
Mo Mo sontak lari ke pelukan Wei Yi begitu melihat Wei Yi. Sinis melihat Wei Yi ternyata benar-benar datang menjemput Mo Mo, Zhi Cun langsung berjalan melewati mereka sambil bergumam nyinyir.
Mo Mo dengan riang tanya apakah Wei Yi akan terus menjemputnya di masa mendatang? Bagaimana kalau dia lembur? Bagaimana jika terjadi hujan badai, banjir, atau angin topan?
Wei Yi berkata kalau dia akan tetap menjemput Mo Mo apapun situasinya, tapi dia menjawab dengan muka manyun. Mo Mo bingung, dia kenapa?
"Apa rekanmu sangat dekat denganmu?" Tanya Wei Yi.
Mo Mo bingung siapa yang dia maksud, "Xu Jie Er?"
"Cowok yang matanya kena tonjok itu."
Oh, Zhi Cun. Itu sih cuma makeup, dia kan bintang iklan. Dan mengenai pertanyaan Wei Yi, Mo Mo dengan sengaja mengungkit-ungkit kalau dia pernah makan siang bersama Zhi Cun. Wei Yi cemburu. Mereka makan apa? Mie becikot?
"Aku makan itu hanya denganmu seorang! Dasar pencemburu~~~" Mo Mo gemas mencubit pipinya.
Wei Yi dengan cepat menarik tangannya lalu memberinya kecupan manis di pipi. Mo Mo bahagia, dia jadi ingin makan mie bekicot.
"Nggak mau, bau!"
"Nggak bau!"
Dan setibanya di rumah, malah Wei Yi sendiri yang membuatkan mie bekicot untuk Mo Mo. Sedangkan untuk dirinya sendiri, Wei Yi membuat mie instan biasa.
"Itu nggak sehat." Komentar Mo Mo.
"Itu juga nggak sehat."
"Kalau ibuku melihat kita, dia pasti akan membunuh kita."
"Dia mengundangku untuk mengunjungi kampung halamanmu."
"Kalian selalu ngobrol yah? Ngomongin apa?"
Ibu Mo Mo biasanya menanyainya tentang permainan mahjong dan Wei Yi mengajarinya tentang logika probabilitas dan kombinasi.
Mereka akhirnya mulai makan, tapi Mo Mo lama-lama heran melihat Wei Yi santai-santai saja. Wei Yi kan biasanya tidak suka bau mie bekicot?
"Aku sudah terbiasa."
Mo Mo senang. Kalau Wei Yi sudah terbiasa, bagaimana kalau dia mencoba memakan mie bekicot ini? Enak banget loh biarpun bau. Kalau itu, Wei Yi jelas tidak mau. Mo Mo makan aja sendiri.
Usai makan mie, mereka nge-teh bersama di balkon. Mo Mo perhatikan, Wei Yi suka sekali minum teh tiap hari. Wei Yi membenarkan, karena ayahnya adalah pencinta teh. Makanya dia sudah terbiasa minum teh sejak kecil.
Ayahnya bekerja dalam bidang restorasi artefak. Waktu kecil, Wei Yi sering mengunjungi tempat kerja ayahnya. Sering kali dia melihat ayahnya bekerja tanpa bicara sedikitpun dan tidak mengizinkannya bicara juga.
"Pantas saja ibumu komplain padaku kalau ayahmu membuatmu jadi aneh."
"Aku kelihatan aneh?"
"Iya. Tapi baik. Apa ayahmu mengajarimu cara memperbaiki porselen?"
"Aku bisa mengerjakan yang simple."
"Seharusnya kusuruh kau untuk memperbaiki mug-ku saja. Kalau kau melihat barang antik, apa kau bisa menebak perkiraan harganya?"
"Tidak. Tapi aku bisa memperkirakan dinastinya."
Mo Mo punya ide. Bagaimana kalau mereka pergi ke museum dan menebak umur barang-barang antik waktu libur musim dingin nanti? Dia dikasih libur loh nanti.
"Apa kau akan pulang kampung?"
"Tentu saja, aku harus pulang untuk merayakan tahun baru."
