
Pagi ini langkah Raina tak sesemangat biasanya. pasalnya ia yang kembali teringat akan perjodohan yang diucapkan sang ayah. hatinya kini bagai rumah tanpa listrik, gelap. tak ada cahaya meski cuaca sedang terik.
"Ayah bener bener nyebelin. Siapa coba laki laki yang mau dijodohin sama gue itu? main jodoh jodohin aja, belum juga kenal," gerutu Raina dengan langkah yang terus berjalan menuju kelasnya.
Namun tiba tiba bruuuuk Raina bertabrakan dengan laki laki berkaca mata dengan penampilan yang sepertinya seorang guru. karena pakaiannya tak jauh beda dengan pak Pur yang memakai kemeja lengan panjang serta celana bahan yang sedikit slim, Tampan, dan usianya sepertinya masih berkepala dua.
Pandangan Raina tak berkedip saat pertama kali ia dapati laki laki itu dihadapannya, laki laki berkaca mata yang sepertinya sangat pintar. karena apa lagi yang menyebabkan matanya minus kalau bukan karena belajar?
"Yaampun mas mas, kalau jalan lihat lihat dong, untung gue ngga jatuh. kalau gue jatuh dan nyungsep lo mau tanggung jawab?" ucap Raina yang membuat laki laki itu mengerutkan dahi.
Tak menjawab apapun, ia yang kemudian melangkah meninggalkan tempat, hingga membuat Raina terbelalak dan melebar mata selebar lebarnya.
"OMG, gue lagi ngomong loh, bukannya didengerin malah pergi gitu aja," gerutu Raina dengan sangat kesal.
Ya wajar saja jika kali ini ia sedikit emosi, lantaran perkara perjodohan yang benar benar membuat otaknya terasa penuh, hingga tak ada lagi celah sedikit pun untuk memikirkan wajah tampan yang baru saja meninggalkannya.
"Hari ini gue lagi kesel, keseeeeeeel banget," ucap Raina kala kini berada diruang kelas bersama Lala.
"Kenapa sih Rain? sampe segitunya."
"Ya lo bayangin aja La, masa gue mau dijodohin sama ayah, gimana ngga kesel coba?" ucap Raina yang membuat Lala terbelalak.
"What? dijodohin sama siapa? sama Rayyan, maksudnya kalian mau nikah gitu?"
"Izz bukan sama abang, sama orang ngga tau siapa gue ngga kenal."
"Hah.. lo ngga kenal? kok bisa."
"Makanya itu La, gue kesel banget, masalahnya ini karena ayah tau perasaan antara gue dan abang, dan dia kan ngga pernah mau kalau antara kita ada hubungan lebih, jadi ya gini main jodoh jodohin gue aja."
"Tapi Rain, kayanya laki laki yang dijodohin sama lo itu orang baik deh, ngga mungkin kan ayah asal jodohin anaknya sama orang yang menurut dia ngga baik, jadi gue yakin jika itu pilihan ayah pasti orang yang baik."
__ADS_1
"Ayah sih bilang aktifitasnya sekarang adalah kuliah sambil kerja."
"Tuh Kan apa gue bilang, jarang loh ada laki laki kaya gitu di jaman sekarang."
"Ihh kenapa bahasa lo jadi sama kaya ayah sih?" ucap Raina setelah mendengar ucapan Lala.
Tak lama kemudian, setelah mendengar bel masuk berbunyi, langkah tegap seorang laki laki berjalan menuju ruang kelas Raina.
"Guru baru, guru baru."
Begitulah hebohnya pada murid kelas X IPA 1.
"Guru baru?" gumam Raina dengan pandangan yang kini terus tertuju pada arah pintu masuk, ia ingin menyaksikan sesuatu yang telah membuat kehebohan dipagi ini.
Langkah tegapnya kini semakin dekat, dengan beberapa buku yang berada di genggamannya, dengan langkah tegap kini tubuhnya hampir terlihat oleh seluruh siswa/i yang telah menyaksikannya dari bangkunya masing masing.
Seketika mata Raina terbelalak setelah kini wajah itu tampak sangat jelas.
