Raina Dan Rayyan

Raina Dan Rayyan
Kecurigaan ayah dan bunda


__ADS_3

"May, minta tolong ya. tadi katanya abang minta kopi, tolong lo anter ya, soal nya gue lagi ngga sempet nih," ucap Raina yang membuat Maya kali ini tersenyum.


Ya karena mendengar nama Rayyan, ia selalu bahagia tiap kali mendengar nama Rayyan. Seperti yang diucapkan Wulan beber waktu yang lalu, Maya yang kini berada dirumah Raina untuk membantu tugas Wulan memasak dan beberes rumah. Dengan cepat kini Maya membuat kopi untuk Rayyan sesuai permintaan Raina, Maya yang kini mengantarkan kopi itu di halaman belakang, karna Rayyan saat ini berada disana.


"Mas Rayyan, ini kopinya," ucap Maya seraya menaruh segelas kopi dimeja.


melihat kedatangan Maya membuat Rayyan terkejut, lantaran ia yang tadi menyuruh Raina bukan Maya, lalu mengapa kini Maya yang datang ?


"Kok lo ? Raina mana, tadi kan gue nyuruh Raina."


"Katanya Raina lagi ga sempet mas, jadi dia minta gue yang buatin kopi buat lo," jawab Maya yang membuat Rayyan terdiam.


"Yaudah makasih ya," tambah Rayyan yang membuat Maya tersenyum.


Tak main main perasaannya kali ini benar benar tak bisa ditahan, tiap kali ada didekat Rayyan hatinya selalu bergetar, dan detak jantung yang tak bisa terkontrol. Dengan Ragu kini Maya ingin mecoba mengutarakan isi hatinya pada Rayyan, ia tak peduli bagaimana hasilnya nanti, yang terpenting Rayyan sudah mengetahui dulu akan perasaannya saat ini.


"Mas, apa gue boleh ngobrol sebentar sama lo?" tanya Maya yang perlahan duduk di sebelah Rayyan.


"Kenapa?"


"Kalau boleh gue tanya, gue mau tau dong, lo pernah ngga ngerasain jatuh cinta ?"


"Engga," jawab Rayyan simple yang membuat Maya mengerutkan dahi.


"Engga?"


"Iya engga, gue ngga pernah jatuh cinta, emang kenapa sih?" jawab Rayyan yang membuat Maya terdiam.

__ADS_1


Mendengar jawaban yang terasa aneh ditelinga nya, masa iya orang seperti Rayyan tak pernah merasakan jatuh cinta, karena jawaban Rayyan tak seperti yang diharapkan, perlahan Maya pun meninggalkan tempat, tanpa berkata apa apa lagi.


"Loh May, kok malah pergi, ngga jadi tanya?" pekik Rayyan pada Maya yang sudah berjalan jauh.


"Aneh banget, nanyain jatuh cinta sama gue, gue mana tau rasanya, yang gue tau cuma perasaan aneh yang gue rasain ke Raina. Bahkan gue sendiri juga ngga tau itu perasaan apa, yang jelas gue sayang sama Raina," tambah Rayyan yang kini merenung.


•••••


"Iya yah, bunda mulai khawatir, kaya nya mereka saling punya rasa deh, apa yang kita takutkan sekarang terjadi, keliatan banget soalnya yah, apa lagi waktu ayah ke Sidney kemarin, pas Rayyan sakit, Raina tu perhatian banget ke Rayyan, bunda rasa itu bukan sekedar perhatian untuk abang dari adiknya."


"Bunda yakin? kalau emang bener, berarti itu ngga boleh terjadi, gimana caranya biar Rayyan dan Raina lupa sama perasaannya masing masing. Aneh aneh aja sih, perasaan apa itu? kan selama ini kita besarin mereka untuk menjadi saudara"


"Namanya juga manusia yah, apa lagi kalau Tuhannya udah menciptakan cinta untuknya, lagian Rayyan dan Raina kan juga bukan saudara kandung, jadi mungkin aja itu bisa terjadi. Tapi yah kalau bunda fikir fikir bukankah lebih baik ya yah? kan mereka emang udah deket dari kecil, dan udah pasti saling kenal, jadi ga membahayakan mereka kan?"


