
“Aku sudah tau kakak dapat uang-uang itu dari mana. Aku sudah mengetahui semuanya. Makadari itu, jangan lagi menyentuhku dengan tangan kotor kakak, tangan yang kakak gunakan untuk membelai pria-pria liar di luar sana. Aku benci Kakak.”
Ini kali pertama danang berteriak ke arahku, dengan jarak yang begitu dekat, terlebih lagi, ujaran kebenciannya kebadaku terasa sanganget pahit untuk di cerna oleh telingaku.
“Danang, kamu bicara apa? Kanapa kamu bilang seperti itiu sama kakak sayang. Jangan bicara kasar seperti itu terhadap orang yang lebih tua dari kamu nak.”
“Pergi … Pergi dari kamar danang.”
“Danang kamu kena..”
“Pergi … pergi Danang bilang pergi! Danang malu punya kakak seperti kak Mayang!” sekali lagi danang berteriak ke arahku. Kepalaku seakan menolak arti dari kata-kata danang. Tapi mataku melihat tatapan Danang yang penuh dengan kebencian. Mata yang seakan menolak keberadaanku ada di dalam pandangannya.
“Danang bukan anak kecil lagi yang bisa kakak bohongi. Danang lihatbdengan mata kepala danang sendiri, kakak mayang sering pergi bersama pria aku kira itu pacar kak mayang, tapi setiap malam bahkan kak mayang berganti-ganti pasangan. Jangan Tanya danang tau dari mana, danang ini udah gede kak, danang tau kehidupan malam kak mayang. Danang tau kak Mayang itu seorang p3l4cu12 ka!”
Plaaakk..
Tanganku seakan tak bisa menerima kenyataan yang keluar dari adik kecilku yang slalu ku anggap anak kecil, dan dia mengaku sudah dewasa. Kata-kata yang slalu kudengar dari orang-orang yang slalu merendahkanku, kata-kata hinaan ini sekarang ku dengar dari adikku sendiri.
Aku langsung berbalik dan berlalu pergi meninggalkan kamar danang. Aku benar-benar berlari menjauh, berlari dengan mengerakan kakiku secepat yang aku bisa. Alasannya bukankarna ucapan danang yang telah menyakiti perasaanku, tapi karna aku menyesal tlah menampar danang. Tanganku masih bergetar karna merasa menyesal telah menampar Danang.
“Mba Mayang.” Suara seseorang memanggilku, membuat langkahku terhenti.
“Mba Mayang kenapa nangis?” orang yang memanggilku tadi sekarang bertanya perihal alasanku menangis.
__ADS_1
“Saya baik-baik saja, saya tidak menangis ini hanya kelilipan saja Pak.”
“Heuh, tidak usah berpura-pura Mba Mayang. Kamu menangis pasti karna Danang mengetahui pekerjaanmu yang sebenarnya kan?” aku terkejut mendengar perkataan pria ini, dia adalah kepala asrama ini.
“Jangan-jangan Danang tau dari Bapak, iya kan?” aku langsung paham arti dari ucapannya adalah sebuah pengakuan, bahwa orang yang memberi tahu danang pekerjaanku yang sebenarnya adalah bliau, Bapak Wahyudi.
*****
Saat itu … Pak Wahyudi bertemu denganku di clube itu, saat itu dia sedang mabuk-mabukan bersama teman-temannya, dan bertemu denganku karena kebetulan clube yang iya datangi adalah clube tempatku bekerja.
“Hey Mba, bisa temenin kita di sini?” kata pak wahyudi memanggil para gadis yang masih belum mendapat pasangan kencan, dan aku adalah salah satunya. Saat itu aku tidak tahu kalau Pak Wahyudi ada di kerumunan orang-orang yang memanggil kami, bahkan aku tidak tahu kalau pak wahyudilah yang memanggil kami.
Saat itu tinggal kami berempat yang belum mendapat teman kencan, dan kami langsung mengahampiri sumbersuara yang memanggil kami, saat itu kami seperti burung merpati yang di beri pakan, remah- remah roti, yang di tebar ke atas tanah.
“Sebentar, tunggu-tunggu. Sepertinya saya pernah liat kamu, wajah kamu seperti tidak asing lagi," Kata Pak Wahyudi sambil menyibakkan rambutku yang separuh menutupi muka.
