
"Kamu harus mengetahui siapa pelakunya,mama tidak akan membiarkan orang itu bebas begitu saja,kita harus membawa orang tersebut masuk ke dalam penjara." ucap Intan.
"Iyah mah, setelah Qiaraa sadar dan keadaan bayi kita membaik,aku akan mencari tau kebenaran nya,aku tak akan membiarkan nya hidup tenang, siapapun orangnya." ucap Angga,ia sepertinya sudah sangat emosi hanya dengan membayangkan nya saja.
"Mama mau lihat keadaan Qiaraa dulu." Intan langsung menghampiri Qiaraa.
Qiaraa terlihat sangat pucat,ia masih Belum sadarkan diri, Intan sangat cemas melihat kondisi menantu nya itu.
"Sayang,kamu cepat sadar yah nak!" Intan memegang tangan Qiaraa.
"Apa mama bisa lihat bayi kalian?" tanya Intan tiba-tiba.
"Belum tahu mah,Angga juga belum melihatnya." ucap Angga.
"Kalau begitu kita lihat dulu, Qiaraa biar suster saja yang jaga sementara,ayo kita ke ruang NICU!" Intan berjalan, Angga pun mengangguk, kemudian mereka keluar dari ruangan tersebut.
Beberapa saat setelah menitipkan Qiaraa pada suster, mereka pun langsung ke ruang NICU, kebetulan saat mereka sampai, dokter baru saja keluar dari ruangan tersebut.
"Bagaimana keadaan bayi saya Dok,apa kami bisa melihatnya ke dalam?" tanya Angga.
"Maaf pak, untuk saat ini keadaan bayi bapak sangat kritis,dan belum bisa di lihat selain oleh perawat,bapak hanya bisa melihat lewat kaca saja di luar ruangan,saya permisi dulu!" ucap dokter tersebut, yang langsung pergi dari tempat tersebut.
Angga dan Intan pun menghampiri kaca, dimana mereka bisa melihat bayi yang terlihat masih sangat kecil itu,Angga meneteskan air matanya, melihat bayi yang lahir sekecil itu.
"Dia lucu sekali mah,tapi kenapa begitu banyak alat di tubuh nya,aku sangat kasihan melihatnya mah." Angga meneteskan air matanya.
"Kamu yang sabar yah nak, semua ini sudah takdir,kamu harus bisa menerima nya." Intan mengusap punggung Angga, yang sedang melihat ke arah bayi nya.
Namun,saat mereka sedang melihat ke arah bayi nya, tiba tiba bayi tersebut menangis kejang,Angga pun langsung panik.
"Bayi ku kenapa mah,aku harus Panggil dokter?" Angga terlihat sangat panik.
__ADS_1
"Cepat,kamu Panggil dokter sekarang!" ucap Intan yang juga ikut panik.
Tanpa pikir panjang,Angga pun langsung berlari,ia memanggil dokter untuk melihat keadaan bayi nya, beberapa saat kemudian, dokter pun bergegas untuk melihat kondisi bayi tersebut.
"Bapak dilarang masuk, tunggu saja di luar,biar saya yang tangani!" ucap dokter tersebut saat Angga akan ikut masuk.
"Tapi dok,saya ayahnya,saya ingin melihat keadaan nya,dok,saya mau lihat anak saya Dok," ucap Angga,namun dokter menutup pintu nya dengan cepat.
"Sudah nak,biar dokter saja yang menangani nya,kita tunggu saja di sini,kita lihat dari sana,ayo!" Intan menenangkan Angga.
Mereka pun melihat dari kaca seperti sebelumnya,Angga sangat panik begitu pun dengan Intan ketika melihat bayi mereka sedang di tangani oleh dokter.
("Selamatkan lah cucuku yaa Allah,aku tak bisa membayangkan bagaimana kalau dia tidak bisa di selamatkan.") batin Intan.
Intan dan Angga begitu terkejut, ketika melihat dokter sepertinya mencopot alat alat yang ada di tubuh bayi tersebut,bayi nya pun sudah berhenti menangis sejak tadi,namun itu malah semakin membuat keduanya semakin panik.
