Qiaraa 2

Qiaraa 2
18.Posesif


__ADS_3

"Tapi sekarang Dinda masih kerja sama Angga kan?" tanya Erwin lagi.


"Masih,sesekali gue juga suka ke sana,eemm btw abis dari sini anterin gue dulu yah ke rumah Dinda, sekarang dia kan lagi libur." ajak Marsel.


"Mau ngapain loe ke rumah mah, jangan jangan loe mau nyari kesempatan yah,hehehe." Erwin tertawa kecil.


"Bener bener yah,otak loe ngeres aja,makanya cuci tuh otak biar bersih dikit,biar pikiran loe lebih positif." Marsel mengacak rambut Erwin.


"Ah,s****n loe,ya udah ayo ayo, daripada loe ceramah terus di sini." Erwin merapikan rambut nya.


"Nah gitu dong." Marsel pun tersenyum.


***


Sementara di tempat lain,terlihat Qiaraa baru saja keluar dari ruangan dokter,ia baru saja mengecek kondisi nya.


"Bagaimana sayang,apa semuanya baik baik saja?" tanya Intan.


"Alhamdulillah mah,baik kok." Qiaraa tersenyum.


"Syukurlah,eemm kita mau langsung pulang atau bagaimana?" tanya Intan.


"Langsung pulang aja mah." ucap Qiaraa.


"Di luar panas banget,mending mama panggil taksi dulu yah, setelah itu langsung jemput kamu di loby depan." ucap Intan.


"Nggak papa mah, Qiaraa kuat kok." jawab nya sambil tersenyum.


"Ya udah." Intan pun tersenyum, setelah itu ia dan juga Qiaraa langsung ke depan rumah sakit,dan menunggu taksi yang lewat.


Saat mereka sedang menunggu, tiba-tiba ada sebuah mobil yang berhenti tepat di depan mereka.

__ADS_1


"Qiaraa, mama,ngapain di luar?" tanya Angga.


"Kita nunggu taksi mas." jawab Qiaraa.


"Ya udah,ayo masuk mobil dulu." Angga terlihat khawatir melihat istrinya.


Saat mereka sudah masuk Angga pun mulai bertanya. "Mah,kenapa harus naik taksi sih,Angga kira mama bawa mobil sendiri buat nganter Qiaraa ke rumah sakit, cuaca nya panas banget di luar, Qiaraa juga kan belum pulih total." Angga terlihat marah.


"Jangan marah sama mama mas,aku kok yang memang minta naik taksi,kasian mama kalau harus nyetir sendiri." ucap Qiaraa.


"Tadi mama udah mau bawa mobil,tapi Qiaraa minta mama buat naik taksi aja,maafin mama yah,kalau tau kita akan pulang tengah hari begini,mama juga mendingan bawa mobil sendiri kok." Intan merasa bersalah.


"Bener mas,jangan nyalahin mama yah." ucap Qiaraa.


"Ya sudah,tapi lain kali jangan kayak gini lagi yah,mas cuma khawatir kalau kalian kenapa napa." ucap Angga, terlihat sangat khawatir.


("Sebenarnya mas Angga kenapa sih,memang sih dia bilang cuma khawatir,tapi kenapa aku merasa ada yang beda,atau ada sesuatu yang mas Angga sembunyikan, sepertinya biar nanti aku tanya di rumah saja.") batin Qiaraa.


Yah,Angga sangat khawatir dengan Qiaraa,ia takut Citra akan melukai lagi istrinya itu,apa lagi saat ia mengetahuinya dari polisi bahwa Citra masih belum di temukan, pikiran nya menjadi was was dan lebih posesif.


"Iyah mas." jawab Qiaraa.


Kini Angga pun langsung mengendarai mobilnya, sepanjang perjalanan, pikiran Angga menjadi tak karuan,ia tak bisa tenang,jika Citra belum di temukan,karena bisa saja dia berbuat yang lebih jahat lagi dari sekedar menabrak Qiaraa waktu itu.


Beberapa saat kemudian, mereka pun sampai di rumah,Angga yang kebetulan hari ini libur pun langsung ikut masuk ke dalam.


