PUJAKU Mayang

PUJAKU Mayang
Satu Malam Memiliki Arjuna


__ADS_3

Bumi berputar, sisi terang dan gelap silih berganti.


Aku bagai langit senja, yang perlahan membelakangi Mentari.


Sosokmu, perlahan tak bisa aku dapati, dalam ruang pandangku ini.


Sangat berat bagi ku meninggalkan manusia yang selalu kunanti, lalu harus meninggalkannya pergi secepat ini.


Siapa yang tau, langit senja sebenernya tak mau kehilangan warna terangnya, dia ingin selalu menghadap dan menatap mentari pujaannya.


Seperti diriku, yang ingin selalu menatap Arjuna pujaanku.


"Hey, kamu bengong terus, mikirin apa si may?"


"Aku jatuh cinta Kak."


Mendengar perkataan ku yang sepontan begitu, Kak Tiar tak berkata-kata. Aku tau alasannya menjadi bungkam seperti itu.


"Entah lah Kak Tiar, aku memang bodoh, tak seharusnya aku jatuh cinta, aku sangat sadar dengan ke adaan ku. Keluarga pria mana yang mau menerima wanita sepertiku."


Sekali lagi Kak Tiar tak menjawab perkataanku. Tapi tangannya tiba-tiba hinggap di pundakku, dan berkata.


"Aku paham, aku mengerti. Cinta memang tak bisa ditentukan kepada siapa yang kita inginkan."


"Mayang, aku bisa menebak lelaki seperti apa yang kau cintai, dari raut wajahmu, sepertinya dia orang baik, dan kamu merasa tidak pantas untuknyakan."


Kak Tiar memang paling mengerti diriku, dia wanita yang sangat peka dan penyayang. Mungkin aku bukan di anggap adik olehnya, melainkan anak, tapi itu juga mungkin. Aku hanya menyimpulkan dari sikapnya terhadapku.


"Makasih Kak Tiar. Kakak emang wanita paling hebat. Hehe."


"Kamu belajar dari mana? Kok pandai memuji seperti ini, haha."


"Itu memang fakta Kak, hihi"


Sekarang kami sudah sampai di tempat kerja, yang sekaligus menjadi tempatku untuk tinggal. Karena, aku dan Kak Tiar datang terlambat, kami jadi terburu-buru dikejar waktu, sekitar sepuluh menit lagi Clube tempat kami bekerja akan buka. Aku segera berlari menuju kamarku untuk mandi dan bersiap-siap.

__ADS_1


*****


Pukul 07:30, tulisan closed yang menempel di pintu, sekarang berubah menjadi open. kami benar-benar terlambat. berubahnya tulsan tutup menjadi buka, Menandakan Club sudah dibuka untuk umum. 7 bidadari andalan Club, yang beranggotakan salah satunya adalah, aku dan Kak Tiar, siap melayani tamu-tamu yang membutuhkan pelayanan kami. Entah mengapa setiap melihat pintu depan Club, aku selalu mengingat waktu pertama kali aku masuk ke sini, saat pertama kali aku menjadi seorang pramuria.


Dan malam saat aku membuang sesuatuku dengan sengaja, dengan tangan terbuka, hati yang berat dan dengan sukarela tanpa keiklasan. Hanya mengharapkan, beberapa lembar kertas merah.


Saat itu kulepaskan mahkotaku, dengan hati dan mulut yang tak seirama. Hatiku menolak bibirku menikmati. Aku tak layak menyandang kata perawan, karena sejak saat itu aku terpasung dalam lingkaran setan yang terus menjebakku dalam kenistaan. Aku masih berharap, kelak akan menemukan asal diriku dari tulang rusuk pria yang mau menerima lebih dan kurangnya diriku.


"Apakah tuhan akan memberi pasangan atau jodoh yang sama seperti keadaanku saat ini? Aku akan malu jika suamiku kelak tak menemukan kesucian dari diriku.”


"Suci tidak ada lagi dalam tubuhku, yang ada bau kehinaan selalu menyeruak dariku. Kini aku tidak menjadi perawan lagi, dosa sudah tertumpuk di pundakku, bahkan bertambah dalam hitungan detik."


****


"May!"


"Mayang!"


"Aahh, iya Kak Tiar kenapa?"


