Put Your Head Shoulder

Put Your Head Shoulder
episode 22


__ADS_3

Mo Mo dan Wei Yi begitu larut dalam tatapan mata mereka... saat tiba-tiba saja mereka tersadar dan langsung saling memalingkan muka lalu beranjak bangkit dengan canggung.


"Aku mau mandi dulu." Ujar Mo Mo.


Hah?! Wei Yi jadi salah paham. Wkwkwk! Malu, Mo Mo menjelaskan kalau dia mau mandi dulu biar bisa tidur nyenyak. Dia langsung keluar saat itu juga.


Mo Mo lalu mandi sambil mencuci kedua spreinya. Wei Yi heran melihatnya mencuci kedua spreinya, dia mau tidur di mana kalau begitu?


"Tidak masalah, aku bisa tidur di matras kok."


"Tidurlah di kamarku."


HAH?! Mo Mo kontan defensif menggunakan bak cucian itu untuk melindungi dirinya. Tapi Wei Yi menjelaskan kalau maksudnya tidak seperti itu, Mo Mo tidur di kamarnya, sedangkan dia yang tidur di matras.


Tapi Mo Mo tetap bersikeras menolak. Yah sudah kalau begitu, terserah Mo Mo saja deh. Tapi tiba-tiba ada masalah sama kupingnya Mo Mo.


Dia tengah mencoba membersihkan kupingnya pakai cotton bud... saat Wei Yi tiba-tiba saja muncul mengagetkannya dan kontan membuat Mo Mo tak sengaja mencolok kupingnya.


Cemas, Wei Yi langsung mengecek kupingnya Mo Mo. Tapi hal itu mendadak membuat Mo Mo jadi gugup. Wei Yi pun tiba-tiba teringat ucapan Niu Niu yang pernah membisikinya bahwa bagian paling sensitif-nya Mo Mo adalah kupingnya.


Maka kemudian, dia dengan sengaja meniup kupingnya Mo Mo yang justru membuat Mo Mo jadi kesal. Wei Yi lagi ngapain sih?!


"Cuma mengetes."


"Mengetes apaan?"


"Mengetes apakah gendang telingamu pecah atau tidak. Tidurlah di kamarku."


Mo Mo ngotot menolak, dia mau tidur di ruang tamu aja. Wei Yi jadi gregetan mendengar penolakannya, orang bilang kalau temperamennya Mo Mo itu baik, tapi kenapa Mo Mo selalu cari perkara dengannya?


Mo Mo jadi canggung mendengar pertanyaannya dan akhirnya dia mau juga tidur di kamarnya Wei Yi. Tapi dia tidak bisa tidur dengan tenang.


Bahkan saat dia keluar kamar, dia mendapati Wei Yi tidak bisa tidur juga gara-gara Wei Yi tidak bisa tidur di tempat yang bukan tempat tidurnya.


Mereka akhirnya berakhir berbaring bersama di ranjangnya Wei Yi, tapi situasi ini malah membuat mereka berdua jadi semakin gugup dan canggung pada satu sama lain. Wei Yi bahkan berniat mau keluar lagi saja. Tapi Mo Mo melarang, dia percaya kok pada Wei Yi.


Tapi Wei Yi malah berkata. "Jangan percaya padaku."


Mo Mo jadi ketakutan dan berniat mau keluar, tapi Wei Yi mengulurkan tangan menghalangi Mo Mo... tepat di bagian dadanya (Pfft!). Mereka jadi tambah salting gara-gara itu.


Wei Yi akhirnya menutup mata dan Mo Mo kontan terpesona memandanginya. Tapi semenit kemudian dia tersadar dari lamunannya dan mendadak bertanya serius.


"Gu Wei Yi... apa kau sungguh-sungguh menyukaiku?"


"Kenapa kau tiba-tiba menanyakan hal ini?"


"Aku hanya ingin memastikan."


