Qiaraa 2

Qiaraa 2
20.Curhat


__ADS_3

Namun ketika Dinda kembali ke tempat tadi,ia tak menemukan laki laki itu di tempat nya. "Kemana dia,kenapa dia sudah tidak ada?" Dinda melihat sekeliling.


("Sebaiknya aku pulang saja dulu,karena walaupun aku kejar Marsel sekarang,dia pasti nggak akan percaya karena dia lagi dalam keadaan emosi, sebaiknya aku tunggu dia supaya tenang dulu.") batin Dinda.


Karena tak menemukan orang tadi,Dinda pun akhirnya pulang,ia akan memikirkan bagaimana caranya agar Marsel bisa percaya kalau dia benar benar tidak ada hubungan nya dengan pria tadi.


***


Malam Hari


Sementara di tempat lain,Marsel baru saja sampai di rumah nya,saat ia masuk ke dalam rumah, wajah nya tampak penuh amarah,Qiaraa yang sedang berada di ruang tamu pun sedikit heran dengan tingkah Marsel yang tak seperti biasanya.


"Marsel kenapa sih,kok kayak lagi marah gitu?" gumam Qiaraa.


Tak lama kemudian,Angga pun datang,ia langsung menghampiri Qiaraa. "Kenapa sayang,kok kayak lagi bingung gitu?" tanya Angga.


"Itu mas,Marsel kayaknya lagi ada masalah,enggak seperti biasanya dia nggak nyapa aku, wajahnya juga seperti sedang emosi." ucap Qiaraa.


"Ya udah,biar nanti mas yang tanya." ucap Angga.


"Eemm,tapi mas,boleh nggak kalau aku aja yang nyamperin dia?" ucap Qiaraa ragu.


"Ya udah boleh,tapi abis itu langsung istirahat yah,mas mau ke minimarket dulu sebentar, pembalut kamu abis kan?" ucap Angga.


"Iyah mas,hati hati." ucap Qiaraa.


"Iyah Sayang." Angga tersenyum sambil mengusap rambut Qiaraa, setelah itu ia langsung berjalan keluar.


Setelah melihat suaminya pergi,Qiaraa pun langsung berjalan menuju kamar Marsel.


Tok... tok...tok...


Qiaraa mengetuk pintu kamar Marsel. "Sel,buka pintunya Sebentar,ini aku." ucap Qiaraa.


Tak lama Kemudian,Marsel pun langsung membuka pintunya. "Iyah kak." ucap Marsel.

__ADS_1


"Sudah ku bilang, panggil nama saja." ucap Qiaraa.


"Iyah ada apa Ra?" Marsel mengulang pertanyaan nya.


"Boleh bicara sebentar?" tanya Qiaraa.


Marsel menghembuskan nafasnya. "Di mana?" tanya Marsel.


"Eemm bagaimana kalau kita ngobrol di depan,sambil menikmati udara segar." ajak Qiaraa.


"Baiklah." Marsel menurut.


Walaupun Marsel merasa tidak mood untuk berbicara,namun entah kenapa kalau Qiaraa yang mengajak nya bicara,ia tak bisa menolaknya.


Kini mereka pun langsung berjalan ke depan, keduanya duduk di bangku taman.


"Jadi,ada apa Ra?" Marsel menghembuskan nafasnya.


"Ada masalah apa kalian?" tanya Qiaraa tiba tiba.


"Maksud nya?" Marsel belum mengerti.


("Qiaraa tau dari mana,aku sedang bertengkar dengan Dinda,atau Dinda sudah berbicara sama Qiaraa tadi.") batin Marsel,ia termenung.


"Sel,dalam hubungan itu, pasti akan selalu ada masalah,tapi kamu harus yakin,jika semua itu hanya ujian dalam hubungan kalian, apalagi kalian Sebentar lagi akan menikah,jadi,masalah itu pasti akan menghampiri." ucap Qiaraa.


"Apa Dinda mengadu padamu?" tanya Marsel.


"Tidak sama sekali,bahkan hari ini dia belum menelpon ku,tapi aku hanya ingin bilang,apa pun masalah yang sedang kalian hadapi,kalian harus saling percaya." ucap Qiaraa.


Marsel terdiam sejenak,ia berpikir sepertinya ia harus menceritakan apa yang sedang terjadi pada Qiaraa.


