
Sentuhan halus membelai wajahku. Tangan itu menyibakkan rambut yang menutupi wajahku, sepertinya pemilik tangan ini ingin melihat wajahku yang di tutup rambut.
Perlahan kesadaranku kembali. Aku terbangun dari tidur lelap, sinar mentari yang terhalang oleh tangan seseorang yang membelaiku tadi, masih terasa hangatnya.
Namun, entah kehangatan mana yang ku rasakan saat ini. Sentuhan lembut itu benar-benar membuatku nyaman se akan aku tak ingin terbangun dari tidur lelap ini.
'Apakah ini masih dalam mimpi?'
'Jika ini memang mimpi, tak apakan aku masih ingin menikmati belayan ini?'
'Tangan yang terasa sangat halus membelai lembut pipi.'
'Ku harap ini tak akan pernah berhenti.'
"Juna, kamu di mana?”
Dan entah sudah berapa menit waktu berlalu aku lewatkan dengan kepura-puraan, aku berdiam diri berpura-pura tidur agar dapat terus merasakan belaian Arjuna.
Howo apa yang terjadi terjadilah yang dia tau Tuhan penyanyang umatnya.
Terdengar suara ponsel seseorang berbunyi sangat keras.
“Siapa ini?”
'Arjuna, sedang menerima telfon dari siapa? Apakah itu istrinya?'
“Aah … kau Dev, ada apa pagi-pagi sudah menggangguku?”
'Dev? Devi? Nama istrinya Devi? Tapi cara bicaranya seperti bukan sedang berbicara dengan seorang perempuan.'
“Astaga … aku terlambat lagi.”
'Terlamabat? Masalah pekerjaan kah?'
Pikiranku mulai di penuhi rasa ingin tahu. Sebenarnya dengan siapakah Arjuna berbicara? Dan urusan apa yang terlambat?
“Apa yang kaumaksud Dev?”
“Masalah apa Dev?”
Dan keheningan pun tercipta, Arjuna tak lagi bersuara. Sepertinya dia sudah mengakhiri percakapan yang dia lakukan lewat ponselnya.
Jadi jika begitu adanya, belaiyan lembut tadi bukanlah mimpi.
Perlahan aku membuka mataku. Samar terlihat wajah seorang pria, yang sedang berada tepat dalam ruang pandangku yang masih buram. Dan aku mengedipkan beberapa kali agar pandanganku mulai jernih.
__ADS_1
Dia menatapku sambil tersenyum, sangat menawan senyuman yang dia berikan. Entah kenapa wajahku terasa hangat saat melihat senyuman dan tatapan yang sangat tajam itu.
Belayan tanganmu telah berhenti kurasakan.
Namun sentuhan hangat dari matamu dapat mewakilkan.
Tatapanmu lembut mendamaikan.
Mata milikmu, aku sangat menyukai mata itu yang sama indah bagai senja yang tak bisa ku jelaskan.
Melukis wajahmu dalam kanfas langit dengan ukiran awan.
Kau tersenyum sangat manis sungguh menawan.
'Astaga Mayang, aku tidak boleh terlarut seperti ini.'
Aku bangkit dari kasur sambil menepis tangan Arjuna yang hendak membelai pipiku.
Jika aku terus seperti ini dengannya akan sangat lebih sulit kedepannya. Dan segera kembali memakai satu persatu pakaian yang sudah ku tanggalkan.
"Mayang, maaf semalam aku sudah membuatmu terkejut."
Tutup mulutmu Arjuna, jangan kau ucapakan sepatah katapun lagi. Sungguh perkataan apapun yang kau ucapkan entah lembut atau kasar, hatiku selalu berdebar.
Sungguh kasihanilah si Mayang yang hina ini. Sungguh terlalu berat untukku jika menjadi pujangga yang terluka karna harus memuji cinta yang tak berbalas.
