
Amalia, kau memberiku satu fakta nyata. Bahwa yang selalu ada, belum bisa disebut pemenang dalam asmara. Semua usaha untuk membuatmu tetap bertahan, semuanya terasa sia-sia. Menguap begitu saja dihadapan kenyataan yang kau suguhkan.
Sampai saat ini aku belum memahami alasan yang kau jadikan landasan atas penghianatan yang telah kau lakukan. Amalia, aku terkadang merasa bangga dapat menjadi alasan dalam setiap tawamu. Bisa menjadi orang yang selalu ada saat kau butuhkan, walaupun nyatanya bukan aku yang kau inginkan. Kini tak ada yang tersisa, kecuali rasa sesal dan kesal yang kian menumpuk di kepala dan menghimpit di dalam dada.
Amalia, kau pergi, menyambut tangan lelaki yang mengulur ke arahmu. Padahal aku sedang berada di sampingmu saat kejadian itu. Kau abaikan hadirku, kau dibutakan oleh cintamu tanpa mempedulikan perintah Tuhanmu untuk taat dan patuh terhadapku sebagai suamimu.Sekarang, daripada aku melaknatmu di hadapan Tuhanku, lebih baik aku mengiklaskanmu pergi menjauh dariku.
******
Pukul 12.30 siang, sudah satu jam waktu kuhabiskan dengan kepedihan hati yang kurasakan. Aku berjalan menuju garasi motorku, berniat untuk kembali ke club itu. Entah kenapa rasanya disaat gelisah seperti ini aku malah ingin pergi menemui Mayang. Padahal, selain karena statusnya yang bermasalah, dia juga wanita yang belum lama kukenal. Namun, kenapa perasaanku begitu keras ingin menemuinya. Akhirnya, tanpa banyak pikir lagi aku menjalankan motorku menuju ke club itu.
******
Sekarang aku sudah berada di dalam parkiran club. Kuamati sekitarku yang terasa aneh, karena ini baru pertama kalinya aku berkunjung ke tempat seperti ini di siang hari. Aku pun berjalan ke arah pintu masuk club. Terlihat ada dua security yang kujumpai tadi malam.
"Semoga saja mereka tidak mengenali wajahku, bisa-bisa akan menjadi masalah jika mereka masih mengingatnya," gumamku.
Tanpa rasa takut aku tetap melangkah menuju ke arah security itu berada. Tekadku untuk bertemu sang pujaan hati tidak akan dengan mudahnya dihentikan oleh security-security itu.
"Maaf Tuan, Anda belum bisa masuk. Tempat ini buka jam 15.00, sekitar dua jam lagi Tuan. Silakan menunggu atau kembali lagi saat kami sudah buka," kata salah satu security yang menghentikan langkahku. Mereka tidak mengizinkanku masuk club pada siang hari. Namun, itu tak bisa menghentikan keinginanku untuk bertemu dengan Mayang sang pujaan hati.
"Anu Pak, saya datang kemari ada keperluan mendesak dengan teman saya. Dia salah satu pekerja di tempat ini!" kataku beralasan.
"Siapa nama teman Tuan yang bekerja di sini? Biar saya panggilkan," kata security yang masih memegang tanganku.
__ADS_1
"Namanya Mayang, Pak," jawabku.
Salah satu dari security itu berjalan menuju ke dalam club, sedangkan yang satunya masih berdiri menghadangku di depan pintu. Tidak lama kemudian security yang tadi masuk akhirnya keluar, meski ia sendiri tanpa diikuti sang pujaan hati.
"Anda tolong tunggu sebentar, Mbak Mayang sebentar lagi keluar," kata security itu dengan memasang wajah sangarnya.
Aku pun menuruti perkataan si security yang menyuruhku untuk berdiri dan menunggu Mayang keluar. Tidak lama setelah security itu memintaku menunggu, Mayang pun akhirnya keluar dari pintu, dan mulai mengalihkan pandanganku.
Yang pertama kulihat dari bagian tubuh Mayang saat ia keluar adalah kakinya. Karena kebetulan sekali kepalaku sedang tertunduk menatap lantai yang ia pijak. Namun, sebenarnya dibandingkan dengan mataku, hidungku lebih dahulu mencium aroma tubuh Mayang. Entah parfum apa yang dia gunakan, tetapi aroma tubuhnya benar-benar mengugah gairah. Kugerakan mataku yang tertunduk, perlahan menikmati keelokan tubuh Mayang dari bawah kaki, sampai ujung rambutnya yang terurai.
