PUJAKU Mayang

PUJAKU Mayang
Penabur Dosa


__ADS_3

Bunga Wijaya Kusuma. Selalu indah merekah di malam hari. Dan menutup diri di hadapan mentari pagi.


Bunga Wijaya Kusuma. Yang indah mewangi di malam hari, slalu iri pada melati yang menjadi perlambang cinta sejati.


Bunga Wijaya Kusuma, dia terbangun di malam hari. Menadahkan tiap kelopak nya kepada sang ilahi.


*****


Aku terduduk di hadapan cermin, yang memantulkan gambar diriku. Terlihat sepasang bola mata dengan lingkar hitam yang menipis, bahkan mata yang masih basah.


Entah berapa tetes air mata yang sudah membasahi pipi, namun tak kunjung jua menghanyutkan segala kesedihan.


Tuhan...


apakah aku terlalu bodoh untuk mencintai seorang pria?


apakah aku terlalu hina untuk menjadi manusia biasa?


kapan ini semua akan menemui akhirnya?


Kapan aku bisa seperti bunga melati yang indah mewangi sepanjang hari. Dan slalu di jadikan perlambang cinta sejati.


Aku lelah menjadi bunga malam, seperti bunga Wijaya Kusuma.


Diriku hanyalah onggok manusia yang tak berdaya pada pujian dunia


hilang, tersesat dalam nikmatnya harta


Malam ini, akan seperti malam-malam yang sebelumnya ku lalui. Bukannya aku tak mau merubah keadaanku agar tidak terus-menerus hidup dalam kubangan dosa, apalah dayaku yang hanya lulusan sekolah menengah pertama ini.


Ijazah yang ku punya, tidak bisa ku andalkan untuk merubah kehidupan ini. Maka dari itu aku bekerja keras demi Danang, agar kehidupannya bisa jauh lebih baik dariku.


Namun, Danang tidak bisa memahami maksudku untuk membahagiakannya, walau memang cara yang ku lakukan ini tidaklah bisa di sebut cara yang benar.


*****


Sosok rupawan yang bersinar terlihat di ujung mataku. Dia adalah lelaki yang ku tampar tadi siang, dia alah Arjuna.


"Kenapa dia masih berani datang ke sini?"


Aku benar-benar terkejut saat ini. Aku kira dengan adanya kejadian tadi siang dia tidak akan lagi mau datang ke sini.


"Mayang, ayo maju sana giliran kamu nyari cowok hehe, masa mau dieum aja." Seseorang menyuruhku untuk maju mencari mangsa.


"Iya Kak." Aku tak tahu siapa yang barusan berkata seperti itu. Tapi karna aku adalah yang paling muda, dan belum lama bergabung di sini, jadi semua pekerja di sini aku panggil dengan sebutan Kakak.


Akupun tak menyia-nyiakan kesempatan ini, semuanya demi Danang. Aku harus bisa mendapatkan uang lebih banyak. Dan untuk menambah keberanian aku meminum segelas bir.


Aku melangkahkan kakiku ke arah kerumunan orang-orang yang sedang terhanyut dalam suara musik yang begitu keras.

__ADS_1


Aku membaurkan diriku dalam keramaian orang-orang, membiarkan tubuhku mengikuti irama musik yang menghentak.


"Akanku buat semua pria di sini memperebutkanku."


Namun sungguh hati dan mata ini tak bisa berdusta, hatiku masih mengontrol pergerakanku agar terlihat anggun dan indah di mata Arjuna. Dan mataku, tetap saja memandangi kehadiran pria itu.


"Hay nona cantik, malam ini mau gak kalo temenin aku?"


Suara seorang lelaki terdengar olehku, dia memberiku tawaran untuk menemaninya. Dengan wajah yang penuh rasa percaya diri dia menyentuh pundakku, lalu menghadapkan tubuhku ke hadapannya.


"Wow ... Tahan dulu tuan, apa yang kau punya hingga berani menyentuhku."


"Berapa yang kau minta?"


"Pertanyaan yang sangat menantang, ku suka lelaki sepertimu." Lain di mulut lain di hati. Sebenarnya aku sungguh membenci lelaki seperti ini.


"Mau menemaniku sayang?"


Hanya senyuman tipis penuh kepalsuan yang bisa ku berikan untuk menjawab tawarannya. Aku menjulurkan tanganku seraya menyebutkan namaku.


"Mayang."


"Nama yang sangat indah ... Deri." Dia pun menyebutkan namanya, dengan muka angkuh dan sambil sedikit mengangkat alisnya.


Sungguh aku membenci pria seperti orang ini. Orang yang selalu mengandalkan uang untuk mendapatkan apapun yang dia inginkan.


*****


Aku berjalan dalam pelukan pria yang menjanjikanku beberapa rupiah yang ku butuhkan. Kami melewati keberadaan Arjun.


