
"Katanya abang bakal seneng kalau ternyata kita bukan saudara kandung, tapi kenapa sekarang abang sedih?" tanya Raina yang kini menghampiri Rayyan yang tampak murung dihalaman belakang.
"Siapa yang sedih? abang ngga sedih, abang cuma kepikiran jadi siapa orang tua kandung abang sebenernya? dan emangnya kamu seneng setelah kamu tau kalau kita ternyata bukan saudara kandung?"
"Senanglah, karena itu artinya Raina ngga berdosa kalau Raina suka sama abang," jawab Raina yang membuat Rayyan kini memperhatikannya dengan tajam.
"Tapi ayah kan ngga ngebolehin Rain," ucap Rayyan yang kini membuat ekspresi Raina berubah.
"Iya sih bang, oh mungkin karena kita masih sekolah ya bang, kalau kita udah besar nanti apa ayah masih ngga ngebolehin?" ucap Raina yang membuat Rayyan terdiam.
Mendengar ucapan itu membuat Rayyan kini berfikir, apa iya karena itu alasannya?
"Yaudah kalau emang itu alasannya, abang bakal nunggu kamu sampe kita besar dan ayah ngebolehin kita menikah," ucap Rayyan yang membuat Raina seketika terbatuk.
"Loh kenapa Rain? mau minum? bentar ya abang ambilin dulu," ucap Rayyan yang kini berlari ke dapur untuk mengambilkan segelas air putih untuk Raina.
"Ini diminum dulu, lagian kenapa sih kok tiba tiba batuk batuk gitu?"
"Abaaaaaaaang," teriak Raina tiba tiba yang membuat Rayyan menutup telinga.
"Kenapa sih Rain? teriak teriak,"
"Lagian abang, kenapa bahas nikah sih?"
"Loh emang kamu ngga mau nikah sama abang?" tanya Rayyan yang membuat Raina kembali terdiam.
Ia tertegun dengan ucapan yang disampaikan Rayyan barusan.
"Sayang, ayo jawab, emang kamu ngga mau nikah sama abang?"
"Ngga mau lah bang, kan kita masih kecil masa udah mau nikah aja."
"Ya ngga sekarang lah sayang, besok kalau kamu dan abang udah lulus kuliah, eh tapi kelamaan kalau udah lulus sekolah aja, gimana mau ngga?" ucap Rayyan yang lagi lagi membuat Raina terdiam.
Perasaannya semakin tak karuan setelah mendengar ucapan gila dari Rayyan, apa iya dia akan seserius itu? buat nunggu sampai lulus sekolah dan menikahi Raina?
__ADS_1
"Abang ngomong apa sih?"
"Abang serius sayang, abang ngga lagi bercanda," jawab Rayyan dengan pandangan mata serius.
Tak pernah menyangka akan berujung seperti ini hubungan persaudaraannya, seneng sih dengernya, tapi entah mengapa ada rasa khawatir yang tidak bisa dijelaskan.
"Rain, coba liat abang. sekarang abang pengen tanya sama kamu, kalau seandainya abang minta kamu nunggu abang, kamu mau ngga?" tambah Rayyan yang membuat Raina bener benar tak tau harus berkata apa.
Ucapannya kali ini bukan lagi ucapan Rayyan yang ia kenal, Rayyan yang selalu dengan ucapan bercanda dan selalu tak pernah serius saat berkata. Namun kali ini rasanya ucapan itu lebih dari serius, ditambah lagi tatapan matanya yang seakan berbicara dan memaksanya untuk menjawab Ya, belum saja Raina menjawab kini tiba tiba Maya tak sengaja menjatuhkan sebuah nampan hingga membuat Raina dan Rayyan terperanjak.
"Maya," ucap Raina dam Rayyan secara serentak.
Sangat terkejut setelah Maya tau ucapan Rayyan yang telah disampaikan kepada Raina, terkejut sekaligus patah hati, karena ternyata tak ada kesempatan lagi untuknya menggapai Rayyan.
