
Aku menampar orang tua ini dengan cukup keras, aku mempunyai alasan yang cukup kuat untuk melakukan hal ini terhadapnya, menurutku alasannya sudah cukup sebagai syarat menamparnya. Tanpa memikirkan akibat dari perbuatanku saat ini berdampak seperti apa kedepannya, yang penting di pikiranku saat ini adalah rasa puas karna telah melampiaskan sedikit kekesalanku, kepada orang yang pantas menerimanya. Karna tadi aku telah menampar orang yang ku sayang dan sekarang aku sudah menampar orang yang tepat, menampar orang yang aku benci.
“Heuh … berani sekali Anda menampar saya seperti ini!”
Mulutku tak bisa berkata banyak saat ini, yang ada jika aku menjawab perkataan pria tua ini hanya kata umpatan yang akan keluar, maka dari itu aku memutuskan untuk pergi saja dari hadapannya, dengan langkah yang cepat, terlebih lagi alasannya karna taxi online pesananku sudah datang ‘aku tidak ingin lagi melihat wajahnya.’
Ini adalah hinaan paling keras seumur hidupku, dengan kata yang biasaku dengar, tapi dari mulut seseorang yang aku harapkan hanya berkata manis kepadaku. Akantetapi orang itu, adik kandungku sendiri yang sebelumnya sallu ku harapkan berucap manis kepadaku, dengan lantang mengucapkan kata-kata yang tak ingin aku dengar darinya ‘andai dia tau lelahku, hinaku, dosaku … aku telan bulat-bulat untuk menghidupinya.’
Kucing manis yang aku harapkan tak pernah mengeluarkan taringnya di hadapanku, kini malah berani mencakar dan menggigitku dengan tenaganya yang ku berikan.
*****
Sekitar tiga jam kemudian aku sudah sampai di club tempatku bekerja dan tempatku tinggal, dengan di sambut wajah seseorang yang selalu bisa membuatku merasa sedikit nyaman, dan membuatku merasa tempat yang kotor inilah tempatku untuk pulang. Wanita ini mungkin menjadi alasan yang kuat untukku tetap tegar berada di tempat yang penuh kehinaan ini, dia adalah Kak Tiar.
“Mayang, kamu kenapa sayang, kok mata kamu sembab kaya gitu?”
Dia langsung peka terhadap apa yang sedang aku alami. Memang wanita yang luar biasa Kak Tiar ini. Dan aku langsung berlari meminta masuk kedalam pelukan kak tiar, pelukan yang selalu bisa membuatku merasa sedikit tentram dan damai.
“Mayang, emang Danang sakit apa? Kok kamu ampe nangis gini, Danang sakit parah?” kata kak tiar sambil mengelus-elus kepalaku yang sedang menempel di dadanya.
“Kak, Danang sudah tau tentang pekerjaanku,” kataku mengadu kepada seseorang yang slalu menjadi tempatku mengadu, wanita yang selalu menjadi alasanku pulang atau kembali ke tempat ini.
__ADS_1
“Kita bicara di dalam aja ya sayang. Ayo masuk dulu.” Kak Tiar mengajakku masuk ke dalam, agar pembicaraan yang hendak kami mulai bisa lebih santai.
Dia tetap mengelus-elus punggungku, aku sudah seperti anak kecil yang pulang menangis karna merasa di permainkan oleh takdirku yang penuh dengan pilu.
“Sudah ya sayang jangan nangis terus, Kakak gak tega liat Adik Kakak yang cantik ini nangis begini,” kata kak tiar sambil tetap dengan tangannya yang sekarang mengelus-elus kepalaku. Dan aku malah kembali menerjang kak tiar seraya meminta kembali meminta masuk kedalam pelukannya, dan kak tiar menerimaku dalam dekapannya dengan tangannya yang tak henti-hentinya memberiku elusan-elusan yang perlahan membuatku kembali tenang.
"Suatu saat nanti pasti Danang akan mengerti tentang air mata yang slalu terjatuh dari mata indah milik kamu Mayang. Air mata adalah salah satu cara kita para wanita mengekspresikan kegembiraan, kegelisahan, rasa cinta, dan di saat kita merasa kesepian, penderitaan, serta saat kita merasa mendapat kebanggaan … ini hanya beberapa kemampuan yang kita miliki sebagai wanita. Jadi air mata yang seharusnya menjadi senjata terakhir kita ini, jangan kamu buang sia-sia ya.”