'Rasa sakit apa ini,' kataku dalam hati. Entah bagaimana caranya, rasa sakit dalam hatiku tiba-tiba saja terasa sangat nyata, setelah mataku dan mata Arjuna bertemu.


'Apa yang sebenarnya kau fikirkan tentangku? Apakah kau menganggap diriku ini wanita? Atau kau hanya menganggapku, seperti wahana hiburan yang kau tunggangi sesuka hatimu?'


Matamu menimbulkan beberapa pertanyaan Arjuna.


Caramu memandangku terasa sangat berbeda.


Katakanlah apa arti tatapan itu Arjuna.


Sungguh aku tak ingin menjadi penerka dengan seribu tanya.


Karna saat ini kecewa sedang menatapku juga dengan pandangan angkuhnya, sambil menertawakan harapanku, akan cinta yang tersirat dari matamu.


"Siapa dia?" Deri tiba-tiba saja bertanya prihal orang yang sedari tadi beradu tatapan denganku.


"Bukan siapa-siapa."


"Heum ... Baiklah, aku pun tidak tertarik dengan urusan pribadimu, yang ku inginkan hanyalah tubuhmu sayang."

__ADS_1


Aku terkejut mendengar ucapan yang keluar dri Deri, aku memang wanita malam, tapi selama aku berada di profesi hina, ini baru kali pertama aku mendapat hinaan yang terasa sangat merendahkan.


"Ayo sayang, kita akan membuat madu malam yang manis."


Ucapan Deri semakin menjadi-jadi 'menjijikan' tapi fakta memang apa bisa di kata, memang itu nyata, aku wanita hina yang tak pantas untuk Arjuna.


Tapi matanya benar-benar penuh dengan perasaan hangat yang menyelimutiku. Tak seperti tatap belas kasih kosong lainnya yang selalu ku dapat dari orang lain, menatap iba dan slalu membuatku merasa hampa.


Waktu berlalu. langkahku telah benar-benar membawaku jauh dari keberadaan Arjuna. Hingga sosoknya tak bisa ku dapati lagi di ruang pandang ini.


*****


"Terimakasih Mayang, kau sungguh luar biasa malam ini. Aku akan menemui dirimu di malam-malam berikutnya sayang."


Aku barusaja selesai melayani hasratnya. Dia berlalu pergi dari ruangan kami memadu nafsu dan tak lupa menaruh setumpuk uang di tepian ranjang.


Setelah selesai melayani Deri yang sudah pergi, aku memutuskan kembali ke turun ke bawah, di mana suara dentuman musik yang begitu keras terdengar.


Satu demi satu anak tangga ku turuni dengan hati yang sangat berat, sungguh hati ini sangat enggan untuk kembali ke sana, alasannya selain aku tak ingin melakukan pekerjaan ini lagi, juga aku tidak ingin lagi melihat Arjuna, atau bahkan terlihat oleh Arjuna.


Rasanya aku ingin berada dalam dimensi yang berbeda dengannya. Aku ingin berdekatan tanpa saling menyapa, atau bahkan saling mengenal. Aku menyesali perbuatanku sndiri, yang telah berani menghampirinya di waktu pertama kali melihatnya.


"Apakah ada kisah cinta seorang pramuria yang berakhir bahagia?"


Sedari dulu bukanlah tak ada kisah yang seperti itu, lantas apa yang ku harapkan dari perasaan ini, Bukankah lebih baik aku menghapus perasaan ini, agar tak merasa di hianati lagi oleh harapan yang menyakitkan.


****


Kehadiranku yang tlah kembali memasuki tempat penaburan dosa ini, di sambut oleh beberapa pasang mata, yang sedari tadi sudah terpana oleh moleknya gerakanku.


"Mayang ... Wah kamu bakal banjir job nih. Tuh liat cowok-cowok di sana udah nunggu giliran. Kamu hebat sayang." Sambutan pertama yang ku dapatkan setelah kembali ke sini ku dapatkan dari seorang wanita paruh baya.


Dia adalah bos di sini, kami memanggilnya 'Tante Kusuma' dia seorang wanita berumur hampir 50han. Dia bukan orang jahat, tak bisa juga di sebut baik. 'tunggu, apa hakku menikah baik atau buruknya orang? Aku bahkan tak lebih baik darinya.'


'Satu, dua, tiga. Astaga ada 5 pria yang sudah menungguku,' kataku dalam hati. Sambil menghitung jumlah pria yang menunggu giliran untuk menikmati maduku.


Ada rasa takut menyelimutiku saat melihat beberapa pria yang menatapku dengan buasnya. Rasa hatiku sungguh ingin menolak kenyataan ini.


Namun, keraguanku sirna, ketika melihat Arjuna, yang masih saja tak memalingkan pandangannya dariku.


'Apa yang sebenarnya kau taburkan dalam arti pandangan itu Arjuna.'


BERSAMBUNG.


Note : maafin Mayang ya ... bulan Ramadhan ini masih nakal.


selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankan.


marhaban ya romadhon.

__ADS_1


__ADS_2