PUJAKU Mayang

PUJAKU Mayang
Sajak Patah Hati Arjuna


__ADS_3

Amalia, entah apa cara yang dia punya. Hingga dirimu begitu tega membagi cinta membuang rasa. Tanpa ragu kau tinggalkan aku, tanpa malu kau menduakanku, tanpa aba-aba kau pergi meninggalkan luka dan derita.


Apa salah yang ku perbuat hingga bisa membuatmu begitu berniat pergi dariku. Tanpa ragu kau tinggalkan aku dan memilih pergi bersamanya.


"Juna, maaf jika aku tak bisa memenuhi panggilan sidang perceraian kita. Tolong urus semuanya agar semuanya berjalan lancar."


Sungguh tak Sudi aku menjawab perkataan yang kau ucapkan. Jangankan menjawab, melirik saja sungguh aku tak mau.


"Sayang, ayo kita pergi sekarang. Waktu kita tidak banyak."


Lelaki busuk itu memanggil Amalia, dengan sebutan sayang di hadapanku. Tanpa rasa malu sedikitpun.


Aku kini membencimu dan juga membenci seseorang yang meracunimu. memasukan kata duga-duga tentangku, di dalam daftar pertanyaanmu yang memojokanku.


Kau pergi bersamanya, meninggalkan kita, meninggalkan aku dan meninggalkan rasa bahagia yang berubah menjadi luka.


Jiwa ini bergemuruh, Membuat hatiku semakin rapuh.


Kalian, kau dan dia yang sering di sebut kebahagiaan baru olehmu, meninggalkan diriku sunyi sepi sndiri, meninggalkan rasa yang pernah kau bawa, meninggalkan bahagia yang kau simpan di dinding hati sebagai kenangan.


Atau sebagai pengingat atas luka yang aku derita. Agar kelak jika kau kembali akan ku ingat kembali.


*****


Aku memandangi tiap gambar yang di bingkai dengan kaca di setiap dinding rumah ini.


Ada fotoku bersama wanita yang dulu ku sebut dengan masa depan. Dan kini ku panggil dia dengan cerita yang tlah usai.


Tangan mengambil satu buah gambar di dinding, yang terdapat potretku dan Amalia yang sedang tersenyum bahagia saat pesta pernikahan kita.


"Sejak kapankah kau merencanakan kejahatan ini?" Kataku sambil memandangi foto pernikahan.


Suaraku menggema merambat di setiap penjuru rumah. Terasa sangat sepi rumah ini tanpa seorangpun yang menemaniku, akan tetapi.


Adakah tempat yang lebih sepi di banding hati yang sunyi di tinggal pergi?


Amalia kau tau? Satu-satunya orang yang terasa bisa memahami cara mencintaiku adalah kamu.


Kini aku pun tau. Satu-satunya orang yang paling bisa membuatku terluka dengan hebatnya juga kamu.


Tak ada lagi kisah yang slalu aku banggakan di hadapan orang-orang. aku yang dulu dengan congkaknya membanggakanmu di hadapan mereka, memuji dan memujamu di hadapan langit, bulan, bintang dan matahari.embuat seisi jagat raya iri, dengan kebahagiaan yang selalu kau beri.


Namun kini kau menghantam diriku dengan kotoran tepat di wajahku. Memberiku rasa malu yang tiada Tara di hadapan langit kelam, di hadapan bulan yang terbungkam, di hadapan ribuan bintang Dan setelah terbit, matahari pun sudah siap untuk menghujat.


*****


Kini sedihku tantangmu.


Tentang kau yang dari dulu bahkan sampai saat ini masih saja menjadi pemilik hati. Meski setelah kau sakiti.


Kau mengenalkanku pada cinta.


Kau mengenalkanku pada rasa.


Kau mengenalkanku pada bahagia namun tak lupa menjumpaiku dengan kecewa.

__ADS_1


Kau mengenalkanku pada ceria yang tak luput dari derita.


Kau ... pergi menjauh, mengganti namamu menjadi masalalu.


Ada hati disini yang tak pernah mempercayai keputusanmu untuk pergi.


Ada rasa yang tak pernah menyangka akan mengenal derita.


Ada aku yang kini di tinggal pergi olehmu.


*****


Mulai semu bayangmu dalam ingatanku. Namu Jangan tanyakan rasa yang masih saja bergelora.


Bagai mana tidak, kau yang tak pernah aku bayangkan memberi luka dan derita, malah sengaja menghunuskan luka, membuat sesak isi dalam dada.


Sampai saat ini aku masih berharap ini hanya mimpi, dan ketika ku terbangun esok pagi, kau masih memberi senyuman seribu arti.


*****


Entah sudah berapa jam waktu yang ku habiskan untuk mengenang saat2 bahagia bersamamu.


Dan juga entah akan memakan waktu berapa lama untukku melupakan segala kesakitan yang kau berikan.


