
"Loh bun kok masak sendiri, Maya kemana?" tanya Raina pada Wulan yang kini sedang sibuk seorang diri didapur.
"Maya pulang Rain, tadi siang. Dia ngga bisa lagi bantu bunda masak," jawab Wulan yang membuat Raina terdiam.
Ia berfikir apa keluarnya Maya dari rumah ini karena sebuah masalah yang ia lihat tadi?
"Loh kenapa bun? bukannya selama ini dia fine fine aja?"
"Katanya sih kasihan ibunya kalau dia harus pulang malam terus, padahal bunda udah tawarin dia untuk pulang setelah ashar tapi dia tetep ngga mau," jawab Wulan yang membuat Raina mengangguk angguk.
"Oiya Rain, bangunin abang kamu ya, tidur dari tadi kok ngga bangun bangun."
"Oh iya bun," jawab Raina yang lalu melangkah menuju ruang kamar Rayyan.
Perlahan ia membuka pintu kamar yang tak terkunci itu, ia dapati Rayyan yang masih tertidur pulas disana.
"Yaampun abang, kaya kebo deh," gumam Raina yang kini mendekat.
Ia berusaha membangunkannya dengan hati hati, berulang kali panggilannya tak ada sahutan, kali ini Raina akan mengeluarkan jurus andalannya, ya berteriak.
"Abaaaaaaaang," teriak Raina hingga membuat Rayyan seketika terperanjak.
Wajahnya tampak seperti orang bingung dan linglung, namun setelah ia sadar Raina dihadapannya kini ia menghela nafas, dan menggaruk bagian rahangnya yang memang terasa gatal.
"Apaan sih Rain? ngagetin tau ngga."
"Abisnya Abang tidur kaya kebo, tidur dari jam 1 sampe sekarang abis ashar, kenapa belum bangun juga?"
"Iya ngantuk sayang, masih pengen tidur, pengen lanjutin mimpinya," ucap Rayyan yang kini kembali menjatuhkan kepalanya ke bantal.
"Mimpi, mimpi apa?" tanyanya penuh penasaran.
"Mimpiin kamu lah, siapa lagi?" jawab Rayyan yang membuat Raina kali ini tersenyum.
Pandangannya tak hilang dari wajah laki laki yang kini kembali memejamkan mata itu, bibirnya terus tersenyum kala teringat akan gilanya perasaan yang hadir.
Cukup lama dalam lamunan gilanya, kini Raina kembali tersadar akan Rayyan yang bukannya bangun malah tertidur kembali.
"Yaampun abaaaaaaaang, BANGUN!" ucap Raina berteriak yang kembali membuat Rayyan terperanjak.
"Raina, ngga kasihan sama abang? ini ngantuk banget loh, ganggu aja," ucap Rayyan dengan mata yang tampaknya sulit terbuka.
Tak menjawab kini Raina yang lalu meraih tangan Rayyan, dan bermaksut membawanya meninggalkan tempat, namun sayangnya malah kini ia tersungkur karena tak kuat menarik beratnya tubuh Rayyan yang tak seimbang dengan tenaganya.
Yang membuatnya terkejut kali ini adalah, Raina yang justru malah tersungkur kepangkuan Rayyan hingga bibirnya menyentuh pipi laki laki yang masih terus terpejam itu.
__ADS_1
Seketika mata Rayyan terbuka setelah merasakan ada sebuah sentuhan dipipi kanannya.
begitu pun Raina yang kini dengan cepat beranjak dan sedikit menjauh kala ia tersadar, cukup lama bibirnya terhenti di pipi laki laki dihadapannya itu.
"Rain, kok kamu cium abang?" ucap Rayyan yang membuat Raina tak dapat berkata apa apa.
Ia yang masih tertegun dengan apa yang baru saja terjadi.
"Raina ngga sengaja, abis abang berat banget," celetuk Raina yang membuat Rayyan melebarkan mata.
"Enak aja berat, badat atletis gini dibilang berat."
"Ya buktinya Raina malah ketarik abang, sampe Raina nyungsep," ucap Raina yang membuat Rayyan kini tersenyum.
"Ngga papa deh kalau nyungsep nya ke pipi abang, justru abang seneng, sini lagi," ucap Rayyan yang membuat Raina melebarkan mata.
