
Setibanya kami di motel yang aku tuju dari awal, aku langsung memesan kamar, kamar yang paling dekat dengan ruang resepsionis. Karna aku sudah tidak kuat untuk berlama-lama lagi menggendong Arjuna. Aku ditunjukan kamar dilantai bawah.
Aku buka pintu kamar yang sudah dipilihkan. Terlihat penataan ruangan yang sangat apik, semuanya masih rapih dan bersih. Aku membaringkan tubuh Arjuna yang sudah tak kuat lagi kubopong, kubaringkan secara perlahan agar dia tak terbangun.
“Wah, pakaiannya sudah kotor, kasian juga dia harus tidur dengan bajukotor seperti ini.”
Satu demi satu pakaian arjuna ku lepaskan, tak terlewatkan juga sepatu dan kaos kaki yang juna gunakan. Setiap kancing yang ku lepas dari lubang baju Arjuna membuat jantungku berdebar kencang, perlahan-lahan aroma tubuhnya yang sangat khas bau tubuh lelaki membuatku makin kalut.
‘Huuuhh … aku harus menahan gairahku ini.’
Otaku mulai kacau, karna melihat tubuh juna yang tak terlalu kekar tapi otot roti sobeknya membuatku benar-benar kalut.
Bajunya sudahku lepaskan, sekarang tiba saatnya aku menghadapi cobaan terbesar
‘Sekarang aku harus melepas celananya juga, celananya juga terkena muntahan banyak.’
Aku melepas kalian ikat pinggang di celana Arjuna. karena kailannya cukup kuat, aku menggunakan sedikit tenagaku, dan tak jarang tanganku beberapakali menyentuh senjata yang juna miliki sejak lahir, walau mungkin senjatanya dulu saat masih kecil belum sebesar senjatanya yang sekarang, karna seiring bertambahnya usia, senjatanya bisa bertambah besar, tapi tak jarang juga yang memiliki senjata besar padahal usianya masih kecil.
“Ngomong apa sih.”
Wajahku terasa panas, tenggorokanku kering, sampai membuatku beberapa kali menelan ludah. Terlebih jantungku yang sekarang berdebar-debar tak karuan, karna beberapakali menyentuh pusaka kramat Arjuna, yang telah di berikan tuhan sedari juna bayi.
“Ini apa si, kenapa otakku sekarang berisikan senjata kramat yang haram untukku pegang! Wahay otak, tolonglah, kembali lah sadar.”
Aku sampai saat ini masih belum juga membantu juna melepaskan celananya. Mungkin dipikiran orang lain wanita sepertiku sudah lumrah melihat barang orang lain yang beragam ukuran, tapi bagiku tetap saja hal seperti ini tidak pernah menjadi biasa. Meskipun bukan satu atau dua orang yang pernah melakukan kegiatan tengah malam. Hal seperti ini tetap saja membuatku gugup, apalagi yang terbaring di hadapanku ini adalah orang yang aku kagumi.
“Aku harus melepaskan celananya.” Sekarang kembali lagi tanganku meraih pinggang Arjuna, aku mencoba lagi melepaskan celananya yang tak kunjung berhasil selama sepuluh menit.
Sekarang aku mengambil posisi di atas tubuh juna, agar lebih mudah melepaskan celananya, dan sekarang celananya sudah tak tertahan lagi oleh pinggangnya, tetapi sekarang celakalah bagi mataku. pusakanya seakan berontak dari sarungnya, begitu terlihat jelas membentuk pusaka kramat milik Arjuna.
__ADS_1
"Akhirnya terlepas juga." Setelah memakan waktu yang cukup lama, akhirnya celananya terlepas juga. Tapi bajuku ikut terkena sedikit muntahan dari celana Arjuna.
"Hiiss, bajuku juga jadi kotor, untung saja aku menyukai orang ini."
Dan aku pun melepaskan bajuku, karna bajuku terkena kotoran muntah. 'Knapa aku seperti orang yang mau menganu Arjuna ya?' segera aku ambil handuk untuk melilit tubuhku yang terbuka, dan segera masuk ke dalam toilet. Aku membilas tubuhku, yang juga terkena muntah.
Setelah selesai membilas badan, aku keluar dari toilet. Aku sangat terkejut melihat Arjuna yang terbangun, dan sedang duduk di atas kasur. Kemudian aku menghampirinya dan berkata.
