
Sehari kemarin Amalia, wanita yang kupanggil dengan sebutan separuh nafas, kini telah pergi bersama pria yang dia sebut dengan belahan jiwa. Aku yang menanam, dia yang memetik. Aku yang menjaga dengan sekuat tenaga pun, masih saja bisa menimbulkan cela, dan dia pria yang sangat pandai memanfaatkan kesempatan, dari penjagaanku yang sempat goyah, dia begitu cepat merebut intan permata yang kujaga dengan sekuat tenaga.
Kau harus tau, aku adalah tanah. Tempat bunga itu tumbuh indah merekah. Aku yang memeluknya saat dingin mendera, aku yang memberinya asupan Makanan agar dia bisa tumbuh subur, nyaman dipandang, dan kau lelaki yang terpesona dengan kecantikan bunga melatiku. memetiknya begitu saja, tanpa peduli dengan tanah yang terkoyak akar bunga.
Bunga indah merekah yang kini tlah kau renggut dari tanah yang rela bersusah payah demi menjaganya agar tetap indah. Tidak akan sesegar saat masih tertancap di tanah. Meski pun kau menaruhnya di dalam fas bunga yang bernilai tinggi dan mewah.
*****
Ada beberapa doa yang mengecam di dalam dada, yang tertahan di mulut, 'aku tak mau menjadi seorang yang pendendam.' Karena jika kuhujat dia di hadapan sang kuasa, bukankah aku akan terlihat sama buruknya. Sedangkan aku kini sudah tak mau memiliki sesuatu yang sama dengan Amalia.
Sebab, kata sama tak selamanya bisa menjadi pondasi dalam memadu cinta. Tetapi ketika kita berbeda, itu sudah cukup menjadi alasan untuk saling menjauhi dan menghancurkan.
"Aku jenuh dengan rasa sesak yang begitu kukuh menghimpit dada. Kapan semua ini akan usai?"
Terdengar suara pintu depan rumah, yang di ketuk oleh seseorang. Siapa orang yang mengetuk pintu rumah, aku tidak tau. karena seingatku, tidak memiliki janji dengan siapa pun.
"Siapa?"
"Siapa lagi? Temanmu yang masih setia ingin menemanimu siapa lagi? Ini aku Deva!"
Suara ketukan pintu tadi itu ternyata Deva.
"Masuk lah Dev, pintunya gak dikunci!"
"Oke aku masuk!"
Aku sempat berpikir. Jika saja Dev adalah seorang wanita, pasti aku sudah jatuh cinta padanya sekarang. kenapa bisa seperti itu? karena dari awal aku mengenal Dev dia orang yang sangat baik pandai bergaul dan sangat setia kawan.
Tanpa sadar senyumanku menyambut kedatangan Dev yang sedang perlahan mendekatiku.
"Juna! Lu gak ada niat buat menyimpang kan? Lu masih laki-laki tulen kan?"
'Engga lah Thor! gue masih normal!'
__ADS_1
"Gue sebagai othor lu kaget, oke lanjutkan adegan."
*****
"Juna, kau masih memikirkan Amalia? Ya wajar sih, ini semua terlalu mendadak."
"Yah begitulah Dev, ini terlalu cepat."
"Sabar kawan, waktu berlalu bersama rasa sakit yang perlahan akan memudar, hehe."
"Semua ini terlalu cepat Dev, bisa-bisa nya Amalia berbuat seperti itu ketika karirku sedang dalam masa prima seperti ini. Dan sebelumnya juga, aku dan dia tidak ada masalah apapun."
"Tapi laki-laki yang membawa Amalia pergi itu, aku tau siapa dia. Setelah nama belakangnya kau sebutkan kemarin. Jika aku tidak salah informasi, laki-laki itu adalah pewaris tunggal perusahan keluarganya. dia juga adalah mantan pacar Amalia kan? ... ya mungkin saja, memang selama ini dia dan Amalia, sudah memiliki hubungan yang seperti ini di belakangmu Jun."
"Entah lah, sekarang aku belum bisa berpikir jernih, sungguh semua ini membuatku tak habis pikir ... dia yang aku bela mati-matian di hadapan Ibuku, ternyata malah seperti ini."
