Put Your Head Shoulder

Put Your Head Shoulder
episode 17


__ADS_3

Saat Shan Shan sudah terlelap, Wei Yi dan Mo Mo sama-sama tidak bisa tidur memikirkan satu sama lain.


Wei Yi akhirnya keluar kamar dan membuka kulkas untuk minum bir... saat tiba-tiba saja Mo Mo muncul dan menegurnya. Wei Yi sontak kaget sampai tak sengaja menumpahkan birnya ke lanatai.


Heran melihatnya, Mo Mo maju mendekat tapi malah terpeleset tumpahan bir dan hampir saja terjatuh kalau saja Wei Yi tidak sigap menangkapnya lalu berputar-putar dengan romantis... sampai akhirnya dia mengunci Mo Mo di antara dirinya dan kulkas. Wei Yi lalu mendekat dan mencium mesra Mo Mo.


Tak lama kemudian, keduanya duduk di sofa dengan canggung. Mo Mo tiba-tiba mengelus lehernya dan mengaku kalau dia kedinginan. Wei Yi berniat mau menutup balkon saja, tapi Mo Mo dengan cepat menghentikannya dan menegaskan kalau dia kedinginan bukan karena balkon terbuka... melainkan karena dia kelamaan berdiri di depan kulkas. Wkwkwk!


Mereka jadi sama-sama canggung lagi gara-gara itu. Wei Yi penasaran apakah Shan Shan akan balik ke kampus besok? Mo Mo tidak yakin, apalagi Shan Shan lagi tengkar sama Fu Pei.


"Kalau begitu, aku akan menyuruh Fu Pei untuk menjemputnya."


"Apa pantas melakukan itu?"


Tapi tak lama kemudian, mereka sama-sama gugup menanti Fu Pei mengangkat teleponnya. Fu Pei masih ngantuk saat mengangkat teleponnya. Mo Mo berusaha menjelaskan permasalahannya lebih dulu, tapi Wei Yi malah to the point menyuruh Fu Pei untuk menjemput Shan Shan besok pagi-pagi sekali lalu menutup teleponnya begitu saja.


Mo Mo kesal, "tidak bisakah kau bijak sedikit?"


"Aku sudah bijak."


"Itu kau sebut bijak? Di mana sisi kebijaksanaannya?"


"Teman wanitamu berada di rumahku, nyebelin."


Mo Mo baru bangun saat Shan Shan sudah selesai mengepak semua kebutuhan ujiannya. Dia bahkan sudah membelikan sarapan untuk mereka.


Tapi saat Mo Mo ingin mengetuk pintu kamar Wei Yi tak lama kemudian, dia mendadak ragu. Mending tidak usah membangunkan Wei Yi deh. Mungkin dia masih tidur.


Shan Shan yakin tidak. Soalnya waktu dia keluar beli sarapan tadi, dia melihat Wei Yi lagi minum di ruang tamu. Tetap saja Mo Mo ragu, Wei Yi hanya akan keluar dan makan kalau dia merasa lapar. Dan tepat saat itu juga, Wei Yi mendadak keluar dari kamarnya dan Mo Mo langsung sumringah melihatnya.


Mereka akhirnya duduk bersama untuk sarapan. Mo Mo seperti biasanya, ingin memakan cakwe-nya pakai tangan. Tapi Shan Shan dengan cepat memukul tangannya dan menuntutnya untuk pakai sumpit.


Tapi Wei Yi tak suka ceweknya dipukul dan langsung melempar tatapan seram ke Shan Shan. Mo Mo kesulitan memakan cakwe itu pakai sumpit, maka Wei Yi dengan manisnya menyuruh Mo Mo untuk makan pakai tangan saja.


Shan Shan penasaran apakah mereka ada rencana untuk hari ini? Wei Yi menyangkal tapi diam-diam menyenggol kaki Mo Mo dan memberi isyarat mata pada Mo Mo.


