
"Tapi, sepertinya perkataan mu tidak sesuai dengan hati mu?" Citra mendekat. "Aku tau kau sangat menginginkan Qiaraa bukan?,begitu juga aku Leo,aku sangat menginginkan Angga,kita ada dalam satu tujuan." Citra menatap wajah Leo.
"Memangnya apa yang bisa aku bantu?" tanya Leo tiba tiba.
("Yes,aku berhasil, sepertinya Leo mau membantu ku, sepertinya dunia berpihak padaku,eemm tapi sepertinya aku tak usah katakan dulu padanya kalau aku ini buronan.") batin Citra.
"Eemm aku akan membuat mereka salah paham,tapi aku sangat membutuhkan bantuan mu." ucap Citra.
"Caranya?" Leo masih belum paham.
Citra pun berbisik ke telinga Leo,ia sedang memberitahu rencana yang sudah ia pikirkan,namun kali ini sepertinya rencana itu akan berhasil jika Leo ikut andil,karena Citra sudah tidak bebas lagi berkeliaran di luar.
"Apa itu tidak akan berbahaya?" tanya Leo.
"Ikuti saja perintah ku,aku yakin Qiaraa akan menjadi milik mu,tapi sebelum itu, tolong belikan dulu aku handphone baru,karena sebelum kesini,aku sudah membuang semua barang barang ku yang seksi berbahaya untuk ku." Citra tersenyum licik.
Leo terdiam,ia memikirkan cara untuk membuat rencana nya berhasil, walaupun ia sedikit khawatir akan rencana yang Citra perintah kan,tapi sepertinya ia tak mau menyerah sebelum berperang,ia akan menjalankan rencana tersebut.
***
Satu bulan kemudian
Sementara di tempat lain,terlihat Angga sedang bingung memikirkan sesuatu,ia masih cemas karena Citra masih belum bisa di temukan,bahkan jejak nya pun sudah tidak bisa di lacak lagi.
"Kenapa sayang?" tanya Qiaraa, sepertinya ia sudah mulai pulih.
"Satu bulan sudah berlalu,tapi kenapa Citra masih belum di temukan oleh polisi,aku hanya masih khawatir padamu." ucap Angga.
"Kamu nggak usah terlalu khawatir mas,yang penting sekarang, dia sudah tidak menggangu kita lagi, buktinya sampai sekarang aku baik baik aja kan,dia tak akan berani keluar dari persembunyiannya karena polisi pasti akan menangkap nya." ucap Qiaraa.
"Semoga saja,apa yang kamu katakan benar,tapi,kamu harus tetap waspada yah." Angga mengusap rambut Qiaraa.
__ADS_1
"Iyah mas." Qiaraa mengangguk.
Saat Qiaraa dan Angga sedang mengobrol tiba-tiba Angga di kejutkan dengan suara dering ponsel nya,ia pun langsung mengangkat telpon tersebut.
"Halo,Iyah Din kenapa?" tanya Angga,ia mendengarkan apa yang Dinda sampai kan. "Baiklah,urus saja berkas berkas nya, setelah itu saya akan berangkat ke sana." ucap Angga,ia pun langsung mematikan telponnya.
"Ada apa mas,mas mau kemana?" tanya Qiaraa.
"Mas ada kerjaan di luar kota,nggak papa kan kalau kamu mas tinggal dulu,tapi mas nggak akan lama kok,lusa juga sudah pulang." ucap Angga.
"Mas sendiri ke sana?" tanya Qiaraa.
"Iyah." ucap Angga.
"Hmm padahal aku mau kasih kamu kejutan." ucap Qiaraa.
"Ya sudah,nanti setelah aku pulang dari Bandung,mas tunggu kejutan kamu yah sayang." Angga terlihat sangat menyayangi Qiaraa.
Setelah berpamitan dengan Qiaraa,dan juga membawa beberapa pakaian ganti di dalam koper kecil nya, Angga pun langsung berangkat menggunakan mobil nya, sebelum nya ia pun sudah menitipkan Qiaraa pada mama dan papa nya,agar ia bisa lebih lega meninggalkan Qiaraa di rumah.
