
Jujur saja, aku ingin mendapatkan dia untuk hidupku. Benar-benar mendapatkan dirinya, tubuh dan juga cinta yang dia punya.
Namun takdir seolah sedang sengaja mengumbar aibku di hadapan pujaan hati. Dengan mata yang terbuka lebar dan dalam keadaan yang sesadar-sadarnya, Arjuna dapat melihat jelas wanita seperti apa aku ini.
'Jadi Mayang, sudahlah.'
*****
Waktu berlalu, para lelaki yang memintaku untuk melayani hasrat mereka sudahku layani.
"Mayang ... Kamu masih sanggup gak ... Ada satu lagi yang minta di temani loh, kamu mau ya, dia mau bayar kamu dua kali lipat loh," kata Tante Erni, dia adalah bos di tempat ini.
Tante Erni memintaku dengan wajah yang memelas, tapi aku tau maksud di balik wajahnya yang sedikit sungkan itu sebenarnya adalah sebuah paksaan.
"Tapi Tante maaf, Mayang udah cape banget."
"Satu lagi aja deh, katanya dia mau kasih bonus juga sama kamu, asalkan kamu mau nemenin dia sampe pagi di rumahnya."
"Eumm, gimana ya Tante."
"Mau deh ya May, sebagai gantinya kamu besok boleh libur deh."
Jujur saja, sebenarnya aku sudah tidak sanggup lagi untuk melayani siapapun malam ini, jangankan untuk memuaskan hasrat pria, rasanya untuk berdiri pun aku sudah lelah.
"Tante biar Tiar aja deh yang layanin, mana cowok nya," kata Kak Tiar maju menjawab ucapan Tante Erni. Dia berani pasang badan untukku, Kak Tiar lebih mengerti kelelahanku di banding Tante Erni.
"Dih, Tiar gimana si, orang itu cuman mau sama Mayang."
"Tapi, kasian Mayang Tante, Mayang udah cape banget malm ini. Biarin dia istirahat Tan."
"Tante tau Tiar, tapi kan ini juga demi Mayang, toh uang bonusnya juga di yang dapet kan."
Kak Tiar tetap mendebat pendapat Tante Erni, dan terus membelaku.
"Udah kak Tiar, ga apa-apa ko Mayang masih sanggup."
"Tapi May."
"Udah kak gak apa-apa ko."
__ADS_1
Akupun melangkah menghampiri pria itu. Dan tak memperdulikan rasa lelah yang melandaku.
Sekarang satu-satunya yang masih bisa membuatku tetap berdiri adalah, rasa kesal ku kepada Tante Erni yang sedari tadi terus saja memaksaku untuk menemani pria itu.
"Wah, akhirnya primadona di tempat ini bisa menemaniku. Ayo kita berangkat langsung saja sekarang, aku sudah tidak sabar ingin mencicipi madumu."
Pria itu langsung merangkul pundakku tanpa permisi terlebih dahulu.
'permisi? Meminta izin maksudnya? Kepada wanita sepertiku? Sudahlah Mayang.'
Entahlah seberapa seringnya aku di rangkul oleh pria yang baru ku kenal, tak pernah membuatku terbiasa dengan semua itu, selalu saja ada rasa penolakan di dalam hatiku.
'Siapa saja, tolong aku ... tolonglah aku sudah sangat lelah.'
Tak di duga tak di sangka, Arjuna dengan gagah berani mendekati keberadaaan kami, dengan membawa segelas anggur. Tapi ada yang aneh. Dia berjalan sambil sempoyongan, sepertinya dia sudah mabuk parah.
'Arjuna mabuk parah lagi sepertinya.'
Buuk..
“Aduh, maaf tuan saya tidak sengaja menumpahkan minuman saya.” Arjuna menabrak pria yang hendak membawaku.
Aku merasa bahwa Arjuna sudah sengaja melakukannya. Dari arah Arjuna duduk pun sudah terlihat, dia sengaja berjalan ke arahku.
