PUJAKU Mayang

PUJAKU Mayang
Danang


__ADS_3

Entah apa yang ada di dalam pikiran Arjuna sekarang, tapi mengapa aku merasa di rendahkan oleh tatapannya itu.


‘Aku tidak butuh di kasihani. meskipun kasihan berasal dari kata kasih, tapi matamu tak memberiku kasih apapun. Yang ada aku malah merasa di rendahkan.’


****


Aku sudah sampai di tempat tujuanku, yakni pintu belakang clube. Aku membawa Arjuna kemari agar dia bisa kabur lewat pintu pintu belakang, karna setahuku ini adalah jalan yang paling aman.


“Kamu bisa pergi lewat sana,” kataku sambil mengarahkan telunjukku ke arah pintu yang masih tertutup.


“Ok, terimakasih sudah mengantarkan aku sampai sini Mayang.”


Mataku terbuka lebar mendengar arjuna menyebut namaku. Mungkin dia mendengar Kak Tiar yang tadi menegurku sambil menyebutkan namaku. Akan tetapi akan lebih baik juka arjuna tidak mengetahui namaku.


“Iya,” jawabku dengan nada yang rendah, dan kepala yang menunduk.


Entah mengapa hatiku menjadi makin tidak karuan melihat Arjuna mengarahkan senyumannya kepadaku. Dan entah mengapa tanganku tiba-tiba saja meraih gagang pintu dan segera menutup pintu yang sedari tadi terbuka.


“Mayang.”


Masih saja terdengar suaranya memanggil namaku.


Bukan aku tidak mau lagi mendengarnya.


Aku menjauhimu bukan agar lebih baik bagiku, tapi ini adalah yang terbaik untukmu.


Sungguh tak pantas jika pria baik sepertimu bermain dengan perempuan buruk sepertiku.


Bukan ... bukan rupaku yang buruk, tapi seluruhnya tentangku adalah hal buruk bagimu.

__ADS_1


Pergilah pria baik. Jaga dirimu baik-baik. Tinggalkanlah aku sendiri, semoga kesendirian memebriku kesadaran, dan perlahan menerima kenyataan, bahawa dirimu sungguh tak pantas untukku harapkan.


*****


Sekarang waktu menunjukan pukul 05:45. Waktu demi waktu ku habiskan dengan memikirkan Arjuna. pria yang baru saja aku kenal. Sebenarnya aku merasa tak layak hanya dengan menyimpan bayangannya dalam benakku. Alasannya karna aku yang tak pantas untuk mendambakan pria tampan seperti Arjuna, terlebih lagi, dia sudah mempunyai seorang istri yang cantik. Namun memang dasar hati tak bisa di halangi. Bayangan wajahnya telah ada di dalam hati dan telah bersemayam di dasarnya.


Kini aku sedang berbaring di atas kasur, rasanya hari ini begitu melelahkan, bukan ragaku yang merasa lelah, tapi hatiku yang merasa sangat lelah. Detik demi-detik hatiku tak henti-hentinya menyanjung paras sang arjuna. Begitu mudahnya dia datang dalam duniaku dan masuk kedalam hatiku.


Ponselku bergetar. Aku meraihnya, terlihat ada satu pesan masuk, isinya adalah.


‘Selamat pagi Mba Mayang. saya perwakilan dari asrama KASIH BUNDA ingin mengabarkan bahwa, adik anda yang bernama Danang narayana, sedang dalam kondisi kurang sehat/sakit. Harap mba Mayang berkenan menjenguk saudara anda. Terimakasih.’


Aku sangat terkejut membaca pesan singkat yang di kirim dari asrama tempat Danang tinggal, dan aku segera beranjak dari tempat tidurku, tanpa sempat mandi atau mencuci muka bahkan berganti pakaian, aku segera memesan taxi online, agar bisa mengantarku dengan cepat ketempat danang berada.


“Danang kamu sakit apa? sampai-sampai pihak asrama yang mengabari kakak.” Kataku sambil panik, di tambah lagi rasa kesal yang menghampiriku dikala resah menunggu taxi online yang tak kunjung datang. Entah berapa kali aku mengumpat supir taksi online yang tak kunjung datang.


“Mba mayang ya?” Kata seseorang yang berada di dalam mobil, dan sepertinya dia adalah supir taxi online yang ku tunggu dari tadi.