"Dinda tidur dengan laki laki lain, padahal dia sudah berjanji untuk tidak akan terjun ke pekerjaan nya lagi." ucap Marsel tiba tiba.


"Apa kamu ada bukti,atau ada seseorang yang memprovokasi kalian?" Tanya Qiaraa. "Di sini aku tidak membela Dinda sama sekali,tapi aku sangat tau bagaimana sifat nya,dia tidak akan melakukan hal itu sel, percayalah." ucap Qiaraa.

__ADS_1


"Tadi saat kita sedang makan, tiba-tiba ada seorang laki-laki yang menghampiri kita,dan dia bilang kalau mereka sudah tidur bersama tadi malam." ucap Marsel.


"Apakah kamu percaya?" tanya Qiaraa.


"Sebenarnya aku tidak percaya,tapi nggak mungkin kan,laki laki itu bicara seperti itu kalau tidak ada maksud nya?" ucap Marsel.


"Nah itu dia,laki laki itu punya maksud tertentu,bisa jadi dia hanya ingin kalian bertengkar,bisa jadi,pria tersebut hanya iri karena melihat kalian bersama,atau nggak,dia hanya di suruh oleh seseorang." ucap Qiaraa.


"Entahlah,aku masih belum bisa memastikan kebenaran nya." Marsel masih bingung.


"Saran ku,jika kamu ada masalah,maka solusinya adalah membicarakan nya baik baik,jangan malah menghindar seperti ini, bukankah kalian saling mencintai?" ucap Qiaraa.


("Qiaraa benar,aku tak boleh percaya begitu saja sama laki laki tadi,lagi pula, seharusnya aku bisa lebih percaya sama Dinda,dan seharusnya aku lebih bisa memahami nya,karena aku yang dari awal tau konsekuensinya untuk bisa menerima masa lalu Dinda,jadi,jika hari ini terjadi seperti ini,aku harus bisa menerima.") batin Marsel.


"Iyah Ra,aku sangat mencintai Dinda,aku tak peduli dengan masa lalu nya,dan untuk masalah ini, sebaiknya aku harus berbicara dengan nya secara baik baik." Marsel sudah bisa berpikir dengan jernih.


"Nah itu yang aku maksud." ucap Qiaraa,ia bisa bernafas lega karena Marsel mau mendengarkan nya.


"Kalau begitu, sekarang aku harus temui dia,Dinda pasti sangat kecewa karena aku langsung pergi begitu saja tadi, padahal dia belum memberikan penjelasan." ucap Marsel.


"Pergilah! jangan sampai kamu menyesal nantinya." ucap Qiaraa.


"Makasih Ra,aku bisa lebih lega saat mengobrol dengan mu, ternyata sangat menyenangkan bila punya kakak perempuan,tidak seperti bang Angga yang cuek sekali dengan ku." Marsel menghembuskan nafasnya.


"Walaupun dia terlihat cuek,tapi percayalah,dia sangat menyayangi mu!" Qiaraa tersenyum.


Saat mereka masih duduk di sana, tiba-tiba Angga datang,ia langsung menghampiri nya.


"Sayang kenapa malam malam duduk di sini, pasti anak tengil ini yang ajak kamu yah,masuk masuk! kamu jangan terlalu lama kena angin malam!" Angga khawatir dengan kondisi Qiaraa.


"Apaan sih bang, orang istri Abang sendiri yang ngajak ngobrol di sini,curigaan banget sama adek sendiri." Marsel tak menerima perkataan Angga.


"Iyah mas,aku yang ngajak Marsel ngobrol di sini,selain dari aku ingin menghirup udara segar,aku nggak enak juga kan kalau harus ngobrol di kamar, soalnya kayaknya Ade kamu ini nggak mau keluar kamar deh kalau nggak aku yang ajak,hehehe." Qiaraa terkekeh.


"Tuh dengerin,makanya jadi Abang itu harus lebih perhatikan sama Ade nya,jangan kayak kanebo kering, garing!" ucap Marsel, meledek Angga yang terlihat cuek.

__ADS_1


"Nggak sopan yah ngatain kanebo kering segala." Angga terlihat kesal.


"Udah udah,sana sel katanya mau pergi?" Qiaraa memberikan kode pada Marsel.


__ADS_2