Maka Mo Mo pun mencoba menyarankan berbagai hal untuk Shan Shan lakukan biar dia segera pergi dari rumah ini. Tapi Shan Shan menolak semuanya. 


Mo Mo hampir saja patah semangat, tapi tiba-tiba saja keberuntungan mereka datang dengan sendirinya saat Shan Shan mengaku kalau hari ini dia ada ujian kelulusan.


Saking senangnya, Mo Mo dan Wei Yi sampai harus berusaha keras untuk menyembunyikan senyum mereka yang terlalu bahagia. Mo Mo bahkan mengklaim kalau dia cuma senang memikirkan Shan Shan akan segera lulus.


Tak lama kemudian, Mo Mo mengantarkan Shan Shan keluar sambil menyemangatinya untuk ujiannya nanti. Shan Shan cemas apakah jalanan dari sini nanti macet?


"Entahlah. Tapi jangan khawatir. Kau pasti akan punya waktu." Ujar Mo Mo ambigu.


Shan Shan tidak terlalu memikirkan maksud ucapannya. Tapi setibanya di luar, dia malah kaget melihat Fu Pei sudah menunggunya di sana pakai sepeda motor. Sedang apa Fu Pei di sini?


"Menjemputmu. Lagi macet sekarang. Ayo cepetan, nanti kau terlambat ujian loh."


Shan Shan menampik tangannya dan berkata kalau dia sudah memanggil taksi, padahal diam-diam dia sebenarnya senang.


Fu Pei berusaha membujuknya untuk naik motornya saja, tapi Shan Shan masih terus jual mahal dan masuk ke taksinya. Di tengah jalan, Shan Shan langsung menoleh ke belakang, mengharap Fu Pei mengejarnya, tapi malah tak melihat apa-apa. Shan Shan kecewa.


Ternyata jalan raya memang benar-benar macet parah dan sekarang Shan Shan mulai panik karena takut terlambat. Dan saat itulah, tiba-tiba saja Fu Pei muncul dan langsung memaksanya keluar, membayari taksinya, lalu menyeret Shan Shan ke motornya dan memakaikannya helm.


Shan Shan masih saja keras kepala ingin mencopot helmnya, tapi kali ini Fu Pei mengancam tidak akan mendatangi Shan Shan lagi kalau Shan Shan mengusirnya. Shan Shan akhirnya diam dan naik ke motornya.


Fu Pei senang, dia langsung melingkarkan tangan Shan Shan ke pnggangnya lalu melaju... dan berhenti tepat di gedung depan yang cuma berjarak beberapa meter. Pfft! Shan Shan sampai bingung, tempat ujiannya sedekat ini lalu buat apa Fu Pei membawanya naik motor?


"Karena aku sudah terlanjur meminjamnya. Sayang sekali kalau tidak mengantarkanmu."


"Kenapa kau meminjam motor?"


"Aku ingin kelihatan macho biar kau memaafkanku."


"Akulah yang salah."


"Oh yah, benar. Kalau begitu, aku memaafkanmu. Aku kan pria sejati."

__ADS_1


"Makasih~~~"


"Ah sudahlah. Cepat masuk sana, kau bisa terlambat nanti. Semangat!"


Mo Mo dan Wei Yi selesai nonton film sambil gandengan tangan dan suap-suapan romantis. Tapi Mo Mo lama-lama bosan juga. Bingung harus ngapain, Wei Yi akhirnya mencoba usul agar mereka shopping atau makan.


Tapi Mo Mo menolak semuanya. Mereka sudah shopping kemarin dan mereka juga sudah menghabiskan puluhan snack selama nonton film barusan.


Wei Yi tambah bingung harus bagaimana lagi. Mo Mo mendadak punya ide, bagaimana kalau mereka keluar dan berolahraga?


"Aku tidak suka olahraga," tolak Wei Yi.


Tapi tak lama kemudian, mereka akhirnya saling berhadapan di meja tenis. Tapi Wei Yi malah usul agar mereka jalan-jalan saja, itu kan juga olahraga.


