
Setelah berlari sepanjang koridor, dengan isak tangis yang menjadi 'Back song' nya, akhirnya aku sampai di tempat resepsionis, dan membayar tagihan kamar, serta menitipkan KTP Arjuna yang tak sengaja terbawa olehku, karna terburu-buru. Lalu aku lanjutkan pelarianku dari Arjuna.
“Hey, tunggu dulu nona!”
Aku mendengar suara seorang pria, dia sepertinya berteriak ke arahku, karna tidak ada lagi orang lain di tempat ini, aku menoleh ke arah sumber suara itu, dan ternyata pria itu adalah Arjuna, dia sedang berlari ke arahku.
Aku mempercepat langkah kakiku, karna aku tak ingin berbicara apapun dengan Arjuna. Aku bersembunyi di balik dinding agar tak dapat di lihat oleh Arjuna.
"Hey nona, kamu di mana?!”
Teriakan Arjuna bisa ku dengar, Arjuna belum menyerah, usaha yang sia-sia saja, karna aku tidak akan muncul lagi di hadapan Arjuna. Cukup kali ini saja, aku tak ingin mengahancurkan hidupnya dan membawa Arjuna kedalam lingkaran kotor ini.
Semua orang memiliki sudut pandangnya masing-masing, tapi tidak dengan diriku.
Dulu memang iya, aku punya, tapi sekarang sudah tidak.
Karena setiap sudut di pandanganku sudah terpenuhi oleh wajahmu Arjuna.
Bahkan di balik kelopak mataku ada bayang dirimu disana.
Bayangan mu sudah bersemayam di balik kelopak mataku.
Kau membuatku terlupa, kau membuatku terlena, kau membuatku lalai dan tak menyadari siapa diriku ini.
Kau buatku tak tau diri, berani menaruh rasa cinta di hatiku untukmu.
Kau membuatku buta, kau membuatku salah dan tak menyadari siapa dirimu dan siapa diriku. Kau menaruh bibit cinta di tanah yang tandus, kering tak terurus.
Tak perlu kau habiskan tenagamu untuk pergi menjauh, karna aku yang akan pergi dan menjauh.
Tak perlu kau bersusah payah menjaga jarak dariku yang tak layak, karna aku yang akan terus mengukur jarakmu dan jarakku, agar orang yang aku sayang tak terkotori oleh noda si Mayang.
*****
__ADS_1
Arjuna dan teriakannya sudah tidak ada, mungkin dia sudah jauh dari sini. Aku pun segera menuju kembali ke clube tempatku tinggal. Sepanjang jalan aku menyesali perasaan yang aku rasakan kepada Arjuna. ‘bagai mana cinta bisa jatuh begitu saja, apalagi terhadap pria yang tidakku kenali.’ Rasa sesal di dalam hati dan air mata yang membasahi pipi, mengiringi sepanjang jalanku pergi.
“Aku harap rasa ini tidak akan berdiam lama di dalam hatiku, aku harap rasa ini cepat pergi.”
Mereka mengatakan rasa sakit akan hilang seiring berjalannya waktu, biarkan saja dan rasakan saja tiap sakit yang melanda. Tapi aku meragukan semua itu, karna ini adalah yang pertama, dan aku tidak memiliki pengalaman apapun tentang cinta.
‘Bagiku cinta ini indah, rasa yang selalu membuatku ragu dalam setiap langkah. Rasa yang hidup dalam ketergantungan seseorang.’ Dan mereka mengatakan bahwa aku tidak akan temukan yang sepertimu lagi, karna cinta pertama itu seperti cacar yang datang seumur hidup sekali. Jika ingin mencari orang sepertimu lagi di luar sana, Itu takkan mungkin. Entah apa yang sedari tadi ku pikirkan dengan air mata yang terus berjatuhan
Jadi inikah sakit hati? Baru pertama merasakan, sudah di beri kepahitan.
Jadi inikah sakit hati? Rasa yang membuat dada sesak, rasa yang sangat menyesakan.
Kepahitan, kesakitan, berubah menjadi tetesan tetesan air mata.
******
“Mayang, kamu dari mana aja?”
“Eh Kak Tiar, aku abis dari motel sebelah Kak.”
