
Namun ketika saat ini,ia melihat wajah cantik Qiaraa seperti nya terlihat sangat sendu,matanya sembab, wajah nya pucat, membuat Dinda tak tega melihatnya,ia pun merasakan bagaimana rasanya bila berada di posisi Qiaraa saat ini, hatinya pasti sangat hancur kehilangan bayi yang sudah sangat ia nanti nanti kan.
"Aku tau,kamu pasti sangat terpukul dengan kehilangan bayimu,tapi kamu harus kuat,ini semua takdir,dan kamu tidak bisa melawan nya." ucap Dinda pelan.
"Aku tak menyangka akan kehilangan dia secepat ini Din,kamu tau sendiri kan bagaimana aku sangat menantikan kehadiran nya selama ini,tapi apa yang terjadi,aku sangat bo*oh menjadi seorang ibu,aku tidak bisa menjaganya dengan baik,hiks hiks hiks." Qiaraa menyalahkan dirinya.
"Jangan pernah salahkan dirimu sendiri,aku tau,pasti kau sudah berusaha yang terbaik untuk menjaga bayimu,tapi sepertinya Allah lebih menyayangi nya,kamu harus ikhlas." Dinda mengelus punggung Qiaraa.
"Aku salah Din,aku yang salah, kenapa tidak aku saja yang meninggal,bukan bayiku,kenapa harus aku,hiks hiks hiks." Qiaraa tak bisa mengontrol dirinya.
"Sttttt,kamu tidak boleh berkata seperti itu,apa kamu tidak kasian melihat pria di belakang mu,suamimu pasti sangat sedih mendengar kamu berkata seperti itu,dia sangat mencintai mu Ra,dia adalah pria terbaik yang memang di takdir kan untuk bisa mendampingi mu dalam kondisi apapun,aku yakin,Allah akan menggantikan kehadiran bayimu setelah kejadian ini." Dinda menenangkan Qiaraa.
Qiaraa pun menoleh ke belakang, menatap wajah Suaminya dengan lekat. "Maafkan aku mas?" ucap Qiaraa.
"Tidak apa-apa, aku mengerti sayang." Angga mengelus punggung Qiaraa.
"Kau sudah terlalu lama di sini,lebih baik kita pulang, ini juga sudah terlalu sore,kau tidak boleh egois, tubuh mu juga masih harus banyak istirahat." ucap Dinda.
"Tapi,aku mau temenin bayi aku,aku nggak bisa tinggalkan dia sendiri di sini,enggak." Qiaraa masih belum bisa meninggalkan tempat tersebut.
"Ra,bayi mu sudah tenang di surga,dia juga akan sangat sedih bila melihat mamanya seperti ini,kamu harus pulang yah,dia pasti bakalan sedih kalau kamu terus seperti ini,kita pulang yah." Dinda mencoba untuk membujuk Qiaraa.
"Hiks hiks hiks." Qiaraa menangis lagi di pelukan Dinda.
"Ayo,bawa Qiaraa ke mobil!" ucap Dinda pada Angga.
Pelan pelan Angga pun merangkul Qiaraa,ia memapah tubuh istri nya itu yang masih sangat lemah,dengan di bantu oleh Dinda, walaupun awalnya Qiaraa tak mau,tapi dengan nasehat dari Dinda, akhirnya Qiaraa pun mau di ajak pulang.
Mereka pun langsung menaiki mobil,menuju ke rumah utama Wijaya,di mana yang lain pun Sedang berada di sana.
Sepanjang perjalanan, Qiaraa masih saja menangis,walau bagaimanapun ia masih sangat teringat akan bayinya.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian, mereka pun sampai di rumah,Intan yang mengetahui mereka pulang pun langsung menghampiri nya,dari tadi ia menunggu Qiaraa dan juga Angga pulang.
"Kamu sudah pulang Sayang?" Intan menghampiri mereka, Qiaraa pun mengangguk.
"Boleh aku bawa Qiaraa ke kamar Tante?" tanya Dinda.