Wei Yi sedih mendengarnya, kapan Mo Mo akan pulang. Mo Mo berkata kalau dia akan pulang kampung begitu liburan mulai, ibunya mendesaknya untuk pulang. Bagaimana dengan Wei Yi, apa dia juga akan pulang kampung?
"Kau akan pulang, lalu untuk apa aku tetap di sini?"
"Kalau begitu, aku akan pulang lebih lambat dan kembali lebih cepat deh."
"Seberapa lama lebih lambat dan lebih cepat itu?"
Akhirnya tibalah saatnya mereka berpisah untuk pulang ke kampung halaman masing-masing sesuai jadwal. Mo Mo mengantarkan Wei Yi ke bandara tapi Wei Yi masih saja manyun.
Mo Mo sontak protes tak suka melihat ekspresinya, dia memang sudah janji akan pulang lebih lambat, tapi ibunya terus mendesaknya untuk pulang lebih cepat. Dia janji akan pulang cepat kok, sungguh!
"Seberapa cepat?"
"Setelah tahun baru. Begitu orang-orang menyalakan kembang api dan sebelum itu selesai, aku akan angkat koperku keluar dari rumah."
Wei Yi masih dingin menanggapinya. Tapi begitu melihat wajah sedih Mo Mo, dia akhirnya luluh. Wei Yi pamit duluan dan Mo Mo cuma bisa melihatnya dengan sedih.
Dia sendiri sudah mau berbalik pergi, tapi sedetik kemudian, dia mendadak berbalik kembali lalu melemparkan ciuman dan cintanya ke Wei Yi dengan heboh bin lebay yang jelas saja membuat Wei Yi jadi malu, tapi diam-diam dia senang juga sih. Hehe.
Saat dia sudah naik bis, dia langsung menelepon dan melapor ke Wei Yi. Tapi saat itu juga, dia mendengar pramugari menyuruh Wei Yi untuk mematikan ponsel sehingga terpaksa Wei Yi harus menyudahi percakapan mereka dan meminta Mo Mo menghubunginya kalau Mo Mo sudah sampai rumah.
Mo Mo sudah sampai rumah dan langsung nge-chat Wei Yi. Tapi sepertinya Wei Yi belum sampai rumah karena chat-nya tak kunjung dibalas.
Tiba-tiba adiknya Mo Mo masuk untuk memanggilnya keluar dan makan malam. Ibu memasak banyak banget makanan kesukaan Mo Mo.
"Apa kita perlu menunggu kakak?" Tanya Mo Mo.
"Kau tidak tahu? Dia pergi liburan ke Thailand. Dia tidak akan pulang untuk tahun baru. Ayah sangat marah."
"Dia menjalani hidupnya dengan bebas."
Wei Yi baru membaca chat Mo Mo itu dalam perjalanan bersama kedua orang tuanya. Dia langsung membalasnya dan mengaku kalau dia mau makan malam bersama orang tuanya.
__ADS_1
Mo Mo menerima chat-nya saat dia sendiri sedang makan malam bersama seluruh keluarganya. Dia langsung keasyikan membalas chat-nya Wei Yi dan memotret menu makan malam keluarganya.
Kedua orang tua Mo Mo jadi penasaran melihatnya senyam-senyum gaje dengan ponselnya. Ibu langsung main kode-kodean dengan Ayah dan Ayah langsung mencondongkan dirinya, berusaha mengintip ponselnya Mo Mo, tapi Mo Mo mengetahui niatannya dan langsung mengonfrontasinya lalu mundur menjauhi Ayah.
Ibu Wei Yi antusias tanya Wei Yi mau makan malam apa, tapi Wei Yi cuek menjawab apa saja boleh. Ayah malah tiba-tiba menawari Wei Yi untuk datang ke tempat kerjanya, soalnya ayah punya sebuah guci antik yang pecah.
Ibu sontak protes tak setuju, ia ingin mereka makan malam bersma saja. Tapi Wei Yi malah menerima tawaran Ayah.
Jadilah mereka akhirnya makan malam di tempat kerja Ayah. Ibu ingin mereka makan malam dulu, tapi kedua pria itu malah lebih antusias ingin memperbaiki gucinya. Wei Yi bahkan menyuruh Ibu untuk makan duluan saja.
