
Kini, kau wakilkan semua perasaan dan harapan kepada matamu dan berharap semua rasa yang kau miliki dapat aku mengerti saat mata kita saling menatap. setiap kedipan yang kau lakukan, memiliki isyarat tersendiri, menggantikan tugas mulutmu yang seharusnya berbicara. Namun, aku bisa memahami kenapa mulutmu enggan untuk mengeluarkan kata-kata. Dia, mulutmu sudah tertutup oleh rasa malu, rasa malu yang muncul akibat kesalah pahaman yang dari awal di akibatkan oleh matamu yang salah mengartikan posisiku.
"Mayang ... tak apa, aku bisa mengerti," kataku mulai mengucapkan kata agar kami bisa kembali berdialog setelah jeda yang cukup lama, jeda yang tercipta dari rasa malu yang menjadikan canggung.
"Arjuna ... eummm, maafkan aku," kata Mayang dengan suara yang sangat pelan,
"Apa?" Kataku menanyakan perkataan yang di ucapakan oleh Mayang, yang terdengar sangat pelan. Meskipun aku sudah tau Mayang bicara apa, tetapi, karna suaranya yang sangat pelan membuatku ragu dengan apa yang di tangkap telinga.
"A-aku minta, maaf ... aku minta maaf karna sudah berburuk sangka terhadapmu, sungguh aku menyesali perkataanku tadi. Maafkan aku Arjuna."
Permintaan maaf Mayang, yang terdengar agak lucu, membuatku bisa sedikit tersenyum. Mayang dengan wajahnya penuh penyesalan, matanya terlihat sayu dan bibirnya yang sedikit di kerutkan, terlihat sangat menggemaskan.
Mimik muka memelas, mengisyaratkan seakan dirinya menyesal dan seperti meminta pengampunan dariku yang sudah dia beri rasa sakit dan kecewa, karna tuduhan-tuduhan yang sudah ia arahkan kepadaku.
Sungguh, dengan seketika semua duka lara yang menyelimuti hati dan pikiranku sirna begitu saja, seakan sebelumnya tak pernah ada kemalangan yang datang kepadaku.
'Ah ini kesempatanku.' tiba-tiba saja ide brilian muncul di otakku, aku bisa memanfaatkan situasi ini agar bisa mendapat lebih banyak waktu untuk berdua bersama Mayang.
"Memang mudah berkata maaf, tetapi lain halnya dengan kata memafkan. Meminta tidak akan semudah memberi Mayang ... Rasa kecewa tidak bisa begitu saja sirna hanya dengan kata maaf."
Aku berusaha menipu Mayang, berpura-pura kecewa dan sedikit menunjukan ekspresi marah. Padahal lelaki mana yang tidak akan luluh, jika di todong dengan wajah yang super menggemaskan seperti itu.
'Walau aku tidak terlalu pandai dalam berpura-pura, tapi aku harus mencoba, hehe.'
"Lantas, apa yang harusku lakukan, agar semua kesalahan yang telah ku perbuat bisa kau maafkan Juna." Kata mayang masih dengan wajah memelas yang super imut.
'Aiss, bagai mana bisa aku menolak pinta dari wajah yang begitu menggemaskan ini.'
Untuk beberapa saat, mulutku tak bisa berucap apapun, tetapi andai saja Mayang sadari. Mataku sudah lebih dari cukup berkata-kata lewat tatapan-tatapan penuh dengan rasa ke kaguman terhadap sang jelita pujaan hati ini.
"Arjuna, tolong lah maafkan aku, aku menyesal sudah menuduhmu macam-macam tadi."
__ADS_1
Mayang terus saja berusaha membuat hatiku luluh, dengan kata-kata yang sederhana, tetapi di kemas dengan wajah yang begitu indah dan mempesona kan mata. Andai dia tau, yang aku mau kini bukanlah kata permohonan maaf darinya, melainkan semua waktu yang dia punya, aku benar-benar ingin mendapatkan itu.
"Sudahlah Mayang, tidak akan ada ruginya juga kan dalam hidupmu jika tidak mendapat kata maaf dariku? Jadi lupakanlah, Akupun akan melupakan pertemuan kita ini seakan tak pernah terjadi." Aku dan kepura-puraanku terus saja mencoba mempermainkan Mayang.
Mayang pun menghampiri, dia menarik tangan dan kini malah menggenggam pergelangan tanganku, genggaman yang sangat erat seakan dia benar-benar tak mau kehilangan kehadiranku dari hadapannya.
'Woow, bukankah aku pernah lebih dari sekedar berpegangan tangan dengan Mayang? Tapi mengapa jantungku berdebar sekencang ini. Seolah aku dan dia tak pernah ada kontak fisik sebelumnya, seakan ini benar-benar yang pertama antara aku dan Mayang.'
