
"Hari ini adalah hari paling bahagia yang pernah aku alami,ya tuhan, salah kah aku jika aku berharap dia menjadi milik ku, sedang kan dia sudah memiliki wanita lain dalam hati nya." gumam Tasya sambil membayangkan apa baru saja terjadi padanya.
Tok...tok...tok...
"Non Tasya,ini air minum nya?" Suara Bibi membuyarkan lamunan Tasya.
"Iyah Bi Inah, Sebentar!." Tasya langsung bangun dari posisi tidurnya,ia pun langsung berjalan dan membuka pintu kamar.
"Ini minum nya non." bi Inah memberikan segelas air putih pada Tasya.
"Makasih bi." Tasya pun langsung mengambil nya.
"Iyah non,oh Iyah kata den Marsel,non Tasya tadi kena pecahan beling yah, sekarang non nggak papa kan,maaf tadi bibi lagi istirahat di kamar jadi nggak tau." ucap bi Inah merasa tidak enak.
"Nggak papa kok bi,maaf yah ganggu istirahat bi Inah." ucap Tasya.
"Nggak papa non,kalau gitu bibi bersihin pecahan pas bunga nya dulu yah non." ucap bi Inah.
"Iyah Bi,eemm oh Iyah,kak Marsel tadi langsung ke mana bi?" tanya Tasya penasaran,ia melihat sekeliling.
"Bibi kurang tau non,tadi abis ceritain kejadian itu,bibi langsung ke dapur ambil air jadi bibi nggak lihat kemana pergi nya." ucap bi Inah.
"Oh ya udah kalau gitu,aku masuk kamar lagi yah bi?" ucap Tasya.
"I-iyah non silahkan!" ucap bi Inah, setelah melihat Tasya masuk dan menutup kembali pintu kamar nya,bi Inah pun langsung membersihkan pecahan pas bunga yang masih berceceran di lantai.
Sementara di tempat lain, terlihat Qiaraa masih belum memejamkan matanya,karena posisi kamar nya berada di lantai atas,jadi ia tidak mendengar suara apa pun dari lantai bawah,saat tadi Tasya memecah kan pas bunga nya.
Melihat Qiaraa yang masih membuka matanya,Angga pun langsung mendekat ke arah nya,ia menggeser tubuhnya agar bisa semakin dekat dengan Qiaraa.
"Sayang,kenapa belum tidur?" tanya Angga,ia mengusap kepala nya.
"Aku belum ngantuk mas." ucap Qiaraa.
"Loh,tapi sekarang udah malam loh,kamu masih belum pulih,ingat,kata dokter harus banyak istirahat!" Angga mengingatkan.
__ADS_1
Tiba-tiba Qiaraa meneteskan air matanya, entahlah mungkin karena baru saja ia kehilangan bayi nya, membuat ia jadi lebih sensitif.
"Kenapa malah nangis sayang,mas salah ngomong yah?" Angga merasa heran,ia pun menghapus air matanya.
"Sebenarnya,siapa yah yang bikin anak kita meninggal mas,aku sangat penasaran,siapa yang menabrak ku waktu itu,oh Iyah mas,apa mas udah dapat info baru?" tanya Qiaraa,ia menghapus air matanya.
Angga pun hanya menggeleng,ia bingung harus mengatakan apa pada Qiaraa karena saat ini polisi pun tak mau melanjutkan kasus nya karena tidak ada bukti atau petunjuk lain.
Namun Angga juga tak mau kalau sampai Qiaraa tau,kalau polisi menghentikan penyelidikan ini,ia tak mau masalah ini membuat istrinya semakin kepikiran.
"Sebenarnya aku mencurigai seseorang,tapi aku tak punya bukti yang kuat." ucap Angga.
"Siapa?" Qiaraa Penasaran.
"Citra,karena hanya dia satu satu nya orang yang tidak suka melihat kita bahagia, terutama kamu sayang." ucap Angga.
