Raina Dan Rayyan

Raina Dan Rayyan
Kepergian Rayyan


__ADS_3

Beberapa bulan kemudian.


"Cukup lama yah, Raina ngga berhasil buat hati Raina cinta ke pak Gilang, Raina udah berusaha buat mencintai pak Gilang, tapi nyatanya Raina ngga bisa yah, Raina ngga punya perasaan apa pun sama dia. laki laki yang Raina cinta itu cuma abang yah, ngga ada yang lain."


"Cukup Raina, jangan bicara seperti itu lagi. ayah ngga mau denger perasaan aneh kamu itu. dia itu abang kamu ngga seharusnya kamu cintai."


"Tapi bukan abang kandung kan yah, kita ngga sedarah kan? jadi mungkin itu ngga salah yah."


"Stop Rain!"


"Ayah Raina mohon, Raina ngga mau nikah sama pak Gilang, Raina ngga siap ninggalin abang yah, Raina cinta sama abang," rengek Raina yang membuat Angga berekspresi tegang.


"Yah, sudahlah, apa yang dibilang Raina itu bener mereka tidak akan berdosa dengan perasaannya masing masing karena memang mereka bukan saudara kandung. Lagi pula Raina sudah berusaha untuk menuruti kemauan ayah, tapi nyatanya dia ngga bisa kan?" sahut Wulan yang kini membela Raina.


Karena Wulan tau betapa berjuangnya Raina untuk membuat Angga tak marah.


"Jadi bunda membela dia? itu artinya bunda setuju dengan perasaan mereka yang aneh itu."


"Yah, mereka berhak bahagia, kalau ayah memaksanya untuk menikah dengan orang yang ngga dia cintai. apa Raina akan bahagia yah?"


Ditengah tengah perdebatannya tiba tiba, Rayyan yang kini melintas dengan langkah kebut.


"Abang," panggil Raina yang membuat langkah itu seketika terhenti.

__ADS_1


"Abang mau kemana?"


"Abang cape Rain. abang ngga sanggup kalau harus liat kamu dan Gilang menikah nanti."


"Jadi abang mau pergi? abang ngga cinta lagi sama Raina? abang biarin Raina nikah sama laki laki yang ngga Raina cinta? abang yakin?"


"Gimana lagi Rain? berapa lama ini kita udah berusaha tapi nyatanya akhirnya kamu dan Gilang tetap akan menikahkan setelah kelulusan? jadi buat apa lagi abang disini? abang ngga mau lebih lama lagi sakit hati disini."


"Yasudah kalau kamu mau pergi silahkan pergi jangan lagi kembali kerumah ini," sambar Angga yang membuat Raina dan Wulan terbelalak.


"Ayah ngga mau punya anak yang menentang peraturan ayah. jadi buat apa lagi kamu disini?"


"Oke, Rayyan pergi," ucap Rayyan yang lalu melangkahkan kakinya.


Ia yang kini terus melangkah pergi meninggalkan rumah. Meninggalkan sebuah kenangan bagi Raina.


"Ayah jahat, ayah ngga pernah mikirin perasaan anaknya, selalu peraturan ayah yang harus dituruti tapi ayah ngga pernah mau menuruti keinginan anaknya," ucap Raina menangis dan lalu meninggalkan tempat.


kepergian Rayyan dan Raina dari hadapannya membuat Wulan menghela nafas. tak pernah berfikir bila akhir kekeluargaannya akan seperti ini.


Begitupun Wulan yang tanpa basa basi meninggalkan Angga begitu saja, ia tau bagaimana watak Angga suaminya, si keras kepala yang tak bisa di ajak bicara.


"Abang. kenapa abang ninggalin Raina sih? 18 tahun kita hidup bersama sekarang kamu pergi gitu aja. Raina ngga mau ditinggalin abang, Raina kesepian tanpa abang dirumah ini," ucap Raina dengan suara bergetar karena menangis.

__ADS_1


Setelah semua perjuangan yang dilakukan tak menyangka jika akhirnya Rayyan akan pergi dan menyerah begitu saja.


Dan setelah kelulusan adalah hari dimana pernikahan Raina dan Gilang tiba, entah apakah pernikahan itu bisa dilanjut atau tidak? Sementara Raina yang masih terus berusaha untuk membatalkannya, hanya terhalang izin Angga yang tak bisa diganggu gugat.


Keesokan harinya.


tok tok tok. Wulan yang terus mengetuk pintu kamar Raina, tak hanya sekali tapi berulang kali.


"Rain, buka dong sayang pintunya, kamu ngga laper? makan yuk, bunda masak makanan kesukaan kamu loh. Rain sayang," ucap Wulan yang tak ada sahutan.


Didalam, Raina yang terus menangis hingga wajahnya memerah, matanya sembab karena terlalu lama menangis.


"Kenapa bun?"


Terdengar suara itu kini menghampiri Wulan, yang membuat Wulan seketika menolehkan wajahnya.


"Raina yah, ngga mau keluar dari kamar," jawab Wulan yang membuat Angga terdiam.


Sedikit ada perasaan bersalah, namun bagaimana pun ego tetaplah ego yang mampu mengalahkan berbagai jenisnya.


"Biar aja bun, nanti kalau lapar dia pasti akan keluar dari kamarnya," jawab Angga yang lalu meninggalkan tempat.


Melihat kepergian Angga membuat Wulan menggelengkan kepala, ya karena ia tah bagaimana sifat suaminya, yang selalu keras kepala dan tak pernah mau mengalah.

__ADS_1


...•••...


__ADS_2