Mendengar itu, Wei Yi pun langsung mendekat untuk mengecup kening Mo Mo, telinganya... sebelum kemudian berakhir di bibirnya.


Tak lama kemudian, baju-baju mereka sudah berserakan di lantai. (Hmm, Apakah mereka habis melakukan itu?) Tapi anehnya, mereka malah cuma berbaring dengan canggung.


"Tidak apa-apa. Kau kan selalu berkata bahwa teori dan praktek itu berbeda. Kita bahkan belum pernah mempelajari teorinya. Gurunya juga dulu merasa malu setiap kali harus mengajarkan hal itu di kelas psikologi. Jadi, wajarlah kalau kau tidak tahu bagaimana melakukannya untuk pertama kalinya." Ujar Mo Mo (Wkwkwk! Gagal begituan ternyata)


Wei Yi merasa tersinggung. "Bisakah kau berhenti bicara?!"


Tapi saat Mo Mo benar-benar diam, Wei Yi malah bingung kenapa Mo Mo diam dan akhirnya menyuruhnya bicara lagi. Bicara apa sajalah.


"Mau aku nyanyi?"


"Mending tidur aja."


Tapi tengah malam saat Mo Mo tidur, Wei Yi membawa laptopnya keluar untuk mencari informasi... tentang ogan reproduksi wanita. Wkwkwk!


Dia benar-benar mempelajarinya dengan serius, bahkan sampai Mo Mo bangun keesokan paginya. Heran dia, apa yang Wei Yia pelajari sepagi ini?


"Kelas terbuka Universitas Standford." Ujar Wei Yi sambil menunjukkan rekaman kuliah itu dan menjelaskan kalau dia sedang mempelajari ilmu se~~tas. Pfft!


"Kenapa kau mempelajari hal itu sepagi ini?"


Dan Wei Yi menjawabnya dengan menatap Mo Mo penuh arti yang kontan membuat Mo Mo jadi canggung teringat kejadian semalam. Malu, langsung berbalik pergi. Dia mau ke kantor.


"Kataya kau cuti hari ini?"

__ADS_1


"Xu Jie Er tadi nge-chat dan menyuruhku untuk membatalkan cutiku. Dia bilang ada yang penting."


"Biar kuanterin."


"Nggak perlu. Lakukan saja pekerjaanmu."


Setibanya di kantor, Jie Er langsung menyeret Mo Mo ke tempat sepi untuk memberitahunya sebuah kabar baik sekaligus buruk, kompetisi design itu sudah mengumumkan daftar pemenangnya dan karya mereka berdua terpilih.


Masalahnya, nama mereka tidak tercantum dalam karya yang terpilih itu. Hah? Bukankarena mereka lupa mencantumkan nama mereka atau apa, melainkan karena karya itu terdaftar atas nama departemen ke-4 perusahaan ini... karena itulah mereka sama sekali tidak bisa mengubahnya.


"Maksudmu mereka melakukannya dengan sengaja?"


"Makanya aku memanggilmu agar kita memikirkannya bersama."


"Ayo kita bicara pada Nona Sha Sha."


"Ada nama Nona Sha Sha juga di sana, jadi buat apa bicara padanya?"


"Maksudmu..."


"Entahlah. Sebentar lagi akan ada rapat. Kurasa mereka akan membicarakan masalah ini. Kita dengarkan saja mereka dulu."


Mereka akhirnya kembali ke meja kerja masing-masing dan di sanalah Mo Mo melihat hasil karya mereka malah digunakan atas nama Sha Sha dan Li Na.


Wei Yi akhirnya selesai mempelajari kelas terbukanya dan tepat saat itu juga, Zhou Lei menelepon dan langsung nyerocos membahas jawaban-jawaban dari ujian kemarin.


Wei Yi sebenarnya tidak peduli, tapi tetap mendengarkan cerocosan Zhou Lei sampai-sampai dia tidak sadar kalau Mo Mo sebenarnya sedang berusaha meneleponnya. Tapi tentu saja tidak bisa tersambung gara-gara dia kelamaan ngobrol dengan Zhou Lei.