Gregetan, Ibu langsung memanggil Ayah yang jelas merupakan sebuah peringatan. Ayah akhirnya menurut dan mengajak Wei Yi makan dulu.
Ibu akhirnya senang. Makan tepat waktu itu lebih baik untuk kesehatan, sebaiknya Wei Yi jangan mencontoh Ayah yang cuma peduli dengan pekerjaannya saja.
"Ibu berpikir seandainya suatu hari nanti akan ada seseorang yang bisa menjagamu..."
"Cukup!" Bentak Ayah yang tidak setuju jika Wei Yi memikirkan jatuh cinta atau menikah di usia muda. Menurut Ayah akan jauh lebih baik jika mereka memikirkan ambisi, kebahagiaan, dan tujuan hidup putra mereka ini.
"Sudah, cukup!" Ibu mulai kesal. Ini kan makan malam keluarga, tidak usah membicarakan masalah filosofi di saat seperti ini. Ujung-ujungnya mereka jadi ribut sendiri dan Wei Yi santai saja memanfaatkan saat itu untuk mengecek ponselnya.
Selama beberapa waktu berikutnya, Ayah dan Wei Yi sibuk memperbaiki guci antik pecah itu bersama. Pada saat yang bersamaan, Mo Mo sendiri sedang sibuk membuat poster iklan dan proposalnya.
Guci antik pecah itu akhirnya kembali utuh sempurna seperti sedia kala. Puas, Ayah dan Wei Yi tiba-tiba kompak melakukan segala hal dengan seirama. Mulai dari melepas masker, melepas sarung tangan hingga menghela napas lega secara berbarengan. (Hehe, benar-benar ayah dan anak) Mereka benar-benar puas dengan hasilnya dan Wei Yi langsung mengucap selamat untuk Ayah.
Pada saat yang bersamaan, Mo Mo juga baru selesai mengerjakan poster iklannya dan langsung menghempaskan dirinya yang sudah lelah ke kasur.
Tapi tiba-tiba ponselnya berbunyi. Wei Yi menghubunginya via video call. Waduh, gawat! Mo Mo kan belum mandi. Akhirnya dia berinisiatif menutup kameranya dengan alasan kalau dia lagi sangat cantik dan ssi yang mungkin bisa membuat layar ponselnya Wei Yi retak. Dia lagi pakai baju tidur yang se~i loh.
Tapi tiba-tiba saja Ibu Mo Mo masuk dan langsung ngomel-ngomel mengkritiki celana yang Mo Mo pakai seminggu dan belum dicuci. Wkwkwk! Malunya. Wei Yi ketawa geli mendengarnya.
Tanpa Mo Mo, sekarang Wei Yi bisa makan udang sepuas hati sampai Ayah harus mengomelinya untuk tidak kebanyakan makan udang. Ibu sontak protes tak setuju, sekarang tahun baru, biarkan saja Wei Yi makan sepuas hati.
"Eh, katanya kau alergi udang waktu terakhir kali kita makan malam bersama Si Tu?"
"Siapa Si Tu?" Tanya Ayah.
"Putrinya temanku... dia tinggal bersama Xiao Yi sekarang."
"APA?! Xiao Yi tinggal bersama seorang gadis? Kenapa aku tidak tahu?"
Soalnya Ayah sibuk terus dengan berbagai macam guci-guci, botol-botol dan lain sebagaiya. Makanya dia tidak tahu. Ayah sontak membanting mangkoknya dengan marah, tak setuju kalau Wei Yi tinggal bersama seorang gadis. Pria dan wanita tinggal bersama, itu bisa menyebabkan fitnah!
Ibu tak terima Ayah memarahi putra mereka pada saat seperti ini. Lagian mereka bukan tinggal bersama semacam itu, mereka cuma berbagi rumah. Lagian Mo Mo itu sangat baik, cantik, dan manis.
Ayah tetap tak setuju. Tak peduli sebaik apa gadis itu, itu tidak ada hubungannya dengan Wei Yi. Gadis itu kan bukan pacarnya Wei Yi. Mereka tidak saling mencintai.
"Iya." Sela Wei Yi.
