
Kenapa dengan matamu itu, Mayang. Kau seolah takut dengan keadaanku yang setengah terbuka! Bukankah kau sudah biasa seperti ini? Jangan berpura-pura di depanku. Semua kepura-puraanmu akan percuma Sayang. Di hadapanku yang sekarang, kau hanyalah pemuas hasratku. Kita akan bergumul tanpa cinta, kita akan menyatu tanpa rasa. Hanya nafsu yang akan kuhantarkan padamu Sayang.
Mayang bergerak menjauhiku, dia memundurkan badannya. Namun, sayang untuk Mayang, usahanya terhalang dinding yang menempel dengan kasur, hingga sekarang dia hanya terpejam dan menundukan kepalanya. Sementara aku, sekarang sudah ada di hadapan Mayang dan mengulurkan tangan, meraih wajahnya yang sedang disembunyikan.
"Usahamu yang seperti itu akan sia-sia Sayang. Tidak ada siapa pun yang bisa menghentikan niatku untuk menikmati kembali madu manis yang kau hasilkan."
Mayang menatapku dengan wajah yang sangat menggemaskan. Matanya sayu, seakan sudah memasrahkan semuanya pada situasi yang tak bisa ia hindari. Tiba-tiba saja, hatiku luluh oleh wajah itu.
'Mayang, saat siang tadi kau begitu menantang. Kanapa kini keberanianmu menghilang?'
"Mayang, jika kau tak suka, maka hindarilah, aku memberimu kesempatan."
Rasa iba tiba-tiba saja datang menggangguku. Hatiku berbisik untuk melepaskan Mayang, hasratku mulai goyah, karena Mayang memperlihatkan wajah sendu yang selalu menganggu.
Aku merangkak di atas tubuh Mayang, kepalaku perlahan mendekati wajahnya yang masih dengan tatapan sendunya. Matanya tertutup, dia sudah pasrah dan membiarkan diriku mendominasi malam ini. Mayang membiarkanku untuk melepaskan semua dahaga rinduku, yang haus akan manisnya surga dunia.
Matamu tertutup, mataku terpejam. Ingin kukecup bibirmu lalu kuterkam, dan sekarang kita saling berbicara, membicarakan tentang manisnya surga dunia dengan bibir yang menempel. Berawal dari kecupan-kecupan kecil, dan dilanjutkan dengan *******-*******. Lalu yang terjadi sekarang, kami saling berpagutan. Aku melingkarkan tanganku di tubuh Mayang, aku tak mau melepaskanya, aku tak mau dia di bawa pergi lagi oleh lelaki mana pun.
'Mayang, dia milikku!'
"Mayang kau milikku. Jangan ... jangan pergi lagi dariku. Jangan pernah berani mengambil jarak dariku. Satu saja langkahmu menjauhiku, maka akan kudekati dirimu dengan seribu langkah. Satu saja alasan untuk menjauhiku keluar dari mulutmu, akan kujejali dirimu dengan beribu-ribu alasan, agar kau diam. Tetap diam di sini, di dalam hatiku."
Dentingan jarum jam seolah sedang menertawakanku, menertawakan kami berdua. Cicak di dinding berhenti merayap, dia bahkan tak menghiraukan nyamuk yang sedang hinggap di dinding. Tak ada lagi suara "hap", karena cicak pun sedang asyik memandangi kami yang sedang dimabuk nafsu. Aku dan Mayang, yang sedang di mabuk nafsu.
*****
Pengaruh alkohol membuat pagiku terasa berat, kepalaku sekarang merasa pengar. Aku sudah terbangun dan mengingat kejadian semalam yang sangat memalukan.
'Howo ... apa yang terjadi terjadilah, yang dia tahu Tuhan penyayang umatnya.'
__ADS_1
Kalian tahukan itu apa? Itu adalah nada dering ponselku. Pertanda ada yang sedang menghubungiku.
"Juna, kamu di mana?"
"Siapa ini?"
"Ini gue Deva. Ah, kamu pasti mabuk-mabukan lagi!"
"Ah kamu, Dev. Ada apa pagi-pagi sudah menggangguku?"
"Pagi kau bilang? Coba kau lihat, pukul berapa sekarang!"
"Astaga! Aku terlambat lagi!"
"Iya, memang kamu terlambat, bahkan lebih parah lagi!"
"Ada dua masalah yang akan kau hadapi di hari ini."
"Masalah apa, Dev?"
"Dengarkan ini baik-baik. Yang pertama, kau sedang dicari oleh Bu Novi, dan yang ke dua kau tidak lupa kan ini adalah hari sidang ceraimu?”