"Maaf, gue ngga sengaja," ucap Maya yang merasa tak enak hati.
Kini saat Maya hendak melangkahkan kakinya pergi, tiba tiba Raina menahannya.
"Kenapa Rain?"
Maya tak tau apa yang sebenarnya terjadi, hingga berfikir aneh tentang seorang kakak yang mampu mengatakan perasaannya pada sang adik.
"May, duduk dulu ada yang mau gue ceritain ke lo," pinta Raina yang membawa Maya kini terduduk bersamanya dan Rayyan.
"Jadi sebenernya, gue sama abang itu... bukan saudara kandung May," ucap Raina yang membuat Maya terbelalak.
"Dan gue mohon, apapun yang lo denger tadi, jangan lo sampein ke bunda dan ayah ya, gue ngga mau mereka marah, karena mereka ngga pernah mau kalau hubungan gue dan abang lebih dari saudara," tambah Raina yang membuat Maya tetap terdiam.
Ia tertegun entah apa yang harus ia ucapkan pada Raina, jujur ia sangat terkejut dengan apa yang ia dengar saat ini.
"Berarti udah ngga ada kesempatan lagi buat gue dapetin lo mas Rayyan?" batin Maya dengan melirik Rayyan.
"Gue cuma kaget Rain, gue ngga nyangka kalau ternyata kaya gini jadinya, gue fikir selama ini kalian itu dua saudara yang mesra dan selalu romantis, tapi ternyata perasaan kalian lebih dari itu ya," jawab Maya yang membuat Raina dan Rayyan kini menunduk.
"May...."
__ADS_1
"Lo tenang aja mas Ray, gue ngga akan ngomong apapun sama bunda dan ayah, kalian tenang aja ya," sambar Maya yang membuat Raina dan Rayyan menghela nafas lega.
"Ngga ada maksud buat bohong ke orang tua, cuma kita ngga mau mereka mikir yang ngga ngga, dan kalau sampai mereka tau tentang ini, pasti mereka bakal marah May, karena mereka ngga mau kalau hubungan kita lebih dari saudara."
"Ya gue tau mas, lo tenang aja gue akan tutup mulut."
"Thanks May. Thanks."
••••
"Jadi ada hal besar yang ngga gue tau selama ini? terus buat apa gue disini? udah ngga ada lagi harapan buat gue deket sama mas Rayyan, kan mereka udah berkomitmen kaya gitu, hhhhh yaudah lah ya, kayanya gue balik aja ke kerjaan gue semula, gue ngga mau sakit hati liat mereka terus," gumam Maya yang dengan aktifitas di dapurnya.
Tak lama kemudian, Wulan yang kini datang menghampiri.
"May, udah selesai?" tanyanya yang membuat Maya kini menoleh.
"Bunda, iya udah. oiya bunda maaf sebelumnya, sebenernya Maya seneng banget bisa bantu bunda disini, bunda orangnya baik banget. tapi kayanya mulai sekarang Maya ngga bisa lagi bantuin bunda masak deh."
"Loh kenapa May?"
"Kasihan ibu Bun, kalau Maya pulang terlalu malam, jadi kayanya Maya mundur aja ya, kan masih ada kantin yang bisa jadi kerjaan tetep Maya."
"Kalau masalah itu, kamu bisa kok pulang sore sehabis ashar, ngga harus sampai habis magrib."
"Makasih banyak bunda, tapi Maya ngga bisa, maaf ya bun."
"Yasudah kalau itu keputusan kamu, bunda ngga papa. makasih ya May selama ini kamu udah banyak bantuin bunda."
"Sama sama bun, Maya juga terimakasih banyak, bunda adalah orang paling baik yang pernah Maya kenal, sampein juga sama ayah, Maya pamit" ucap Maya yang membuat Wulan mengangguk dan tersenyum.
"Iya nanti bunda sampein."
"Kalau Maya ngga kerja disini lagi, bakal lebih susah nih buat deketin Rayyan sama Maya," batin Wulan dengan pandangan berpaling.
•••••
__ADS_1