"Jangan bilang kalau kau tidak bisa main tenis meja."


Wei Yi mengklaim bisa. Tapi nyatanya, setiap kali Mo Mo memukul bola, Wei Yi selalu gagal memukul balik lalu menyalahkan meja dan betnya sebagai penyebabnya.


"Kurasa yang bermasalah adalah kemampuanmu. Kau yang bermasalah!" Kesal Mo Mo.


Wei Yi jadi ngambek sekarang. Di tengah jalan, mereka melihat sekumpulan remaja sedang main skateboard dengan begitu ahlinya. Mo Mo kontan antusias mengagumi salah satu anak yang paling cakep yang jelas saja membuat Wei Yi cemburu.


"Tentu saja kau yang paling cakep. Maksudku dia pemain skateboard yang mengagumkan." Ujar Mo Mo yang tampak benar-benar kesengsem pada si pemain skateboard itu.


Maka kemudian Wei Yi memutuskan untuk mendatangi grup skateboarder itu dan meminta mereka untuk meminjamkan skateboard-nya, dia mau coba. Mo Mo jelas cemas. Apa Wei Yi bisa, kelihatannya ini sulit dan berbahaya. Mending jangan deh.


Tapi Wei Yi dengan pedenya ceramah panjang lebar tentang pergerakan skateboarder dan hubungannya dengan ilmu fisika. Dengan berbekal ilmu teori itu, Wei Yi yakin kalau dia bisa melakukannya dengan mudah lalu mulai menaiki skateboard-nya... dan hampir saja terjatuh. Wkwkwk! Malunya.


Tapi seperti biasanya, Wei Yi dengan penuh harga diri beralasan bahwa teori dan praktek itu sangat berbeda. Mo Mo cuma bisa tersenyum geli melihat kelakuannya.


Mereka akhirnya pulang dan sekarang saatnya mereka harus berpisah ke kamar masing-masing. Mereka enggan berpisah, tapi akhirnya mereka harus mengucap selamat malam pada satu sama lain lalu masuk kamar... dan keluar lagi dengan alasan malam masih belum larut.


Jadilah mereka duduk bersama dan nonton TV. Padahal sama-sama sudah ngantuk, tapi tak ada satupun yang mau mengakuinya dan berusaha bertahan melek sekuat mungkin... hingga akhirnya Mo Mo tidak tahan lagi dan jatuh tertidur di bahunya  Wei Yi.


Keesokan paginya, Mo Mo terbangun lebih dulu dan langsung terpesona melihat wajah damai Wei Yi dalam tidurnya. Tapi saat dia melihat Wei Yi terbangun, dia refleks pura-pura tidur lagi. Dan sekarang dia bingung harus bagaimana. Ngapain dia merem lagi sih, terus kapan dia harus melek lagi kalau begini?


Wei Yi langsung sadar kalau dia lagi pura-pura tidur. "Si Tu Mo, berhentilah pura-pura. Apa kau tidak merasa lehermu sakit?"


Malu dan canggung, Mo Mo buru-buru bangkit dengan alasan mau bersiap berangkat kerja.


Saat dia keluar tak lama kemudian, Wei Yi masih saja terus menggodanya dengan menawarkan koyo. Mo Mo menolak dengan canggung.


Kalau begitu, Wei Yi menuntut Mo Mo untuk bantu dia nempelin koyo ke bahunya aja. Dia bahkan langsung menyodorkan bahu mulusnya ke Mo Mo. Kesal, Mo Mo langsung menghantamkan koyo itu ke bahu Wei Yi lalu bergegas keluar.


Wei Yi mengantarkannya sampai ke halte, bahkan menggenggam erat tangan Mo Mo selama menunggu bis datang.


Begitu tiba di kantor, Jie Er langsung memberitahunya tentang pengumuman di kantor. Pengumuman pertama adalah tentang kompetisi design iklan. Para pegawai tetap terlalu malas untuk mengikuti ajang itu, jadi mereka memberikan kesempatan pada para pegawai magang.


