
"Abang, bang. abang, tunggu dong Raina mau bicara, dari kemarin abang susah banget Raina temui, bang please, abang," ucap Raina yang terus mengejar Rayyan melangkah kebut menyusuri koridor sekolah.
Sebuah pemandangan yang membuat penghuni sekolah pagi ini tertegun, pasalnya Rayyan dan Raina tak pernah beradegan seperti ini sebelumnya.
"Abang, berhenti, abang."
tiba tiba brukkkk
"Aduh sakit," desah Raina kala kini ia tersungkur karena terjegal kakinya sendiri, mendengar ******* itu membuat langkah Rayyan seketika terhenti dan segera menolong Raina untuk bangkit.
"Abang mau tolong Raina?" ucap Raina tersenyum, namun mendengar ucapan itu nyatanya tak membuat Rayyan bahagia, justru ia yang kini hendak melangkah pergi kembali.
Namun tangan Raina dengan cepat meraihnya, hingga langkah Rayyan kini terhenti kembali.
"Jangan tinggalin Raina ya, Raina mau bicara sebentar," ucap Raina yang tak dijawab apapun oleh Rayyan.
Rayyan membuang wajahnya, rasanya ia tak sanggup menatap wajah itu lebih lama, karena perasaannya akan lebih tak tak karuan jika wajah itu lebih lama menghiasi bola matanya.
Tak menunggu lama dengan cepat Raina mendekap tubuh Rayyan hingga membuatnya terkejut. begitu pun dengan Gilang yang ternyata sedari tadi memperhatikannya, ia berfikir apa yang akan Raina lakukan, rengekannya kepada Rayyan melebihi rengekan seorang adik ke kakaknya.
"Raina minta maaf ya bang," ucap Raina yang masih dengan dekapannya.
"Kamu fikir mudah Rain? engga semudah itu meminta maaf, setelah kamu menerima pertunangan pak Gilang kamu minta maaf sama abang, kamu anggap apa abang?" jawab Rayyan yang membuat Raina perlahan melepas dekapannya.
Kini pandangannya tertuju tajam pada wajah laki laki tampan yang enggan menatap wajahnya.
"Tapi Raina bener bener ngga tau harus gimana bang, Raina ngga berani nolak ayah, Raina takut."
"Tapi kan ada abang sayang, abang ngga akan biarin kamu dimarah ayah."
"Justru itu bang, Raina lakuin ini biar abang ngga dimarahin ayah, Raina takut abang dikirim ke desa. kalau abang dibawa ke desa sama ayah abang ngga akan ketemu sama Raina lagi, emang abang mau? kalau Raina ngga mau, karena Raina bakal kangen sama abang dan ngga bisa lagi main sama abang."
"Mungkin lebih baik emang begitu Rain. dari pada kaya gini. abang yang selalu ada buat kamu tapi dihati kamu ada laki laki lain."
"Engga bang, dihati Raina cuma ada abang kok, ngga ada yang lain. Raina terima pertunangan itu cuma karena ayah, bukan karena Raina suka atau cinta sama pak Gilang," jawab Raina yang membuat Gilang menunduk.
"Jadi kamu bener bener ngga suka sama saya?" batin Gilang dari kejauhan.
__ADS_1
"Abang percayakan sama Raina? Raina jujur bang, jujur dari lubuh hati Raina yang paling dalam."
Mendengar ucapan itu membuat Rayyan sedikit bisa tersenyum.
"Iya abang percaya kok, berarti ngga akan terjadi pernikahan antara kalian kan?"
"Engga ada kok, hanya sebatas ini aja, itu pun Raina ngga anggap. kalaupun tiba saatnya Raina menikah Raina maunya nikah sama abang," ucap Raina yang membuat Rayyan tersenyum, dan membelai rambut panjang Raina dengan lembut.
"Yaudah kita maafan ya."
"Oke, kita maafan," jawab Raina dengan tersenyum.
Sementara Gilang yang terkejut mendengar ucapan Raina, yang hanya ingin menikah dengan Rayyan.
"Apa maksudnya? bukankah mereka adik kakak? terus apa arti komitmen itu? saya harus cari tau tantang ini," gumam Gilang yang lalu dengan cepat meninggalkan tempat.