Ayah salah paham mengira yang Wei Yi maksud 'iya' adalah Wei Yi membenarkan kalau mereka memang tidak saling mencintai. Tapi Ibu merasa tidak begitu maksudnya. Iu justru merasa kalau 'iya' yang Wei Yi maksud adalah dia dan Mo Mo sudah...
"Kami sudah saling mencintai," tegas Wei Yi. Ayah shock, tapi Ibu senang.
Wei Yi sedang sibuk sendirian mempelajari benda-benda artefak ayahnya saat Mo Mo menelepon dan dengan antusias memperdengarkan suara-suara kembang apinya pada Wei Yi dan berhasil membuat Wei Yi sedikit ceria.
Saat Ayah dan Wei Yi berkendara berdua malam itu, mereka melihat kembang api yang menyala indah di langit malam dan kontan membuat Wei Yi bergumam merindukan Mo Mo.
"Alangkah bagusnya kalau aku menikmati itu bersama Si Tu Mo."
Ayah tercengang mendengarnya, mungkin beliau berpikir kalau putranya ternyata sangat mencintai Mo Mo.
Setengah bulan kemudian...
Mo Mo akhirnya kembali. Tapi setibanya di halte, Wei Yi tidak tampak di mana-mana, dihubungi pun tidak bisa. Tapi tiba-tiba Wei Yi datang meluncur dengan skateboard. (Wah, sejak kapan dia jadi ahli main skateboard?)
Mo Mo sampai terpana dibuatnya. Cepat-cepat menguasai diri, Mo Mo sontak protes karena Wei Yi tidak menjawab teleponnya.
"Aku lagi skateboarding, berbahaya kalau sambil teleponan."
Oh, gitu. Tapi bagaimana dia tiba-tiba bisa menguasainya? Wei Yi dengan bangga mengklaim kalau dia tiba-tiba bisa saja dengan sendirinya. Bukankah dia hebat?
"Terus bagaimana caranya kau akan membawa koperku dengan skateboard?" Tanya Mo Mo sengaja menghindari topik.
Gampang, Wei Yi cuma tinggal memegang skateboard dengan satu tangan dan membawa kopernya Mo Mo dengan tangan satunya. Dia pasti bisa kok.
Awalnya memang dia bisa melakukannya dengan mudah. Tapi setelah beberapa lama, sepertinya dia cukup kesulitan juga. Tapi saat Mo Mo berniat mau membantunya, dia ngotot menolak.
Di tengah jalan, dia malah melihat sepasang kekasih yang jalan bergandengan tangan sambil bawa koper yang kontan membuatnya mupeng karena dia tidak bisa melakukan hal yang sama gara-gara kedua tangannya penuh.
Parahnya lagi, Mo Mo yang melihatnya lambat, langsung saja mengambil alih semua barang bawaannya lalu berjalan mendahuluinya. Wei Yi kecewa.
Tapi setibanya di rumah, tiba-tiba saja dia menggandeng paksa tangan Mo Mo, berniat menirukan sepasang kekasih tadi. Bawa koper sambil bergandengan tangan biar romantis gitu.
Tapi bukannya merasa romantis, Mo Mo malah menatapnya dengan aneh. Sejak kapan Wei Yi belajar semua ini?
"Aku tidak mempelajarinya." Wei Yi mendadak ngambek.
Tapi Mo Mo dengan cepat meluluhkan hatinya dengan memeluk Wei Yi. "Gu Wei Yi, kau sangat romantis."
"Terima kasih. Si Tu Mo, aku merindukanmu."
Semua orang sudah berkumpul saat Wei Yi masuk lab. Zhou Lei kecewa, dia kira Senior Lu Jian Shi yang datang. Yu Yin tak percaya mendengar cara Zhou Lei menyebut Jian Shi. Dia juga seniornya Zhou Lei, tapi Zhou Lei tidak pernah menghormatinya.
"Kau kan tidak bisa menentukan apakah aku akan bisa pergi ke Universitas Heidelberg atau tidak."
"Kalau aku tidak jadi pergi, maka kau akan bisa pergi."
"Kau tidak akan pergi?" Zhou Lei langsung antusias.
__ADS_1
"Tentu saja aku akan pergi."
Kecewa, Zhou Lei langsung beralih membujuk Wei Yi tidak usah pergi ke Jerman saja. Dia kan baru saja jatuh cinta.
