
"Dew, gue mohon dengerin dulu penjelasan gue, gue ga bermaksut buat gagal in rencana lo itu, gue cuma....Dewi Dew"
pekik Raina yang tetap membuat Dewi melangkah pergi, melihat kepergian Dewi membuat tubuh Raina seketika tak bertenaga, perlahan ia terduduk ditempat duduk yang sebelum nya ia duduki, sudah 2 hari ini Dewi dan Raina tak saling tegur sapa, wajar jika hal ini membuat Raina sangat terpukul, pasal nya Raina dan Dewi biasa nya selalu bersama namun beberapa hari ini tidak, malah Dewi tak mau berbicara sedikit pun pada Raina.
"sabar ya Rain, gue juga bingung kenapa Dewi jadi gitu, cuma perkara niat nembak nya gagal dia jadi marah sama lo"
"gue ga tau La gimana lagi cara nya buat gue jelasin ke Dewi, gue mau minta maaf sama dia, tapi sebentar aja dia ga mau dengerin gue"
ucap Raina yang kini tampak meneteskan air mata, sementara Rayyan yang kini datang dan dengan cepat mengusap air mata dipipi itu
"kok nangis ? kenapa sayang ?"
Tanya Rayyan memperhatikan wajah Raina yang tampak memerah, tak menjawab apa pun, Raina yang kini tiba tiba mendekap tubuh Rayyan dengan erat, isak tangis nya terdengar hingga membuat Rayyan bingung
"jangan nangis Rain, abang ga mau liat kamu nangis, kanapa sih apa karna Dewi lagi ?"
tanya Rayyan yang membuat Raina mengangguk, dan perlahan melepas dekapan nya
"udah lah Rain, ga usah nangis nangis kaya gini lagi, kalau Dewi ga mau temenan sama kamu lagi biarin aja, masih banyak temen lain yang mau temenan sama kamu"
"tapi bang, Raina ga mau Dewi marah sama Raina"
"mungkin dia cuma butuh waktu sayang, setelah dia tenang nanti abang yakin dia akan kembali kok sama kamu tenang aja ya, adik abang ini ga boleh nangis, abang sedih kalau liat kamu nangis, senyum ya sayang"
ucap Rayyan yang membuat Raina mengangguk dan mengusap air mata nya yang telah kembali menetes, memperhatikan pemandangan itu membuat Lala dan Maya tertegun
"seneng nya jadi Raina, bisa peluk mas Rayyan kapan aja, dan bisa dipanggil sayang dimana aja"
batin Maya dengan pandangan tak berkedip
"enak ya jadi Raina punya abang yang perhatian banget sama dia"
batin Lala dengan pandangan yang juga tak berkedip.
"Maya, minta air mineral dong"
ucap Rayyan yang membuat pandangan Maya terbuyar dan kini bergegas memberikan nya
"ini mas"
"makasih"
ucap Rayyan meraih sebotol air mineral dari tangan Maya
__ADS_1
"kamu minum dulu ya Rain, biar tenang"
ucap Rayyan yang lalu memberikan dan membantu Raina minum
"gimana udah sedikit tenang ?"
"alhamdulilah bang udah"
"sabar ya Rain, memutuskan hubungan persahabatan sama lo itu bagi gue rugi Rain, gue aja pengen banget temenan sama lo, tapi gue sadar diri gue kan cuma pelayan kantin yang ga pantes temenan sama kalian, tapi Dewi yang seharus nya dia bersyukur punya temen kaya kalian, malah dia nyia nyia in kalian kaya gini"
ucap Maya yang membuat ketiga nya kini memperhatikan nya
"lo boleh kok temenan sama kita, iya ga Rain ?"
