namun, aku tak mendapatkan selendang yang ingin kucuri, karena saat itu, aku belum mengetahui nama wanita yang sudah membuatku melayang-layang.
Di sana ada tujuh wanita cantik, dan anggun. Mereka sedang membasuh tubuh dengan air hangat. Kemolekan mereka benar-benar bak bidadari di cerita rakyat, Jaka Tarub. Namun, ada yang paling bersinar di antara mereka, dia adalah Mayang, wanita yang membuatku melayang. Jika dia punya selendang, maka pasti sudah kuambil saat itu juga.
"Hei! Siapa di situ, kamu ngintip ya?" teriak salah satu wanita yang ada di ruang bilas itu mengejutkanku.
"Ah sial, aku ketahuan," kataku dan bergegas pergi.
Aku beranjak dari tempat pemantauan sempurna itu, dan bergegas berlari, di depanku terdapat dua arah, satu ke kiri dan satu lagi ke kanan menuju pintu depan. Namun, jika aku berlari ke arah pintu itu, maka pelarianku akan berakhir terhadang oleh dua security di depan pintu tadi, jadi aku harus mencari tempat bersembunyi, tetapi di tengah-tengah pelarian, aku melihat lemari besar, dan sepertinya lemari itu cukup untuk menyembunyikan tubuhku.
"Hah ... Hah ... ada lemari, aku harus bersembunyi di sana!" kataku dengan nafas terengah-engah.
Aku pun bersembunyi di dalam lemari. Terdengar olehku suara orang-orang yang sedang berlarian mencariku.
"Kemana perginya orang tadi? Cepat sekali," kata seorang wanita, mungkin dia adalah salah satu wanita yang kuintip di ruang bilas tadi.
"Gawat, kalau ketahuan, bisa habis aku di tempat ini," kataku.
Sekitar lima menit aku berdiam diri di dalam lemari pakaian yang dipenuhi dengan pakaian. Ya, tentu saja karena ini lemari pakaian, bukan lemari baju. Kalau lemari baju, pasti dipenuhi dengan baju, bukankah begitu? Kalau bukan ya maafkan. Semua pakaian yang ada di lemari pakaian yang konon katanya bukan lemari baju ini, terlihat isinya dipenuhi pakaian wanita, bukan baju wanita.
(Aku bingung)
******
Sepuluh menit kemudian, decit suara pintu lemari terbuka. Betapa terkejutnya aku, rupanya wajah yang menangkap keberadaanku di dalam lemari, adalah wanita yang kucari-cari. Mata kami saling menatap, dengan pandangan yang terbuka lebar. Kemudian Pintu lemari ditutup lagi oleh Mayang. lalu dikunci olehnya.
"Ah gawat, pasti Mayang mau mengurungku, dan pasti dia sedang memanggil security"
__ADS_1
"Baiklah, mungkin aku akan mati di sini," kataku pasrah pada keadaan.
Tidak lama kemudian, pintu lemari pakaian kembali terbuka. sosok cantik anggun dan indah, kembali terlihat pertama kali menyinari ruang gelap dalam lemari.
"Aku ada di surga?" tanyaku yang begitu saja terucap karna melihat Mayang.
"Tenang, kali ini kamu selamat," kata Mayang sambil menutup mulutnya karena menahan tawa.
Selain keanggunan tubuh, kecantikan wajah, dan suara desah indahnya, sekarang aku melihat sisi manis Mayang yang sedang menahan tawa.
"Ayo cepat! aku akan menunjukan jalan keluar yang aman," kata Mayang sambil meraih tanganku, dan menarikku keluar dari lemari gelap menuju ruangan yang terang benderang. Entah kenapa sejak mengenal Mayang, aku hanya bisa pasrah, dan mengikuti apapun keinginan Mayang, aku terhipnotis.
"Kamu tunggu dulu di sini, aku akan melihat keadaan di luar ruangan." Mayang menyuruhku diam, dan aku hanya mengangguk tanpa berkata apa pun.
Mayang membuka pintu, dan melihat kondisi sekitar koridor. Setelah yakin keadaan di luar aman, dia menatapku dan mengayunkan tangannya. Maksudnya, ia menyuruhku untuk menghampirinya, dan sekali lagi aku hanya merespon Mayang dengan anggukan dan wajah yang datar.
