
"Satria, sudah ketemu bolanya?"
Lagi kudengar, suara wanita yang pernah menggetarkan jiwa. Suaranya perlahan terasa semakin mendekat, semakin dekat semakin memikat, semakin memikat semakin mengikat, Aku terjerat. Suara yang telah memikat ingatanku.
Bergetar tubuhku mendengar suara itu, kini di bagian dalam dadaku ada hati yang meronta, ingin melihat sosok wanita yang memiliki suara itu. Memaksa mata untuk mencari keberadaannya.
Seketika terpaku, diam membisu, hanya bisa berdiri mematung memandangi Sorang wanita yang berjalan dengan anggunnya. Setiap langkah yang mendekat membuat jantungku bergetar hebat.
Rambut yang hitam terurai, mata yang berkedip sangat indah, kakinya yang jenjang tiap langkah yang dibuat kakinya seakan menunjukan 'inilah kaki yang terindah di jagad raya.' betulkah? Entahlah, tapi aku setuju jika memang begitu.
Tangan berayun seirama dengan kakinya yang sedang melenggang di atas tanah. Dalam ruang pandangku hanya dirimu yang sedang terlihat. Tubuhnya yang langsing menyelaraskan geraknya dengan langkah kaki, buah dada yang berguncang setiap hentakan langkah kaki menginjak bumi, menandakan keluasan dada yang lapang (Entah apa yang sedang aku bahas ini.)
Yang kutahu saat ini Tuhan telah menciptakan galaxi baru di tata Suryaku, dia bagai matahari dan aku bumi, yang selalu berotasi mengitarinya tiap saat. Dan cinta menjadi satelitnya, menjadi bulan sebagai penengah di antara kita.
*****
"Om, kenapa liatin Tante Mayang kaya gitu?" Tanya seorang bocah yang Mayang panggil namanya dengan Satria. Benar kau adalah kesatria dan aku adalah rajanya, kau telah membawa ratu baru untuk mengisi kekosongan hatiku. Terimakasih kesatria kecil.
Akhirnya tatapan Mayang mengarah juga kepadaku. Dan kata yang pertama darinya adalah.
"Kamu!" Kata Mayang sambil menunjukkan jarinya ke arahku.
"Iyah, kita bertemu lagi."
Mayang hanya terdiam menatapku dan tak menggubris lagi ucapanku, mata kami berdua saling terarah. Tempat ini sungguh membawa keajaiban yang nyata. Baru saja sebentar aku berada di sini, obat penawar luka sudah ada di depan mata.
'Mayang, kau hadir di saat yang tepat. Di saat hati ini kosong, lalu kau mengetuknya dengan sentuhan lembut. Mayang, ini saat yang tepat untukmu masuk kedalam hatiku, tetapi janganlah hanya sekedar untuk singgah dan menitipkan rasa yang sementara. Tinggal lah lebih lama dari sekedar singgah dan hanya menyapa saja. Tinggallah lebih lama dan selamanya jika bisa.'
"Satria, ayok pergi ini sudah sore, nanti kita pulang bisa kemalaman sayang, ayok."
"Iya Tante Mayang ... dadah Om," ujar anak kecil yang bernama Satria sambil melambaikan tangannya kepadaku, padahal jarak kita cukup dekat tapi kenapa ketika hendak pergi dia melambaikan tangannya ke arahku? Namun bukan itu masalahnya sekarang, tapi Mayang yang akan pergi menjauh lagi dariku.
"Mayang, tunggu sebentar!" Kataku dengan suara yang cukup lantang dan bisa didengar oleh orang di sektiarku.
__ADS_1
Mayang pun menghentikan langkah kakinya yang baru hanya beberapa langkah dia beranjak dari posisi awalnya, tetapi dia hanya terdiam tak berbalik ke arahku.
"Hoy Juna! Lo kok oon si, maju deketin si Mayangnya! Gak pekaan amatdah!"
'Iya Thor ini mau gue samperin! Gue heran kenapa sih Thor Lu sering nimbrung di naskah?'
"Greget gue sama Mayang ... dikira lu doang yang suka sama si Mayang?"
'Lah, kan Mayang jatah gue Thor? Lu bikin karakter Mayang buat Lu sendiri? ... katanya lu suka sama othor di novel sebelah!'