“Engga ko kak. Aku Cuma lagi inget adikku Danang, aku kangen banget sama Danang.”


Kadang, ada sesuatu yang harusku pendam seorang diri, sesuatu yang tak layakku bagi dengan orang lain.


******


Waktu telah berlalu, jarum jam terus berputar, tanpa merasakan pusing, suara musik yang kian malam makin kencang, membuat isi kepalaku makin liar, ditambah lagi perutku yang disiram alkohol walau sedikit tapi bagiku tetap saja terasa.


Malam ini seperti biasanya ‘tidak ada yang sepesial’ pikirku sebelum menemukan sosok pria yang sedang mabuk parah. Mataku menemukanmu, entah bagaimana caranya dia bisa tau kau ada di sana, di bagian gelap, tempat yang bahkan tak di sinari lampu yang gemerlap. Kau tak seperti bintang, kau seperti matahari yang mempunyai cahayamu sendiri.


Entah berapa botol yang sudah dia habiskan, hingga badannya sudah tak bisa ia posisikan. Dan wajah yang sangat familiar itu, membuatku tergerak untuk menghampirinya, tapi hatiku masih ragu ‘Apa dia mau di temani wanita sepertiku?’ untuk menghilangkan keraguan itu, akupun menenggak satu gelas minuman yang sama seperti yang pria itu minum, sekarang aku siap.


“Mas, sendiri aja nih? … mau ditemenin ga?”


‘Aiss, knapa aku genit sekali? Sejak kapan aku segenit ini?’

__ADS_1


karna pengaruh minuman, rasanya aku semakin aga liar. Arjuna menatapku, dengan matanya yang sudah berat terlihat.


Degup jantungku berdebar sangat keras, karena melihat senyuman manis dan mata yang seperti sedang menahan kantuk.


“Ok deh, untuk sementara aku temenin Kamu, mumpung masih kosong.”


Kini kau ada di hadapanku, sosok yang amat kukagumi. Sempat tak percaya kau yang kukagumi bak dewa dalam cerita Ramayana, mau datang ketempatku yang hina. wahai Arjuna meski aku bukan Srikandi yang kau cintai. Setidaknya jadikan aku madumu saat Srikandi jumpa bulan.


Arjuna tiba-tiba terjatuh, mungkin karena dia sudah terlalu banyak minum.


"Mas, hey Mas, jangan tidur di sini Mas." Aku berusaha membangunkan Arjuna yang sudah terkulai, terbuai alkohol.


'Duh dia udah ga sadar nih, kasian kan kalo di biarin di sini.'


kemudian aku berinisiatif membawa Arjuna ke motel yang dekat dari Clube, jarak nya tak terlalu jauh, hanya dengan berjalan kaki masih bisa di datangi.


'Tubuhnya sangat berat sekali.'


aku kewalahan membopong tubuh Juna yang lebih besar di bandingkan tubuhku. Aroma tubuh Arjuna dapatku hirup, aromanya menggugah hasrat, membuat pelukanku kian erat, rasa ego merasuki hatiku Malam ini, kau seakan seutuhnya miliku, aku tak memperdulikan lagi, siapa aku dan siapa dirimu. Arjuna yang meminum alkohol, tapi aku yang mabuk.


“Eumm … hooooeek..”


Arjuna tiba-tiba saja mendorong tubuhku, dan mulutnya mengeluarkan semua air yang tak dapat dia cerna. Tangannya menahan berat tubuh pada dinding bangunan dan terus-terusan mengeluarkan air yang dia minum.


“kamu ga apa-apa mas?”


“Ahh, kepalaku, kepalaku pusing sekali.”


“Ini minumlah dulu, kebetulan aku membawa air putih.”


Arjuna langsung meminum air yang aku berikan ‘Akankah kau juga menerima perasaan yang ku tahan ini? Jujur saja, walaupun kita belum saling mengenal, aku bisa menjamin perasaanku ini adalah cinta.’ “Mikirin apa si aku ini.”


“Mas jangan duduk disini, ayo aku bantu bangun, sebentar lagi sampai.”


Arjuna hanya mengikuti perintahku, ‘dia penurut sekali, aku jadi tambah gereget.’ Maaf juna malam ini kau miliku.

__ADS_1


BERSAMBUNG.


__ADS_2