"Oh My God," gumam Raina dengan membuang wajah.
"Heh, gantengan juga gue," celetuk Rayyan dengan wajah yang kini enggan memperhatikan laki laki yang saat ini sedang menjadi perhatian itu.
"Jadi ternyata dia guru? aduh gawat, mana gue tadi marah marah lagi sama dia," gumam Raina dengan wajah yang terus menoleh ke kiri, karena ia tak ingin guru itu melihatnya dengan jelas.
"Selamat pagi," sapa guru baru yang membuat semua bersemangat menjawab.
"Pagi pak."
"Kenalin nama saya Gilang Shaga, dan saya yang akan mengajar mapel Matematika kalian hari ini," tambahnya yang membuat suasana seketika riuh.
Kegirangan entah karena apa alasannya, namanya juga anak anak ABG yang selalu terpesona melihat laki laki yang tampak melek sedikit.
__ADS_1
Sebelum memulai pelajaran, kini pandangan Gilang tak terlepas dari Raina yang sedari tadi hanya membuang pandangannya.
"Hemm, kamu. Nama kamu siapa?" tanya Gilang menunjuk Raina, dengan terkejut Raina kini menegakan wajahnya.
Ia pasrah apa pun yang akan terjadi setelah ini, pandanganya tak kuasa menatap wajah yang tadi ia bentak bentak itu.
"Saya Raina pak. sekali lagi saya minta maaf ya pak, soalnya saya tadi ngga tau kalau bapak ternyata guru, saya pikir mas mas magang atau PKL atau apalah sejenis, saya bener bener minta maaf pak," cerocos Raina yang membuat seisi kelas terdiam memperhatikannya, termasuk Rayyan.
Mendengar ucapan panik itu membuat Gilang tertawa dalam hati, dan berkata betapa lucunya gadis mungil ini.
"Sayang, kamu kenapa sih?" sambar Rayyan yang membuat pandangan Gilang kini tertuju padanya.
Mungkin Gilang berfikir bahwa Rayyan adalah pacar Raina, karena terdengar sendiri panggilan sayang itu terlontar dari bibirnya.
Belum sempat Raina menjawab kini Gilang pun segera memulai aktifitas belajarnya pagi ini.
"Sebelumnya ada yang bisa mengisi soal ini?" tanya Gilang seraya menunjuk ke papan tulis yang tertulis sebuah soal matematika yang baru saja ia tulis.
Tak ada satupun yang menjawab, namun tidak untuk Raina dengan mudahnya ia mengangkat tangan dan melangkah maju kedepan.
Tanpa sebuah catatan dengan cepat ia menyelesaikan dua soal yang menurutnya gampang. setelah soal itu selesai dikerjakan Raina kini pun kembali ke tempat duduknya, dan membuat Gilang mengangguk angguk tanda salut dengan otak gadis mungil itu.
"Good job," ucap Gilang dengan terus mengangguk terharu.
"Widih, siapa dulu dong? kesayangan abang," celetuk Rayyan yang membuat ruangan seketika penuh sorak sorai.
Kini Rayyan kembali dengan ketidak seriusannya, celetukan celetukan yang seakan ingin menunjukan bahwa Raina hanyalah miliknya, termasuk pada Gilang yang dianggap semua siswi dikelas ini mempesona.
"Sudah sudah, kita lanjut ya," ucap Gilang yang membuat kelas hening kembali.
Kini semua terfokus pada materi baru yang disampaikan Gilang. dengan gerak luwesnya dan damage nya Gilang mampu menghipnotis para siswa dan siswinya untuk diam. tak ada pandangan lain yang kini dapat dituju, kecuali wajah tampan dengan senyum manis dihadapan itu.
__ADS_1
Lesung pipinya membuat senyumnya lebih menawan, sementara potongan rambutnya yang membuatnya tampak lebih muda dari usia yang sebenarnya. wajar jika penampilan kini menunjang guru satu ini, karena selain seorang guru ternyata Gilang adalah mahasiswa disalah satu Universita terbesar dikota Jakarta, menyandang gelar S1 pendidikan, sebelum ia mencoba meneruskan S2 nya.
••••