PUJAKU Mayang

PUJAKU Mayang
Sosok Arjuna Iskandar.


__ADS_3

Part Mayang


Namaku adalah Mayang parwati. Orang tua ku memberikanku nama itu dengan harapan, agar aku bisa menjadi wanita yang penyayang. Karna sebenarnya nama Mayang itu singkatan dari ‘Manusia penyayang’ entah apa rencana mereka memberiku nama yang sangat ku sukai ini. Dulu saat kecil, aku tidak mempermasalahkan namaku ini, tapi setelah aku sudah masuk SMA. Ayah dan ibu meninggalkan aku dan Danang adik laki-lakiku


Danang saat itu masih sangat kecil untuk memahami situasi keluarga kami, yang dia katakana saat di Tanya ‘orang tua kamu kemana?’ Danang hanya menjawab ‘Papa sama Mama, sedang tidur di rumah sakit, terus lagi bobo dan ga boleh diganggu kata om dokter.’ Astaga hatiku sangat hancur, ketika melihat Danang yang dengan polosnya berkata demikian. Mungkin inilah alasan kedua orang tuaku memberiku nama Mayang (Manusia penyayang) untuk menjaga adiku sematawayang.


Adiku Danang, hanya di hadapan Danang aku menahan deras air mata sekuat tenanga. Sudahlah aku tak ingin membahas cerita tentang keluarga yang bernatakan dan menyedihkan. Sekarang pun aku jadi meneteskan air mata, jika mengingat kepahitan hidup ini.


******


Saat itu di siang hari, saat kehidupan terlepas dari setatus sebagai pramuria, aku dan teman-teman berjalan-jalan mengitari kota. Mataku menemukan sebuah papan yang bertuliskan ‘Pameran lukisan.’ karena sangat menyukai lukisan. Hingga membuat aku terbuai dan menghampiri papan yang berbentuk anak panah, bertuliskan ‘pameran lukisan, 10 meter.’


Kaki berjalan, mata terus mencari-cari dan sedangkan otaku membayangkan bagai mana situasi pameran lukisan. Betapa diri ini sangat antusiais,walaupun aku tidak begitu pandai melukis, dan aku tak bisa menekuni hobi ini, yah karena kehidupan sebagai pramuria, tak memberi celah untuk mengembangkan bakatku.


“Woah, jadi ini gedung yang dipakai untuk pameran lukisan. Menakjubkan.” Aku terkagum-kagum melihat sekitaran tempatku berada. Ini pertamakalinya mengunjungi pameran lukisan, dan mataku hamper lupa untuk berkedip, saking terkesimanya.


Terlihat seorang lelaki dari belakang, bahunya sangat lebar. Laki-laki itu mencuri perhatianku, dari belakang laki-laki itu sangat mempesona, tidak kalah mempesonanya dengan lukisan-lukisan yang sedang di pajang di dinding.


“Aku ingin melihat wajahnya, seberapa rupawankah dia?” hingga melupakan niatku yang ingin menikmati keindahan lukisan manusia, dan mulai terpikat dengan karya tuhan yang sangat mempesona untukku.


“waah, wajahnya sangat tampan ... owh, jadi dia pelukis juga, hebat sekali, lukisan lukisannya sangat indah.”


Tak henti-hentinya kpandangi lelaki yang barusaja membelokan niatku ini.


Aku hanya wanita penikmat senja, tak mungkin berani kujulurkan tangan yang hina, mengotori indahnya senja. Aku tau diri.


Namun jika hanya membayangkan, tidak apa-apa kan?


'Jika berangan merayu, minta sedikit di rindu, bolehkan?'


Membawa sedikit warna orange mu dalam mimpiku, akankah kau izinkan?


'Wahai sang kuasa yang pengasih, juga penyanyang. Apakah wanita hina sepertiku bisa di cintai?'


******

__ADS_1


“Tuan Iskandar, apa kabar.” Terdengar suara seseorag sedang menyapa pria yang ku kagumi ini.


“Tuan iskandar? Maaf Tuan, Iskandsr adalah nama bapa saya, Arjuna saja pak, atau biar lebih karab panggil juna juga boleh.”


‘Jadi namanya adalah Arjuna Iskandar, nama yang sangat gagah.’ Mendengar namanya saja membuatku lemas, nama yang sangat mempesona, terdengar ramah namun perkasa, bak satria, di cerita mahabarata.