"Boleh sayang." ucap Intan,ia mengerti jika Qiaraa belum mau berbicara,ia masih dalam kondisi yang sangat rentan.
Qiaraa pun langsung di bawa ke kamar oleh Dinda dan juga Suaminya, mereka membaringkan Qiaraa di atas tempat tidur.
"Kamu makan dulu yah sayang,biar mas ambilkan!" ucap Angga.
"Aku nggak lapar mas." ucap Qiaraa,tanpa melihat ke arah Angga.
Dinda melihat ke arah Angga,ia pun mengangguk,Angga mengerti dengan apa yang Dinda pikirkan,ia pun langsung keluar dari kamar tersebut.
Setelah Angga keluar,Dinda pun memberikan Qiaraa pengertian,namun Qiaraa belum mau makan. "Ya sudah,jika belum mau makan,kamu tidur yah,kamu harus istirahat." ucap Dinda.
"Bagaimana Din,apa Qiaraa mau makan?" tanya Angga cemas.
"Dia belum mau makan,tapi sekarang dia sedang tidur, sepertinya dia sangat lelah sekali." Dinda duduk di samping Marsel.
"Makasih yah,kamu sudah mau bantu,aku benar-benar tidak tau harus bagaimana tadi jika nggak ada kamu, Qiaraa sangat sulit untuk di bujuk." ucap Angga.
"Iyah,aku mengerti,dia hanya butuh perhatian lebih,aku harap,kau bisa memberikan nya, untuk beberapa hari ke depan,kamu temani saja dia dulu di rumah,biar aku yang handle pekerjaan di kantor." ucap Dinda.
Dinda yang berkerja menjadi sekertaris nya Angga pun mengerti bahwa saat ini Qiaraa sangat butuh dukungan dari orang terdekat nya, yaitu Suaminya,dengan begitu ia pun memberikan ide seperti itu.
"Baiklah, sekali lagi terimakasih." ucap Angga,Dinda pun hanya mengangguk.
"Kamu mau pulang sekarang sayang?" tanya Marsel.
__ADS_1
"Iyah." jawab Dinda.
"Kalau begitu,biar aku anterin." ucap Marsel.
"Apakah,lebih baik kamu menginap saja di sini nak!" ucap Intan.
"Tidak usah Tante,Dinda pulang saja." ucap Dinda sungkan.
"Ya sudah,kamu hati hati yah,Marsel,kamu jaga calon menantu mama dengan baik yah,anterin sampai depan rumah nya." Intan memberikan peringatan.
"Iyah mah,sampai dalam rumah nya pun Marsel siap." ucap Marsel sambil terkekeh.
"Itu mah mau nya kamu aja,awas yah kalau kamu macam macam,kalian kan belum menikah!" ucap Intan berdecak kesal.
"Iyah mah,Marsel paham kok." jawabnya.
"Kalau begitu,Dinda pamit yah,Tante,om,Angga." ucap Dinda.
"Iyah nak,hati hati yah,kalau Marsel nakal,kamu jewer aja Kuping nya." ucap Wijaya yang tau kelakuan anaknya itu yang sedikit nakal.
"Papa gitu amat sama anak sendiri." Marsel tak terima dengan ucapan papa nya.
"Tenang pah,Dinda pawang nya,dia akan jinak jika Deket sama Dinda." ucap Intan.
"Ini lagi mama,sama aja sama papa,suka ngeledek." Marsel kesal dengan mama juga papa nya yang sangat suka mengejek dirinya.
"Sudah sudah,nanti keburu larut malam,kasian Dinda,pasti dia sangat capek,dari pulang kantor tadi langsung kesini,dia butuh istirahat." ucap Angga menengahi.
"Ya udah,kita jalan yah." ucap Marsel.
Sebelum keluar,Dinda pun mencium tangan calon mertua nya, setelah itu mereka pun langsung berjalan keluar,dan menaiki mobil,Marsel pun melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju rumah Dinda.
__ADS_1