Jian Shi datang saat itu dan Zhou Lei langsung semangat menunjukkan laporan lab yang dibuatnya semester kemarin. Biar Jian Shi bisa melihat kualitas laporan lab-nya.
Tapi Jian Shi mengaku kalau dia sudah melihat semua laporan lab-nya mereka... dan laporannya Wei Yi jauh lebih bagus daripada punyanya Zhou Lei. Zhou Lei sakit hati mendengarnya. Apalagi Prof Jiang dan Yu Yin tiba-tiba memalingkan muka mereka yang jelas menunjukkan kalau mereka sebenarnya setuju dengan Jian Shi hanya saja mereka tak enak pada Zhou Lei.
Saat membantu Prof Jiang di kantornya, Jian Shi heran memikirkan sikap Zhou Lei. Kenapa dia bertingkah seperti anak kecil tapi tak ada seorang pun yang mengoreksinya.
"Apa kau tidak merasa Zhou Lei itu lucu?" Tanya Prof Jiang.
"Tidak. Menurut penilaianku, levelnya Gu Wei Yi jauh lebih tinggi daripada Zhou Lei. Menurutku tidak perlu memberi mereka ujian."
"Kau tidak mengerti Zhou Lei. Ujian itu harus."
Jian Shi tidak mengerti, kenapa mereka harus repot-repot melakukan hal tidak berguna hanya demi menenangan emosinya Zhou Lei.
Karena inilah cara paling adil yang bisa Prof Jiang berikan pada mereka. Kedua pria itu sangat antusias dengan ujiannya. Makanya, anggap saja ini demi kebaikan mereka.
Tapi dengan banyaknya kalkulasi dalam ujian ini, Jian Shi rasa, ini hanya akan menguntungkan Zhou Lei yang notabene berasal dari jurusan matematika.
"Berarti kau tidak memahami Gu Wei Yi juga."
Wei Yi berjalan ke lab sambil latihan dengan bola tenis mejanya tepat saat Yu Yin baru keluar dari lab dan Wei Yi tak sengaja membuat bolanya jatuh menggelinding ke kakinya Yu Yin.
Yu Yin memungut bola itu untuknya dan karena Wei Yi mau masuk lab, Yu Yin membukakan pintu untuknya lalu ikutan masuk dengan alasan mau mengecek semua peralatan lab.
Tapi kemudian perhatiannya teralih saat melihat Wei Yi mengeluarkan sebuah hand dynamo buatannnya sendiri. Soalnya belakangan ini di rumahnya sering terjadi pemadaman listrik. Alat ini belum sempurna, makanya dia mau membawanya pulang dan mengembangkannya di rumah.
Yu Yin penasaran. Waktu terakhir kali dia ke rumahnya Wei Yi, dia dan Mo Mo belum saling jatuh cinta. Kenapa mereka tiba-tiba bisa saling jatuh cinta?
"Aku sudah lama jatuh cinta." Santai Wei Yi.
Tiba-tiba Zhou Lei datang dan seperti biasanya, dia langsung curiga dan menuduh Yu Yin ngasih tips-tips ke Wei Yi.
"Kau pikir dia perlu (dikasih tips)?"
"Benar juga. Terus ngapain kalian di sini?"
"Kami cuma ngobrol tentang pacarnya."
Zhou Lei heran, kenapa semua orang peduli banget dengan pacarnya Wei Yi. Tidak ada seorang pun yang peduli padanya. Masalah seminar ke Jerman itu membuatnya tak bisa tidur dan makan dengan tenang loh. Bagaimana dengan Wei Yi.
"Aku baik-baik saja." Santai Wei Yi.
"Pria yang lagi jatuh cinta memang beda. Eh, apa yang biasanya dilakukan pasangan yang lagi jatuh cinta? Mengerjakan perhitungan matematika?"
"Kami melakukan segala hal yang seharusnya dilakukan dalam sebuah hubungan."
Hah? Mereka sudah melakukan semuanya? Wei Yi mendadak canggung menyadari kesalahan ucapannya, nggak gitu kok. Tapi Zhou Lei tak percaya, wajar lah kalau Wei Yi dan Mo Mo bisa melakukan semuanya dengan mudah. Mereka kan tinggal seatap. Kasih tahu, dong!
