PUJAKU Mayang

PUJAKU Mayang
Sahut Menyambut.


__ADS_3

Dapatkah kau merasakannya? Rasa yang aku sampaikan melalui tatapan mata. Jika tidak, akan kulafalkan mantera-mantera yang akan aku hembuskan melalui udara yang kau hela, agar kau bisa tau, bahwa ada rasa disetiap kedipan mata, yang terdapat pantulan indah wajahmu di dalamnya.


"Iyah, kau benar ... Aku memang sudah menikah, tapi."


Mayang terdiam menunggu kata yang akan keluar dari mulutku setelah mengucapkan kata "tapi" dengan jeda yang cukup lama.


"Tapi apa?" Tanyanya kepadaku.


"Aku sudah bercerai dengan istriku," kataku dengan memalingkan pandang dari Mayang, dan sekarang kepala dan tubuhku menghadap ke arah air yang menggenang di sebuah wadah yang disediakan oleh alam.


"Apa ini? Kau mencoba untuk membohongiku sekarang!" Mayang tiba-tiba saja menuduhku membohonginya.


"Bohong?" Tanyaku yang entah bertanya pada siapa, aku hanya terkejut mendengar kata yang tak ku perkirakan akan Mayang cetus kan


"Iya, bagai mana bisa perceraian hanya terjadi dalam waktu tiga hari setelah kemesraan terjadi?"


Kemesraan? Tiga hari? Apa maksud dari perkataan Mayang? Belum sempat aku mengatakan beberapa pertanyaan prihal perkataannya yang membuatku kebingungan, Mayang hendak berbalik dan berlalu pergi.


"Hey, hey Mayang, tunggu sebentar!"


Aku kembali mendekat dan menghadang langkah Mayang yang hendak berlalu pergi meninggalkanku.


"Tunggu sebentar, apa maksud dari perkataanmu tadi?"


"Kurang jelas kah untukmu?"


Plaakk ....


Sebuah tamparan kembali kudapatkan dari Mayang, ini adalah tamparan ke dua yang ku rasakan dari Mayang.


"Sudah jelas sekarang? Dasar lelaki buaya! Hanya demi mendapatkan wanita lain kau mengatakan kebohongan!"


"Ini ada apa sebenarnya? Kenapa kau menamparku? Apa salahku?"


"Woow, kau pandai berakting rupanya!"

__ADS_1


Mayang kembali menerobos hadanganku.


"Tunggu sebentar, yang kau maksud kan bohong itu prihal perceraianku?"


"Arjuna, dengar baik-baik, aku tidak perduli dengan semua kebohonganmu."


Aku menyerah, sekarang aku lepaskan Mayang. Aku tak menahannya lagi, aku biarkan dia pergi berlalu. Tetapi keajaiban terjadi. Entah ini bisa disebut keajaiban atau bencana untuk hatiku.


Tepat di hadapan kedua mata Mayang, mantan istriku Amalia sedang bersama kekasih barunya mereka saling bergandengan tangan dengan mesranya, Tanpa merasa malu kepada mata yang mengamati kemesraan yang mereka pamerkan, dan jika di ingat lagi. Danau ini adalah tempatku melamar Amalia dahulu. Apakah dia ingin dilamar lagi oleh lelaki lain di tempat yang sama?


Mayang pun tertegun. Melihat Amalia dan lelaki lain sedang berlaku mesra tanpa canggung.


Amalia menatap ke arah kami.


"Woow, rupanya mantan suamiku juga sangat cepat melupakanku," katanya dengan senyuman dan mata yang merendahkan.


Aku hanya terdiam tak kuasa melawan ketika merasa di rendahkan. Bohong jika aku berkata tak sakit hati dan terkutuk rasa cemburu hingga membuatku mematung tanpa perlawanan.


Mayang pun menatapku, kali ini matanya terlihat iba kepadaku. Dia terlibat merasa bersalah.


"Jadi ini wanita yang berhasil menggantikan posisiku di hatimu Juna?" Tanya Amalia yang meminta kejelasan dariku.


"Aku tak heran sebenarnya jika kamu begitu cepat melupakanku. Selain kau tampan, wanita ini juga lumayan sangat menawan. Siapakah namamu nona?" Amalia menanyakan nama Mayang.


"Namaku Mayang."


"Waah ternyata, selain paras yang menarik, namamu juga cantik, nona Mayang. Terimakasih telah menggantikanku untuk mengisi hati Arjuna ya, haha."