"Jangan bahas itu, yok lanjut adegan*!"
******
Aku pun melangkah mendekatkan diriku dengan Mayang, wanita yang baru saja menjadi pemilik tanah hatiku. Entah lah sejak kapan dia jadi penguasa di tanah hati, dengan waktu secepat itu dia juga membangun istana cinta hatiku.
"Mayang, beri aku waktu sebentar saja," pintaku kepada wanita yang aku sebut dengan ratu baru dalam hatiku.
"Maaf, aku gak ada waktu. Aku harus pulang kasian satria udah capek," katanya sambil mengangkat dan menggendong Satria didekapannya, seolah takut Satria pergi darinya.
"Maaf," kata Mayang sambil hendak melewati keberadaanku.
"Tunggu, tunggu," kataku sambil menahan Mayang agar tidak pergi.
"Baik, sepuluh menit?" Tanyaku lagi meminta waktu yang Mayang miliki. Namun Mayang tetap saja bersikeras untuk pergi.
"Oke, oke. lima menit atau bahkan satu menit saja, aku mohon Mayang," pintaku kembali memaksakan keinginanku untuk berbicara dengan Mayang walau hanya satu menit saja.
"Oke! Baik, baik. Aku kasih kamu waktu lima menit, apa yang mau kamu bicarakan?" Mayang menanyakan prihal pembicaraan yang hendak aku bicarakan padanya.
Sekali lagi mata kami bertemu kembali dalam satu pandangan membawa imajinasi. Tatapan matanya menunjukan keterpaksaan, tetapi malah membuatku merasa takut kehilangan.
'Jika saja bisa, aku ingin menahannya agar tidak mengambil jarak, merapatkan tubuh dalam pelukan erat.'
__ADS_1
"Buruan, kamu mau bialng apa? Aku gak punya waktu banyak ini!"
"Aah, iya iya baik ... beri aku nomor ponsel mu."
"Hah? Untuk apa? Aataga, jangan bilang untuk ...."
"Ah bukan untuk itu."
"Maksudnya? ... owh kamu mau meminta nomor ponselku untuk boking?"
"Hiss, jangan salah paham dulu, aku tidak bermaksud seperti itu!" Karena panik nada suaraku agak naik.
"Dan sekarang kamu berteriak di hadapanku?" Suara Mayang pun ikut meninggi, sepertinya emosinya terpancing oleh kepanikanku.
"Ais ... kenapa jadi begini, aku tidak bermaksud berteriak atau membentak kepadamu Mayang." Aku mencoba menjelaskan kepada Mayang maksud dari perkataanku dan perubahan nada bicaraku yang tiba-tiba saja meninggi.
Tapi Mayang tidak mau mendengarkan ucapanku dan menerobos hadangan tanganku yang semula membentang seraya menahan kepergian Mayang, dan kini dia melangkah pergi.
"May, Mayang, tunggu dulu, Mayang!"
Mayang menghentikan langkah kakinya dan berbalik ke arahku.
"Kamu sudah punya istri kan? Kenapa kau tidak mengajak istrimu saja? Kenapa kau meminta nomorku untuk melampiaskan hasratmu?"
"Kamu tau darimana aku sudah menikah?"
Mata Mayang seketika terbelalak mendengar pertanyaanku. Dari mana dia tahu aku sudah beristri.
"Bu, bukankah ... eumm ... apakah kau lupa aku pernah membawa KTP mu waktu pertama kali kita melakukan itu!" Kata Mayang sambil terbata-bata mengatakan alasannya bisa tau setatus pernikahanku.
"Iyah, kau benar ... Aku memang sudah menikah, tetapi," kataku namun entah kenapa bibirku tiba-tiba saja kelu.
Haruskah rasa sedih kuutarakan kepadamu? Agar rasa iba menjadi jembatan menuju cinta. Namun apakah kisah kasih yang diawali dengan rasa kasihan akan menjadi jaminan untuk tak meninggalkan.
__ADS_1
Bukankah aku hanya akan menanamkan keraguan di hatiku yang pada akhirnya akan berbuah menjadi duga-duga, yang memilki rasa pahit karena mengandung rasa curiga, dan prasangka buruk, akan tumbuh liar di tanah hati menghadang kebahagian tumbuh dan berbunga.
BERSAMBUNG