Dalam rapat tak lama kemudian, Sha Sha malah sama sekali tidak menjelaskan kenapa mereka tidak mencantumkan nama Mo Mo dan Jie Er. Dia cuma memuji kontribusi besar Mo Mo dan Jie Er dalam kompetisi ini lalu memutuskan untuk mengangkat mereka jadi pegawai tetap.


Mo Mo dan Jie Er jelas tidak bisa senang dengan situasi ini. Sepertinya mereka diangkat jadi pegawai tetap cuma supaya mereka tutup mulut tentang masalah ini.


Mo Mo pulang dengan mood buruk dan langsung duduk di sofa tanpa melepas sepatunya. Wei Yi dengan manisnya membantunya aganti sandal dan tanya dia kenapa, lelah? Kenapa Mo Mo tidak meneleponnya tadi?


"Hari ini kau sibuk seharian, siapa yang meneleponmu?"


"Zhou Lei."


Mo Mo murung lagi setelah itu. Maka untuk menyemangatinya, Wei Yi langsung saja memeluak Mo Mo. Sesaat, itu memang berhasil membuat Mo Mo sedikit membaik.


Sebenarnya dia tidak ada maksud apa-apa, tapi ucapannya itu membuat Mo Mo jadi salah paham mengira Wei Yi memeluknya cuma karena Wei Yi pengen begituan dan langsung kesal menyuruh Wei Yi melepaskannya.


Dia bahkan langsung mengacuhkan Wei Yi dan berjalan ke kamarnya. Wei Yi dengan cepat menangkapnya dan menuntut kenapa Mo Mo marah. Tapi bukannya menjelaskan masalahnya, Mo Mo malah ketus menyuruh Wei Yi untuk memikirkannya sendiri.


"Karena ini?" Tanya Wei Yi lalu mulai mendekatkan wajahnya ke Mo Mo untuk menciumnya... tapi langsung diblokir sama Mo Mo. Pfft!


Mo Mo jadi tambah kesal karenanya dan langsung membuka pintu kamarnya. Tapi dia melakukannya bersamaan dengan Wei Yi yang mendorong pintunya hingga membuat mereka berdua jadi terjungkal.


"Gu Wei Yi, tidak bisakah kau memikirkan hal lain?" Kesl Mo Mo yang masih yakin kalau Wei Yi cuma pengen begituan.


"Hal lain apa? Katakan saja terus terang, aku tidak mengerti."


"Jangan menyesal kalau aku to the point."


"Kenapa aku harus menyesalinya?"


Mo Mo sontak naik ke sofa untuk menyesuaikan level mata mereka sambil berkacak pinggang. "Kau tahu kalau aku lagi marah, lalu kenapa kau masih berusaha melakukan 'itu' padaku?!"


Wei Yi tersinggung. "Jadi itu yang kau pikirkan tentangku? Lupakan saja!" Wei Yi langsung pergi dengan kesal.


Shan Shan dan Fu Pei masuk ke sebuah kelas kosong untuk menghitung besarnya biaya pengeluaran perusahaannya Fu Pei. Setelah dihitung-hitung, ternyata pengeluaran perusahaannya Fu Pei 80 ribu lebih besar daripada budget-nya.


Tak ingin membuat Shan Shan khawatir, Fu Pei meyakinkan kalau dia masih punya banyak baju jersey limited edition yang bisa dia jual. Atau dia bisa minta ke ibunya, ibunya pernah bilang kalau dia akan menjual tasnya demi menyokong Fu Pei.


Shan Shan tidak setuju kalau dia minta duit ke ibunya. Kalau begitu, Fu pei akan menjual baju-baju jersey-nya saja.


Mo Mo dan Wei Yi nonton film seperti biasanya. Tapi kali ini, Wei Yi malah sengaja cari perkara dengan ngasih tahu spoiler film itu.