Ah sial, Deva menyampaikan berita buruk, cukup buruk untuk menghancurkan pagiku yang baru saja kumulai. Bahkan sebenarnya aku belum membuka mata sama sekali. Setelah kubuka dengan benar kedua mataku, aku kemudian berbalik, yang tadinya menghadap ke kanan sekarang berbalik menghadap ke kiri. Saat itu juga, aku lumayan terkejut dengan sesosok manusia yang sedang terbaring di sampingku.
Wanita ini tidur sangat lelap, matanya tertutup rapat, terdengar sedikit dengkuran yang keluar dari mulutnya, tetapi dengkurannya itu tak sedikit pun mengurangi rasa ketertarikanku terhadap sosok wanita ini.
Kupandangi bunga indahku sedang tertidur, dengan sedikit mendengkur. Masihku ingat perbuatan manisnya saat di kasur, gerakan yang sangat teratur dan gerak tubuhnya yang lentur.
Bunga terataiku sedang terpejam, mungkin dia lelah karena kuhujam sepanjang malam, setelah kutikam dengan dengan pisau tumpul berkali kali. Anehnya itu malah membuatnya geli, dan dia malah meminta lagi, lagi dan lagi.
__ADS_1
Mayang, kau membuatku melayang. Terbang bebas seperti layang-layang. Mata indah yang kau gunakan untuk memandang, sedang terpejam sekarang. Aku tahu kau telah lelah mengerang. Kau telah lelah menemaniku di malam yang panjang.
Perlahan matanya mulai terbuka. Saat ini, aku sedang melihat proses mekarnya bunga yang indah. Sekarang matanya telah terbuka sepenuhnya, kelopak bunga yang indah mulai mekar. Tatapan kami saling bertemu. Mata kami saling menyapa mewakilakn mulut kami yang tiba-tiba kelu.
'Selamat pagi wanita. Stt diam! Jangan menjawab! Biarkan saja aku berbicara sendiri di dalam hati. Kau hanya perlu diam, dan terus menatapku.'
Di matamu, dalam pikiranmu, adakah namaku dan wajahku? Saat dekat dan saat jauh, masihkah dan selalu adakah rindu untukku? Matamu dan pikiranmu adalah misteri yang tidak bisa aku tebak saat ini.
Aku berharap kerinduan selalu datang padaku, selalu datang juga padamu. Jika rindu tak kunjung datang juga padamu, aku kan mendatangimu mewakili udara yang selalu kau hirup, agar kau terbiasa dengan kehadiranku, dan merasa sesak saat aku jauh darimu.
Cinta adalah momen. Entah di saat apa rasa itu datang dan memperbudakku. Mungkin di hari saat kamu datang, di saat kamu mengisi mataku, memenuhi jangkauan pandangku. Karena mataku yang selalu tertuju padamu, hingga tak mempedulikan hal yang lain.
******
Lima belas menit telah berlalu, dan Mayang pun sudah tidak ada di hadapanku. Biar kuceritakan, tadi Mayang pergi begitu saja, seperti kejadian pertama kali aku berhubungan dengannya, tetapi kali ini tanpa air mata. Tadi dia bangun perlahan-lahan dari tempat tidur, lalu aku berkata, "Maaf jika tadi malam aku membuatmu terkejut."
Mayang hanya diam saja, sambil mengenakan pakaiannya yang semalam kulucuti. Untuk kali ini pun, aku tidak memberinya upah.
‘Astaga, gratisan terus kau, Jun!
Aku pun sekarang sudah menggunakan pakaianku. Lalu aku akan pergi dari kamar yang menjadi saksi bisu. Dinding kamar dan para cicak menjadi saksi saat aku berubah menjadi hewan yang buas, dan dengan beringas menyantap hidangan lezat tadi malam. Sekarang pintu kamar sudah kututup, dan kakiku mulai berjalan menuju kendaran yang kuparkirkan di parkiran depan.
*****
Sekarang aku sudah sampai di kediamanku, aku sedikit terkejut melihat Amalia sedang bersama kekasih simpanannya. Benar-benar pemandangan yang sangat menjijikan. Dengan bersikap masa bodo, Amalia dan kekasihnya sedang berkemas, mengangkut semua baju dan peralatan milik mantan istriku ini.
Dua orang konyol ini sedang menatap ke arahku dengan pandangan merendahkan. Jujur saja, hatiku sangat panas melihat mereka berdua yang tidak menghargaiku sama sekali. Padahal aku dan Amalia masih baru dalam proses perceraian, tetapi mereka benar-benar tak memperdulikanku.
BERSAMBUNG
__ADS_1