
Mereka tiba di rumah sakit tak lama kemudian. Karena KTP-nya Mo Mo hilang di tasnya yang dirampok, akhirnya Mo Yi yang harus mengurus administrasinya sementara Mo Mo menunggu di lobi.
Tak lama kemudian, Mo Mo melihat Mo Yi kembali... dengan membawa kursi roda. Pfft! Lebay amat. Mo Mo jadi malu bin galau antara ingin melarikan diri saja saking malunya tapi tidak bisa.
" Aku tidak mau pakai kursi roda."
Mo Yi kontan nyerocos lagi tentang konsekuensi, terpaksalah akhirnya Mo Mo harus naik ke kursi roda itu sambil menundukkan kepalanya dalam-dalam.
Lalu mereka pun berjalan menuju ke arah Ruang periksa.
dan setibanya mereka di ruang periksa, lalu dokter pun terkejut dan sampai cemas melihatnya pakai kursi roda, mengira lukanya Mo Mo parah banget, mungkin kena tulang atau sendinya, tapi Mo Mo malah bilang kalau lukanya cuma lecet dan kakinya keseleo.
Terus kenapa kau pakai kursi roda? Untuk menunjukkan kasih sayangmu?" Goda Dokter (Duh, malunya Mo Mo. Wkwkwk) "Siapa namamu?" tanya dokter itu kepada Mo Mo.
" Mereka malah menjawab barengan. "Si Tu Mo... Gu Mo Yi" .
(duhh,kompak banget sihh mereka berdua :) )
" Yang kutanyakan si pasien." ujar dokter tersebut .
__ADS_1
lalu Mo Mo pun menjawab.
"Si Tu Mo".
Tak lama kemudian, Mo Mo berusaha keras bertahan saat dokter mengobati lukanya yang pastinya nyeri banget. Selesai mengobatinya, Dokter memberikan resep obatnya ke Mo Yi sambil memberikan berbagai nasehat pada Mo Mo tentang merawat lukanya.
Dan Mo Yi lagi-lagi menyuruh Mo Mo baik kursi rodanya. Mo Mo malu dan berusaha meminta Mo Yi menyingkirkan benda itu, tapi Mo Yi memaksanya.
"Kau tidak perlu malu, itu fasilitas rumah sakit. Kalian boleh memakainya kadang-kadang... untuk menunjukkan kasih sayang kalian dan romantis." (Pfft! Dokternya lucu deh).
Terpaksalah Mo Mo harus naik kursi itu lagi. Parahnya lagi, dia malah jadi dilihatin pasien lainnya. Malunya!
Fu Pei berterima kasih atas bantuan Mo Yi, nanti akan dia traktir Mo Yi deh. Mo Yi pulang saja, serahkan sisanya padanya. Dia langsung mengambil alih kursi rodanya Mo Mo dan tanya mereka harus ke mana sekarang? tanya Fu Pei kepada Mo Yi.
Lalu Mo Yi pun menjawab.
" Menebus obat di apotek, resepnya ada di Gu Mo Yi.
Mendengar itu, Fu Pei langsung mengambil resep yang dipegang Mo Yi... lalu pergi sendiri mencari apoteknya dan meninggalkan Mo Mo lagi di tengah-tengah lobi (Hadeh! dibawa dong itu pasiennya, gimana sih? *tepokjidat*)
__ADS_1
Mo Mo bahkan tidak tahu bagaimana cara mengendarai alat itu. Untung saja Mo Yi belum pergi dan dia langsung membantu mendorongnya.
"Kenapa kami selalu memiliki frekuensi yang berbeda? Mungkin tidak seharusnya aku berharap." Batin Mo Mo sedih melihat Fu Pei yang pergi meninggalkannya.
Mo Yi diam saja, tapi dia memperhatikan Mo Mo menundukkan kepala dalam-dalam lalu setetes air mata mengalir ke mapnya. Tanpa mengatakan apapun, dia langsung saja melempar tisu ke pangkuan Mo Mo.
" Aku tidak menangis."
"Untuk menghapus keringatmu."
Pasca kejadian menghilangkan pembalutnya Mo Mo itu, Mo Yi pergi ke supermarket dan mendatangi rak khusus pembalut. Wkwkwk! Untung saja tempat itu sepi.
Mo Yi elingukan untuk memastikan keadaan aman, dia mengulurkan tangan untuk mengambila satu... saat tiba-tiba saja muncul seorang sales yang menduga kalau Mo Yi pasti beli buat pacarnya, merek jenis apa yang disukai pacarnya?
"Saya... tidak ingat."
Oh, tidak masalah. Si sales langsung saja menunjukkan papan contoh berbagai jenis pembalut, dia bahkan antusias menyuruh Mo Yi untuk memegangnya. Wkwkwk! Terang saja Mo Yi jadi tambah kagok dia
Lalu bergegas buru-buru melarikan diri.
__ADS_1