
Wei Yi sedang mengepak baju-bajunya saat teman sekamarnya datang dan langsung nyerocos mengeluhkan gebetannya yang ternyata masih berhubungan dengan mantannya. Heran dia, padahal mantannya cewek itu udah nggak ada perasaan sama dia terus kenapa si cewek itu masih saja suka. Apa sih yang ada di pikiran cewek sebenarnya?
Tepat saat itu juga, Mo Mo nge-chat, minta pinjam kunci rumahnya Wei Yi soalnya kuncinya ketinggalan di rumah itu dan dia mau mengemasi barang-barangnya, dia juga meminta Wei Yi untuk tidak bilang ke siapa-siapa tentang dia tinggal di rumah We Yi. Tapi Wei Yi sepertinya masih kesal karena kejadian tadi pagi dan akhirnya malas membalasnya.
Fu Pei ternyata masih belum pergi. Sepertinya dia mau memata-matai Mo Mo saking penasarannya. Apalagi kemudian dia melihat Wei Yi dan Mo Mo bertemu di depan.
Mo Mo protes kenapa Wei Yi tidak membalas chat-nya? Wei Yi berbohong kalau ponselnya di-silent, Mo Mo tidak bawa kunci kan, ayo pergi bersama.
"Naik bis atau taksi?"
" Apa saja."
"Gu Wei Yi. Gu Wei Yi!"
"Apa lagi?!"
"Resleting kopermu tidak tertutup rapat." ujar Mo Mo kepada Mo Yi.
"Makasih, ayo." sahut Mo Yi kepada Mo Mo lalu mengajaknya pergi.
Mereka tiba di apartemen tanpa menyadari Fu Pei yang sedang membuntuti mereka dan shock melihat mereka masuk apartemen bersama. Pak Supir penasaran, apa gadis itu pacarnya Fu Pei?
Fu Pei menyangkal, ayo pergi saja, ke mana saja. Pak Supir jelas tidak percaya. Tapi dengan bijak ia menasehati Fu Pei untuk tidak bersedih.
Pengalamannya menjadi supir taksi selama bertahun-tahun, membuatnya bertemu bermacam-macam orang. Dulu, ia pernah mengantarkan seorang wanita yang menyuruhnya untuk menunggu di depan sementara wanita itu masuk untuk menghajar suaminya dan selingkuhan suaminya.
__ADS_1
Tapi ternyata wanita itu cuma salah paham saja. Suaminya tidak berselingkuh, cuma suka koleksi boneka s** saja. Pfft! Mendengar itu, Fu Pei langsung meminta Pak Supir untuk balik ke sana.
Mo Mo mulai mengemasi barang-barangnya sementara Wei Yi cuma diam mengawasinya dengan muka cemberut. Mo Mo tidak tahan lagi melihatnya begitu dan langsung mengonfrontasinya, apa Wei Yi lagi marah karena sesuatu? Wei Yi menyangkal, nggak tuh.
Mo Mo tiba-tiba ingat kalau dia sudah mencuci selimut, tapi belum kering gara-gara hujan waktu itu. Akan dia jemur sekarang biar Wei Yi bisa memasangnya di kasur nanti.
Wei Yi malah menuntut Mo Mo untuk tetap di sini sampai selimut itu kering, dia tidak tahu bagaimana cara memasangnya di kasur. (Pfft! Masa sih?)
"Akan kulakukan saat aku senggang saja."
"Nggak boleh."
"Apa kau sedang mempersulitku?"
"Kalau kau tidak mau memasangnya, aku tidak bisa tidur."
Mo Mo lalu menyuruh Wei Yi untuk membantunya memegangi ujung selimutnya biar dia bisa mengibas selimut itu. Tapi Wei Yi malah melepaskan pegangannya dan jadilah selimut terbang. Wkwkwk!
"Kenapa kau melepaskannya?!"
"Kukira kau mau memukulku." (Wkwkwk! Takut juga toh).
Mo Mo kesal dan langsung mengambil tongkat galah. Wei Yi kontan mundur mengira Mo Mo mau menghajarnya. Mo Mo sampai geli melihat reaksinya, dia tidak akan memukul Wei Yi kok. Ayo ambil selimutnya.
Karena selimut itu nyangkut ke pohon yang tinggi, Mo Mo menyerahkan galah itu ke Wei Yi dan menyuruh Wei Yi untuk mengambil selimut itu pakai galah, nanti dia yang tangkap.
__ADS_1
Tapi Wei Yi juga cukup kesulitan meraihnya. Dia mencoba melompat tapi tetap gagal. Mo Mo bingung, ngapain dia melompat?
"Aku tidak cukup tinggi."
"Ooooh, begitu..." Mo Mo geli.
"Aku 187cm, tahu!"
"Masa?"
"Beneran!"
"Oke deh, abang yang tingginya 187cm tolong ambil selimutnya."
Wei Yi terus berusaha melompat lagi dan lagi... hingga akhirnya dia berhasil dan selimut itu terbang menutupi kepala Mo Mo. Wei Yi menarik selimut itu dari kepala Mo Mo tapi malah membuat Mo Mo terdorong hingga menempel ke dirinya.
Mereka begitu terpana menatap satu sama lain... saat tiba-tiba saja terdengar suara klakson dan saat itulah mereka baru menyadari kehadiran Fu Pei.
Tak lama kemudian, ketiga orang itu duduk bersama dengan tegang. Tapi Fu Pei malah sengaja mengomentari wadah buah yang kosong. Melihat wajah sedih Mo Mo, Wei Yi lah yang akhirnya angkat bicara duluan meyakinkan Fu Pei kalau ini hanya kesalahpahaman.
Tapi Fu Pei malah terus menghindari masalah ini dengan terus membahas masalah buah-buahan. Bagaimana kalau dia belikan semangka buat Mo Mo, mau? Dia bahkan bercanda dengan menjadikan wadah itu jadi topi.
Wei Yi mau pergi saja meninggalkan mereka berduaan, tapi Fu Pei malah memaksanya duduk kembali. Ini kan rumahnya Wei Yi, dia mau pergi ke mana memangnya?
Oh, aku mengerti. Aku pasti mengganggu, kan? Aku akan pergi sebentar lagi, oke?" ujar Fu Pei kepada mereka berdua.
__ADS_1
"Ini tidak seperti yang kau pikirkan. Kau salah paham. sahut Mo Mo kepada Fu Pei
Fu Pei tak percaya. Terus apa mereka mau bilang kalau mereka tidak pernah tinggal bersama, gitu? Wei Yi dan Mo Mo cuma bisa diam. Fu Pei malah terus saja bercanda dan mengalihkan topik seolah ini bukan masalah besar baginya.