Put Your Head Shoulder

Put Your Head Shoulder
episode 2


__ADS_3

"Aku bisa menjelaskan." ujar Mo Yi kepada Mo Mo.


"Tidak perlu, anggap saja itu sebagai hadiah." jawab Mo Mo kepada Mo Yi dengan tersenyum.


"Aku tidak membutuhkannya." sahut Mo Yi kepada Mo Mo.


" Kalau begitu, kembalikan." ujar Mo Mo kepada Mo Yi.


Da n Mo Yi langsung terdiam tak bisa menjawabnya.


"Yah sudahlah. " jika kau ingin mengembalikan barang itu, kalau boleh mencari ku .


"kalau begitu aku pergi bye bye bye."


ujar Mo Mo kepada Fu Pei dan Mo Yi dan langsung pergi meninggalkan mereka yang sedang duduk di kursi tersebut.


Mo Mo pun kembali ke kamar asramanya sambil nyanyi-nyanyi riang. Teman-teman seasramanya jadi penasaran, apa wawancaranya sukses? Nggak, gagal malah. Terus, apa Fu Pei sudah menyatakan cinta sama Mo Mo? Tidak juga.


Saat itulah mereka baru melihat gaunnya yang robek dan langsung cemas, ada apa dengannya? Tidak apa-apa, cuma lagi sial aja, jatuh dari sepeda dan gagal wawancara.


Salah satu temannya, Shan Shan - yang tampaknya paling pintar di antara mereka, menduga kalau dia gagal wawancara pasti karena jurusannya tidak sesuai dengan bidang pekerjaan yang dikejarnya. Dia bahkan langsung nyerocos panjang lebar menceramahi Mo Mo sampai membuat semua orang malas mendengarkannya.


"Baiklah, baiklah. Berhentilah cerewet." ujar Mo Mo kepada Shan Shan.


"Jangan bertindak impuls, kau harus merencanakan segalanya." sahut Shan Shan kepada Mo Mo.

__ADS_1


Aku merencanakannya kok." Ujar Mo Mo sambil menunjukkan daftar yang sudah disusunnya.


"Aku memaksamu membuat itu saat kita masih mahasiswa baru. Lalu apa kau sudah menyelesaikan semua yang ada di daftar itu?" sahut Shan Shan dan kembali bertanya kepada Mo Mo.


Mo Mo kontan berpaling pada dua temannya yang lain untuk membantunya. dan sambil menunjukkan sebuah kertas yang berisi daftar rencana yang telah dibuat oleh Mo Mo sendiri. Meng Lu mengaku kalau dia tidak membuat rencana, tapi dia mau nikah dan memulai hidup baru begitu lulus nanti. Kalau Niu Niu, dia cuma berencana jadi PNS saja.


"Lihatlah, kami semua memiliki rencana kami sendiri-sendiri." Omel Shan Shan.


" Kalau begitu, aku harus melaksanakan semua yang ada di daftar ini sebelum lulus." Santai Mo Mo. sambil meletakkan kembali kertas yang barusan dia pegang itu di atas meja belajar nya tersebut.


Shan Shan memaksa menasehati mereka untuk memilih pekerjaan sesuai jurusan mereka, dan semua orang mengiyakannya saja dengan malas. Tapi kalau begitu, kenapa tadi Mo Mo pulang sambil nyanyi-nyanyi riang? Dia bahagia karena apa?


" Aku bertemu orang yang lucu dalam perjalanan pulang," ujar Mo Mo teringat ekspresi lucunya Mo Yi tadi.


Keesokan harinya di kelas, ada perwakilan suatu perusahaan yang sedang mempresentasikan perusahaan mereka.


Sedetik kemudian, tiba-tiba Mo Yi masuk


kelas yang kontan membuat heboh para mahasiswi. (Ngapain dia masuk ke situ?) Si perwakilan perusahaan langsung saja menyeret Mo Yi ke laptopnya, mengira kalau Mo Yi lah teknisinya dan menyuruh Mo Yi memperbaikinya.


Mo Yi bergerak cepat menyelesaikan masalah itu dengan mudah dan membuat para mahasiswa terkagum-kagum dengan kehebatannya, dan baru saat itulah muncul teknisi yang sebenarnya. Hah? Si perwakilan perusahaan jadi bingung, terus cowok ini siapa?


Selesai memperbaiki laptop itu, Mo Yi tiba-tiba menatap Mo Mo dan berjalan ke arahnya sampai membuat Mo Mo jadi tegang. Apalagi kemudian Mo Yi berhenti di hadapannya dan menyapa.


" Si Tu Mo."

__ADS_1


" Ada apa?". sahut Mo Mo sambil menatap ke arah Mo Yi.


Mo Yi malah cuma diam menatapnya, Mo Mo jadi tambah bingung. Tapi kemudian dia berkata. "Tolong keluarkan kunci yang berada di laci sebelah kananmu."


Ah, ternyata dia masuk ke sana cuma buat ngambil kunci milik temannya yang ketinggalan di sana dan kebetulan kelas itu dekat lab-nya Mo Yi, makanya temannya Mo Yi meminta Mo Yi untuk membantu mengambilkannya.


Setibanya kembali di lab, dia malah mendapati Profesor Xu sudah menunggunya di sana dan langsung cerewet mengomelinya panjang lebar karena dia gagal dalam ujian seleksinya Prof Jiang cuma hanya karena tidak bawa kartu ujiannya.


Bagaimana bisa kamu membuat kesalahan seperti itu. Apa kamu tidak tahu berapa banyak mahasiswa yang ingin mengikuti proyeknya Prof Jiang itu?. tanya Profesor Xu kepada Mo Yi.


" Itu sudah berlalu, kecuali anda punya solusi untuk memperbaikinya. Jika tidak, kita tidak perlu membicarakannya lagi." ujar Mo Yi dengan santai.


Tapi Prof Xu menolak melepaskan masalah ini begitu saja. Prof Jiang-lah yang berhak menentukan para pesertanya, makanya Prof Xu berharap Mo Yi berusaha yang terbaik untuk mendapatkan proyek ini, ini demi kelas mereka dan Fakultas Fisika mereka ini.


" Maksud anda saya harus memberinya hadiah? Bolehkah saya bilang kalau itu dari kampus?"


Bukan begitu maksudnya. Asal dia tahu saja, Prof Jiang awalnya ingin merekrut para mahasiswa terbaik, tapi pihak universitas ngotot menyuruhnya untuk mengikuti aturan dengan mengadakan ujian seleksi.


Makanya pihak fakultas mereka akan mendukung Mo Yi agar dia bisa bertemu dengan Prof Jiang. Mo Yi menolak cara itu, itu tidak adil bagi para mahasiswa lainnya. Astaga! Prof Xu stres mendengarnya.


" Gu Mo Yi, kau itu belum terjun ke masyarakat. Sering kali dalam banyak hal, kita harus bisa beradaptasi dengan keadaan." ujar Profesor Xiu menjelaskan panjang lebar kepada Mo Yi.


Lalu setelah itu Mo Yi pun malas membicarakannya lagi dan berusaha mengusir Prof Xu dengan alasan mau menyelesaikan eksperimen-nya ini.


" Apa kau mau pergi kalau aku membayarimu?".tanya Prof Xiu kepada Mo Yi.

__ADS_1


Mo Yi kontan menatapnya setajam silet sampai membuat Prof Xu menyerah dan pergi keluar meninggalkan Mo Yi sendirian di dalam lab tersebut.


__ADS_2