Raina Dan Rayyan

Raina Dan Rayyan
Cincin pertunangan


__ADS_3

"Bapak suka ya sama saya?" ucap Raina yang membuat Gilang mengerutkan dahi.


"Maksud kamu?"


"Nyatanya bapak ngga nolak perjodohan itu, itu tandanya bapak suka sama saya."


"Terus, berarti kamu juga suka dong sama saya, kamu kan juga ngga nolak."


"Dih, saya udah tolak pak berulang kali, ayah aja yang keras kepala ngebet banget mau jodohin saya sama bapak," jawab Raina yang membuat Gilang terkekeh.


"Dih, kenapa ketawa? tuh kan beneran bapak suka sama saya."


"Kalau iya, emang kenapa?" tanya Gilang yang membuat Raina seketika terdiam.


Ia mencoba mencerna maksud dari ucapan Gilang barusan. belum sempat Raina menjawab, kini percakapannya terputus karena kedatangan Rayyan.


"Sayang, temenin abang ke kantin yuk," ucap Rayyan yang membuat Raina dan Gilang kini memperhatikannya.


Tak menunggu lama, dengan cepat Raina pun beranjak dan pergi bersama Rayyan menuju kantin sekolah.


"Sayang? selalu itu panggilannya, apa mereka?" gumam Gilang dengan pandangan yang terus memperhatikan kepergian Rayyan dan Raina.


••••


"Jadi Raina dan Rayyan saudara, ternyata saya salah. Tapi kenapa mereka seperti..." gumam Gilang setelah memeriksa data milik Raina dan Rayyan.


Karena rasa keingintahuannya membawa Gilang kini memasuki ruangan ini.


Tiba tiba dreet dreet terdengar ponsel Gilang berdering, dengan cepat iapun menjawabnya.


"Iya bu."


"Lang, pulang dari sekolah kamu langsung ke toko perhiasan ya, ajak Raina sekalian."


Terdengar suara wanita yang membuat Gilang terkejut.


"Bu, apa harus sekarang? dia kan masih sekolah bu, Gilang rasa ini belum saatnya."

__ADS_1


"Ngga papa lang, kan cuma sebagai pengikat saja, kalian ngga harus menikah sekarang."


"Tapi bu..."


"Udah lah Lang, pokoknya hari ini kamu harus bawa cincin itu dan besok kita datang kerumah pak Angga untuk melamar Raina, ibu tunggu ya," ucapnya seakan memaksa Gilang untuk menjawab ya.


Tut tut tut, panggilan pun terputus, menghadapi sang ibu Gilang hanya dapat menghela nafas, pasalnya ia sangat berharap jika Gilang akan menikah tahun ini, jadi kalaupun pernikahan itu belum terjadi setidaknya pertunangannya dulu.


Gilang memang laki laki yang tampan, namun dalam percintaan ia selalu sial, satu tahun yang lalu Gilang hampir menikahi seorang gadis yang notabennya adalah teman kuliahnya.


Namun ternyata dihari H, hari dimana ijab kabul akan terlaksana, tiba tiba saja gadis itu pergi entah kemana, setelah kejadian itu Gilang menjadi seperti trauma dan tak ingin mengenal wanita.


Ini saja kalau bukan orang tuanya yang memaksa Gilang tak akan pernah mau mengenal Raina. apa lagi sampai melamarnya, jujur saja Gilang belum siap, dan Raina pun mungkin begitu ditambah lagi statusnya yang masih pelajar.


"Ibu minta kita ke toko perhiasan sore ini, ibu nunggu disana," ucap Gilang setelah jam sekolah kini berakhir.


"Ke toko perhiasan, ngapain pak?"


"Ngapain lagi kalau bukan beli perhiasan? beli sayuran ya ngga ada," jawab Gilang yang membuat Raina melebarkan matanya.


"Bapak bukan mau beliin cincin saya kan? bapak ngga mau ngelamar saya kan?"


Seketika Raina pun melihat sekelilingnya untuk memastikan tak ada seorang pun yang mendengarnya.


"Bapak gila, saya ngga mau. saya masih sekolah pak kelas satu, masa iya saya udah tunangan aja."