Mo Mo tidak merasa terlalu antusias untuk itu soalnya kerjaannya masih banyak. Tapi kemudian, Jie Er memberitahukan pengumuman kedua, yaitu pegawai magang diizinkan untuk libur selama liburan musim dingin. Yang ini baru menarik bagi Mo Mo, beneran?


Jie Er bercerita bahwa tahun kemarin ada seorang pegawai magang yang menyatakan bahwa libur musim dingin adalah hari libur resmi untuk para lulusan, terus dia menuntut kenaikan gaji tiga kali lipat pada pihak HRD.


"Terus?"


"Terus dia dipecat." (Pfft!)


"Ending yang tragis."


Tiba-tiba mereka melihat Sha Sha datang, sontak mereka langsung balik ke mode profesional mendiskusikan poster iklannya Zhi Cun. Sha Sha sekilas melihat poster buatan Mo Mo lalu menyuruh mereka untuk membuat proposal yang harus mereka serahkan setelah libur musim dingin nanti.


Di lab, Zhou Lei lagi-lagi merasa sakit hati gara-gara Yu Yin lebih memilih menyerahkan masalah kalkulasi data pada Wei Yi. Prof Jiang kembali saat itu dengan membawa seorang wanita. Dia adalah senior mereka yang dulu mendapat beasiswa kuliah di Jerman - Lu Jian Shi.


Zhou Lei langsung antusias memperkenalkan dirinya. Tapi Jian Shi lebih antusias dengan Wei Yi, soalnya dia pernah mendengar tentang Wei Yi sebelum dia pergi ke Jerman dan dia berharap mereka bisa ke Jerman bersama-sama.


Zhou Lei kontan protes, mengira mereka sudah menetapkan Wei Yi untuk pergi ke Jerman. Prof Jiang meralat, Jian Shi kembali karena dia ditugaskan untuk menilai mereka berdua.


Prof Jiang akan mulai menguji mereka setelah liburan musim dingin. Hasil ujian nanti dan juga prestasi penelitian adalah bagian dari penilaian.


Malam harinya, Fu Pei dan Shan Shan tanding tenis meja tapi Fu Pei tak sengaja melukai dirinya sendiri yang kontan membuat Shan Shan mencemaskannya.

__ADS_1


Wei Yi datang tak lama kemudian untuk latihan. Tapi Fu Pei perlu tahu dulu tingkat kemampuan Wei Yi dalam tenis meja biar dia bisa memutuskan dari mana dia harus melatih Wei Yi.


"Tidak ada level."


"Tidak ada level?"


Baiklah. Kalau begitu, Fu Pei akan melatihnya secara sistematis dari level yang paling dasar. Dan Wei Yi benar-benar berlatih dengan serius.


Mo Mo baru saja selesai mengerjakan laporannya saat Wei Yi nge-chat dan tanya jam berapa dia akan pulang. Mo Mo bilang jam enam dan tanya apakah Wei Yi akan menjemputnya.


Dia sudah bersiap mau pulang saat Sha Sha mendadak muncul dan menyuruhnya ikut dengannya. Ternyata dia membawa Mo Mo menemui Zhi Cun yang datang bersama managernya. Matanya tampak lebam, tapi menurut si manager, ternyata itu cuma makeup.


Mereka datang untuk menawarkan kerja sama lagi dengan mereka, terutama Mo Mo. Apalagi Zhi Cun selalu memuji-muji kemampuan dan kehebatan Mo Mo biarpun Mo Mo cuma pegawai magang.


Selama Sha Sha dan si manager sibuk ngobrol, Mo Mo diam-diam mengecek ponselnya tapi malah mendapati Zhi Cun pindah ke belakangnya lalu ikutan mengintip ponselnya.


Saat Sha Sha menyudahi pertemuan mereka, Mo Mo asal saja mau melesat keluar saat itu juga yang jelas saja langsung mendapat tatapan aneh dari semua orang.