"Mas kamu udah ga apa-apa kan, udah bisa pulang snediri?"
Arjuna tidak menjawab dia hanya memandangiku seperti serigala yang mengintai mangsanya.
"Mas? ... masih pusing ya?"
Dia tak menjawab. Tetapi sekarang dia bergerak merangkak seperti bayi, menuju ke arah ku. Aku yang tadinya berjalan ke arah Arjuna, sekarang menjadi berhenti.
Dia sekarang berdiri di hadapanku, kemudian dengan lembut, aku menjauhkan jaraknya yang terlalu dekat dengan ku, dan sedikit melakukan dorongan terhadap tubuh Arjuna. Tapi wajahnya tiba-tiba saja mendekati wajahku. Dengan lembut dia mengecup bibirku, membelai wajahku.
Bau alkohol yang masih terasa di mulutnya membuatku serasa ikut dalam dunia hayalnya, tanpa bisa ku kontrol lagi bibirku menyabut kecupan mesra Arjuna. Dia membalikan tubuhku, posisinya sekarang ada di belakangku, tangannya menggerayangi seluruh tubuh, dan aku menjadi tak tahan.
Aku berbalik ke arahnya dan mendorong Arjuna, hingga membuatnya jatuh kembali ke kasur. Aku menjadi gila dan mendominasi malam ini.
"Arjuna, kau benar-benar menjadi milikku malam ini."
****
Setelah selesai melewatkan malam yang singkat ini, Arjuna sedang tertidur pulas. Dia seperti sangat kelelahan. Malam ini tidak seperti malam sebelumnya, aku hanya tidur bersama Arjuna seorang.
Aku mngamati wajah yang tertidur di sampingku, wajah seorang lelaki yang tiba-tiba saja datang dan merenggut cintaku dengan lembut.
__ADS_1
Kelopak matanya sangat berkarisma, pasti sudah membuat banyak wanita tergoda, wajah tampan dan mempesona, wanita mana yang tak ingin berada di dalam bola matanya.
Bahkan aku bukan hanya ingin berada di dalam ruang pandangnya saja. Aku ingin berada di dalam hatinya dan berlama-lama membisikan mantra cinta di dalam kalbunya.
Aku ingin mengutuk Arjuna, agar dia hanya menjadi milikku.
Mataku menemukan dompet Arjuna yang tergeletak di lantai, tanganku meraih dompet itu dan memeriksanya, aku penasaran dengan umur dan alamat juna jadi aku memeriksa KTP atau kartu tanda penduduk milik Arjuna. Aku terkejut , ternyata wanita yang aku lihat di pameran lukisan itu adalah istri Arjuna, aku mnyimpulkan itu semua karna melihat setatus perkawinan yang tertera di KTP Arjuna bertuliskan menikah atau kawin.
Hatiku tiba-tiba merasakan pilu yang luar biasa, aku merasa tidak pantas berada dalam satu pembaringan bersama pria sehebat arjuna. Tapi mataku masih ingin memandangi wajahnya yang menyejukkan. Air mataku tiba tiba terjatuh entah mngapa.
Tuhan ... apakah aku terlalu bodoh untuk mencintai seorang pria?
Apakah aku terlalu serakah jika hanya ingin menjadi wanita biasa?
Apakah ini semua ada akhirnya?
kapan aku bisa seperti mereka yang mentertawakan perihku, merasakan hidup merdeka!
Aku hanyalah satu tetes hujan yang singgah lalu terjatuh menghantam tanah, hilang, menguap oleh panasnya aspal bumi
Aku bahkan lebih hina dari kotoran kuku Srikandi, jelas tak layak meminta cinta Arjuna.
Tubuh ini ... kau berikannya dengan kesucian, tapi aku buang dan bergumul dalam kenistaan.
Aku langsung mengenakan kembali pakaianku yang sudah ku bersihkan, dan segera berlari pergi dari Arjuna yang masih tertidur, air dari mataku tak henti-hentinya terus saja menglir, hatiku merasa sakit tapi entah apa alasannya, rasanya seperti rasa yang tak di terima oleh lelaki pujaan.
Setelah berlari sepanjang koridor, dengan isak tangis yang menjadi back song nya, akhinya aku sampai di tempat resepsionis, dan membayar tagihan kamar, serta menitipkan ktp Arjuna yang tak sengajaku bawa karna terburu-buru.
BERSAMBUNG.
__ADS_1