“Apaan si Kak, aku ga apa-apa kok.”
“Kamu masih aja mau bohong. Ayo cepet bilang kamu kenapa?”
“Kamu udah melayani tamu kasar May?”
Kak Tiar memang selalu memperhatikanku, dia benar-benar seperti sosok Ibu, bukan Kaka lagi bagiku.
“Iya kak," aku menghampiri kak tiar dan memeluknya erat, sambil menangis dalam pelukannya. Kak Tiar pun memeluku erat, menyambutku dengan tangan terbuka.
‘Aku benar-benar menemukan pengganti ibuku dalam diri Kak Tiar.’ Aku tidak mau kehilangan kak Tiar.
“Kamu sabar ya Mayang, ini biar jadi pengalaman pertama dan terakhir untukmu, lainkali jangan layanin lagi orang itu ya.”
__ADS_1
“Iya Kak Tiar.”
Wanit ini menatapku, penuh dengan kelembutan, dia menatapku dengan penuh kasih sayang. terasa ketulusan dari tangan wanita yang sedang mendekapku ini. Ibu seperti inikah pelukanmu dulu? selembut inikah matamu kertika menatapku? Cemburukah dirimu jika dia menggantikan posisimu dalam hatiku? Maaf kan mayang Ibu. Mayang hanya rindu dengan dekapan tempatku berlindung yang sudah lama tidakku rasakan darimu.
“Kak Tiar terimakasih, atas perhatian Kak Tiar kepada Mayang. Mayang Sayang Kak Tiar.”
“Kamu ini May-May, kan Kakak pernah bilang, kamu itu Adik kakak, jadi gak usah sungkan lagi sama Kakak ya May.”
Perkataan yang membuat hatiku makin mendayu, tangannya yang membelay kepala dan rambutku terasa sangat lembut bagiku.
‘Hemm … kasihan Danang, apakah dia merasakan kasih saying seprti di asrama?’ tiba-tiba aku terpikirkan Adik kecilku semata wayang. Sudah hamper satu bulan aku belum menemuinya dan aku berencana akan menemuinya besok.
“Sudah ya Mayang sayang, sekarang kamu masuk kamar istirahat tidur ok saying. Biar Kakak sama yang lain beres-beres di bawah.”
“Gausah Kak aku ikut beres-beres aja ya, gak enak soalnya sama yang lain kalau aku langsung istirahat.”
“Ga! Udah kamu istirahat aja. Yang lain juga pasti ngerti ko. Oke Bener ga? Kalian setuju kan?” kata Kak Tiar sambil berteriak meminta persetujuan yang lainnya, kak tiar adalah ‘bidadari’ paling senior di club ini. Jadi semua biadari pun pasti menyetujui pendapatnya, selain alasannya adalah karna Kak Tiar yang paling lama di sini, Kak Tiar juga orang yang paling berjasa bagi yang lain, bukan hanya untuk diriku.
“Kalian memang yang terbaik, makasih ya semuanya.”
Aku pun kembali kekamarku, sekitar lima belas menit aku hanya berbaring dan memikirkan Arjuna yang sudah ku bawa dalam lubang hitamku.
'Ah ini menyebalkan, lebih baik aku ikut mandi bersama yang lainnya.’ Aku berdiri dan langsung menuju ruang bilas untuk membersihkan diri.
“Eh Mayang, kirain kamu udah tidur.”
“Hee … belum Kak Melly, aku lupa mandi.”
“Aduh kamu, cantik-cantik kebiasaan joroknya ga pernah ilang May.”
“Iya Kak, susuah kalo udah kebiasaan.”
Kami ber tujuh langsung memasuki ruang bilas untuk membersihkan diri. Di tempat ini kami sering berkumpul dan bercanda, melepaskan penat, yang terus mendera. Tapi untuk kali ini akan sedikit berbeda rasanya, karna aku melihat seseorang yang sedang mengintip di selah-selah pintu, dan tiba-tiba pintu itu bergerak perlahan dengan sendirinya, membuat wajah yang mengintip kami terlihat jelas. Betapa terkejutnya aku ternyata orang yang mengintip kami sedari tadi adalah
__ADS_1
“Arjuna.”
BERSAMBUNG.