Qiaraa 2

Qiaraa 2
5.Berdukacita


__ADS_3

"Bayi kita sudah meninggal." ucap Angga tiba-tiba membuat Qiaraa terkejut.


"Apa!,kamu bohong kan mas,mana mungkin bayi kita meninggal,aku sudah sangat menantikan nya,nggak mungkin dia meninggalkan aku mas,nggak mungkin hiks hiks hiks." Qiaraa mem*kul dada Angga.


"Keadaan nya sangat lemah,dia tidak bisa bertahan." Angga memeluk Qiaraa.


"Aku nggak percaya mas,ayo aku mau lihat,aku mau peluk bayi aku mas,bawa aku ke sana, hiks hiks hiks." Qiaraa menangis terisak.


"Tapi keadaan kamu masih lemas sayang." Angga cemas.


"Kalau mas nggak bisa nganterin,aku bisa sendiri mas,biar aku yang menemui bayi aku sendiri!" Qiaraa mencoba untuk turun dari ranjang pasien.


"Iyah baik,biar mas yang antar." Angga menghapus air matanya melihat kondisi Istri nya.


Angga pun langsung mengambil kursi roda yang ada di pojok ruangan, kemudian ia menggendong Qiaraa untuk naik ke atas kursi roda,lalu ia pun langsung membawa Qiaraa ke ruangan di mana bayi nya sedang di urus oleh mertuanya.


Intan melihat kedatangan Qiaraa,ia pun langsung menghampiri nya. "Qiaraa." Intan memeluk Qiaraa dengan erat.


"Bayi aku di mana mah?" tanya Qiaraa.


"Ia baru saja selesai di mandikan,dan setelah selesai,kita akan membawanya pulang dan kita akan memakamkan nya, papa,dan juga Marsel menuju ke sini." ucap Intan.


"Apa aku boleh melihat nya dulu." ucap Qiaraa,sambil menghapus kan air matanya.


"Boleh nak, tolong di bantu yah sus!" ucap Intan pada suster yang bertugas.


Qiaraa pun langsung menggendong bayi nya,bayi yang terlihat sangat cantik dan lucu itu terlihat sangat pucat dan kaku,Qiaraa memeluk nya dengan sangat erat.

__ADS_1


"Kenapa kamu cepat sekali meninggalkan kita nak, padahal mama belum sekalipun menyusui kamu,hiks hiks hiks." Qiaraa tak bisa menahan air matanya.


Angga tak bisa menahan tangisnya,ia pun memeluk keduanya,ia tak tega melihat Istrinya yang seperti sangat terpukul dengan kepergian anak mereka yang selama ini sangat mereka nantikan.


"Aku mau ikut pulang mas,aku mau ikut memakamkan bayi kita,aku mau menemani nya di saat saat terakhir nya." ucap Qiaraa.


"Tapi, keadaan kamu belum pulih sayang,kamu masih harus perawatan di sini." ucap Angga.


"Aku mohon mas." ucap Qiaraa memelas.


"Baiklah,aku akan coba bilang sama dokter,kamu tunggu di sini yah,mah aku titip Qiaraa dulu sebentar,aku mau menemukan dokter." ucap Angga.


"Iyah nak." ucap Intan.


Angga pun langsung menemukan dokter, walaupun sedikit ada perdebatan antara keduanya,namun akhirnya dokter menyetujui permintaan Angga, walaupun banyak catatan yang harus Angga turuti demi kesehatan Qiaraa,dan untung saja Angga memilih dokter yang sangat berpengalaman sehingga alat dan obat yang di gunakan untuk operasi Qiaraa bisa terbilang yang paling bagus sehingga Qiaraa bisa cepat pulih, walaupun ada beberapa larangan yang harus dokter ingatkan pada Angga selaku suami pasien.


Selang beberapa waktu, segala sesuatu nya pun sudah selesai, Wijaya dan juga Marsel tampak nya sudah berada di rumah sakit, mereka sangat turut berdukacita dengan apa yang sudah terjadi pada mereka,dan akhirnya mereka pun langsung pulang.