Kamipun terdiam untuk beberapa saat. Deva beranjak dari tempat duduknya berjalan ke dapur rumahku, mungkin dia hendak mengambil beberapa minuman dingin di lemari es.
"Thanks Dev."
"Tidak usah bilang makasih, itu juga dari lemari es milikmu."
"Iya juga sih," kataku sambil sedikit tersenyum.
"Haha, nah gitu dong setidaknya senyum dikit biar otakmu tidak terlalu tegang ... udah sore nih Jun, aku harus segera pulang ada sesuatu yang arus dikerjakan."
"Heum, oke hati-hati di jalan kawan," kataku sambil mengangkat tangan hendak mengajak tos kepada Deva.
"Oke, jangan lupa besok kau harus ke kantor," kata Deva sambil mengambil tasnya yang berada di sofa dan berjalan menuju pintu.
Sedikit sapaan kawan, membuat beban sedikit berguguran. Aku ucapkan terimakasih kepada tuhan, karna masih memberiku orang yang mau perduli dengan kondisi hatiku saat ini.
Teman, adalah orang yang selalu kau butuhkan saat sendiri merasa sepi. Bahkan setelah di lupakan tak jarang juga teman selalu tidak kita hiraukan. Terlena oleh cinta hingga terkadang kata teman selalu kita kesampingkan. Namun, mungkin juga kalian merasakan bahwa tak jarang secara naluriah kita selalu kembali mencarinya, Setelah kita membuangnya. Tetapi kata maaf untuk kita selalu dengan murah dia berikan kembali walau telah kita lupakan berkali-kali.
__ADS_1
"Haah ... karena Deva, setidaknya aku bisa sedikit tertawa. Masih merasa ada yang memperdulikan hidupku yang berantakan."
Aku akhirnya beranjak dari kursi yang menghadap jendela, akhirnya aku berhenti memandangi langit luar dan berhenti pula menenggelamkan diri dalam kenangan.
Aku melihat ke arah jam dinding, terlihat waktu menunjukan pukul 02:30 sore hari.
"Masih ada waktu untuk menyegarkan pikiran yang kacau ini sebelum kembali mengerjakan lukisanku yang belum selesai, rasanya aku ingin mencari tempat yang tepat untuk menghilangkan penat."
Kakiku mulai melangkah menuju pintu depan, rasanya saat ini aku ingin menyendiri lebih lama lagi. Tetapi bukan untuk kembali menenggelamkan diri dalam kenangan masalalu.
Aku hanya ingin menyendiri saja tanpa memikirkan apa-apa. Oleh karena itu sepertinya danau pinggir kota rasanya tepat sekali untuk menenangkan pikiran yang kacau. akhirnya Akupun berangkat.
******
Sesampainya di danau pinggir kota, aku memarkirkan motor di tempat yang semestinya. 'Tentu saja jika parkir sembarangan pasti akan menyebabkan beberapa kekacauan yang tidak harapkan bukan?'
Kemudian aku melangkahkan kaki memasuki taman di pinggiran danau, di sana terdapat beberapa kursi untuk orang-orang mengistirahatkan diri. Baru saja aku hendak menduduki salah satu kursi,yang berada di taman. Kepalaku terkena lemparan bola.
"Aiiss ... siapa yang melempar kepalaku dengan bola?" Aku sedikit terkejut karena kepalaku tiba-tiba dihantam bola sepak.
"Eum, maaf Om Satria gak sengaja," kata seorang anak kecil yang menghampiriku. Mungkin dia pemilik bola ini.
"Hey anak kecil, lain kali kau harus berhati-hati saat bermain bola di ruang umum seperti ini."
"Iya Om maaf, tapi bukan Satria yang tendang. Tapi Kak Mayang."
"Mayang?"
Mendengar nama Mayang, aku benar-benar tersentak dan seketika, aku mendongakkan kepalaku mencari perempuan, yang anak kecil ini sebutkan.
"Apakah dia benar-benar Mayang yang aku kenal?"
BERSAMBUNG.
__ADS_1