"Maksudnya bunda mau biarin perasaan mereka itu? bunda mau biarin mereka sampe pacaran? atau sampe mereka punya hubungan? engga ya bun, ayah ga mau, sekali ayah bilang engga ya engga, mereka ga boleh saling punya rasa, mereka itu ditakdirkan untuk menjadi saudara, bukan sepasang orang yang saling mencinta."


"Gimana?"


"Maya yah. kaya nya dia bisa bantu kita."


"Maya?"


"Iya, kalau bunda liat kayanya Maya suka deh sama Rayyan, dan kayanya dia bisa bantu kita buat bikin Rayyan lupa sama perasaannya ke Raina."


"Maksut bunda, kita jodohin Rayyan sama Maya?"


"Bukan dijodohin yah, cuma dideketin aja, siapa tau kalau Rayyan deket sama Maya, dia bisa lupa sama perasaannya ke Raina. Tapi sementara ini ayah jangan bilang apapun dulu ya sama mereka, kita jalani dulu rencana kita tanpa sepengetahuan mereka, kita pura pura ga tau aja tentang semua ini," jawab Wulan yang membuat Angga kini terdiam.

__ADS_1


Ia memikirkan rencana yang diucapkan istrinya itu. pasalnya, kini Wulan mulai tau perasaan apa yang hadir kepada kedua anaknya itu. Sementara Angga tak pernah suka dan tak pernah setuju bila diantara persaudaraan mereka hadir perasaan selainnya. Belum selesai pembahasan itu dibicarakan, tiba tiba Raina dan Rayyan kini muncul, berdua dan saling bergandengan tangan, Wulan dan Angga pun tertegun memperhatikan nya. dulu pemandangan seperti ini memang biasa, namun sekarang setelah mereka tau perasaan masing masing anak nya ini, rasanya memang sedikit aneh.


"Bunda, mana uang belanja bulanannya, biar Raina dan abang yang belanja," ucap Raina mengulurkan tangan kehadapan Wulan.


Terdiam sejenak mendengar permintaan Raina, sebelum akhirnya Wulan menjawab.


"Ngga usah Rain, biar Maya aja yang belanja sama Rayyan," ucap Wulan yang membuat Raina melebarkan mata.


"Maya? kenapa ngga Raina aja bun?"


"Kamu bantu bunda masak buat makan siang kita nanti," jawab Wulan beralasan, sebenarnya ini adalah sebagian dari rencananya, untuk mendekatkan Rayyan dan Maya.


"Kalau gitu biar Maya sendiri aja deh bun."


"Loh loh, kok sendiri ya jangan dong Ray, kamu harus anter dia, kasihan dia belanja sendiri," jawab Wulan yang membuat Rayyan pun terdiam, semangatnya seketika patah setelah ia tau bahwa ia gagal pergi bersama Raina.


"Bunda kenapa sih? bukannya biasanya gue yang belanja, kenapa sekarang nyuruh Maya, mana perginya sama abang lagi," batin Raina dengan ekspresi wajah ditekuk.


"Kenapa sama Maya sih? gue kan maunya sama Raina, ahh bunda ga asik," batin Rayyan yang juga dengan ekspresi wajah ditekuk.


"Yaudahlah sana abang pergi aja sama Maya," ucap Raina sewot yang dengan cepat meninggalkan tempat.


"Padahalkan gue pengen pergi sama abang, gara gara bunda abang malah pergi sama Maya, ahh gue kanapa sih? kenapa gue aneh banget? hati gue kesel kalau liat abang dan Maya deket," gerutu Raina setelah kini berada didalam ruang kamarnya.


"Masa iya gue suka sama abang kandung gue sendiri sih? ahh kenapa jadi gini? emangnya gue adik durhaka ya? yaallah kenapa sih Kau ciptakan cinta pada orang yang salah? dia itu abang gue, tapi gue malah suka sama dia, ih menjijikan, kacau kacau hati gue lagi kacau," tambah Raina yang terus berjalan kemari memikirkan tentang hatinya.


•••••••

__ADS_1


__ADS_2