"Makasih yah mah udah anterin Qiaraa check up,maaf udah ngerepotin mama." ucap Qiaraa saat mereka berada di dalam rumah.


"Nggak ngerepotin sama sekali sayang, justru mama seneng bisa antar menantu mama yang cantik ini." Intan gemas melihat wajah Qiaraa,entah kenapa setelah melahirkan kecantikan nya jadi semakin terpancar.


"Kalau begitu,Angga bawa Qiaraa ke kamar yah mah,mama juga istirahat!" ucap Angga.

__ADS_1


"Iyah sayang." Intan pun tersenyum, setelah itu ia langsung berjalan ke arah kamar nya.


"Ayo sayang,kamu harus istirahat!" ucap Angga, sambil merangkul Qiaraa.


"Iyah mas." Qiaraa tersenyum, setelah mereka berjalan ke arah kamar nya.


Setelah mereka berada di dalam kamar,Qiaraa pun menghempaskan tubuhnya ke sofa,lalu menarik tangan Angga yang masih berdiri di dekat nya.


"Ada apa sayang?" Angga terkejut saat Qiaraa menarik tangan nya.


"Sebenarnya apa yang terjadi mas,kenapa mas seperti menyimpan sesuatu,apa jangan jangan ini ada hubungannya dengan orang yang menabrak ku,apa orang nya sudah ketemu mas?" Qiaraa tampak penasaran.


("Sebenarnya aku tak mau mengatakan pada Qiaraa kalau orang itu sudah di ketahui,aku hanya takut Qiaraa menjadi kepikiran,tapi sepertinya Qiaraa juga harus tau,agar dia bisa lebih berhati hati, apalagi Citra belum di temukan saat ini.") batin Angga.


"Kenapa diam mas,ayo katakan,aku juga ingin tau." Qiaraa sepertinya sangat penasaran.


"Sebenarnya polisi sudah menemukan siapa pelakunya nya,dan orang itu adalah... Citra." ucap Angga.


"Ternyata dugaan kita benar mas, Citra yang sudah menabrak ku,lantas sekarang bagaimana,apa dia sudah di tangkap?" tanya Qiaraa.


"Polisi tidak menemukan dia di rumah nya, sepertinya dia sudah kabur,tapi polisi sudah menindaklanjuti,dan sekarang Citra di tetap kan sebagai buronan,mas hanya minta agar kamu lebih berhati hati lagi sekarang,mas khawatir dia akan berbuat nekat bahkan lebih dari kemarin." Angga memperingati.


"Iyah mas aku akan lebih berhati-hati." ucap Qiaraa.


("Sepertinya Citra memang belum ikhlas jika aku hidup bahagia bersama Angga, walaupun mungkin aku juga salah karena malah menikah dengan Angga,tapi jika dia tidak berkhianat,Angga juga pasti akan memilih dia di banding aku yang baru dia kenal.") batin Qiaraa.


"Kamu kenapa sayang." tanya Angga,saat ia melihat ekspresi Qiaraa berbeda.


"Mas, sepertinya Citra memang tak suka melihat kita bahagia, secara dia dan mas dulu saling mencintai,aku jadi merasa bersalah,mungkin jika aku tak hadir di antara kalian berdua,mungkin sekarang kalian sudah bahagia." ucap Qiaraa.


"Sayang,mas tidak suka kamu bicara begitu,kamu sama sekali tidak merebut mas dari dia, justru dengan hadirnya kamu di hidup mas,kamu berhasil membuka keburukan Citra,mas sudah di bodohi oleh wanita itu selama bertahun-tahun sayang,dan sejak kamu hadir,kamu bisa membuat mas mengerti apa itu cinta yang sesungguhnya,bukan hanya nafsu semata,jadi jelas,semua ini bukan salah kamu,kamu jangan berpikir seperti itu yah." Angga memeluk Qiaraa.

__ADS_1


"Maafin aku yah mas,tapi tetap saja aku merasa bersalah." Qiaraa meneteskan air mata nya.


"Lihat mas sayang." Angga memegang kedua pipi Qiaraa.


__ADS_2