Mo Mo jadi kesal dan langsung mematikan TV-nya lalu masuk kamar tanpa menghabiskan mie bekicotnya, dia bahkan tidak mau repot-repot membersihkannya.


Shan Shan dan Fu Pei tengah mendiskusikan poster perusahaan mereka saat ponsel mereka tiba-tiba berbunyi secara bersamaan. Shan Shan dan telepon Mo Mo dan Fu Pei ditelepon Wei Yi dan keduanya langsung curhat secara bersamaan.


Mo Mo: "Aku bekerja keras untuk menyelesaikan karya seni tapi namaku bahkan tidak disebut lalu dia marah padaku."

__ADS_1


Wei Yi: "Aku tidak marah padanya. Aku cuma tanya apa yang terjadi. Aku sudah tanya 100 kali, tapi dia diam saja."


Mo Mo: "Lihatlah sikapnya, kenapa juga aku harus memberitahunya."


Wei Yi: "Kalau dia tidak mau bilang, lalu buat apa aku menoleransinya?"


Mo Mo: "Aku tidak peduli, aku capek. Kalau dia tidak minta maaf padaku, aku tidak mau bicara padanya lagi!"


Wei Yi: "Kenapa juga aku harus minta maaf? Aku nggak salah! Minta maaf tanpa alasan dalam sebuah pertengkaran itu tidak masuk akal."


Mo Mo: "Ayo perang dingin, siapa takut?!"


Wei Yi: "Pokoknya aku tidak akan minta maaf!"


Tapi tak lama kemudian, akhirnya Wei Yi mau juga mengalah dengan mengetuk pintu kamarnya Mo Mo. Dia sengaja menakut-nakuti Mo Mo dengan mengklaim kalau tadi ada yang mengetuk pintunya entah siapa (setan mungkin?).


Rencananya sukses membuat Mo Mo mau keluar kamar lalu duduk meringkuk di sofa dengan ketakutan. Parahnya lagi, Wei Yi malah sengaja memutar film horor. Mo Mo sotak mengubur kepalanya di balik bantal saking takutnya. Wei Yi malah sengaja mematikan TV-nya biar tambah kelihatan seram.


"Gu Wei Yi, jangan menakutiku. Karena aku benar-benar akan menangis."


"Aku kan cuma bercanda." Wei Yi jadi merasa bersalah. "Maafkan aku. Ini salahku. Jangan marah. Apa kau menangis? Jangan menangis."


"Aku nggak nangis!"


"Baguslah kalau begitu."


Mo Mo jadi tambah kesal mendengarnya. Maka Wei Yi langsung saja menawarkan tangannya untuk Mo Mo gigit dan melampiaskan kekesalannya. Mo Mo langsung menggigitnya dengan ganas dan Wei Yi tidak melawan sedikitpun biarpun dia kesakitan.


Dan begitu Mo Mo puas menggigitnya, Wei Yi langsung menarik Mo Mo ke dalam pelukannya. Apa sebenarnya terjadi pada Mo Mo hari ini?


"Karyakua menang dalam kompetisi design, tapi perusahaan tidak menulis namaku di dalam karyaku."


"Apa nama kompetisinya?"


"Kontes Desain Iklan Pena Emas. Buat apa kau tanya?"


"Aku bisa meretas website mereka dan mengubah semua karya atas namamu."


Suasana hati Mo Mo mulai membaik berkat ucapannya itu. Tapi tidak perlu lah. Baiklah, Wei Yi akan menurutinya.


Keesokan harinya, Mo Mo kebingungan di dapur mencari mie bekicotnya yang entah menghilang ke mana. Apa Wei Yi melihat mie bekicotnya? Anehnya, Wei Yi malah jadi canggung mengingatkan Mo Mo bahwa kemarin Mo Mo sudah memakannya.


"Aku kemarin lagi marah, makanya aku cuma makan sedikit. Sekaang aku pengen banget. Apa kau melihat mie bekicotku?"


