
Dalam mabuknya, Mo Mo tiba-tiba saja meniup-niup telinga Wei Yi, mengira kupingnya Wei Yi tuh kerang. Wkwkwk! Dia sama sekali tidak sadar kalau perbuatannya itu membuat hati Wei Yi goyah.
Setibanya di rumah, dia langsung membaringkan Mo Mo dan menyelimutinya. Usai mengurus Mo Mo, dia mengurus dirinya sendiri lalu menjemur cuciannya di balkon. Setelah itu, dia langsung tidur tanpa menyadari jemuran boxer-nya terjatuh tertiup angin.
Keesokan harinya, Mo Mo bangun kesiangan dan langsung panik setengah mati mau bergegas ke kantor saat itu juga tanpa mandi dan ganti baju. Dia bahkan langsung menyingkirkan Wei Yi dari rak sepatu. Tapi kemudian Wei Yi mengaku kalau dia sudah memintakan cuti untuk Mo Mo hari ini.
Fiuh! Syukurlah, Mo Mo akhirnya bisa tenang. Mo Mo mau balik tidur lagi kalau begitu. Tapi tunggu dulu, Wei Yi heran melihat lehernya. Kenapa lehernya Mo Mo merah-merah?
"Ruam. Aku alergi alkohol."
"Terus kenapa kau malah minum banyak?" Omel Wei Yi.
Mo Mo langsung sok imut meyakinkan Wei Yi kalau dia melakukannya bukan karena sengaja. Ini kan bagian dari pekerjaannya. Dia janji deh tidak akan minum-minum lagi biarpun mereka mengancam akan memecatnya ataupun membunuhnya.
Wei Yi langsung kesal menggerutui baunya Mo Mo. Pokoknya dia tidak boleh lagi menghadiri acara-acara semacam itu. Dan jangan terlibat dengan pria manapun. Cam kan itu! Mandi dulu sana, Wei Yi mau beli sarapan.
Usai mandi, Mo Mo menjemur bajunya dan saat itulah dia melihat boxer-nya Wei Yi yang terjatuh. Dia santai saja memungutnya lalu mencucinya lagi.
Tepat saat itu juga, Wei Yi baru balik dan langsung panik melihat boxernya berada di tangan Mo Mo. Dia sontak merebutnya dengan kasar lalu menyembunyikannya di belakang punggungnya.
Mo Mo sampai bingung melihat reaksinya. Tadi benda itu terjatuh, makanya dia mencucinya lagi. Ooooh, Mo Mo tiba-tiba mengerti. Jangan khawatir, dia sudah mencucinya, sudah tidak kotor lagi kok.
Dia punya adik cowok. Dia sudah terbiasa menjemur semua cucian di rumah. Jadi Wei Yi tidak usah malu. Dia tidak punya pikiran aneh-aneh kok. Lagian kan mereka sudah pernah tidur bersama... dan tidak terjadi apapun. Wei Yi tidak ada bedanya dengan adiknya.
Pfft! Wei Yi tersinggung. Dia sontak membopong Mo Mo ke kamar, membantingnya ke ranjang, mengunci pintu, lalu berjalan mendekati Mo Mo sambil memperingatkan Mo Mo akan perbedaan dirinya dan adiknya Mo Mo. Mo Mo sampai takut dibuatnya.
Wei Yi semakin mendekat... saat tiba-tiba saja si Lingkaran bercicit cuit memanggil 'Tuannya'. Wkwkwk! Hancur deh momen romantis mereka. Sekarang mereka jadi canggung tak tahu harus bagaimana. Berusaha mencairkan suasana, Mo Mo tanya bagaimana Lingkaran bisa bicara?
"A-aku memodifikasinya." Wei Yi mau memungut Lingkaran. Tapi tiba-tiba saja dia entah kenapa tampak pucat lalu oleng menindih Mo Mo yang jelas saja membuat Mo Mo jadi salah paham, mengira Wei Yi mau ngapa-ngapain dia.
Tapi tidak, Wei Yi langsung berguling ke samping sambil memegangi kepalanya yang pusing. Dia menderita Hypoglycemia (gula darah rendah).
Mereka akhirnya balik ke meja makan dan sarapan. Tapi Mo Mo masih geli dengan kejadian tadi. Ternyata Wei Yi sangat lemah, yah. Jadi dia menderita gula darah rendah, dan malas olahraga pula. Wei Yi benar-benar tidak ada bedanya dengan adiknya.