"Tolong maafkan aku Arjuna. Apapun akan aku lakukan, asalkan kamu mau memaafkanku," kata Mayang sambil wajahnya mendangak menatapku dari dekat.
Kini bukan hanya wajahnya yang membuatku berdebar. Suara jantungku makin berdebar sangat kencang. Bagaimana tidak, entah sengaja atau tidak, bagian tubuh Mayang yang selalu terlihat membusung, kini sedang menekan sikutku. Bagian tubuh yang paling mancung jika di bandingkan hidung, tepat berada di sampingku dan sekarang fokusku teralihkan.
'Astaga, aku sudah tidak sanggup lagi berpura-pura, bagaimana caranya aku bisa menahan godaan seperti ini? Menahan keimutan wajahnya saja aku sudah hampir kalah, apalagi yang satu ini! Aku benar-benar tak kuasa lagi melakukan kepura-puraan ini.'
"Beb, ba, baiklah, lupakan sajah. Tidak apa-apa, aku tidak apa-apa," kataku sambil terbata-bata menahan serangan godaan dari Mayang.
"Yess ... haha, memang dasar lelaki semua sama saja, jurusku yang satu ini memang paling ampuh untuk meluluhkan laki-laki."
Mayang tertawa, terlihat dari wajahnya dia sangat bahagia. Dia tertawa sangat lepas, tak memperdulikan aturan nada dalm tawa seperti yang di lakukan para wanita untuk menjaga agar terlihat anggun. Tapi jujur saja tawanya yang tidak anggun ini malah membuatku tertegun, Mayang sangat menawan, perhatianku telah di tawan.
"Baiklah sekarang aku akan menagih ucapanmu," kataku di sela-sela tawa yang masih Mayang lakukan.
"Hah? Menagih ucapanku yang mana?" Tanya Mayang entah dia benar-benar lupa dengan kata-kata yang baru saja dia ucapkan, atau memang dari awal dia sudah tidak sungguh-sungguh saat mengatakannya.
"Astaga, kau pikir akan mudah mendapat maaf dariku, aku akan memafkanmu jika kau mau kencan denganku malam ini. Bagai mana?" Aku m ngajak Mayang, lebih tepatnya memaksa Mayang untuk berkencan denganku.
"Haah? Apa-apaan ini? Kenapa tiba-tiba aku harus berkencan denganmu?"
"Hey nona manis, bukan kah tadi kau berkata akan melakukan apa saja asal mendapat maaf dariku? Kau ini pura-pura lupa atau memang tidak sungguh-sungguh saat mengucapkan kata-kata itu?" Aku mempertanyakan tawaran Mayang tadi.
"Tapi, kenapa harus berkencan? Kau akan tau apa pekerjaanku!" Kata Mayang sedikit keberatan.
__ADS_1
"Sudahlah, memang wanita sama saja. Mengumbar janji palsu untuk menjerat hati yang baru," kataku sambil memalingkan muka dari hadapan Mayang dan mengambil satu langkah menjauh dari keberadaan Mayang.
"Hey, hey ... oke baiklah, aku akan menepati ucapanku. Tapi sebelumnya aku harus mengantarkan satria pulang dulu," kata Mayang.
'yes ... akhirnya aku berhasil!'
"Oke, biar aku yang mengantar kalian."
"Mengantar kami? Bukankah kau biasa kemana-mana mengendarai motor? Apa kali ini kau membawa mobil?" Pertanyaan yang bertubi-tubi dari Mayang, dia merespon tawaranku dengan pertanyaan.
"Anu ... benar juga ya"
"Heump. Sudahlah kau nanti jemput aku di Club saja, jemput aku jam 8, oke?"
"Oke," kataku sambil sedikit tertawa kegirangan.
"Baiklah, aku pulang dulu ... sampai ketemu nanti malam," kata Mayang sambil berpamitan.
Sekali lagi aku terpaku menatap senyum itu.
Senyum yang tak bisa membuatku terbiasa.
Senyum yang slalu membuatku kagum.
Senyuman termanis dari wanita berbibir tipis.
Dia berlalu pergi meninggalkanku, namun tak lupa menabur rindu.
Baru sedetik keberadaanmu tak nampak di pandanganku, bibit rindu yang kau tanam telah tumbuh berdaun rindang.
Kau tau, aku selalu menikmati rindu ini. Rindu yang tak pernah habis walau berulang kali di kikis oleh seyuman dari bibir tipis yang paling manis.
__ADS_1
Rinduku bagai belukar liar, yang tak pernah usang walau bakar berulang-ulang, rinduku telah meresap dalam setiap tulang. Rindu pada sosokmu pujaku Mayang.
BERSAMBUNG.