PUJAKU Mayang

PUJAKU Mayang
Mabuk ke-Mayang


__ADS_3

Mayang menatapku kesal, perlahan dia mengangkat tangannya lalu menampar pipiku dengan alasan yang tidak ia katakan.


'Apa yang salah dengan ku?' Ingin kubertanya demikian, tetapi bibirku masih kelu.


Aku benar-benar terkejut dengan apa yang Mayang lakukan padaku. Bukankah hal yang wajar jika aku ingin memberi upah atas pekerjaan yang telah dia lakukan?


"Pergi!" titah Mayang dengan tangan yang menunjuk entah kemana.


“Pergi kamu dari sini! Jangan pernah kamu tunjukan lagi wajahmu di hadapanku!"


Kata-kata Mayang itu aku anggap sebagai pengganti kata pamit, karena setelah mengucapkan kalimat itu, dia berbalik dan berjalan menjauhiku. Anehnya dia yang menyuruhku pergi, tetapi dia yang menjauh. (wanita kalo sedang emosi memang begitu) Sedangkan tubuhku masih membatu, diam tak bergerak. Ketika Mayang sudah terlalu jauh dariku, barulah aku bergerak dan berkata, Ma-Mayang, Mayang tunggu dulu Mayang! kataku sambil mengejar Mayang yang sudah menjauh.


Sungguh terlambat sekali tubuhku bereaksi, karena aku benar-benar terkejut dengan tamparan yang Mayang berikan. Ini pertama kalinya dalam hidupku, ditampar oleh seorang wanita.


"Maaf Tuan, sekali lagi saya peringatkan, Anda tidak boleh masuk ke dalam!"


"Tolong pengertiannya, Pak. Saya ada sedikit urusan dengan Mayang."


Security itu sekarang mencegahku dengan tindakannya, dia mendorongku hingga aku tersungkur. Badannya yang besar dan tenaga yang kuat, membuatku tak bisa menahan serangannya. Security itu masih melihatku dengan mata yang terbuka lebar. Aku tidak bisa melawannya, karena aku masih ingin datang lagi kemari untuk menjumpai Mayang.


Aku mengalah, tetapi bukan untuk menyerah. Hanya mengambil ancang-ancang untuk melesat kembali ke tempat ini, dan mengambil bunga indah yang tak seharusnya tumbuh di tempat yang lembab.


****


Sekarang aku sudah berada jauh dari tempat yang menolak keberadaanku itu.


"Thor apakah kau sudah memperkenalkanku?"


"Em ... rasanya belum. Maaf aku lupa."


******


Arjuna Iskandar. Itulah namaku, lahir di Kota Dataran Sunda, Provinsi Jawa Barat, pada tahun 1994. Tanggal dan bulan aku rahasiakan 'takut banyak yang ngasih kado.' Aku keturunan murni Bangsa Indonesia, dan aku berani menjamin itu karena leluhurku tidak ada yang berasal dari bangsa lain. Entah kenapa hal itu menjadi kebanggaan tersendiri untukku. Tinggi badanku seratus tujuh puluh delapan centimeter. Memang tidak terlalu tinggi dan berat badanku hanya enam puluh kilogram.


“Apakah itu kurus?”


Kurasa iya. Aku sering mendapat sindiran dari rekan kerjaku, katanya aku kurus karna “tekanan batin, menghadapi istri seperti Amalia. Entah mengapa aku menyetujuinya.

__ADS_1


*******


“Houwo ... apa yang terjadi, terjadilah.Yang dia tahu tuhan penyayang umatnya ...."


Itu adalah lagu Peterpan yang sangat kusukai, lalu aku jadikan nada dering ponselku. Artinya sekarang sedang ada yang sedang meneleponku.


"Juna, koe neng endi?"


"Sa-saya se-sedang di ...."


“Uwes ojo kakean alesan, tak enteni neng kantor saiki!"


"Iya, Bu. Saya ke sana sekarang."


“Tak enteni koe tekan 30 menit. Nek koe durung tekan sampek 30 menit, tak ketok honormu!"


Tut … tut … tut .…


Bunyi panggilan berakhir. Yang meneleponku barusan adalah Bu Novi. Dia Bos di tempatku bekerja. Namun, bukannya kata Deva Bu Novi tidak masuk hari ini? Ah, sial Deva membohongiku lagi. Aku ingin berkata kasar, dan menyebutkan nama hewan, berkaki empat berbulu dan memiliki taring. Atau menyebutkan ciripa, nama anjin9 peliharaan Dulsemaria, tokoh utama dalam telenovela, yang sering kutonton saat masih kecil. Kalian tahu kan? Kalau tidak tahu ya sudahlah, tak penting juga untuk dibahas.