Mereka pun sengaja memilih tempat pemakaman yang tidak terlalu jauh dari rumah,supaya memudahkan proses pemakaman tersebut.


Kini mereka sudah berada di tempat pemakaman, semua orang sudah berkumpul, Hendra ayahnya Qiaraa,Ine ibu sambungnya,dan juga Tasya adiknya pun sudah berada di sana, mereka semua berkumpul bersama.


"Mas,hiks hiks hiks." Qiaraa menangis terisak,saat proses pemakaman tersebut.


"Sabar yah sayang,kamu harus bisa kuat." Angga memeluk Qiaraa.


"Aku mau ikut mas,aku ngga mau biarin bayi kita sendirian di dalam sana,dia nggak ada yang menemaninya mas,aku nggak bisa biarin, hiks hiks hiks." Qiaraa tak bisa mengontrol dirinya.

__ADS_1


"Kamu pasti kuat sayang,kita memang menyayangi nya,tapi Allah lebih menyayangi nya, sehingga ia di ambil secepat ini." Angga mencoba untuk menenangkan Qiaraa.


Beberapa saat kemudian, pemakaman pun selesai,satu persatu orang pamit pulang pada Qiaraa dan juga Angga,mereka mengucapkan bela sungkawa kepada keduanya.


Kini tinggal Angga dan juga Qiaraa yang masih berada di sana,tampaknya Qiaraa masih belum mau pergi dari tempat tersebut.


"Sayang,ayo kita pulang,kamu juga perlu istirahat,kamu belum pulih." ucap Angga khawatir dengan kondisi Qiaraa.


"Nggak mas,aku nggak bisa biarin dia sendiri di sini,aku nggak tega kalau harus tinggalin anak kita mas,dia masih sangat kecil,dia pasti butuh kita mas, hiks hiks hiks." Qiaraa terus menangis terisak.


"Dia sudah di surga sayang,dia tak mungkin sendirian,ayo kita pulang,ini sudah sore,kamu juga belum makan dari tadi." Angga m membujuk Qiaraa.


"Kalau mas mau pulang,pulang aja,aku masih mau di sini!" ucap Qiaraa.


Saat Angga sedang kebingungan, tiba-tiba dari belakang datang seorang wanita yang sangat ia kenal,ia pun memberikan tanda agar bergeser dari samping Qiaraa,Angga pun mengerti,dan mengangguk.


Wanita tersebut berjongkok di samping Qiaraa menggantikan Angga.


"Ra,aku minta maaf baru datang." ucap wanita tersebut.


"Dinda." Qiaraa langsung memeluk nya.


Yah, wanita tersebut adalah Dinda, sahabat baik Qiaraa, yang selalu menemani nya di saat senang maupun susah, tampak nya,ia baru datang karena harus bertanggung jawab dengan pekerjaan nya.


Dinda pun kini sudah bertunangan dengan Marsel,adik Angga,namun mereka belum melangsungkan pernikahan karena waktu itu,Dinda menunggu untuk lulus kuliah.


Dan kebetulan dua Minggu lalu,Dinda baru saja lulus kuliah bersama dengan Qiaraa,karena mereka kuliah di universitas yang sama, waktu itu pun Qiaraa wisuda saat perut nya sudah hamil besar,namun Dinda sangat salut, Qiaraa masih mau melanjutkan pendidikan nya saat itu, walaupun ia tengah hamil.

__ADS_1


Sangat teringat jelas di ingatan Dinda,saat Qiaraa begitu cantik ketika memakai baju kebaya saat wisuda dua Minggu lalu, walaupun ia sedang hamil besar,namun auranya malah semakin memancar, kecantikan nya semakin bersinar saat ia sedang hamil.


Namun ketika saat ini,ia melihat wajah cantik Qiaraa seperti nya terlihat sangat sendu,matanya sembab, wajah nya pucat, membuat Dinda tak tega melihatnya,ia pun merasakan bagaimana rasanya bila berada di posisi Qiaraa saat ini, hatinya pasti sangat hancur kehilangan bayi yang sudah sangat ia nanti nanti kan.


__ADS_2