
Tanpa mempedulikan keributan disekitar mereka, kedua muda-mudi itu begitu larut dalam kedekatan mereka... sampai saat Mo Mo memberitahu Wei Yi kalau tangannya menekan selang infusnya.
Wei Yi sontak bangkit dari Mo Mo dengan canggung. Dia setia berjaga di samping Mo Mo semalaman. Mo Mo bahkan masih tidur sangat nyenyak saat dia bangun keesokan harinya.
Wei Yi dengan manisnya membenarkan posisi tidurnya dan menyelimuti Mo Mo sebelum kemudian keluar cari sarapan untuk mereka berdua. Kedai yang dia datangi bahkan masih baru buka saat dia datang dan memesan beberapa menu termasuk bubur.
Buburnya belum matang dan nyonya bos kedai mencoba menawarkan menu lain, tapi Wei Yi ngotot harus bubur karena temannya sakit perut jadi dia harus makan bubur.
"Kau memperlakukan temanmu dengan sangat baik, suamiku saja tidak pernah memperlakukanku sebaik itu." Komentar Nyonya Bos. Pak Bos tidak terima dan jadilah kedua suami-istri itu bertengkar lucu di hadapan Wei Yi.
Tiba-tiba ponselnya berbunyi dari Fu Pei yang nyerocos panjang lebar meminta Wei Yi untuk meminjamkan sepatunya, dia mau ada pertandingan soalnya.
Wei Yi meminta Fu Pei untuk menyuruh teman mereka saja atau Fu Pei ambil sendiri saja, dia sedang tidak berada di kampus soalnya.
Fu Pei berkata kedua temannya yang lain tidak bisa membantu, dia sendiri lagi ada training sekarang. Dia akan ganti ongkos perjalanan Wei Yi deh.
"Aku sedang di rumah sakit sekarang." ujar Mo Yi kepada Fu Pei dalam telepon tersebut.
"Hah? Kau sakit apa?" tanya Fu Pei kepada Mo Yi.
"Si Tu Mo opname." jawab Mo Yi kepada Fu Pei.
Dan setelah itu lalu dia pun mengakhiri teleponnya tersebut.
Mo Mo baru bangun tak lama setelah Wei Yi kembali dan mendapati Wei Yi sedang menatap peralatan medis di depannya dengan penasaran ingin menyalakan alat itu.
Mo Mo langsung semangat pengen makan cakwe, tapi Wei Yi tegas menyuruhnya makan bubur saja. Bahkan saat Mo Mo ngotot, Wei Yi langsung menatapnya dengan garang sampai Mo Mo ketakutan.
Terpaksalah dia harus menurut. Apalagi saat suster datang mengeceknya tak lama kemudian, suster juga menegaskan kalau Mo Mo tidak boleh makan gorengan.
__ADS_1
Tapi begitu suster pergi dan melihat Wei Yi tampak sibuk dengan ponselnya, tangannya nakal lagi ingin meraih cakwe... dan langsung mendapat pelototan tajam Wei Yi.
Mo Mo terpaksa menaruh cakwe itu kembali. Tapi begitu Wei Yi lengah, dia langsung menyambar onde-onde dan melahapnya utuh sampai Wei Yi tidak sempat mencegahnya.
Parahnya lagi, Dokter mendadak muncul. Wei Yi langsung panik menggunakan dirinya untuk menutupi Mo Mo dari pandangan Dokter bak pacar yang terlalu protektif.
"Ngapain kau? Minggir." tanya dokter kepada Mo Yi.
"Tidak bisa." jawab Mo Yi kepada dokter tersebut sambil menatap sinis
"Kenapa?" tanya Dokter kembali kepada Mo Yi.
"Jangan lihat pacarku." sahut Mo Yi kepada dokter.
Uhuk! Uhuk! Mo Mo kontan tersedak mendengarnya dan buru-buru menutupinya dengan makan bubur. Oh, Dokter mengerti dan akhirnya pergi meninggalkan mereka tanpa memeriksa Mo Mo. Sepertinya dia sudah sembuh.
