PUJAKU Mayang

PUJAKU Mayang
Tamparan ke 3


__ADS_3

Terlihat olehku bayang diriku di dalam mata milikmu.


Inginku suruh bayanganku sendiri pergi dari pantulan matamu.


Sungguh rasanya tak pantas terlihat, seperti lukisan buruk berbingkai emas permata.


Arjuna, jangan memberiku harapan dengan tatapan, jangan memberiku kenangan dalam senyuman. Jika hanya iba yang trbungkus senyuman tulus, jangan jadikan namaku sebagai alamat pengiriman rasa itu.


Simpan saja sendiri olehmu, karna yang aku mau sungguh bukanlah hal seperti itu.


Jangan pula menanyakan apa yang aku mau, karna aku akan meminta sesuatu yang tak pernah kau duga sebelumnya.


Dan hanyalah rasa kecewa yang aku dapat karna penolakan yang kau berikan. Pergilah sebelum semua ini terjadi.


Jauhi aku sebelum rasa ini menjadi terlalu kepadamu. Namun kata-kata itu tak pernah bisa aku katakana kepadamu, malahan yang terjadi aku masih menikmati situasi ini, kami berdua masih saja bertatapan, matakami masih saja berbicara bahasa yang hanya dapat di terjemahkan oleh rasa.


'Astaga, apa yang aku pikirkan saat ini. Aku benar-benar terlena dengan matanya yang begitu tajam.'


"Hey, kok malah ngelamun. Buruan aku ga ada waktu." Aku berusaha kembali menutupi perasaanku kepada Arjuna. Aku tak boleh terlena oleh suasana ini.


"Baiklah maaf, sebenarnya aku hanya ingin mengucapkan terimakasih, karna kamu sudah membantuku kabur semalam."


"Oh, udah gitu doang? Udah kan! Ya udah sekarang kamu pergi dari sini!" Kataku berusaha menguatkan hatiku agar tidak goyah lagi.


"Sebentar ... ini untukmu, ini bayaran untuk mu yang belum sempat kamu terima semalam. Silahkan ambillah."


Arjuna memberiku beberapa lembar uang berwarna merah, terlihat jumlah yang tidak sedikit sepertinya. Akan tetapi, entah mengapa perlakuannya yang terlihat biasa, terasa seperti hinaan untukku.


'Arjuna, tidakkah kau merasakan ketulusan yang ku berikan kepadamu tadi malam? Apakah sedikitpun kau tidak merasakan, ketulusan yang ku berikan? Arjuna, bukan uang yang ku harapkan darimu, bukan upah berbentuk materi seperti ini Arjuna. Apakah memang sudah tak ada kesempatan untukku, dan sebenarnya wanita macam apa aku ini di matamu? Apa sebenarnya maksudmu mencariku semalam?'


Tiba-tiba saja, tanpa aba-aba, dan tanpa memberi peringatan terlebih dahulu kepada Arjuna. tanganku bergerak dan menampar wajah Arjuna.

__ADS_1


'Matamu, di matamu yang indah itu, tidak adakah selain nafsumu yang kau rasakan. Tidakkah kau merasakan ke ketulusan yang ku berikan dalam setiap sentuhan tanganku menyentuhmu.'


Aku benar-benar merasa kecewa dengan Arjuna. Jadi jika kau tidak merasakan apapun dalam belaianku yang lembut, maka lebih baik kau menerima sentuhan kasar dan bertenaga dari tangan ini.


“Pergi,” kataku dengan air mata yang terus-menerus mengalir.


“Pergi … pergi kamu dari sini! Dan jangan pernah kamu tunjukan lagi wajahmu di hadapanku!”


Ketika hati ini berbicara, di saat mata ini melihat, dan dikala telinga ini mendengar Beribu janji manis yang kau selipkan di dalam setiap desahan, yang seolah berkata ‘diam jangan pergi, teruslah bersamaku.’ Saat itu kau membuatku terbang melayang bersamamu.