"Mau gimana lagi Rain? toh ini juga kemauan ayah kamu."


"Ayah? wah ayah bener bener ya, katanya cuma sebatas perkenalan terus ini maksudnya apa?"


"Udah udah, ayo. ikut saya," ucap Gilang yang lalu membawa Raina melangkah.


Dari kejauhan Rayyan tampak memperhatikannya matanya melebar setelah ia tau Raina kini pergi semobil dengan Gilang.


"Loh loh loh kok mereka pergi berdua? ngga bisa dibiarin, gue harus ikutin mereka kemana," ucap Rayyan yang lalu dengan cepat berlari dan melajukan mobilnya mengikuti perjalanan Gilang dan Raina.


Entah apakah takdir tak mengijinkannya untuk mengikuti dua orang yang hendak menuju toko perhiasan itu? kini jalan tampaknya ramai sekali bahkan hampir macet, hingga Rayyan sedikit kesulitan untuk mengikuti mobil berwarna hitam didepannya itu.

__ADS_1


"Sialan kenapa rame banget hari ini?" gumam Rayyan dengan pandangan yang terus terfokus pada mobil tersebut.


Tak disangka setelah setengah perjalanan tiba tiba Rayyan kehilangan jejak Raina dan Gilang, mobilnya entah berhenti dimana.


"Loh mobilnya kok ngga ada? kemana? ahhh gue kehilangan jejak," ucap Rayyan setelah kini ia menghentikan mobilnya.


Karena tak tau harus kemana kini Rayyan pun melajukan mobilnya kembali, namun bukan untuk pulang tapi menuju kesuatu tempat yang bisa ia kunjungi saat sedang banyak masalah.


"Makin lama mereka akan semakin dekat. dan gue, apa yang bisa gue lakuin? gue ngga bisa berbuat lebih, ayah akan selalu buat gue seketika terdiam kalau liat gue berusaha deketin Raina," gumam Rayyan yang kini terduduk seorang diri disebuah taman kota.


"Tadi mereka mau kemana ya, dan kenapa Raina juga mau? apa Raina udah jatuh cinta sama Gilang? atau jangan jangan Gilang yang maksa? awas aja lo Lang, setelah ini gue bakal kasih pelajaran buat lo," tambahnya dengan wajah sadis.


Sementara Raina dan Gilang yang kini telah sampai ke toko perhiasan yang dimaksut oleh Mimi ibu Gilang.


"Bu."


"Hay, kalian udah dateng, sini sini. Raina sini sayang, sekarang kamu pilih aja mana cincin yang kamu suka," ucap Wanita berambut hitam putih itu yang membuat Raina bingung.


Ingin sekali rasanya ia menolak permintaan itu, namun ia tak enak hati untuk menyampaikannya, sementara wanita itu sudah bersemangat dan sudah berbahagia.


Dengan terpaksa kini Raina pun memperhatikan tiap cincin yang mana yang ia suka. diujung bawah terlihat sebuah cincin dengan permata putih ditengah, rasanya cincin itu cocok sekali ditangan Raina.


"Yang itu aja tante," ucap Raina seraya menunjuk cincin yang ia maksud.


"Oh iya, coba yang itu ya mba," ucap Mimi pada pelayan toko.


Setelah cincin itu diberikan, kini Raina memperhatikannya dengan seksama, tak bisa dipungkiri cincin itu benar benar cantik.


"Kita ambil yang ini ya, kamu suka kan?"


"Iya tante saya suka kok."


"Yasudah biar cincin ini ibu yang bawa pulang ya, sekarang kalian pulang aja dulu, atau mau mampir makan dulu ngga papa."


"Oh iya tante, ngga usah saya mau langsung pulang aja," ucap Raina yang lalu berpamitan dengan Mimi dan melangkah keluar toko yang diikuti oleh Gilang.


"Mau langsung pulang?"

__ADS_1


"Iya lah pak, saya malu jalan pake seragam sekolah kaya gini, mana jalannya sama bapak lagi, ngga seimbang. bapak ganteng masa jalan sama bocil kaya saya," ucap Raina yang membuat Gilang kini tersenyum, karena mendengar pujian dari bibir Raina.


••••


__ADS_2