"Baru pertama kali aku melihat bintang yang dapat berpijar di siang hari, atau bahkan dia adalah dewi yang sedang membuka gerbang surga untukku," gumamku sambil memuji sosok wanita yang baru saja kulihat ini.
Mata Mayang terbuka lebar melihat diriku yang sedang berdiri menunggunya.
"Eh, Mayang udah lama ya kita enggak ketemu! Terakhir ketemu pas acara wisuda itu ya? Aku sampe pangling loh liat kamu," kataku memotong ucapan Mayang yang belum selesai ia ucapkan. Sambil berbohong karena aku merasa tidak nyaman dengan cara pandangan security yang menatapku penuh dengan kecurigaan.
Tanganku langsung meraih tangan Mayang, dan menariknya untuk menjauhi keberadaan security, karena aku merasa tidak nyaman dengan keberadaan mereka.
"Kamu ngapain ke sini lagi?" tanya Mayang kebingungan.
"Aku mau ketemu kamu aja," kataku menjawab pertanyaan Mayang dengan jujur.
"Mau ngapain?" tanya Mayang lagi.
__ADS_1
Pertanyaannya kali ini membuatku memikirkan alasan.
‘Benar juga! Kenapa aku ingin menemui Mayang?' Aku merasa bingung dengan tingkahku sendiri. Anehnya, seberapa keras pun usahaku untuk mencari alasan, mengapa aku ingin menemui Mayang? aku tak dapat menemukan alasannya.
'Entahlah, aku hanya ingin menemuimu. Tanpa harus ada alasan, atau bahkan aku tak memerlukan alasan apapun. Karena ini memang keinginan hatiku untuk berjumpa denganmu, dan membiarkan mataku yang haus akan hadirmu di dalam ruang pandangku dapat menatap jelita nan elok bak bidadari ini. Perasaan ini biasa disebut rindu, entah kau mempercayainya atau tidak, aku ingin kau selalu ada di setiap kumembuka mata. Bahkan saat tertutup sekali pun bayangmu harus ada untuk menggantikan kehadiranmu yang nyata.'
Kata-kata itu adalah kata yang tepat untuk kujadikan alasan. Namun, hal itu tak bisa kuucapkan karena entah kenapa bibirku sedang tidak mau bekerjasama denganku. Sial sekali rasanya, karena aku nampak seperti orang bodoh di hadapan Mayang.
"Hei! Kok malah ngelamun, buruan aku enggak ada waktu," kata Mayang. Dia terus mendesakku sembari menatap arloji di tangannya.
Degup jantungku berdebar lebih keras dari biasanya. Apalagi, setelah telingaku dimanjakan dengan suara lembutnya meski dia sedikit membentakku.
"Aku cuma mau bilang terima kasih, karena kamu sudah mau membantuku kabur semalam," kataku.
"Oh, gitu doang? Udah kan? Ya sudah aku akan kembali ke dalam. Kamu silakan pergi dari sini!" kata Mayang sambil mengangkat tangan menunjuk ke arah parkiran kendaraan. Ah, dia hendak mengusirku.
"Sebentar!" kataku sambil merogoh kantong celana, dan mengambil beberapa lembar uang dari dalam dompetku. Mayang terdiam sembari memperhatikan tiap gerak-gerik yang sedang kulakukan.
"Ini untukmu. Ini bayaran yang belum sempat kamu terima dariku. Silakan ambilah!" kataku sambil memberikan beberapa lembar uang kepada Mayang. Namun, apa yang terjadi? Mayang justru menepis tanganku dengan sangat keras, menyebabkan berhamburnya beberapa uang kertas yang tadi kupegang. Kini uang-uang itu berhamburan seakan menghujani kami berdua.
Kutatap wajah Mayang yang terlihat murka, dan dia berbalik menatapku dengan penuh kebencian.
'Apa salahku Mayang?' Perasaan bingung benar-benar bercampur dalam hati dan pikiranku.
__ADS_1
BERSAMBUNG.