Namun saat ini, kau memperlihatkan isi dari ilusi yang semu itu. Kau goreskan luka di hatiku kau buat air mataku bercucuran deras, dari mata kepipiku. Aku tak kuasa meyakinkan ini semua.


Hatiku hancur, hatiku patah, hatiku pilu. Namun bukan kau penyebabnya. Aku merasa dihianati oleh pikiranku yang terus memberiku keyakinan bahwa rasa ini akan terbalas.


Bukan mulutmu yang berdusta, tapi hatiku yang berkhianat. Bukan matamu yang memberiku cahaya harapan yang semu, tapi ilusi mataku yang sudah menipu. Dan aku sangat membenci kenyataan itu.


Sudah dua kali aku mengusir arjuna, tapi dia masih diam mematung memandangiku, dengan tangan yang memegangi pipinya. Dalam sehari sudah tiga orang yang ku tampar, sungguh ringan sekali tangan ini.


Siapa yang jahat, aku yang menamparmu dengan tanganku? Atau dirimu yang menamparku dengan kenyataan yang pahit?


Siapa yang kejam? Aku yang berteriak ke arahmu atau dirimu yang mengucapkan dusta dengan sangat lembut.


Aku menyuguhkan air putih jernih untuk menyambut kehadiranmu di dalam hidupku, namun kau memberiku air susu yang manis tapi mengandung racun yang pahit sebagai hadiah atas penyambutanku yang sederhana namun tulus.


Dan lagi kutegaskan, Aku tidak menyalahkanmu. tapi jika boleh, aku tidak ingin lagi mengenalmu.


******


Arjuna pun pergi, walau sempat dia bersikukuh untuk menahan kepergianku dari hadapannya, bahkan sampai bersitegang dengan penjaga pintu depan.


Aku benci, aku benci, tapi kebencianku bukan terhadap arjuna. Aku benci terhadap hatiku yang sangat lemah, mudah terluka dan rapuh seperti ini.

__ADS_1


Setelah menenangkan diri beberapa saat, hatiku mulai menyesali perlakuanku terhadap arjuna ‘bukankah dia tak salah jika hanya ingin memberiku beberapa lembar uang! Bukankah memang sudah biasanya wanita sepeertiku mendapat imbalan atas semua kenikmatan yangku berikan,’ sungguh egois diriku ini, berharap orang yang baru saja aku kenal dapat memahami isi hatiku dan perasaan yang kupunya.


Tak lama berselang, terdengar suara pintu kamarku yang diketuk oleh seseorang yang berada di luar ruangan kamarku.


“Siapa?”


“Ini aku Melly Mayang.”


Ruapanya itu kak melly dia mengetuk npintu seraya meminta izin untuk masuk kedalam kamarku.


“Masuk aja Kak Melly, aku tidak mengunci pintunya kok.”


“Oke, aku masuk ya May.”


“Iya Kak Melly.”


Kak Melly menatapku iba ‘lagi-lagi tatapan ini yangku terima dari orang sekitarku.’ Dia duduk di sampingku saat ini, dan berkata.


“Mayang, kamu mau libur dulu mala mini? Kalau kamu mau libur tar aku kasih tau ke Kak Tiar, biar kamu di suruh istirahat aja malam ini.”


“Gak usah Kak, aku mau kerja kok, toh aku juga gak kenapa-napa Kak.”


“Beneran May? Kamu yakin kamu masih mau kerja?”


Rasanya untuk menjawab pertanyaan yang sama keduakalinya cukup menyebalkan, dan aku hanya menjawab perkataan kak melly hanya dengan anggukkan.


“Oke kalo gitu, kakak ke ruang bilas duluan ya sayang,” kata kak melly sambil berlalu pergi.


Kak Melly berlalu pergi meninggalkan kamarku, aku rasa dia cukup peka untuk menangkap maksud dari sikapku yang menutup diri saat ini, dan sudah cukup rasanya aku mendapat rasa iba dari setiap orang, aku bisa hidup dengan


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2