Namun sebelum berangkat ke tempat tujuan,Angga pun ke kantor terlebih dahulu untuk mengambil beberapa berkas penting yang ia butuhkan.
Beberapa saat kemudian,Angga pun sampai di kantor nya,ia bertemu dengan Dinda di ruang kerjanya.
"Beneran nih saya nggak perlu ikut ke Bandung pak?" tanya Dinda,karena jika di kantor,Dinda memanggil Angga sebagai atasan nya.
"Nggak usah,kamu di sini aja,papa juga kan udah sakit sakitan sekarang, sepertinya untuk saat ini papa tidak akan terjun langsung lagi ke perusahaan,jadi kayaknya kamu lebih di butuhkan di sini." Ucap Angga.
"Baiklah kalau begitu." Dinda menurut.
"Satu lagi,saya titip Qiaraa juga,kalau kamu ada waktu mainlah ke rumah." ucap Dinda.
__ADS_1
"Iyah pak." jawab Dinda.
Angga pun langsung berangkat dengan membawa berkas berkas yang di berikan Dinda tadi.
***
Sementara di tempat lain, terlihat Marsel sedang menanganinya pasien nya di rumah sakit, rupanya pasien nya kali ini, seorang pasangan pengantin baru, terlihat keduanya tampak terkejut dengan apa yang baru saja Marsel katakan.
"Apa dok,jadi, istri saya sudah hamil 6 Minggu?" tanya suami si pasien.
"Iyah benar pak,di lihat dari hari pertama terakhir haid nya memang seperti itu." ucap Marsel menjelaskan.
Suami pasien tersebut langsung melihat tajam ke arah istri nya. "Katakan padaku,anak siapa itu,kita baru saja menikah sebulan yang lalu,tapi kau sudah hamil satu bulan lebih,ayo katakan,siapa yang sudah mendahului ku,anak siapa yang kamu kandung?" suami pasien terlihat sangat marah.
"Ini anak kamu mas,aku tak pernah berhubungan dengan siapa pun dan kau tau itu, bukankah kau sendiri yang merenggut kehormatan ku saat malam pertama kita,dan itu hal yang pertama kali kita lakukan,lalu kenapa kau menuduh ku seperti itu,kau jahat hiks hiks hiks." istrinya meneteskan air mata,saat mendengar perkataan suaminya.
Marsel panik melihat keadaan itu,ia pun bingung harus bagaimana menjelaskan nya, apalagi pasangan itu melihat istrinya menangis membuat Marsel tambah bingung.
"Sebentar pak,biar saya jelaskan lagi." ucap Marsel ia mencoba untuk melerai.
"Ini bukan urusan dokter,ini urusan rumah tangga saya, dokter tidak usah ikut campur." ucap suami pasien tersebut.
"Hiks hiks hiks hiks." istri pasien semakin menangis terisak.
"Tapi pak,bapak salah paham sama istri bapak." ucap Marsel ia semakin panik mendengar istri pasien menangis.
"Maksud nya apa, dokter sendiri kan yang bilang kalau istri saya hamil 6 Minggu, padahal kita baru saja menikah satu bulan." ucap suami pasien.
"Pak tolong dengar kan saya dulu!" ucap Marsel sedikit keras agar si suami berhenti memarahi istri nya.
Keduanya nya pun langsung terdiam saat Marsel sedikit tegas. "Sebelumnya saya minta maaf jika berbicara sedikit keras,tapi di sini,saya sebagai dokter yang menangani istri bapak,ingin menjelaskan jika terjadi kesalahpahaman antara bapak dan juga ibu." Marsel menghembuskan nafas nya terlebih dahulu.
__ADS_1
"Jadi begini pak, walaupun bapak dan istri baru saja menikah dua Minggu lalu atau pun sebulan lalu,tapi hari pertama haid terakhir si istri tetap pada tanggal yang sama,tetap saja,saya akan mengatakan kandungan istri bapak sudah 6 Minggu,karena perkiraan kehamilan itu bukan di lihat dari kapan anda berhubungan tapi kapan istri anda terakhir haid." Marsel mencoba untuk menjelaskan.