"iya May, bener kata Lala, bagi gue berteman dengan siapa pun itu sama aja, ga ada beda nya"
"iya, mulai sekarang lo boleh kok anggap kita temen lo"
ucap Lala dan Raina yang membuat Maya kini tersenyum
"serius ? kalian mau temenan sama pelayan kantin kaya gue ?"
belum sempat Raina, Lala dan Rayyan menjawab tiba tiba hadir lah Danu yang mendengar semua percakapan nya
sahut Danu dengan memainkan kedua mata nya, hingga membuat Raina, Rayyan juga Lala terkekeh dan menggelengkan kepala.
•••••
"gue ga tau May, tapi gue ngerasa ga suka aja waktu Dewi bilang suka ke abang, kalau lo tanya alasan nya gue ga bisa jawab May, karna gue sendiri aja ga tau apa alasan gue ga suka waktu Dewi bilang suka ke abang"
jawab Raina atas pertanyaan Maya, kala kini ia berdua disebuah taman kota, pertemuan nya kali ini tak disengaja, pasal nya Maya yang setiap sore selalu datang ke taman untuk menjual bunga mawar merah dalam genggaman nya. sementara Raina yang kebetulan juga datang kesini karna ia ingin menghibur diri atas kegundahan nya memikirkan Dewi
"berarti kalau gitu Dewi beneran suka ya sama mas Rayyan ? sampe sampe dia tega marah sama kamu sahabat nya sendiri"
"gue juga ga tau May, gue bingung, gue harus gimana ? atau gue coba deketin aja ya abang sama Dewi ?"
ucap Raina yang membuat Maya terbelalak
"emm apa lo yakin Rain ?"
ucap Maya dengan sedikit khawatir pasal nya ia tak mungkin menjawab penyataan itu dengan jawaban ya, karna itu tanda nya ia pun akan sakit hati kalau Raina benar benar mendekatkan Rayyan dengan Dewi.
"tapi gue ga yakin juga sih"
__ADS_1
jawab Raina yang membuat Maya kini menghela nafas lega
"ohiya, btw lo jualan bunga mawar ?"
"oh iya nih, tiap sore sepulang dari kantin gue selalu mangkal disini buat jual bunga"
"lo hebat ya May, lo masih muda tapi lo punya semangat kerja yang tinggi, kalau boleh tau kenapa lo ga lanjut sekolah aja malah milih jadi pelayan kantin dan penjual bunga ?"
"ga bisa Rain, ada ibu yang harus gue rawat, dia sakit, tiap minggu harus cek ke dokter, dan kalau gue sekolah gimana biaya buat ibu ke dokter ?karna gue udah ga punya bapak"
jawab Maya yang membuat Raina tertegun, tak menyangka se menderita itu hidup nya
"terus kalau lo kerja gini ibu lo dirumah sama siapa, sendiri ?"
"enggak, ada adik gue umur 7 tahun, tapi walaupun kecil dia bisa loh di andal kan"
"loh dia ga sekolah ?"
tanya Raina yang membuat Maya menggelengkan kepala
"enggak Rain, gue ga sanggup biayai sekolah nya, hasil kerja gue cuma cukup buat berobat ibu dan makan sehari hari"
"yaampun, lo bener bener wanita tangguh May, gue salut sama lo. tetep semangat ya, semoga lo selalu dipertemukan dengan orang orang baik yang bisa bantu lo dan keluarga lo"
"amin, makasih ya Rain"
"yaudah itu bunga nya biar gue beli semua ya, ini uang nya"
ucap Raina mengulurkan selembar uang berwarna merah dihadapan Maya, hingga membuat nya terbelalak
"lo serius Rain ? makasih banyak ya. tapi gue ga ada kembalian Rain"
"udah ga papa buat lo aja"
ucap Raina yang membuat mata Maya memerah ia menangis bahagia karna rezeki tak terduga kini menghampiri nya
"makasih banyak Rain, makasih banyak. semoga lo dan keluarga lo selalu dilimpahkan rezeki nya"
"amin"
jawab nya tersenyum dan saling merangkul, tak menyangka gadis cantik ini menanggung beban yang sangat berat, bukan hanya orang tua yang sakit tapi juga ada adik nya yang harus ia perjuangkan hidup nya.
•••••
__ADS_1