Wei Yi kontan membanting sumpitnya dengan marah dan tersinggung. "Kuperingatkan kau, jangan bicara seperti itu lagi."
"(Kau) ada bedanya kok. Pasti ada bedanya."
"Apa bedanya?"
"Kau... kau... berhasil memodifikasi robot. Adikku nggak bisa." (Pfft!)
Siang harinya, Wei Yi masuk ke kamar Mo Mo hanya untuk tanya dia mau makan siang apa. Tapi Mo Mo tak nyaman berduaan di kamar dan langsung mengajak Wei Yi keluar ke dapur.
Sementara dia mulai memasak air untuk buat mie instan, Wei Yi duduk santai memandanginya. Mo Mo lama-lama tak nyaman dengan cara Wei Yi memandangnya. Bagaimana kalau Wei Yi tunggu saja di kamar? Nanti dia akan panggil kalau mie-nya sudah matang.
"Aku mau melihatmu memasak." Dia bahkan langsung pindah lebih dekat ke Mo Mo sambil ngotot mau menunggu di sini bersama Mo Mo.
Yah sudah, kalau begitu, Wei Yi tunggu saja sampai airnya masak, Mo Mo mau masuk kamar lagi.
Tapi setelah beberapa lama, Mo Mo malah mendapati Wei Yi juga sedang berada di kamar dan bukannya mengawasi air di dapur.
"Belum matang kok. Aku mengawasinya." Santai Wei Yi.
Mo Mo jelas tak percaya. Gimana caranya dia mengawasi dari dalam kamar? Wei Yi menjawabnya dengan memperlihatkan rekaman kamera di ponselnya yang dengan jelas memperlihatkan air di dapur yang benar-benar belum matang. (Dia pasang kamera di dapur?)
Mo Mo langsung mengecek dapur dan melihat ada sebuah tablet yang entah sejak kapan terpasang di sana.
__ADS_1
Tak lama kemudian, mereka duduk di depan TV dengan dua mangkok mie instan. Tapi tiba-tiba Wei Yi mengulurkan tangan seolah mau merangkul Mo Mo yang jelas saja langsun membuat Mo Mo panik menggunakan bantal sebagai tameng. Dia mau ngapain?!
"Cuma mau ambil remote kok." Ujar Wei Yi lalu mengambil remote-nya. Mo Mo jadi malu.
"Apa kau mau ke kampus hari ini?" Tanya Mo Mo.
"Aku sibuk dengan skripsi-ku."
"Kapan aku bakalan sidang?"
"Kau tanya aku?"
"Aku bicara pada diriku sendiri."
"Aku penasaran apa kau bakalan bisa lulus?"
"Aku sangat percaya diri."
Hari ini, akhirnya Mo Mo sidang skripsi. Semua teman seasramanya sudah tegang menungguny saat akhirnya Mo Mo keluar dari ruang sidang. Tadi dia ditanya apa saja? Tanya mereka semua.
"Pak dosen bilang 'karena kau sudah pindah ke bidang lain, maka aku tidak akan mempermalukanmu'. Jadi beliau cuma menanyaiku beberapa pertanyaan."
Meng Lu jadi iri, bisakah dia ganti bidang sekarang? Telat! Mo Mo langsung pamit, soalnya dia mau menghadiri sidang skripsinya Wei Yi. Dia sidang publik soalnya.
"Suruh dia traktir kita makan yah?"
"Kami lagi misqueen."
"Bodo amat."
Mo Mo makin jatuh cinta padanya. Dia bahkan langsung heboh melempar berbagai macam simbol cinta, jempol, dan kecup sayang untuk Wei Yi sampai membuat Wei Yi tidak konsen mendengar pertanyaan pak dosen.
Untung saja pak dosen tidak melihat Mo Mo dan hanya mengira kalau pertanyaannya mungkin terlalu sulit bagi Wei Yi. Maka Prof Jiang berinisiatif mengizinkan para penonton untuk tanya-tanya ke Wei Yi.
Zhou Lei langsung semangat mau tanya, tapi untung saja Yu Yin sigap menariknya. Baiklah, karena tak ada yang tanya, Prof Jiang memutuskan untuk mengakhiri sidangnya Wei Yi sampai di sini.
Usai sidang, Mo Mo memberitahu Wei Yi kalau teman-temannya minta traktiran. Mereka akhirnya ke sebuah restoran dan Wei Yi memesan banyak sekali menu sampai membuat Mo Mo khawatir. Semua ini kan makanan mahal, apa Wei Yi punya cukup uang?
