
Masa Mo Mo tidak menyadari baunya sih? Semua orang pada heboh menggosipkannya di chat grup loh.
"Maaf, aku tidak tahu kalau kalian tidak menyukainya."
Loh, memangnya Mo Mo tidak diundang di chat grup, yah? Dia kan sudah beberpa hari kerja. Maka Xiao Lin pun mengundangnya ke dalam chat grup mereka.
Xiao Lin lalu mengajak Mo Mo makan bersamanya. Enaknya makan apa yah? Mie bekicot? Oke, Mo Mo setuju banget dan langsung mengeceknya di internet. Err... tapi kemudian dia malah mendapati tempat yang biasa dia beli, sekarang ditutup karena masalah kebersihan. Wkwkwk! Dan Mo Mo suka makan di tempat kayak begitu?
"Perutmu kuat banget, yah." Nyinyir Xiao Lin.
Hari itu, hujan turun deras saat Mo Mo mencari buku-buku di perpus dan tak sengaja bertemu Wei Yi yang sedang membaca di salah satu rak. Dia langsung usil mengintip buku yang Wei Yi baca.
"Ramalan nasib? Ramal nasibku juga dong."
"Nggak lucu."
"Kudengar kau bergabung di lab-nya Prof Jiang."
"Kau kan yang membuatnya berhasil."
Tapi tiba-tiba ada bau-bau aneh yang menarik perhatiannya. Apa Mo Mo tidak memperhatikan ada bau busuk? Mo Mo mencoba mengendus-endus, nggak tuh.
Tapi Wei Yi yakin dan langsung mengendus-endus sumber bau busuk itu yang ternyata dari Mo Mo. Oh, Mo Mo tadi makan mie bekicot soalnya.
" Sebaiknya kau mandi dulu di asrama," saran Wei Yi.
"Aku sudah pindah dari asrama seminggu. Kalau aku balik, aku bakalan disuruh bayar tagihan. Aku lagi missqueen."
Mo Mo mendadak semangat cerita tentang rumah kontrakan barunya yang boring banget kayak kamar mayat, pemilik rumahnya tuh benar-benar aneh.
"Aku mau baca buku!" Tukas Wei Yi. Mo Mo jadi kesal dan langsung pergi.
Hujan masih turun dengan derasnya dan disertai petir yang menyambar-nyambar. Mo Mo lagi nyantai makan snack saat Ibunya menelepon tak lama kemudian untuk mengecek apakah Mo Mo mengotori rumah Bibi Xu?
__ADS_1
Mo Mo mendadak terdiam canggung menatap tumpukan sampah makanan yang berserakan di meja dan lantai. (Pfft!)
"Nggak kok, bersih banget." Bohong Mo Mo
"Baguslah. Bibi Xu tadi bilang kalau anaknya mungkin akan tinggal di rumah itu selama beberapa hari."
Mo Mo kontan panik (rumahnya kan lagi kotor), kapan anaknya Bibi Xu mau datang? Ibu bilang besok. Mo Mo lega, bisa nyantai lagi deh. Ibu langsung ngomel-ngomel mengingatkan Mo Mo untuk menjaga kebersihan, jangan kotori rumah itu.
Hujan petir masih menderu-deru sampai malam. Mo Mo malah sengaja mematikan lampu sambil nonton film horor untuk menambah kesan seram. Para tokoh (di film) tegang menatap pintu, menanti entah apa yang akan muncul dari balik pintu itu.
Tiba-tiba kenop pintu (di film) terbuka... bersamaan dengan kenop pintu rumah Mo Mo yang mendadak juga terbuka dari luar. OMG! Ada orang yang mau masuk!
Mo Mo kontan ketakutan dan langsung menyambar pisau buah sebagai senjata saat dia melihat bayangan orang itu berjalan masuk dan langsung menjerit sekencan-kencangnya pada... err... Wei Yi? Hah? Ngapain dia di situ?