Wei Yi yang berniat mau menghindar, akhirnya menyerah dan memberitahu Mo Mo kalau dia menyimpannya di laci atas. Tapi tempat itu agak ketinggian buat Mo Mo jadi Mo Mo kesulitan mencarinya.


Maka Wei Yi langsung mengangkat Mo Mo hingga akhirnya Mo Mo menemukan mie bekicotnya tersimpan di dalam panci. Kok bisa ada di sini?


"Aku menaruhnya di situ kemarin."


"Kenapa?"


"Karena kemarin kau mengacuhkanku, jadi aku ingin kau memohon padaku untuk mengambilkannya untukmu. Weeeek!"


Setibanya di lab, Zhou Lei langsung nyerocos antusias memberitahu Wei Yi kalau hasil ujiannya akan diumumkan hari ini. Apa Wei Yi gugup. Wei Yi malah cuek, nggak gugup sama sekali.


Zhou Lei yakin seyakin-yakinnya kalau hasilnya pasti akan jauh lebih bagus daripada Wei Yi. Soalnya setelah kemarin dia mencocokkan jawaban-jawaban Wei Yi, dia merasa nilainya jauh lebih tinggi daripada nilainya Wei Yi.


Belakangan ini, Jian Shi juga jadi baik banget padanya. Dia yakin kalau Jian Shi baik padanya karena Jian Shi tahu kalau dialah yang akan pergi ke Jerman. Makanya Jian Shi ingin membangun hubungan baik dengannya. (Pfft! Kayaknya bukan karena itu deh)


Wei Yi santai saja menghancurkan kebahagiaannya dengan mengaku kalau Jian Shi baik pada Zhou Lei karena dia pernah bilang ke Jian Shi bahwa Zhou Lei pernah direhabilitasi.


Prof Jiang dan Jian Shi masuk tak lama kemudian dengan membawa hasil ujian mereka. Prof Jiang berbasa-basi lebih dulu dengan memuji-muji mereka, terutama Zhou Lei yang notabene bukan jurusan fisika tapi mampu menjawab soal-soalnya dengan baik selayaknya mahasiswa jurusan fisika.


Tapi lagi-lagi, Zhou Lei harus kecewa saat Prof Jiang dengan tak enak hati mengumumkan bahwa nilainya Wei Yi agak 'sedikit' lebih bagus daripada Zhou Lei. Sedikit doang kok beda nilainya.


Tapi Zhou Lei tak percaya dan langsung merebut kertas ujian mereka yang ternyata beda 19 poin. Prof Jiang mengingatkan Zhou Lei kalau Wei Yi bisa lebih baik itu karena Wei Yi memang dari jurusan fisika. Tapi jangan patah semangat, suatu hari nanti, Zhou Lei pasti bisa mengalahkan Wei Yi kok. Tapi Zhou Lei tetap sulit menerima kenyataan ini dan terus nyerocos sendiri.


Yu Yin dan Wei Yi lalu ke kantornya Prof Jiang dimana mereka diberikan segala informasi yang mereka butuhkan. Mereka juga diberitahu kalau mereka harus checkup kesehatan dan vaksinasi sebelum berangkat.


Tapi apa mereka sudah memberitahu orang tua mereka tentang masalah ini? Soalnya dulu pernah ada mahasiswi yang pergi ke luar negeri tanpa memberitahu orang tuanya. Alhasil, orang tuanya jadi kebingungan mencarinya.


Yu Yin mengaku sudah, tapi Wei Yi belum. Soalnya dia sejak awal tidak yakin, makanya dia sengaja tidak bilang-bilang. Lagian biasanya dia selalu membuat keputusannya sendiri baru setelah itu dia akan memberitahu orang tuanya.

__ADS_1


"Lalu bagaimana dengan pacarmu? Kau juga belum memberitahunya?"


"Belum."


__ADS_2