PUJAKU Mayang

PUJAKU Mayang
Mimpi mayang


__ADS_3

Sekarang jarum jam menunjukan pukul 05.45 pagi. Waktu demi waktu kuhabiskan dengan memikirkan Mayang, wanita yang baru aku kenal. Karena Mayang adalah wanita malam, sudah jelas dia tidak pantas untuk kubayangkan, persoalaan statusnya menjadi alasan utama. Namun, memang dasar hati tidak bisa dibohongi. Manis senyum dan raut sendu Mayang, sudah masuk ke dalam dasar hati. Bahkan mungkin bayang-bayangnya, sudah bersemayam di dasar hati.


Kini, aku sudah berada di parkiran club untuk mengambil motorku, dan mengendarai motor ini agar bisa pulang. Sepanjang jalan kulalui tanpa henti-hentinya terpikirkan wanita yang baru aku ketahui namanya. Mayang, begitu mudahnya kau untuk masuk ke dalam hatiku.


Setelah beberapa saat, kini sampailah di kediamanku yang penuh dengan masalah.


Orang lain mungkin berfikir rumahku adalah surgaku, kata-kata itu lebih cocok untuk seseorang yang memang memiliki bidadari surga di dalam rumahnya. Yang iklas menunggu kita pulang ke rumah, dari pagi hingga malam tiba. Namun, aku tidak memiliki itu, dan bagiku, rumah adalah sumber permasalahanku. Ketika membuka pintu ini, aku tahu akan disambut dengan mata yang menatapku tajam seperti mata pembunuh yang hendak mengakhiri hidupku.


"Bagus ya, jam segini baru pulang, dari mana saja kamu!" tegur seorang wanita yang sudah menunggu kedatanganku. Dia adalah Amelia, wanita yang sudah mengikat janji sehidup semati denganku. Ya, dia adalah istriku. Namun, jangan berburuk sangka dulu terhadapku.


Aku dan Amelia sedang dalam proses penceraian. Wanita ini sebenarnya lebih hina jika dibandingkan dengan Mayang. Setelah mengucap janji sehidup semati, Amelia rupanya masih mencintai, dan menjalin hubungan dengan pria lain. Pria itu adalah mantan kekasihnya.


Aku memergoki perempuan hina ini sedang memadu kasih. Berduaan dengan mantan kekasihnya di tempat yang aku sebut dengan rumah. Penghianatan yang sangat luar biasa, buruknya lagi dia bahkan tidak merasa malu dengan perbuatannya sendiri. Amelia, benar-benar wanita paling hina yang pernah kukenal. Bahkan wanita seperti Amelia, kuanggap lebih rendah dibandingkan dengan wanita penghibur.


"Tutup mulutmu! Kau sudah tidak layak mencampuri urusanku," kataku dengan tegas, dan amarah yang menggebu-gebu.


"Ingat, aku masih istri sah-mu!" kata Amelia sambil mengarahkan telunjuknya ke arah wajahku.


Dasar, wanita tidak tahu diri. Ingin sekali rasanya aku memaki-maki wanita seperti dia. Namun, dasar mulutku tak diizinkan untuk mengumpat kepada wanita, tetapi untuk apa aku menghina wanita yang sudah terhina. Dia membuat dirinya hina dengan perbuatannya sendiri. Jadi aku tidak perlu mengotori mulutku dengan kata-kata yang tidak pantas kuucapkan.


"HeI! Aku belum selesai bicara, kembali kemari!" kata Amelia dengan suara lantang.

__ADS_1


Aku tidak menghiraukan teriakan yang menurutku sangat bising, dan tetap berjalan ke menuju kamar. Sebenarnya aku tak sudi lagi masuk ke kamar yang penuh dengan kehinaan ini, kamar yang telah Amelia nodai. Dinding-dinding kamar ini menjadi saksi bisu perbuatan kotornya dengan lelaki lain. Namun, tidak dapat kupungkiri kelakuanku sekarang sama kotornya seperti Amelia, tetapi tak sedikit pun aku sesali dosa yang indah ini.


Aku duduk di tepian kasur, dan memandangi foto pernikahan kami yang terpasang bingkai kaca. Ingin sekali aku membanting foto ini ke lantai. Namun, kenyataannya bahawa aku masih memiliki perasaan terhadap Amelia. Tidak bisa kupungkiri, hati kecilku masih mencintai Amelia, tetapi kesalahannya tak bisa kumaafkan. Penghianatannya selalu saja terbayang di benakku.