"Aku pulang. Jangan lupa kunci pintu."
Di kantor, Li Na menyuruh Mo Mo dan Jie Er untuk menyerahkan proposal-proposal mereka padanya... buat laporan mereka dalam format CDR (Corel Draw).
Mo Mo jadi bingung, biasanya dia cuma pakai Photoshop. Sama, Jie Er juga. Bagaimana cara meng-convert-nya? Sepertinya Mo Mo harus mempelajarinya di rumah nanti.
Malam harinya saat Mo Mo tengah menyiapkan makan malam mereka, lampu tiba-tiba padam. Mo Mo kontan ketakutan memanggil-manggil Wei Yi, mengira ada pemadaman listrik lagi.
Tapi Wei Yi emengaku kalau dia cuma sengaja mematikan lampu lalu mulai menyalakan hand dynamo-nya yang berpendar kelap-kelip.
"Ini hand dynamo buatanku. Di masa mendatang, kita tidak perlu takut pemadaman listrik lagi."
Mo Mo penasaran bagaimana Wei Yi membuat benda itu. Wei Yi pun langsung nyerocos panjang lebar menjelaskan detil teknisnya. Tapi Mo Mo nyinyir, masa nyalanya cuma kelap-kelip gini aja? Nyalainnya juga repot banget, harus diputar-putar tangkainya... mending pakai senter hape. Wkwkwk! Wei Yi sakit hati.
Menyadari ekspresinya, Mo Mo buru-buru menjelaskan bahwa dia tidak bermaksud menuduh Wei Yi kurang cakap.
"Aku akan mengembangkannya." Tegas Wei Yi.
"Bisakah kita makan malam sekarang?"
Usai makan malam, Mo Mo mengurung diri di kamar, bingung memikirkan cra meng-convert photoshop-nya jadi corel draw. Dia sama sekali tidak menyadari kalau Wei Yi sedang gelisah menunggunya dengan gelisah di luar.
Bahkan saat Wei Yi mencoba mengajak Mo Mo nonton TV, Mo Mo menolak, dia sibuk. Kecewa, Wei Yi akhirnya beralih membuka medsos, tapi malah mendapati Mo Mo posting status, meminta tolong pada siapapun yang bisa membantunya untuk meng-convert PS ke CDR. Wei Yi mendadak punya ide bagus.
Beberapa orang mencoba memberinya Mo Mo saran. Tapi kemudian, Mo Mo melihat Wei Yi berkomentar kalau dia bisa. Mo Mo sontak membawa laptopnya ke Wei Yi. Apa dia sungguh bisa melakukannya?
"Tentu saja."
"Butuh waktu berapa lama?"
"Entahlah, akan kucoba dulu. Kau duduk saja di kasurku dan tunggu."
Jelas saja Mo Mo ragu. Gini aja, dia akan tunggu saja di kamar. Kalau sudah selesai, Wei Yi bisa panggil dia.
Wei Yi geli mendengarnya. "Apa yang kau takutkan?"
"Aku nggak takut."
"Lalu kenapa kau tidak berani duduk di sini?"
Mo Mo akhirnya sukses terprovokasi dan langsung duduk kaku di bagian paling ujung kasurnya Wei Yi. Tapi saat Wei Yi mulai bekerja, Mo Mo mulai merasa nyaman dengan mengangkat kedua kakinya ke kasur sambil mainan hape. Lama-kelamaan, dia benar-benar bisa santai tiduran di sana... hingga akhirnya dia mulai ngantuk.
Tak tahan lagi dengan kantuknya, Mo Mo meminta Wei Yi untuk memberitahunya kalau dia sudah selesai lalu tidur.
Setelah beberapa lama, Wei Yi akhirnya selesai dan memanggil Mo Mo. Tapi Mo Mo sudah tidur lelap dan sulit dibangunkan.
__ADS_1
Epilog:
Klaimnya Wei Yi yang katanya bisa skateboarding dengan sendirinya itu sebenarnya bohong. Dia justru latihan keras seorang diri selama beberapa hari sampai akhirnya dia bisa menguasai alat itu.