
"pagi bunda"
"pagi sayang, ayo sarapan dulu, abang kamu kemana ?"
"abang, belum bangun ? hem mulai lagi deh kebiasaan nya, bentar deh Raina bangunin dulu"
Ucap Raina yang hendak melangkahkan kaki nya, namun tiba tiba Wulan melarang, hingga membuat langkah nya terhenti kembali
"ga usah Rain, biar bunda aja yang bangunin, kamu lanjut sarapan aja ya"
ucap Wulan yang membuat Raina perlahan terduduk kembali
"aku harus sedikit menjaga jarak antara Raina dan Rayyan, jangan sampe timbul perasaan yang semakin suka antara mereka, sebelum ayah tau soal ini lebih baik aku coba usaha dulu sendiri"
batin Wulan dengan langkah yang terus berjalan menuju ruang kamar Rayyan,
tok tok tok. Wulan pun mengetuk pintu kamar nya, beberapa kali mengetuk namun tak ada jawaban, hingga akhirnya kini Wulan perlahan membuka pintu yang ternyata tak terkunci itu, ia dapati Rayyan yang masih meringkuk didalam selimut nya, tubuh nya tampak menggigil dan wajah nya pucat pasi
"yaallah Rayyan, kamu kenapa nak ? kamu demam ?"
ucap Wulan setelah menyentuh kening Rayyan yang terasa lebih hangat. dengan cepat Wulan berlari untuk mengambil kotak p3k yang berada di lemari belakang, melihat itu membuat Raina bingung
"loh bunda kenapa bawa kotak p3k segala ? terus itu kain sama air buat apa ?"
"abang kamu demam Rain, suhu panas nya lumayan tinggi"
jawab Wulan yang membuat Raina terbelalak
"apa abang demam ?"
ucap nya yang lalu dengan cepat mengikuti langkah Wulan menuju ruang kamar Rayyan.
kini Wulan menaruh kain basah tersebut pada kening Rayyan, dan memberikan sebutir kapsul obat demam untuk nya
"Rain tolong ambil sedikit nasi ya buat abang kamu. sebelum minum obat dia harus sarapan dulu"
"iya bunda, Rain ambil dulu ya"
beberapa detik kemudian,
"ini bunda makanan nya"
"Rayyan dimakan dulu ya nak, setelah itu kamu minum obat"
ucap Wulan yang membuat Rayyan menggelengkan kepala, dengan kondisi tubuh yang masih bergetar menggigil karna rasa tubuh nya sangat dingin.
"sini biar Raina aja"
pinta Raina meraih sepiring makanan dari tangan Wulan
__ADS_1
"abang, abang harus makan, setelah itu minum obat, biar abang cepet sembuh dan bisa sekolah lagi"
bujuk Raina yang masih membuat Rayyan menggelengkan kepala
"abang ga boleh gitu dong, Raina ga semangat sekolah nih kalau abang sakit kaya gini, makan dong, biar abang cepet sembuh, abang ganteng nya Raina, abang sayang nya Raina pokok nya abang harus makan. ayo"
tambah Raina yang kali ini membuat Wulan terdiam memperhatikan nya, namun bujukan Raina kali ini tidak sia sia, membuat Rayyan perlahan menegakan tubuh nya dan mengiyakan perintah Raina untuk makan
"nah gitu dong, yaudah sini biar Raina suapi ya, ayo a'"
ucap Raina seraya mengulurkan sesuap nasi ke hadapan Rayyan, dengan bahagia Rayyan kini menerima nya dengan bibir yang terus tersenyum karna memandang indah nya wajah dihadapan nya itu, berulang kali hal yang sama dilakukan oleh Raina, namun tiba tiba...