Mo Mo jadi canggung beralasan kalau dia cuma mau ke kamar kecil, sakit perut. Tapi Zhi Cun tiba-tiba berkata kalau dia mau melihat-lihat perusahaan ini dan menuntut Mo Mo untuk mengantarkannya keliling. Tapi begitu mereka keluar, Zhi Cun mendadak berbaik hati mengizinkan Mo Mo pulang.


"Hah? Kenapa?" Mo Mo bingung.


"Karena aku besar kepala."


Saat naik lift, Mo Mo lagi-lagi mengecek chatnya, mengharap ada balasan dari Wei Yi tapi ternyata tetap tidak ada. Malah kemudian dia menangkap basah Zhi Cun yang lagi-lagi sedang mengintip chat-nya.


Yang tidak dia ketahui, Wei Yi sebenarnya berada di luar. Sedang mondar-andir gelisah menanti Mo Mo keluar dan ujung-ujungnya malah mengagumi bayangan dirinya sendiri di kaca.


Zhi Cun menasehati Mo Mo untuk tidak menunggu, pria itu tidak akan datang untuk menjemput Mo Mo. Tidak membalas artinya tidak akan datang. Zhi Cun yakin itu karena dia juga cowok.


Kesal, Mo Mo dengan sengaja balas dendam dengan menutup pintu lift tepat saat Zhi Cun melangkah keluar dan kontan membuatnya terhimpit.


"Hei! Bisa-bisanya kau menggigit tangan yang memberimu makan?!"


"Katanya kau besar kepala?"


"Aku hanya mencoba menjadi besar kepala untuk membuat Linda (managernya) jengkel."


"Kau kekanakan."


"Fans-ku menamainya kontras yang indah."


Mo Mo lagi-lagi mengecek chatnya. Zhi Cun ngotot meyakinkannya kalau pria itu tidak akan datang menjemput Mo Mo.


"Dia tidak sama sepertimu."


"Kenapa? Dia tidak kekanakan?"


Mendengar kata itu malah membuat Mo Mo geli teringat betapa obsesif-nya Wei Yi terhadap mainannya, si Lingkaran. "Dia kontras yang indah."


Karena Mo Mo belum keluar-keluar juga, Wei Yi akhirnya masuk ke dalam lobi. Dia akhirnya melihat Mo Mo keluar dan langsung lari padanya.


Tapi tepat saat itu juga, senyum Wei Yi seketika sirna melihat Zhi Cun di belakangnya Mo Mo. Zhi Cun pun langsung mendengus sinis melihat Wei Yi benar-benar datang.


Epilog:


Saat Wei Yi hendak mengambil jaketnya di sofa, dia melihat bajunya juga tersampir di sana. Tiba-tiba dia punya ide kekanakan dengan menata kedua baju-baju mereka di sofa seolah mereka sedang duduk bersama sambil bergandengan tangan.


Dia lalu masuk kamar sekalian memanggil Mo Mo keluar untuk menunjukkan hasil karyanya itu. Sayangnya, Mo Mo tidak sadar sama sekali dan langsung saja mengambil bajunya sendiri sambil teriak-teriak meminta Wei Yi untuk memberinya uang buat ongkos naik bis.


Wei Yi menyuruhnya mengambil sendiri dari dompetnya yang ada di dalam jaket. Tapi saat Mo Mo membuka dompet itu, dia malah mendapati foto ID-nya ada di dalam dompet itu. Jelas saja Mo Mo langsung emosi menuntut dari mana Wei Yi mendapatkan foto ID-nya itu.


"Kucetak di depan restoran waktu itu."


"Dari mana kau mendapatkannya?!"


Wei Yi sontak pura-pura bodoh, merebut dompetnya dari tangan Mo Mo, memberikan uang yang Mo Mo minta, lalu bergegas kabur ke kamar tanpa mempedulikan protesnya Mo Mo.


 

__ADS_1


__ADS_2