“Sayang, kamu sudah bereskan acaranya? aku udah bosen banget nih, pulang aja yuk.” Baru saja beberapa detik aku memalingkan pandanganku. Sang Arjuna sudah didatangi bidadari cantik.


Menatapmu dari kejauhan sudah sangat mempesona, hasratku berdesir tak mengenal waktu, terpaku diri ini bak lukisan yang tertancap paku, diam menempel di dinding dengan mata yang selalu mengarah kepadamu.


‘kau sudah menyihirku?’


Menatap tanpa saling memandang, bertemu tanpa menyapa. Siapa diriku yang tak kau kenal jua. Hati gundah relung nestapa, Mengharapkanmu yang tak kunjung menyapa.


Kecewa yang kurasa, rupanya sang arjuna sudah menjadi kepunyaan orang.


‘Siapa gadis manis di sampingmu?Mendekapmu seakan takut kehilanganmu?’


Mengagumimu tanpa ragu, karena kamu milikku ... Pikirku


'Haha...Aku tertawa merasa malu dengan perasaanku. seorang hina menginginkan di cinta.’


Kata orang, ‘dengan seiring berjalannya waktu, dan secara perlahan, hati yang kecewa akan kembali tegar.’ Tapi aku meragukannya sekarang. Aku tlah terpesona dengan pria yang tak layak kucinta.


******


Hidupku yang hina ini, berteman dengan seoraang gadis ....


Itu adlah lagu kesukaanku, nama bandnya adalah boomerang, walaupun aku tidak tahu tentang band nya tapi aku sangat suka dengan lagunya. laluku jadikan sebagai nada dering ponselku. Lagu ini sekarang terdengar olehku, pertanda ada panggilan masuk.


“Hallo Ka Tiar,”


“Mayang, kamu di mana sih!”


“Hehe, maaf Ka tadi aku abis liat pameran lukisan dulu.”

__ADS_1


“Ya ampun, ayo cepat kita harus pulang, ini udah mau sore loh May.”


“Iya ka, aku ke sana, share aja lokasi kaka.”


Akupun berlalu menjauh, menjauhi sosok arjuna yang tlah lamaku cari, tapi saying sangwaktu tak mau berpihak padaku. Waktu hanya membiarkan sosokmu pada mataku, tapi tidak memberiku kesempatan untuk maju lebih jauh. ‘Kali pertama dalam hidupku, menjumpai dan mencintai, dalam satu waktu.’


******


“Ya ampun Mayang, kamu dari mana aja? Kaka nyariin kamu dari tadi.”


“Hehe. Maaf Kak, tadi aku kaya dihipnotis aja pas ada tulisan ‘pameran lukisan.’ Hehe maaf ya kaka tiar yang cantik.”


“Iya-iya. Jangan kaya gitu lagi ya!”


“Siaap, kaka tiar yang cantik.”


“Gombal kamu Mayang.”


Aku dan Kak Tiar kembali ke tempat tinggal kami yang sekaligus juga tempat kami bekerja. Kak Tiar adalah temanku yang paling baik, bahkan sudah kuanggap sebagai Kakaku sendiri. Kak Tiar selalu mau membantu dalam menyelesaikan semua masalah yang sedang kuhadapi, dia baik sekali.


“Kak Tiar. Kaka waktu ketemu mantan suami kaka dulu gimana?”


“Kamu kenapa? Ko tiba-tiba nanyain mantan suami kaka?”


“Bukan nanyain mantan suamimu kak. Tapi aku nanyain gimana pas dulu ketemu dengan mantan suami kaka?”


“Owh. Kamu kepo deh, jangan-jangan kamu ketemu cowo ganteng ya?”


“Kepo!” kataku dengan nada yang sedikit tinggi, tapi tentunya tidak serius.


Berat kakiku melangkah, ‘kenapa?’ entahlah akupun tak tau.


Rinduku tumbuh, ‘pada siapa?’ aku tak tau.


Hatiku menjadi pilu, ‘alasannya apa?’ aku juga tak tau.

__ADS_1


Yang aku tau, ini terjadi saat aku bertemu dengan Arjuna. Dia, hanya dengan karismanya saja bisa membuatku seperti ini. Peria yang luarbiasa, aku tlah bertemu dengan pria yang luar biasa.


BERSAMBUNG


__ADS_2