"Eummm ... Kalian terlihat serasi bagiku." Kata lelaki yang berada di samping Amalia.


"Astaga aku lupa mengenalkan kekasihku kepada kalian."


"Perkenalkan namanya Candra. Dia wakil direktur di perusahaan tempatmu bekerja Arjuna."


Aku terkejut setengah mati mendengar Amalia yang sedang mengenalkan kekasih barunya kepadaku dan kapada Mayang.

__ADS_1


'Wakil direktur di perusaan tempatku bekerja? Jadi dia anaknya Darmawan? Kenyataan yang sungguh memilukan jika setiap hari aku harus bertemu dengan pria yang merebut istriku, dan harus memberinya hormat setiap hari.'


Terlihat dari tatapan Mayang, dia sekarang sedang mengasihanku yang didera kemalangan secara bergantian. Baru kali ini aku mendapat tatapan seperti ini dari Mayang, pandangan matanya terasa tulus menyentuh hatiku.


"Arjuna ... tidak hanya tampan, dia juga baik sopan dan ramah, dia adalah sosok lelaki yang sangat aku kagumi," kata Mayang sambil berjalan ke arahku dan menggenggam tanganku dengan tangan kirinya sementara tangan kanannya menggendong Satria.


Mayang membelaku, dia paham situasi yang sedangku alami saat ini.


"Woow, aku tidak tau Arjuna bisa bersikap seperti itu terhadapmu nona Mayang ... Baiklah aku dan Candra mau melanjutkan kemesraan kami ... *b*ye-bye."


Amalia dan Candra pun pergi meninggalkan aku dan Mayang juga Satria yang ada di pelukan Mayang.


Kini, aku bagimu hanya seberkas kisah lalu yang tlah usang termakan waktu. Aku hanyalah kertas, yang dulunya putih saat pertama kali kau tuliskan namamu, dan memenuhi semua halaman, buku harianku. Kini menjadi usang kecoklatan tergerus kisah pilu.


Setiap halaman yang dulu kau tuliskan kisah cinta yang mengagumkan hingga membuatku tak pernah bosan membacanya.


Dulu di setiap paragraf baru, kau tulis kebahagiaan baru dalam buku harianku. Dulu di setiap titik yang menandakan akhir kalimat kau sisipkan kata cinta yang cantik. Dulu tak ada koma yang slalu menandakan jeda kebahagian kita.


Dulu kau begitu pandai mencarikan diksi yang indah untuk mewakilkan kebahagiaanmu bersamaku. Dulu kau adalah penulis yang handal, menuliskan kata demi kata dalam kisah cinta kita berdua, yang menjadikannya sempurna dan mudah untuk pahami para pembaca. Namun ketika aku yang kau anggap sebuah buku harian kisah cintamu, perlahan menjadi lapuk dan usang tergerus pilu, kau mencarikan tempat yang bagus untukku bagimu. Tempat sampah adalah tempat yang cocok untukku menurutmu.


*****


"Arjuna ... aku ingin meminta maaf padamu," kata Mayang sambil menatapku dengan mata yang penuh dengan rasa bersalah.


"Sudahlah, jangan dipermasalahkan," kataku sambil berlalu, kini giliranku untuk melangkah pergi dan membuat jarak pemisah antara aku dan Mayang, bukan karna benci atau tak ingin bersama dengannya. hanya saja, lagi-lagi aku hanya ingin pergi menyendiri.


"Arjuna, tunggu sebentar," kata Mayang dia menyuruhku menunggu, tetapi entah apa yang harus ditunggu.


Namun, tubuhku mematuhinya Dan kakiku berhenti melangkah, malah sekarang badanku berbalik menghadap ke arah Mayang berada.


"Sekarang bolehkah aku yang meminta waktumu? Sebentar saja. Aku mohon," kata Mayang meminta waktuku, ada rasa senang di dalam hatiku. Bagaimana tidak, wanita yang barusaja membuatku memalingkan pandang, kini ingin berbicara denganku, tanpa harus aku paksa.


Cintaku bodoh, tak mengenal rumus tak mengenal setatus. Hanya tau memilikimu itu "Harus."


Cintaku masa bodo, tak peduli dengan kata para penerka, tak peduli dengan duga-duga. Yang aku inginkan hanya kau yang slalu kuimpikan.

__ADS_1


Cintaku luas tak berbatas. Tak peduli dengan batas, tak memikirkan kata pantas. Hanya kukuh menginginkanmu dengan kata "lekas."


BERSAMBUNG.


__ADS_2