"Aku juga sempat berpikir seperti itu mas,tapi aku mengesampingkan kecurigaan ku,karena aku nggak punya bukti yang kuat." Qiaraa juga berpikiran hal yang sama.
"Maafin aku yah sayang,ini semua salahku,kalau bukan karena dia,kamu nggak akan seperti ini." ucap Angga.
"Ya udah,lebih baik sekarang kita tidur yah,besok kamu kan harus kontrol ke dokter,kamu harus sembuh,biar kita bisa itu lagi,hehehe." Angga terkekeh sambil menaikkan satu alisnya,ia mencoba untuk menghibur Qiaraa.
"Ih,mas apaan sih,lagi kayak gini juga ngomongin kayak gitu." Qiaraa tersipu malu,ia ikut tersenyum lebar.
"Nah gitu dong senyum,kamu semakin cantik kalau senyum kayak gitu." Angga menggoda Qiaraa.
"Alah gombal,udah ah aku mau tidur,dari pada dengerin gombalan kamu terus,geser sana,nggak boleh deket deketan dulu sekarang!" Qiaraa mendorong tubuh Angga.
Angga pun hanya menggaruk tengkuknya. "Masih lama yah sayang?" tanya Angga.
"Tunggu tiga bulan lagi." ucap Qiaraa sambil menutup matanya dan tertidur membelakangi Angga.
"Yah kok lama banget,nggak bisa di kurangi apa?" tanya Angga lagi.
"Tidur mas tidur, katanya tadi suruh tidur." ucap Qiaraa, padahal ia sedang tertawa.
__ADS_1
"Iyah Iyah." ucap Angga yang sedikit kesal.
***
Pagi Hari
Seorang wanita baru saja bangun dari tidurnya,ia membuka matanya perlahan, kemudian bangun dari posisi tidurnya.
"Kenapa kepala ku pusing banget yah." wanita tersebut memijit pelipisnya.
Ia pun melihat sekeliling,namun ia sedikit heran,kenapa ia hanya sendirian di sana, padahal semalam,ia bersama dengan seorang pria.
"Pria semakin kemana? kok aku di tinggal sendirian di sini sih,aduh kenapa aku nggak ingat apa apa yah, semalam apa yang terjadi." wanita tersebut masih bingung, kepalanya pun masih pusing.
Yah, wanita tersebut adalah Citra,ia masih bingung karena ia hanya sendirian di kamar hotel,ia pun tak ingat apa apa soal kejadian semalam.
"Bayaran ku mana,kok nggak ada?" Citra mencari cari uang,namun ia tak menemukan nya. "Aku ke kamar mandi dulu deh,abis itu pulang, pusing banget." Citra pun langsung turun dari tempat tidur.
Setelah mulai sadar,ia pun langsung masuk ke dalam kamar mandi,ia membersihkan dirinya terlebih dahulu.
Setelah selesai kini ia pun merasa lebih segar setelah mandi. "Hmm aku pulang aja lah." Citra pun langsung keluar dari kamar tersebut.
Namun pada saat ia melewati resepsionis hotel, tiba-tiba seseorang memanggil nya. "Permisi mbak,mbak mau check out?" tanya petugas di sana,karena melihat Citra membawa tas nya.
"I-iyah memang nya kenapa mbak?" tanya Citra heran.
"Silahkan selesai kan dulu pembayaran mbak!" ucap nya lagi.
"Loh bukannya laki laki yang bersama saya semalam sudah membayar nya,dia sudah pergi lebih dulu tadi,jadi sepertinya dia sudah membayar nya mbak." ucap Citra.
"Maaf mbak,laki laki yang bersama anda semalam,dia tidak menginap di sini,katanya dia hanya mengantar mbak saja." ucap nya.
"Hah,mbak jangan bercanda yah, maksudnya bagaimana?" Citra masih belum paham.
"Tak lama setelah mengantar mbak ke kamar semalam,dia langsung keluar lagi mbak,dia juga mengatakan kalau Mbak yang akan bayar." petugas itu pun menjelaskan.
__ADS_1