******
Sungguh bergetar hebat bibir ini, ingin sekali dia menjawab setiap perkataan yang slalu keluar dari dalam mulutmu.
Bergetar pula hati ini, memaksa bibirku yang gugup untuk berucap cinta, meminta harapan dari sosokmu. Dah bukankah berharap kepada selain tuhan. Hanya akan berbuah pupus.
"Mayang, cowok ganteng yang bawa kamu kemaren siapa itu?"
"Aah, Kak Melly ngagetin aja nih."
"Hehe, maaf May. Jawab dulu itu siapa namanya?"
"Lah emang kenapa Kak? Kak Melly kenal sama Arjuna?"
"Owh ... Ciiee, jadi udah saling kenal nih ceritanya?"
'Ah aku tanpa sengaja menyebutkan nama Arjuna.'
"Aku cuman sempet liat KTP nya doang ko kak Melly."
__ADS_1
"Eh May, aku pernah liat dia di pameran lukisan loh, lukisannya bagus-bagus May. Aku suka banget."
"Ah masa sih kak?"
Aku pura-pura tidak tahu mengenai pekerjaan atau aktifitas Arjuna yang sebenarnya.
"Mangkanya aku kasih tau kamu, kamukan paling seneng sama lukisan-lukisan kaya gitu, siapa tau suatu saat dia mau lukis wajah kamu May."
"Ah Kak Melly suka ngaco deh, aku kenal aja engga sama dia Kak, gimana mau minta di lukis ... Udah dulu ya Kak Melly, aku mau mandi dulu nih."
Aku berlalu meninggalkan Kak Melly yang tlah usai mengintrogasiku menanyakan prihal Arjuna, lelaki yang tlah membawaku dari keramaian memasukanku ke dalam ruangan kesunyian.
******
Jress..
Suara air dari shower yang berjatuhan membasahi badan, memberiku sedikit ketenangan. Perlahan tapi pasti tiap tetesan air shower membawa hanyut segala kesedihan dan beban fikiran yang memberatkan.
Arjuna Iskandar, nama dan bayangan wajahnya lah yang saat ini masih kuat bertahan dalam fikiran, bahkan setelah di dera air shower.
Sorot matanya sangat menggiurkan, memaksa semua hawa untuk berada di dalam tatapan bola matanya. Siapa yang tak ingin berlama-lama diam di dalam mata yang menyejukkan.
"Akankah aku bisa menjadi si beruntung itu. Mendapatkan kesempatan menyandang namanya dalam namaku?"
Matamu memberi harapan, menghadapkan aku dalam hayalan. Menenggelamkan aku dalam lamunan. Merayuku dalam buayan belaiyan sentuhan kehangatan.
Namun ketika aku kembali dalam kenyataan meninggalkan khayalan, nyata dirimu bukan milikku, nyata dirimu sudah tak layak untukku.
Arjuna sudah beristri seoarng Srikandi.
*****
Setelah selesai membersihkan diri sambil melarutkan diri dalam lamunan. Aku pun beranjak pergi dari kamar mandi.
Brrumm..
Terdengar suara motor dari luar, macam tak biasa saja aku mendengar suara motor yang terdengar dari kamarku, hingga membuatku bertanya-tanya dan Berg menuju jendela.
"Suara motor siapa itu?"
Entah sudah berapa kali aku menatapi wajahnya, mataku tak kunjung jua terbiasa melihat sosoknya yang begitu menawan.
"Itu Arjuna kan? ... Jadi dia baru pulang setelah lama ku tinggalkan di kamar tadi?"
Sampai tak nampak lagi dari ruang pandangku, mataku terus saja tak henti hentinya memandangi dia yang sedang berusaha berlalu pergi menjauhi, membuat beberapa kilo jarak pemisah di antara keberadaanku dan dirinya.
__ADS_1
"Andai saja, alam semesta membantuku. Menjebaknya agar terus menerus tetap bersamaku."
BERSAMBUNG.