Betapa terkejutnya aku saat itu, suara Pak Wahyudi rasanya mengalahkan sambaran petir bagiku. Aku benar-benar kaget dan merasa malu sekaligus juga takut.
“Sini Mayang, sini kamu temani saya ok,” Pinta Pak Wahyudi sambil menepuk-nepuk sofa tempat dia sedang duduk.
Aku hanya menuruti saja dan menghampirinya untuk duduk di sebelahnya. Karna bagaimanapun ini adalah pekerjaanku.
Tangannya mulai mengerayangi tubuhku, padahal baru beberapa menit aku duduk di sampingnya. Tanpa basabasi dia kmerangkul pundaku dan mendekatkanku ke tubuhnya.
__ADS_1
“Mayang-Mayang. Aku sudah lama menantikan saat-saat seperti ini … Kau tau, aku selalu memperhatikan tubuh dan wajahmu yang cantik saat kali pertama kamu datang ke asrama tempat adikmu tiggal.”
Pak Wahyudi terus saja meracu, dia membicarakan hal yang tidak jelas, bahkan beberapakali membicarakan danang. Entah ini memang sifatnya atu dia sudah benar-benar di kendalikan oleh racun dunia. Tapi apa dayaku yang seorang pramuria ini. Aku hanya bisa pasrah, menuankan tamu yang datang.
“Mayang sayang, aku sudah tidak tahan lagi, cepattunjukan kamarnya sayang.”
“Maaf Pak Wahyudi. Sekarang ini waktunya clube kami untuk tutup, bapak terlalu lama sih ngombrolnya jadi waktunya abis ke buang. Tuh lihat udah mau jam empat malah pak.”
Sebenarnya aku sengaja, mengulur-ngulur waktu saat itu agar pikiran pak wahyudi ter alihkan. Dan lupa untuk membawaku ke kamar. Namun aku sedikit kurang hati-hati dalam menjalankan siasatku dan membuat pak wahyudi sangat marah terhadapku, dan menyumpahiku macam-macam.
Hingga dia mengancamku akan memberi tahu danang, apa pekerjaanku yang sebenarnya, jika aku tak mau melayaninya saat itu. Sebenarnya aku juga takut dengan ancaman Pak Wahyudi, tapi ini memang sudah menjadi peraturan di sini, untuk tidak melayani tamu jika sudah jam 3 lewat. Karna beberapa faktor yang mengharuskan seprti itu, terlrbihlagi, aku tidak ingin menemani pria tua tidak tahu malu ini.
******
Aku benar-benar tidak menyangka pak wahyudi yang seorang kepala asrama malah melibatkan anak kecil dalam masalah seperti ini, beliau tega mengancurkan hari indah danang dengan memberi tahu kakaknya adalah seorang pramuria. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana hari-hari danang kedepannya.
“Saya benar-benar tidak habis piker dengan apa yang bapak lakukan ini, tega-teganya bapak menghancurkan masa depan seorang anak muda seperti danang!” kataku sambil menunjuk-nunjukan jari telunjukku ke arah wajahnya, aku sudah terlampau emosi menghadapi orang yang seperti ini.
“Jangan salah kan saya mayang, salahkan diri kamu sendiri. Suruh siapa kamu tidak mau mendengarkan peringatan dari saya, coba kalau kamu melayani saya saat itu, mungkin ini tidak akan terjadi mayang.” Dengan wajah yang tak bersalah dia mengatakan [perkataan yang menjujikan seperti itu.
Jika saja dia bukan kepala asrama di sini mungkin aku sudah menamparnya saat ini, mulutnya sangant lancing dan kotor, benar-benar tidak pantas untuk menjadi seseorang pemimpin di tempat seperti ini.
“Tapi Mayang, semua ini masih bisa di atasi jika kamu mau menemani saya sekarang. Jika kamu mau, saya bisa menghampiri danang dan menjelaskan kesalah pahaman ini … Bagaimana kamu tertarik sayang?”
__ADS_1
Ini akan menjadi kali pertama dalam hidupku menampar orag yang jauh lebih tua dari di banding diriku.
BERSAMBUNG.