Buakk..


Aku sudah tidak sanggup lagi menahan derita yang terus menguras air mata dan menyesakan dada.


Buakk..


Aku terus menerus memukuli dinding rumah yang tak bersalah. Dinding rumahku hanya menjadi saksi kebahagiaan yang Amalia berikan.


"Kau berpihak pada siapa dinding kurang ajar!"


Buuaak..


Lagi dan lagi aku memukul dinding rumah ini.


"Bicaralah! katakan apa yang tidak ku tau tentang penghianatan wania busuk itu!"


Aku berteriak hndak melepaskan semua rasa sesak. Namun percuma, sia-sia.Nafasku sungguh berat, udara yang keluar masuk tak beraturan, jantungku memompa darah dan juga emosi yang kian detik makin parah.


Suara ponsel dan lagu yang kuseting sebagai pengingat jika ada panggilan masuk terdengar oleh telingaku.


"Hallo Jun, ini Ibu nak, kamu baik-baik aja kan Jun?"


"Ah iya Bu, Ibu ganti nomor lagi?"


"Hoho ... iya Jun, maklum Ibumu ini buronan duda, hoho"


Ternyata yang membuat telfonku berbunyi adalah panggilan masuk dari Ibuku 'Tapi sebentar Ibuku bilang apa?'


"Ibu bilang apa? Buronan duda?" Astaga Ibu nakal lagi?"


"Nakal naon atuh Jun? Ibu cuman cari jodoh, kenapa di bilang nakal?"

__ADS_1


"Ya ampun Ibu, Ibu kan tau sekarang aja aku mau cerai sama Amalia. Kenapa ibu malah cari bapa baru buat aku? Cariin istri ke, kok malah bapa si!"


"Halah, eta mah derita maneh Jun. Dari awal juga Ibu gak setuju, ibu gak sreg sama Amalia, apa-apaan kamu teh, milih istri jiga Kitu."


Ibuku meskipun hidup di kota Jakarta, tapi dia tetap setia pada logat sundanya.karna memang kami, aku dan Ibuku adalah orang Jawa barat, kota Tasikmalaya.


Sedikit ku ceritakan tentang Ibuku. Beliau adalah seorang janda beranak dua, ya tentu saja anaknya adalah aku dan adik perempuanku yang bernama Ratih.


Ibuku bernama Sukma dan almarhum Bapaku bernama Deden. Beliau hidup menjanda selama delapan tahun. Dan tetap setia menjanda selama tujuh tahun.


Usia beliau belum terlalu tua, umurnya masih sekitar empat puluh empat tahun. Dia melahirkanku di usianya yang cukup muda bagi orang-orang jaman sekarang.


Beliau harus rela menikah dengan almarhum Bapaku yang saat itu sudah berumur tiga puluh tahun, jarak usia Bapaku dan Ibuku terpaut cukup jauh.


Ibuku merelakan masa mudanya demi menghidupi keluarganya, karena Nenek dan Kakekku tak mampu membiayai hidup Ibuku pada saat itu.


"Hahaha, mungkin itu yang kalian pikirkan, padahal tidak."


Ibu dan Bapaku menikah tentu saja atas keinginan mereka untuk memiliki, tanpa paksaan dan keadaan yang se sadar-sadarnya.


"Juna maneh sudah gelo? Kok ketawa sendiri?"


'Aduh keceplosan, harusnya kan itu kalimat narasi,'


"Aah engga Bu tadi lagi ada tamu ketok pintu."


"Gelo maneh Jun! ... yasudah Ibu mau ke tempat kamu besok ya."


Tuttt.. Tutt.. Tutt..


"Gak pamit, maen matiin telfon aja."


Yah begitulah Ibuku.


****


Mentari senja mulai terasa, cahayanya yang menembus masuk melewati kaca jendela.


Langit lembayung dengan Mega mendung, perlahan bergerak mengikuti tiupan angin.


"Bawalah serta dukaku beraamamu," kataku kepada sang lembayung.


Namun dia hanya diam membungkam. Tak ingin kah dia mengurangi kesedihanku walau hanya separuh.


Mata hari mulai tenggelam menyisakan warna jingga di langit. Warna yang tak punya kepastian 'aku benci warna jingga.'


Waktu berlalu, aku tetap terpaku menatap langit di balik jendela.


Kini langit yang ku pandangi menjadi hitam pekat.


Menyejukkan hati yang sedari pagi di dera gundah, di tikam pilu karna merasa malu terhadap diriku sendiri.


Mataku kini terfokus pada bayanganku di kaca jendela. Ada mata di sana yang menuntut ingin kembali gembira, bibirku bergetar menahan dera tangis air mata.


Namun pantulan ku seolah berkata.

__ADS_1


"Arjuna, kau berhak bahagia meski tanpa cinta dari Amalia."


BERSAMBUNG.


__ADS_2