Mo Mo mengecek penampilannya di kamera dan mendapati rambutnya agak berminyak. Apa Wei Yi punya ikat rambut? Yah nggak lah, mana punya dia barang begituan.
Wei Yi sebenarnya punya ikat rambut yang entah dari mana dia mendapatkannya. Tapi pemandangan itu kontan membuat Wei Yi urung memberikan ikat rambutnya.
"Cepat sekali kau datang." Sapa Wei Yi.
"Ini mah kecil bagiku." jawab Fu Pei dengan santai.
Flashback *:
Sebenarnya di tengah jalan tadi, taksi yang ditumpangi Fu Pei mogok. Tapi Fu Pei tidak sabaran untuk menunggu saking cemasnya dan akhirnya mencari cara lain.
Awalnya dia mencoba naik sepeda motor listrik, tapi batereinya malah cepat habis. Terpaksa dia balik balik dan terburu-buru mengejar bis.
__ADS_1
Flashback end. * :
Sama seperti sebelumnya, Fu Pei langsung mengambil alih tugasnya Wei Yi dan mengambil obatnya Mo Mo dari tangan Wei Yi. Tapi dia penasaran, bagaimana ceritanya Wei Yi mengantarkan Mo Mo ke rumah sakit?
Kedua orang itu sontak menjawab berbarengan, tapi beda jawaban. Wei Yi hampir ngomong jujur, tapi Mo Mo mengklaim kalau mereka tak sengaja bertemu di jalan dan dia meminta Wei Yi membawanya kemari. Fu Pei tampak agak ragu, tapi dia mengiyakannya saja.
Dia dan Mo Mo lalu turun duluan tapi malah bertemu dengan Dokter yang langsung menanyakan di mana pacarnya Mo Mo? Apa pacarnya Mo Mo meminta pria ini (Fu Pei) untuk membantunya?
Fu Pei jelas bingung. "Pacar?"
"Jagalah dirimu dengan baik, jangan selalu keluar-masuk rumah sakit, kau akan membuat pacarmu cemas. Kalau kau masuk rumah sakit lagi, dia mungkin akan gila." Cerocos Dokter.
Mo Mo panik ingin menjelaskan. Tapi tepat saat itu juga, Dokter melihat Wei Yi turun, tuh pacarnya Mo Mo datang. Fu Pei jadi semakin penasaran sama mereka, tapi dia diam saja.
"Kalian menungguku? Ayo pergi." tanya Mo Yi sambil mengajak mereka berdua pergi.
Mereka naik taksi kembali ke kampus. Fu Pei tidak tahan lagi dan langsung menuntut kenapa dokter tadi bilang kalau Wei Yi adalah pacarnya Mo Mo?
"Dia pasti salah paham," santai Wei Yi.
Fu Pei masih agak ragu dan berbalik menanyai Mo Mo. Mo Mo meyakinkan kalau dokter beneran cuma salah paham. Fu Pei mulai percaya sekarang. Kalau dipikir-pikir, Wei Yi tidak mungkin menyukai gadis seperti Mo Mo.
"Memangnya gadis seperti apa yang kusukai?"
"Maria Curie mungkin?"
"Tidak sama sekali." Sangkal Wei Yi sambil diam-diam mengintip Mo Mo melalui spion.
Begitu sampai depan kampus, Fu Pei malah turun duluan dan bukannya membantu Mo Mo turun. Tapi saat Wei Yi hendak membukakan pintu untuk Mo Mo, Fu Pei ternyata cuma berbalik arah lalu membukakan pintu untuk Mo Mo dari pintu sebelah.
__ADS_1
Mereka bahkan langsung jalan berdua meninggalkan Wei Yi di belakang. Wei Yi tak senang melihat itu dan akhirnya membuang ikat rambut yang disimpannya sedari tadi.
Mereka bahkan langsung jalan berdua meninggalkan Wei Yi di belakang. Wei Yi tak senang melihat itu dan akhirnya membuang ikat rambut yang disimpannya sedari tadi.