Ah sial, dari tempat ini menuju kantor kan sangat jauh! Kumaha carana ieu teh! (bagaimana caranya ini).


Tanpa banyak babibu lagi, segera kutarik gas motorku untuk menjauhi tempat ini, dan mendekati kantor di mana bosku berada.


*****


"Selamat siang, Bu Novi. Makin cantik aja." Aku harus mengatakan kebohongan ini dengan harapan agar Beliau tidak terlalu 'over power' saat memarahiku.


“Halah koe, Jun. Aku iki bosmu, ojo macem-macem! Tok pikir salahmu iso ditutupi karo gombalanmu? Aku uwes introgasi Deva, salah siji kaki tanganmu."


Kemudian Beliau membuka laci yang berisi beberapa dokumen, dan di lemparkannya proposalku yang dianggapnya abal-abal.


“Iki coba tok cek meneh proposalmu sing semrawut. Koe ki pekerja seni, nggawe laporan kok amburadul! Gelem koe pameran iki gagal gara-gara proposalmu ora disetujui?"


Aku hanya diam dan menundukan kepala, rayuanku gagal. Memang Bu Novi ini memiliki kepribadian yang 'sersan' (serius tetapi santai) tetapi entah kenapa pandangan Bu Novi kepadaku mendadak terlihat iba, dan beliau berkata,


“Aku ngerti masalahmu, urusan uripmu, tapi nek iso tulung ojo mbok gowo urusan pribadimu ke sini to Jun."

__ADS_1


"Iya bu, saya akan coba lebih professional lagi."


"Yowis, iki gowo proposalmu, rombak meneh. Yang rapi ya, Jun."


"Iya, Bu."


Aku langsung meninggalkan ruangan Bu Novi, karena tidak kuat lagi mendengar ceramahnya. Ya memang semua ini salahku, dan wajar jika Beliau memarahiku.


"Koe iki Jun, Jun. Raimu apik, tapi gawean kok semerawut koyo ngene!"


Kata-katanya masih bisa kudengar, walau sekarang aku berada di luar ruangan Bu Novi. Aku berkeliling kantor untuk melampiaskan kekesalanku kepada Deva. Karena dia sudah membohongiku dan memberikan proposal yang setengah jadi kepada Bu Novi. Namun, keberadaan Deva tak bisa kutemui.


'Pergi kemana anak itu?' Sepertinya Deva sengaja bersembunyi dariku.


*****


Setelah tidak bisa berhasil menemukan Deva, aku memutuskan untuk kembali ke club itu lagi. Entah kenapa hatiku bersikeras ingin menjumpai wanita yang belum kupuja.


'Mungkin masih proses.'


"Akhirnya tulisan closed yang menempel di pintu itu hilang juga."


Bak serigala yang menemukan gerombolan kambing betina, mataku sekarang kubiarkan berpetualang. Kuamanatkan misi untuk mencari bunga terataiku di kerumunan tanaman enceng gondok yang membatasi pandangan.


"Mas, saya pesan minuman yang ada gambar kakek berjanggut putih ya."


"Siap ,Mas."


Itulah kebiasaanku di club mana pun, pasti aku memesaan minuman itu, alasannya ya sederhana aku menghargai 'orang tua.' Mataku berhasil menjalankan misi dan telah menemukan bunga teratai yang kucari. Aku dibimibing oleh mataku untuk menghadap ke arah di mana Mayang berada.


Mayang, dia berjalan ke panggungnya, tempat ia tebarkan pesona. Kakinya berjalan ke depan dengan sangat teratur, kiri kemudian kanan, sekarang kiri lagi, dan seperti itu secara berulang. Mayang berbalik membelakangiku, dia mengikhlaskan bemper belakang tubuhnya untuk ditatap mata-mata yang haus akan kemolekan tubuh.


"Wahai mataku, janganlah berhenti memandangi keindahan ini. Nikmati setiap partikel terkecil yang ada dalam sosoknya, dan akan aku suruh si otak untuk mengingat setiap detil pertunjukan keindahan sang Mayang untuk kesehatan si jantung dan hati."


"Mayang kau membuatku, Mabuk ke-Mayang."


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2