••••
Dikantin, sudah beberapa hari ini Danu, Lala, Rayyan dan Raina tak berkumpul dikantin sekolah seperti aktifitas biasanya. namun kali ini mereka is back.
"May, biasa ya," pekik Danu, ya yang selalu bahagia saat bertemu dengan Maya.
"Iya nih May, lagi banyak masalah yang terjadi jadi belum sempet lagi kumpul kaya gini," jawab Lala.
"Biar aja lah May, mereka ngga ke kantin, yang penting gue kan selalu kesini buat nyamperin kamu," sahut Danu dengan memainkan kedua matanya dan membuat Rayyan, Raina dan Lala terkekeh.
Kembalinya suasana seperti ini membuat Maya pun merasa bahagia. ya, meski harapannya terputus kan, tapi ia sadar diri, bahwa dia tidak pantas memiliki perasaan itu pada Rayyan.
Ditengah tengah keseruannya. yang tiba tiba terdiam, setelah melihat kedatangan Gilang dimeja yang tak jauh darinya. Gilang yang kini terduduk dan sebentar mengutik ponselnya sebelum akhirnya memesan makanan dan minuman.
"OMG Raina, pak Gilang ganteng banget ya. pesonanya buat gue klepek klepek," celetuk Lala yang membuat Raina terdiam dan melirik Rayyan.
Ekspresi wajah Rayyan mulai tak nyaman, karena kehadiran Gilang, terlebih lagi mendengar pujian dari Lala.
"Hemm, perempuan pasti kaya gitu kalau liat orang ganteng dikit," sahut Danu yang membuat Lala mengernyitkan bibirnya.
"Dih kan emang ganteng, beruntung banget yang bisa miliki dia nanti," tambah Lala yang membuat Raina tersedak.
__ADS_1
Dan Rayyan yang rasanya tak sanggup berada ditempat ini lagi, mendengar semua pujian yang dilontarkan Lala. dengan cepat Rayyan beranjak dan meninggalkan tempat.
"Loh Ray lo mau kemana?" pekik Danu yang tak dihiraukan oleh Rayyan.
"Dia mau kemana sih?" tanyanya yang membuat Lala menggelengkan kepala.
"May, ini uangnya, semua ya."
"Oke Rain makasih."
Kini Raina pun mengikuti Rayyan, dan membuat pandangan Gilang kini tertuju padanya.
"Mereka kenapa sih? aneh banget," gumam Lala melihat kepergian Rayyan dan Raina.
Yang tampaknya juga tergesa gesa seperti seseorang yang tak sudi bertemu seseorang.
"Tau, kalau lo tanya gue, gue harus tanya siapa?" jawab Danu yang membuat Lala berekspresi kesal.
"Bang, kenapa lagi?" tanya Raina pada Rayyan yang kini duduk seorang diri ditaman sekolah.
"Engga papa," jawab Rayyan tanpa memperhatikan.
"Soal ucapan lala kalau pak Gilang ganteng? kan emang iya bang Lala ngga salah, pak Gilang kan emang ganteng," ucap Raina yang membuat Rayyan terbelalak.
"Tapi lebih gantengan abang," tambah Raina yang perlahan membuat Rayyan tersenyum.
"Terus kalau soal ucapan Lala, perempuan yang beruntung kalau bisa miliki dia, gimana?"
"Ya mungkin itu bagi dia, kan ngga bagi Raina. bagi Raina, Raina akan beruntung kalau bisa miliki abang," jawab Raina memainkan kedua alisnya dan membuat rayyan terkekeh.
"Hem. emang ya cinta itu buat seseorang jadi kaya anak kecil,"
"Kok anak kecil?"
"Iya, buktinya abang. kaya anak kecil yang bentar bentar ngambek," ucap Raina yang membuat Rayyan melebarkan mata dan tertawa.
Bahkan ia sendiri pun merasa begitu, perasaannya sensitif jika masalah soal cinta, apa lagi menyangkut Raina jika bisa tak ada yang menyenggolnya sedikit pun agar tak membuatnya cemburu.
__ADS_1
••••