Kak Tiar, Dia dapat mengatasi beban hidupnya sendiri seperti dan hidup bertahun-tahun mengasuh anaknya tanpa seorang laki-laki, dia mampu menyimpan kebahagiaan dan pendapatnya sendiri, dia mampu tersenyum saat hatinya menjerit, mampu menyanyi saat menangis, menangis saat terharu, bahkan tertawa saat ketakutan.
Dia berkorban demi orang yang dicintainya, dia mampu berdiri melawan ketidakadilan, dia menangis saat melihat anaknya bisa menjadi apa yang dia harapkan, dia senang dan bahagia saat teman-temannya tertawa, dia begitu bahagia mendengar suara gelak tawa dari teman-temannya. Dia bisa begitu bersedih mendengar berita kesakitan dan keluhan yang aku derita, dan dia selalu bisa mengatasinya. Kak Tiar Dia tahu bahwa sebuah pelukan dan belaian di kepalaku, selalu bis meringankan pilu, luka yang mendera di dalam dada.
Dan kini aku sudah merasa jauh lebih baik, berkat pelukan dan belaian tangan serta kata-kata yang indah dari kak tiar, persis seperti namanya Tiar kependekan dari, Mutiara.
******
Sekitar setengah jam kami berbincang-bincang, dan kemudian ada suara seorang pria yang bernada berat.
“Mba Mayang, di luar ada yang mencari mba Mayang. Dia mengaku temannya mba Mayang,” kata satpam penjaga pintu depan.
“Siapa memangnya pak? Dia ngasih tau namanya gak?” kata kak tiar mewakili pertanyaanku.
__ADS_1
“Maaf Mba Tiar, saya lupa menanyakan namanya. Silahkan Mba Mayang, orangnya sudah menunggu di depan.”
“Iya Pak, sebentar lagi saya ke depan.”
Aku pun berjalan mengikuti satpam ini karna aku juga merasa penasaran ‘pria mana yang mencari aku siang bolong begini.’
Dan ketika aku melihat pemandangan seorang pria di balik tubuh satpam yang besar ini, terlihat ada seorang yang sangat berbinar. Pria ini seketika melupakan semua lukaku hanya dengan senyuman manis nya yang dia arahkan kepadaku. Arjuna senyuman dan tatapan matanya seolah menghempaskan segala gundah yang aku rasa.
“Kamu kan ....” kata yang keluar dari mulutku namun tek sempat aku selesaikan karna pria ini Arjuna, memotong perkataanku dengan perkataannya.
“Mayang, masih ingat aku kan?” katanya bertanya prihal ingatanku tentang dirinya. tentu saja aku masih mengingatnya kejadian itu baru tadi malam dan rasa sesalku masih kuat terasa di dalam hatiku.
“Kamu ngapain ke sini lagi?” tanyaku dengan nada tegas, aku ingin berpura-pura garang atau ketus di hadapannya, untuk menyembunyikan perasaanku sebisa mungkin.
“Aku hanya ingin bertemu denganmu saja,” katanya sambil menarik tanganku, seraya mengambil jarak dari para satpam yang sedang berjaga, mungkin agar obrolan kami tidak terdengar olehnya dan tentu saja aku sangat terkejut dengan perlakuannya terhadap tanganku yang di tarik begitu saja.
“Kamu mau ngapain?” tanyaku pada Arjuna, entah mengapa perkataanku barusan seolah menghentikan langkah kakinya. Dan kini sekarang berhenti dan berbalik ke arahku, sambil saling berpandangan atau saling menatap.
Aku bisa melihat seberapa tidak pantasnya diriku berada di dalam mata yang bersih itu, aku bis melihat seberapa kotornya diriku di dalam bola mata yang jernih itu. Membuatku ingin berkata kepada diriku sendiri yang dengan lancang berada di ruang pandangnya yang bersih dan menyuruh diriku sendiri untuk pergi menjauh saat ini juga dari hadapannya.
BERSAMBUNG
__ADS_1