"Iiiihh nyebelin..." racau Raina yang lalu dengan cepat meninggalkan tempat.
Melihat kepergian Raina membuat Rayyan kembali melanjutkan senyumnya, kecupan pertama dari Raina ini benar benar membuatnya gila, ingatannya kali ini terpenuhi dengan bayangan yang terus membuatnya tersenyum, hingga seperti orang gila yang hidupnya hanya untuk tersenyum.
••••
"Malem bunda, Malem ayah," sapa Rayyan yang kali ini penuh semangat.
"Hem. yang abis tidur setengah hari full, sekarang jadi semangat banget," ucap Wulan yang membuat Rayyan terkekeh.
"Kenapa seneng banget sih? apa abang seneng karena tadi..." batin Raina yang lalu dengan cepat menggelengkan kepala.
Rasanya ia malu dengan kejadian yang tak sengaja itu, ia seperti tak punya muka lagi saat berhadapan dengan Rayyan.
Pasalnya ini pertama kali nya, bibir itu mendarat tanpa sengaja disebuah kulit wajah. apa lagi wajah itu milik Rayyan yang notaben nya adalah bukan abang kandung Raina.
"Aaaaaaa," teriak Raina tiba tiba yang membuat semuanya terkejut.
"Raina kenapa sih?" tanya Angga yang terbelalak memperhatikan Raina berteriak.
"Nggg, ngga papa kok yah. ini abang nginjek kaki Raina," jawab Raina beralasan.
"Dih mana bisa? abang kan disini, emang kaki abang panjang?" bantah Rayyan karena ia kali ini tak duduk disamping Raina.
Mendengar jawaban Rayyan membuat Raina menepuk dahinya.
"Aduh, salah jawab lagi," batin Raina menggerutu.
"Udah udah, kalian ini ada ada aja, yaudah dilanjutin makannya, setelah itu belajar, dan tidur besok kalian sekolah."
__ADS_1
"Iya yah."
Kini keluarga bahagia itupun melanjutkan aktifitas makannya.
••••
"Kenapa sih tadi tiba tiba teriak?" tanya Rayyan yang kini berada diruang kamar Raina.
Seperti biasa ia yang hendak menjadi pengganggu saat Raina belajar.
"Ngga papa," jawab Raina cemberut.
"Bohong, hayo apa jawab?"
"Iiih udah dibilang ngga papa juga," jawab Raina yang membuat Rayyan kini tersenyum.
Kembali pandangannya tertuju pada Raina yang berwajah sungut.
"Sayang," panggil Raina yang tak dihiraukan oleh Raina.
Kini Raina terfokus pada beberapa lembar halaman buku yang telah ia lipat itu.
"Dih dicuekin. Sayang," tambah Rayyan yang kali ini bernada manja.
"Say..."
"Apa sih baaaaaang? bawel banget Raina kan lagi belajar jangan ganggu dong."
Mendengar Teriakan itu malah justru membuat Rayyan tambah jadi menggodanya.
"Rain..." panggilnya kali ini malah dengan menunjuk pipi kanannya.
Ia bermaksud menggoda Raina kembali dengan kejadian yang sore tadi membuatnya bahagia.
"Apaan?"
"Ini," jawabnya yang kembali menunjuk pipi kanannya.
"Iiih. kalau gini ceritanya gue ngga akan bisa belajar dengan tenang," gumam Raina yang lalu dengan cepat meraih tangan Rayyan dan membawanya melangkah keluar.
"Loh loh, kok abang diusir Rain? Rain."
Namun Diiiiaaar pintu itu pun tertutup dengan rapat, hingga membuat Rayyan kini terdiam memperhatikan posisinya yang saat ini telah berada diluar ruangan.
Setelah Rayyan tak ada disampingnya lagi, Raina kini tersenyum, lantaran ia teringat akan godaan dan rayuan aneh Rayyan untuknya tadi.
__ADS_1
Ini bukan drama dewasa yang harus dibaca dengan serius, namun ini adalah drama lelucon yang biasa dilakukan Rayyan saat iseng pada Raina, karena Rayyan memanglah orang yang pandai membuat Raina kesal.
•••••