Mo Mo bingung melihatnya, tapi Wei Yi juga sama bingungnya. "Sedang apa kau di sini?"
Kedua orang itu duduk berhadapan dengan Mo Mo (entah kenapa) menutup dirinya pakai selimut. Wei Yi ternyata anaknya Bibi Xu. Wei Yi mengerti sekarang, jadi rumah kontrakan yang Mo Mo bilang kayak kamar mayat itu adalah rumahnya?
Wei Yi langsung mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Wajahnya makin lama makin masam melihat stiker Doraemon di dinding dan sampah makanan yang berserakan di seluruh ruangan. Parahnya lagi, ada bekas mie bekicot yang bau banget.
" Jelaskan."
"Aku berniat mengambalikan segalanya seperti semula sebelum besok. Ibuku bilang kalau kau akan datang besok."
"Aku ada penelitian di sekolah lama tapi tidak bisa mendapatkan taksi karena sekarang hujan."
"Lalu apa kau akan tianggal di sini malam ini?"
"Menurutmu kenapa aku kembali kemari?"
"Betul juga. Aku tidak tahu kalau anaknya Bibi Xu ternyata cowok."
"Aku juga tidak tahu kalau anaknya temannya ibuku ternyata cewek." Sengit Wei Yi.
__ADS_1
Baiklah, Mo Mo akan balik ke asrama sekarang. Tapi belum juga sempat beranjak, petir di langit mendadak berdentum seolah mencegah Mo Mo pergi. Mo Mo ketakutan, bisakah dia pindah besok saja?
Untung saja Wei Yi berbaik hati menyetujuinya. Tapi... buang dulu bekas mie bekicot itu. Mo Mo mengklaim kalau dia belum menghabiskannya, tapi Wei Yi tak peduli. Buang sekarang juga.
Mo Mo bilang oke, tapi juga tidak segera bertindak dan terus saja bergelung di dalam selimutnya. Wei Yi jadi kesal, dia nunggu apa?
Tak punya pilihan lain, Mo Mo entah kenapa mengambil bantal kursi seolah untuk melindungi dirinya. Tapi Wei Yi ngotot memaksanya melepas bantal kursi itu soalnya bau mie bekicotnya bisa nempel ke bantal kursi itu.
Mo Mo mendadak ngambek. "Aku tidak mau buang! Kau saja yang buang!"
Wei Yi kontan menatap setajam silet sampai membuat Mo Mo ciut dan akhirnya meralat kalimatnya jadi lebih sopan. Tolong bantu dia membuangnya. Wei Yi menolak, makanan itu bau dan Wei Yi tidak mau menyentuhnya.
"Kalau begitu, akan kubuang nanti saja."
"Bau!"
"Baiklah, tunggu sebentar!"
"Kenapa? Kenapa kau tidak bisa membuangnya sekarang saja?"
"Tunggu sebentar lah."
"Sekarang!"
"Aku lagi nggak pakai daleman, ngerti nggak sih?!"
Wkwkwk! Jadi karena itu dia menutupi dirinya dengan selimut? Wei Yi mendadak mengalihkan pandangannya dengan canggung. Yah sudah, nyantai aja.
"Kenapa kau tidak memakainya?"
"Memangnya kau pakai daleman kalau lagi di dalam rumah?!"
Wei Yi buru-buru masuk ke kamar tapi malah mendapati kamarnya sekarang sudah dikuasai Mo Mo dengan segala pernak-pernik Doraemon-nya.
__ADS_1
Dia langsung keluar tepat saat Mo Mo lagi mau buang mie bekicotnya. Mo Mo langsung jongkok dengan panik untuk menutupi bagian itunya. Wei Yi jadi semakin canggung dan buru-buru masuk ke kamar yang satunya.
Setelah Mo Mo ganti baju tak lama kemudian, dia dan Wei Yi saling bekerja sama membersihkan rumah itu. Selesai bersih-bersih, Wei Yi mandi duluan.