"Kenapa alatnya di lepas mah,ada apa ini?" ucap Angga dengan begitu panik.
Beberapa saat kemudian, dokter pun keluar dari ruangan tersebut.
"Mohon maaf pak,kita sudah berusaha semaksimal mungkin,tapi bayi bapak tidak bisa di selamatkan, keadaan nya sangat lemah,dia sudah meninggal dunia." ucap dokter tersebut,penuh sesal.
"Dokter bohong kan,nggak mungkin anak saya meninggal, dokter pasti bohong." Angga langsung menerobos masuk.
"Saya mau lihat dok!" ucap Intan sambil meneteskan air matanya, melihat putranya yang terlihat sangat hancur.
"Silahkan!" ucap dokter tersebut.
Intan pun langsung mengikuti Angga,masuk ke dalam untuk melihat keadaan bayi nya.
Angga gemetar melihat bayi kecil yang terlihat sudah tak bernafas lagi,ia langsung mengambil nya dari inkubator,Angga langsung menggendong dan memeluk nya.
__ADS_1
"Anak papa,sayang,hiks hiks hiks." Angga menggendong nya dan memeluk nya. "Kenapa kamu harus tinggalkan kita secepat ini nak,maafin papa yang tidak bisa menjaga kamu yah nak,papa memang yang salah,papa yang salah,hiks hiks hiks." Angga terus memeluk bayinya.
"Kamu yang sabar yah,mama tau ini tak mudah untuk kalian,tapi kita tidak bisa menyalahkan takdir,kamu juga jangan menyalahkan diri mu sendiri,semuanya sudah menjadi ketentuan nya." Intan memeluk keduanya.
Saat mereka sedang menangis tiba tiba suster datang menghampiri keduanya. "Pasien atas nama nyonya Qiaraa sudah siuman pak,dia menanyakan Suaminya." ucap suster tersebut.
"Istri saya sudah sadar." ucap Angga.
"Iyah,betul pak." ucap suster tersebut.
"Bagaimana aku harus bertemu dengan Qiaraa mah,aku bingung harus berkata apa,apa yang harus aku katakan padanya?" ucap Angga,ia sangat bingung.
"Mau bagaimana pun kamu harus menemui nya dan mengatakan yang sebenarnya nya nak,biar mama yang urus bayi kamu, sekarang kamu temui Qiaraa!" Intan mengambil bayi dari pangkuan Angga.
"Iyah mah,setelah selesai,aku akan kembali lagi." ucap Angga,ia menghapus air matanya,ia tak mau kalau sampai Qiaraa cemas melihat nya menangis saat menemui nya nanti,Intan pun langsung mengangguk.
Angga langsung keluar dari ruangan tersebut dan berjalan ke arah ruang VVIP 1 di mana Qiaraa di rawat,saat pintu terbuka,Angga pun langsung memeluk istrinya.
"Mas." ucap Qiaraa,ia membalas pelukan nya.
"Bagaimana keadaan kamu sayang?" Angga melepaskan pelukannya.
"Di mana anak kita mas,bayi kita mana?" ucap Qiaraa,ia malah menanyakan bayi nya,ia tak menjawab pertanyaan Angga.
Deg.
Angga bingung harus menjawab apa, pertanyaan inilah yang ia takutkan dari tadi,namun ternyata, yang Qiaraa tanyakan pertama kali adalah bayi nya, pertanyaan yang membuat nya dilema.
"Bayi kita..." ucapan Angga terbata bata,ia gugup untuk mengatakan yang sebenarnya.
"Bayi kita di mana mas?,aku mau lihat bayi kita,ayo mas kita kesana, anterin aku buat ketemu sama bayi aku mas,ayo!" Ucap Qiaraa,ia sepertinya sangat cemas.
__ADS_1
"Bayi kita sudah meninggal." ucap Angga tiba-tiba membuat Qiaraa terkejut.
"Apa!,kamu bohong kan mas,mana mungkin bayi kita meninggal,aku sudah sangat menantikan nya,nggak mungkin dia meninggalkan aku mas,nggak mungkin hiks hiks hiks." Qiaraa mem*kul dada Angga.