Sekitar pukul 06.30 pagi aku baru bisa membaringkan tubuh, dan menutup mataku dalam tidur yang lelap.


*******


Aku bermimpi bertemu dengan seorang Dewi.


Dalam mimpi, aku bertemu dengan seorang wanita yang cantik bagai dewi dari kayangan. Dia menari dengan gemulai, bergerak dengan anggun mengikuti alunan musik yang mengiringi setiap gerakan sang dewi. Dalam mimpiku, dia mengulurkan tangannya yang molek, dan membelai wajahku dengan lembut. Sangat terasa kehalusan tangan seorang wanita di wajahku.


"Siapa namamu wahai Dewi?" Aku menanyakan namanya, tetapi dia tidak sedikit pun berucap. Hanya mengukir senyuman tipis dengan bibirnya.


Setelah tadi hanya memberiku senyuman manis, sekarang dia tertawa. Terlihat tawanyanya yang sangat anggun, aku yakin, saat ini sedang berjumpa dengan seorang dewi. Ingin rasanya kucoba merayu sang dewi ini, agar dia mau menemani tidurku yang terasa dingin tanpa selimut yang bernyawa.


Belum sempat kumerayunya, dia perlahan pergi menjauh dariku, tetapi dengan wajah yang terlihat muram. Sang dewi memperlihatkan wajahnya yang sendu kepadaku, dengan mata yang tergenang oleh air mata.


"Dewi, kau mau kemana? Tak bisakah kau membawaku pergi bersamamu Dewi?" tanyaku sambil mencoba meraih tangan sang dewi yang masih menjulur ke arahku. Namun, memang benar, tangannya yang terasa sangat halus, tak dapat kugenggam. Air yang berasal dari mata sang dewi, terjatuh di pelipisku, hingga membuat pengejaranku terhenti.


Terasa air mata sang dewi bergerak jatuh dari pelipis turun ke arah daguku, dengan disusul oleh air mataku sendiri. Entah mengapa, wajah sendu sang dewi, sangat membuat hatiku pedih.

__ADS_1


Sang Dewi pun sekarang telah luput dari ruang pandangku, meninggalkanku sendiri dalam kehampaan.


*******


Pukul 09.56 pagi, aku terbangun dengan perasaan yang kecewa, karena ternyata semua itu hanya mimpi. Saat terbangun aku merasakan kepala yang terasa berat dan sakit, mungkin sakit kepala yang kurasakan ini diakibatkan dari minuman keras yang kuteguk. Baru saja aku memikirkan kejadian tadi malam, tanpa sadar air mataku menetes tanpa sebab.


"Ada apa ini? Kenapa air mataku keluar begitu saja tanpa sebab?" Tiba-tiba saja hatiku merasa sakit, tanpa sebab yang pasti.


"Ah, ada apa denganku?" tanyaku tiba-tiba saja karena hatiku merasa gundah.


Aku bangkit dari tempat tidur, berniat untuk membersihkan diriku di kamar mandi agar sakit kepala yang kuderita berkurang, dan merasa kembali segar sekaligus membersihkan sisa-sisa bercak dosa yang masih menempel.


Air shower yang terjatuh di kepalaku, sedikit demi sedikit mampu membuatku kembali segar. Namun, tidak dengan hatiku, yang entah mengapa sangat terasa sesak. Bahkan, tiba-tiba saja aku terpikirkan wanita yang semalam memadu kasih denganku, Mayang.


"Mayang, aku harus menemuinya! Aku harus kembali ke club itu sekali lagi, agar bisa bertemu dengan Mayang," gumamku sembari membulatkan tekad untuk kembali ke tempat penaburan dosa itu.


Segera kumatikan shower yang sedari tadi membasahi tubuhku tanpa henti. Akubergegas mengeringkan badanku yang masih basah, lalu segera mengenakan pakaian yang cocok untuk tempat yang hendak kudatangi. Kulihat, di sekitaran rumahku, tidak ada sosok wanita penghianat itu.


"Aku, sudah mengikhlaskan dirimu, Amelia. Besok aku akan benar-benar menceraikan dirimu," kataku, dengan kepala tertunduk, dan mata yang tertutup.


Bagai menggenggam bara api di puncak salju, memberiku kehangatan, dan tak lupa meninggalkan luka bakar di telapak tanganku. Mencintaimu, mengapa sepedih ini? Setahuku cinta itu indah.

__ADS_1


BERSAMBUNG ....


__ADS_2