"Cukup. Aku sudah memperhitungkannya." Ujar Wei Yi dengan penuh percaya diri.
Teman-teman Mo Mo datang tak lama kemudian dan langsung terkagum-kagum melihat berbagai hidangan mewah di atas meja. Tepat saat mereka hendak makan, Fu Pei nge-chat Shan Shan, memintanya untuk segera datang setelah Shan Shan selesai makan bersama teman-temannya.
Di restoran sebelah, Fu Pei juga sedang makan bersama ayahnya yang sekaligus sedang berusaha menjodohkan Fu Pei dengan seorang gadis yang tak lain tak bukan adalah Lu Jian Shi.
Ayah bahkan menyanjung-nyanjung Jian Shi setinggi langit. Tapi Fu Pei yang jelas tidak setuju dengan semua ini, dengan sengaja bersikap dingin dan acuh pada Jian Shi.
Mungkin mau pamer kekayakannya pada Jian Shi, Ayah berkata pada pelayan kalau dia mau pesan makanan paling mahal yang dijual restoran ini. Tapi saat pelayan bilang kalau menu paling mahal mereka adalah ikan, Ayah malah tak percaya dan ngotot minta menu yang paling mahal.
Tapi saat pelayan menyebutkan harga ikannya, ujung-ujungnya Ayah malah protes nyinyiran harga ikannya yang nggak masuk akal. Fu Pei dengan cepat menyela dan memutuskan untuk memesan ikan itu saja sambil nyinyir, mereka sebaiknya pesan ikan itu dalam jumlah banyak karena ikan itu adalah ungkapan sayang Ayahnya pada Jian Shi.
Selesai makan, Mo Mo menemani Fu Pei bayar ke kasir tapi Mo Mo malah dibuat shock saat diberitahu harganya yang super mahal melebihi perhitungan Wei Yi. Wkwkwk!
Mo Mo tak percaya, bagaimana bisa semahal itu? Apa mereka menipu? Pelayan mencoba menawari Mo Mo untuk melihat bill-nya, Wei Yi menolak. Dia benar-benar sudah memperhitungkan segalanya, dia bahkan bisa menghapalkan detil harga tiap-tiap pesanannya, dengan menu yang paling mahal adalah ikan. (Wkwkwk! Ikan lagi)
Mo Mo tak percaya mendengarnya. "Gu Wei Yi, apa kau sudah gila?!"
"Aku hanya tidak ingin kau berpikir kalau aku pelit pada teman-temanmu. Lagian ini bukan yang paling mahal kok."
__ADS_1
"Kalau kau melakukannya, akan kuhancurkan Lingkaran saat kita pulang nanti!"
Pelayan dengan cepat menyela mereka dan menuntut mereka untuk segera membayar tagihan mereka. Mo Mo melirik rekening Wei Yi saat dia membayar tagihannya via aplikasi dan diam-diam nyinyir karena Wei Yi baru saja menghabiskan seluruh tabungannya. Wkwkwk! Tapi Wei Yi malah tampak santai-santai saja.
Selesai makan ikan yang mahal itu, Ayah baru ingat untuk sumbar tentang putranya pada Jian Shi. Putranya ini jurusan managemen di universitas yang sama dengan Jian Shi. Dia cukup pintar dan bermain basket dengan baik.
"Tapi aku sudah punya pacar." Sela Fu Pei. "Dan dia jauh lebih cantik darimu."
Tepat saat itu juga, Shan Shan datang. Fu Pei langsung sumringah dan langsung menggenggam erat tangan Shan Shan lalu memperkenalkannya pada mereka.
"Ini pacarku, Wang Shan."
Ayah sontak murka menentang hubungan mereka. Fu Pei tak peduli, ini tidak ada urusannya dengan Ayah. Jian Shi langsung nyinyir melihat sikapnya, apa Fu Pei tidak pernah dididik untuk menghormati orang lain?
Fu Pei sinis membalas nyinyirannya. Apa Jian Shi pikir kalau dia itu sopan saat dia menghabiskan ikan mahal ini? Sepertinya sopan santun yang Jian Shi dapatkan di luar negeri itu tidak berharga. Makan ini memang enak dan mewah dan Fu pei sangat menikmatinya. Kalau begitu, dia dan pacarnya pamit duluan.
Ayah tidak terima dengan sikap Fu Pei dan langsung melempar gelas ke Fu Pei. Tapi Shan Shan melihat itu dan refleks dia menggunakan dirinya untuk menamengi Fu Pei. Fu Pei kontan cemas mengeceknya, apa dia baik-baik saja?