“Iya mba, duh maaf ya jalanan nya macet banget tadi.”


‘Alasan klasik.’


Akupun masuk kedalam taxi online yang ku pesan. Setelah memastikan alamat tujuan yang berada di aplikasi, kamipun segera berangkat menuju tempat yang sudah di pastikan kebenaran arahnya.


Tak hentinya rasa hawatir mendera hatiku, sepanjang jalan aku memikirkan adikku satu-satunya ‘danang kamu sakit apa si saying, ko sampai pihak asrama yang menelfon emba?’ ini benar-benar membuatku cemas, kara biasanya jika danang sakit dia memberi tahuku secara langsung.


*****


Akhirnya akupun sampai di asrama tempat danang tinggal dan menuntut ilmu. Tak berlama-lama lagi, setelah selesai membayar ongkos taksi, aku segera berlari ke arah asrama dan langsung menuju kamar danang.

__ADS_1


“Mba Mayang, selamat pagi Mba.” Salah satu pengurus di asrama menyapaku dengan ramah.


“Iya bu selamat pagi juga, gimana keadaan adik saya Bu?” tanpa ingin berbasa-basi lebih lama lagi, aku langsung menanyakan kabar tentang adikku Danang.


“Emm … Danang sebetulnya tidak terlalu sakit. Hanya saja dia sudah tiga hari ini tidak memakan apapun, entah ada masalah apa dengan danang, dan kamipun merasa panik dan menelfon mba Mayang.”


“Boleh saya melihat keadaan adik saya Bu?”


“Oh iya, silahkan Mba Mayang, sebelah sini.” Pengurus asrama itupun mengantarkanku ke kamar Danang, sebenarnya aku tak perlu di antar lagi, karena ini adalah kesekian kalinya aku menemui adikku Danang.


“Ini kamarnya Mba Mayang, silahkan masuk, saya tunggu di luar.” Aku sangat senang sekali terhadap perlakuan yang ku dapatkan dari Ibu pengurus asrama ini.


'Beliau sangat ramah sekali.’


Akupun masuk kedalam kamar adikku Danang. Aku melihat danang yang terbaring di atas kasur, sepertinya dia sedang tidur, wajahnya terlihat pucat ‘Danang sayang, kamu sakit apasih dek?’


Aku duduk di tepian kasur Danang, aku mengulurkan tangan ingin membelai wajah adikku tersayang. Tapi reaksi danang membuatku terkejut. Dia menepis tanganku yang hendak membelainya dengan kasih sayang, dan membalikan badannya, membelakangiku dia sekarang.


“Danang syang, kamu udah bangun sayang?” kataku sambil membelai paha kaki adiku. Namun Danang hanya terdiam, tidak bereaksi apapun terhadap perlakuanku.


“Dek, kamu sakit apasih sayang? Coba bilang sama kaka.” Danang tetap saja bungkam dan terdiam, dia tetap saja tidak bereaksi apapun.


“Kamu kenapa si? Lagi kesel sama kakak? Ngomong dong, kok dieum gitu? Maafin kakak ya jarang nengokin kamu sayang, di kantor kakak lagi banyak kerjaan, danang tolong ngertiin kakak ya.” Aku terus saja ,merayu danang dengan perkataan yang aku bisa katakana. Namun mendengar kata-kataku yang terakhir, membuat danang terkejut dan mengambil posisi duduk menghadap ke arahku, dengan mata yang sudah berlinang air mata.


“Danang sayang kenapa kamu nangis? Kamu kangen kakak ya sayang? Maaf ya.” Kataku sambil kembali mengulurkan tangan ke arah pipi Danang, tapi untuk kesekian kalinya dia ,menepis tanganku lagi.


“Jangan sentuh aku dengan tangan kotor kaka!” perkataan Danang Membuatku terkejut.


“Kamu belajar dari siapa bahasa seperti itu! Kakak ga suka ya kamu pake bahasa seperti itu sama orang yang lebih tua dari Kamu.”

__ADS_1


“Udah lah Kak, Kakak tidak usah membohongiku lagi, semuanya bakal percuma. Aku tau siapa kakak sebenarnya, dan aku tau pekerjaan kakak adalah …."


BERSAMBUNG.


__ADS_2