Mayang menggenggam tanganku, seakan tidak mau kehilangan diriku. Tanpa sadar tanganku membenarkan posisi tangan Mayang yang awalnya menggenggam pergelangan tanganku, hingga sekarang talapak tangan kami saling menyatu dan saling menggenggam erat. Mayang menatapku karena terkejut, dan aku menatap Mayang karena terpesona.
Kami melangkah sangat hati-hati, karena takut ada yang menangkap basah. Aku dan Mayang mengendap-endap sambil menempelkan tubuh kami ke dinding koridor.
"Ah ... anu Kak Tiar aku sedang ... em ... mencari jepit rambutku yang hilang." Mayang menjawab dengan terbata-bata, mungkin dia sama terkejutnya sepertiku.
'Oh ... namanya Mayang!' Aku merasa senang karena mengetahui nama wanita yang sedang kupegang tangannya.
"Kamu hati-hati ya, cowok mesum tadi belum ke tangkap," kata wanita yang dipanggil Mayang dengan nama Tiar.
'Hah ... maksudnya aku?' Aku merasa tersindir oleh kata-kata Tiar.
"Iya Kak Tiar, tenang aja. Kakak tahu kan aku wanita ganas di sini, haha," kata Mayang menjawab dengan canda.
‘Iya, Mayang memang ganas!'
__ADS_1
"Ya sudah, kalau udah ketemu cepat istirahat ya!" kata Tiar.
"Iya kak, siap!" kata Mayang sambil tersenyum dengan bibir yang tipis itu.
Entah kenapa aku merasa sangat sedih ketika melihat Mayang yang begitu periang di hadapan orang yang dia kenal. Senyuman manis, yang selalu ia tebar kepada pria liar di luar sana, sangat berbeda dengan senyumannya yang sekarang. Senyumannya yang sekarang terlihat begitu tulus.
Bagaimana bisa, bunga teratai yang indah, tumbuh berseri seperti ini di tengah keruhnya danau yang dipenuhi dengan buaya yang buas. Dia mengizinkan buaya-buaya itu untuk menyentuhnya, tanpa membiarkan dirinya rusak terkoyak kulit buaya yang kasar.
"Heh, malah bengong, ayo cepetan!" Mayang membuyarkan lamunanku yang tercipta dari senyumannya.
Sekali lagi, aku hanya bisa mengangguk dan berkata iya seperti sapi yang ditarik oleh tuannya. Aku mengikuti setiap langkah Mayang, dan tetap pasrah membiarkannya membawaku kemana saja. Akhirnya kami pun berhasil mengendap-endap, dan sudah berada di depan pintu belakang.
"Kamu bisa pergi lewat sini," kata Mayang dengan wajah yang ketus, dia menyembunyikan senyuman manisnya dariku.
"Oke, terima kasih sudah mengantarkanku sampai sini, Mayang," kataku. Mayang membuka matanya lebar-lebar, mungkin dia terkejut mendengarku menyebutkan namanya.
"Iya," kata Mayang, dengan menunjukan wajah sendunya.
"Kengapa kamu tiba-tiba termenung?" tanyaku. Entah mengapa melihat wajah Mayang yang seperti itu, hatiku merasa sakit.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Mayang menutup pintu dengan sedikit bantingan, hingga membiarkan wajahku yang masih tertegun, dan hati yang masih terenyuh kehilangan sosok cantiknya itu.
Mayang, wajah sendu yang kau tunjukan kepadaku, walau hanya sesaat aku mengerti arti raut wajahmu. Rasanya, ingin kupinta deritamu, dan membiarkan diriku ter-lelahkan menanggung beban derita yang kau pikul.
Cantik tetapi terluka. Anggun tetapi terhina. Kuat tetapi menangis.
Membuat kumbang menjadi bimbang
Kau terbang di atas duri-duri membuat sayapmu koyak.
Jatuh, sakit, tak kau hiraukan
__ADS_1
Wahai wanita malang semoga malammu ditemani bintang benderang, penghapus pilu pembawa riang.
BERSAMBUNG.