"Ahh sial! Bajuku jadi kotor, kau tidak tau berapa harga stelan ku ini!"
"Ahh, maaf tuan, aku benar-benar tidak sengaja."
“Maaf, maaf. Kamu piker ini baju murah! Sial aku harus segera menggati baju! Aah aku sudah tidak lagi meneruskan ini!"
Buukkk...
Pria itu mendorong arjuna hingga terjatuh. Dan entah mengapa melihat Arjuna terjatuh seperti itu, badanku bergerak ke arahnya dan mencoba membantu Arjun berdiri.
"Ciih ... Aku sudah tidak bernafsu lagi untuk membawamu. Kita batalkan saja untuk malam ini. Dasar sial!"
Pria itu pun berlalu pergi begitu saja meninggalkanku dan Arjuna yang masih terduduk di lantai.
Arjuna menatap wajahku, dia tersenyum tanpa alasan yang tidakku ketahui 'mungkin karna dia sudah mabuk.'
__ADS_1
Kami pun saling menatap, mataku dan mata Arjuna untuk ke sekian kalinya bertemu dalam satu pandangan yang sangat hangat.
'hiis, Mayang kamu tidak boleh seperti ini.'
“Kamu lagi … ngapain kamu kesini lagi! Kamu sudah menganggu pekerjaanku!”
“Maaf may aku ga sengaja,”
Entah untuk ke berapa kalinya. Mulut dan hatiku kembali bertentangan. Mulutku terus saja berkata ketus kepada Arjuna, seolah-olah benar-benar tak ingin lagi bertatap muka dengannya.
Tapi jika harus jujur, di dalam hatiku berkata lain. Aku ingin tangannya meraih tanganku dan membawaku pergi dari sini. Pergi ke tempat yang sangat jauh, hingga aku bisa melupakan siapa diriku dan apa masalah yang terus-menerus menarikku dalam dunia yang kelam.
Arjuna menatapku dengan tajam sekarang, dia terlihat sangat kesal 'apa mungkin dia akan menamparku?'
“Mayang, kau yang memaksaku begini. Jadi kau harus pergi bersamaku.” Arjuna merangkul pinggangku dan mengangkat tubuhku ke pundaknya. Posisiku dan Arjuna sekarang sudah seperti kuli bangunan yang membawa satu sak semen.
“Apa yang kau lakukan?” aku berteriak dan memukul-mukul punggung Arjuna.
“kyaaa…”
Dia tak menggubris teriakanku dan membawaku begitu saja,
“Hey, cepat turunkan aku! Kau sudah gila ya? Aku tau kau mabuk, tapi ini sudah keterlaluan! Ku peringtkan sekali lagi. Cepaat turunkan aku!”
Arjuna benar-benar sudah tidak waras, dia sama sekali tidak memperdulikan peringatan dan teriakanku. Ia terus saja berjalan dan sekarang dia menaiki anak tangga yang mengarah ke lantai dua, di lantai dua ada beberapa kamar yang sering di gunakan oleh kami untuk melayani tamu.
Tapi ada yang aneh dengan Arjuna. Dia sudah melewati kamar pertama yang tidak dipakai. Kemudian dia juga melewati kamar ke dua yang juga sama kosong.
Arjuna sambil membawaku di atas pundaknya terus saja berjalan sambil melewati beberapa ruangan. Entah apa yang dia cari sebenrnya.
Dan akhirnya dia membuka pintu kamar yang dia pilih. Namun dia membukanya dengan menendang pintu itu.
'Dia benar-benar sudah gila. Bukannya sudah terlihat bahwa pintu itu tidak tertutup rapat. Dan kenapa harus di tendang dengan sangat kencang.'
"Arjuna, cepat lepaskan aku! kau sudah gila ya!"
"Arjuna? jadi benar dugaan ku, kau memang mengenal ku! tapi maaf ... Sekarang aku sudah mnjadi Duryudana, pemimpin para Kurawa ... Hahaha."
'Okeh. Dia benar-benar sudah gilak!'
__ADS_1