Tetap tenang menghadapi kemarahan Ayah, Shan Shan dengan sopan memutuskan untuk tidak memperkenalkan dirinya pada Ayah sekarang karena Ayah sedang emosi sekarang. Dia akan mengunjungi Ayah lain kali.
Dia lalu membawa Fu Pei keluar dari sana. Tapi kejadian barusan benar-benar membuat Fu Pei merasa geli. Lucu banget melihat wajah murka ayahnya tadi. Tapi Shan Shan cemas, takutnya sikapnya pada Ayah tadi kelewatan.
"Tidak masalah. Sangat bagus malah, ayo pergi."
Sekarang karena uangnya Wei Yi sudah ludes, Mo Mo dan Wei Yi jadi menderita kelaparan karena tidak bisa beli makan. Parahnya lagi, Wei Yi terlalu keras kepala tidak mau pakai duitnya Mo Mo dan menyuruh Mo Mo untuk makan mie instan terakhir mereka.
Akhirnya mereka terpaksa cuma makan mie instan sepiring berdua. Ada telur puyuhnya juga satu biji. Jelas-jelas Wei Yi mupeng, tapi saat Mo Mo memberikan telur itu padanya, Wei Yi dengan gentleman-nya memberikan telur itu ke Mo Mo.
Tapi Mo Mo ngotot ngasih ke Wei Yi dan jadilah mereka bolak-balik saling memberikan telur sebiji itu pada satu sama lain, tapi ujung-ujungnya malah membuat telur itu terjatuh ke lantai. Pfft!
Tidak masalah, Mo Mo langsung memungutnya dan meletakkannya di tisu, biar nggak mubazir. Dan saat mereka mulai makan dan Wei Yi sedang tidak melihat, Mo Mo langsung melahap telur itu sendiri.
Wei Yi jelas heran saat dia melirik ke tisunya tapi telurnya sudah raib, ke mana tuh telur? Mo Mo langsung pura-pura bodoh dan buru-buru mengalihkan perhatian Wei Yi ke mie-nya.
Hari ini adalah hari wisuda mereka. Wei Yi dan Mo Mo keluar dari kamar secara bersamaan dan Mo Mo langsung terpesona melihat Wei Yi tampak begitu tampan dalam seragam wisudanya.
"Apa kau bisa mengikat dasi?"
"Aku baru saja mau menanyakan hal yang sama."
Mo Mo akhirnya mencoba mengikatkan dasinya Wei Yi. Dia jelas tidak tahu cara mengikat dasi, tapi tidak masalah, Wei Yi malah senang bisa berlama-lama menatap wajah Mo Mo.
Saat akhirnya dia sukses mengikatkan dasi, hasilnya malah miring-miring nggak beraturan. Wkwkwk! Tapi Wei Yi tak peduli dan tetap memakainya ke kampus dengan bangga.
Teman-teman Mo Mo sudah berkumpul di depan asrama saat Fu Pei datang sambil nyengir lebar... dan bawa bunga mawar untuk sang pacar tercinta. Mo Mo dan Wei Yi datang tak lama kemudian.
Tepat saat itu juga, Zhou Lei menelepon Wei Yi dan menyuruhnya ke lab biar mereka bisa foto-foto bersama. Maka dia pun pamit duluan. Niu Niu heran, kenapa Wei Yi malah pergi meninggalkan Mo Mo? Apa dia menyembunyikan seorang gadis di lab?
Meng Lu ingat kalau di labnya Wei Yi kan ada si senior cantik itu. Sepertinya si senior itu menyukai Wei Yi. Wei Yi bahkan tidak ngasih bunga ke Mo Mo. Mo Mo tak terima dan langsung membela Wei Yi lalu cepat-cepat mengajak mereka untuk foto-foto.
Tak lama kemudian, Mo Mo masuk ke sebuah kelas... tapi malah kaget mendapati seseorang menyodorkan sebuket mawar merah untuknya. Ow, Wei Yi kah?
Epilog:
Sebagai ungkapan terima kasih karena Wei Yi sudah mentraktir mereka makan mewah, teman-teman Mo Mo memutuskan untuk memberitahu Wei Yi sesuatu.
Meng Lu dengan sengaja menutup telinga Mo Mo lalu Niu Niu membisiki Wei Yi sebuah rahasia tentang Mo Mo, telinga Mo Mo adalah area yang sangat sensitif. Pfft! Wei Yi langsung mupeng melihat telinganya Mo Mo.
__ADS_1