"Rain, sini biar bunda aja yang suapi abang kamu, kamu kan harus berangkat sekolah"
ucap Wulan yang kembali meminta sebuah piring digenggaman Raina
"tapi bunda, Raina ga akan fokus belajar kalau abang sakit kaya gini"
"Rain, jangan gitu dong, biar abang kamu istirahat dirumah dan kamu belajar disekolah, kalau kalian berdua ga sekolah gimana sama pelajaran hari ini ? sekolah ya, kalau ada tugas abang kamu kasih tau"
ucap Wulan yang membuat Raina akhirnya mengangguk lesu
"yaudah deh Raina sekolah, abang poko nya Raina ga mau tau, setelah Raina pulang nanti abang udah harus sembuh ya"
ucap Raina yang membuat Rayyan tersenyum dan mengangguk
"yaudah Raina berangkat sekolah dulu ya, bunda"
"abang, Rain sekolah dulu ya, dadah abang ganteng"
"dah sayang"
jawab Rayyan tersenyum manis. melihat dan mendengar setiap ucapan dan panggilan Raina dan Rayyan membuat Wulan kini kembali berfikir
"perhatian nya berlebihan, kaya bukan Raina dan Rayyan yang dulu, kali ini mereka berbeda"
batin Wulan yang lalu kembali meneruskan tugas Raina untuk membantu Rayyan makan.
sesampai nya disekolah, Raina yang kini berjalan seorang diri menuju ruang kelas nya
"loh, Rain Rayyan mana ? tumben ga berangkat bareng"
tanya Danu setelah kini Raina terduduk ditempat duduk nya
"abang sakit Nu, demam"
jawab Raina yang membuat Danu kini tertawa
"demam ? ternyata bisa sakit juga toh dia"
__ADS_1
"ih Danu, gitu gitu dia juga manusia kali yang juga bisa sakit"
sambar Lala pada Danu yang masih terus tertawa, mendengar itu membuat Dewi kini terdiam
"apa Rayyan sakit ?"
batin Dewi yang tampak sedang merencanakan sesuatu, tak lama kemudian, kini Dewi keluar kelas dengan menggendong tas punggung nya, entah ia hendak kemana ? kepergian nya tak sebentar namun hingga jam sekolah berakhir.
•••••
setelah jam istirahat tiba. Raina, Lala dan Danu seperti biasa berkumpul dikantin sekolah.
"Maya, biasa ya, 3 aja"
pekik Danu yang selalu semangat saat hendak bertemu Maya, tak lama kemudian, kini Maya datang membawa pesanan nya, wajah nya tampak mencari seseorang
"loh, mas Rayyan kemana ? tumben ga ikut makan"
tanya Maya setelah ia tak melihat Rayyan disekitar nya
"abang sakit May, demam. jadi dia ga masuk sekolah"
jawab Raina yang membuat Maya melebarkan mata dan terdiam
"aduh May, ga usah nyari yang ga ada deh, ada abang Danu disini kanapa malah nyari Rayyan ?"
sahut Danu yang membuat Raina dan Lala terkekeh
"ga usah dipaksa kali Nu, Maya kan mau nya nyari Rayyan bukan cari lo, dih ngapain juga nyariin lo"
sambar Lala yang lalu memasukan sesuap makanan dalam mulut nya
"yah, ga asik hari ini, gue ga bisa liat wajah ganteng mas Rayyan, semoga lekas sembuh ya mas biar bisa masuk sekolah lagi, dan gue bisa liat wajah ganteng lo lagi"
batin Maya seraya berjalan kembali ke dapur kantin nya.
"hem Nu gimana kalau sepulang sekolah kita langsung ke rumah Raina ? kita jenguk Rayyan"
"boleh tu La, oke nanti kita langsung ke sana aja"
mendengar percakapan antara Lala dan Danu membuat Maya kini bergegas dan kembali mendekat
"hem.. maaf apa gue boleh ikut ?"
ucap Maya yang membuat Raina, Lala dan Danu kini saling pandang
"gue cuma pengen ikut jenguk mas Rayyan, tapi kalau ga boleh juga ga papa kok, ga usah"
"oh boleh kok May, kamu nanti bareng kita aja, ga papa"
__ADS_1
sambar Raina yang membuat Maya kini tersenyum. Raina memang sosok gadis yang sangat baik, ia tak memandang untuk berteman, ia menganggap semua nya sama termasuk Maya.
••••••