Raina Dan Rayyan

Raina Dan Rayyan
Pertunangan terjadi


__ADS_3

"Yah, ayah harus tau, belum apa apa aja Gilang udah aneh aneh sama Raina, masa dia bawa Raina main sebelum Raina kembali kerumah, laki laki macem apa begitu?" Adu Rayyan pada Angga sepulang sekolah.


Ia sengaja mengadu agar Gilang terlihat buruk dimata Angga, namun ternyata jawaban Angga tak seperti yang ia bayangkan.


"Mereka ngga main kok," ucap Angga yang membuat Rayyan mengerutkan dahi.


"Ngga main? Rayyan liat sendiri yah mereka pergi berdua."


"Iya tapi mereka ngga main, mereka ke toko perhiasan beli cincin buat lamaran mereka besok," jawab Angga yang membuat Rayyan terbelalak.


"Apa? lamaran? ayah ngga lagi bercanda kan yah? Raina kan masih sekolah yah, masa udah mau lamaran aja?"


"Ngga papa lah Ray, kan cuma lamaran bukan pernikahan, lagi pula pihak sekolah kan ngga ada yang tau soal pertunangan ini jadi semua akan baik baik aja."


Mendengar ucapan Angga, Rayyan benar benar tak menyangka, jika pertunangan akan tiba secepat ini.


••••


"Jadi bener Rain kalau besok pak Gilang mau ngelamar kamu?" tanya Rayyan pada Raina saat duduk seorang diri.


Tak menjawab pertanyaan itu Raina hanya mengangguk tanpa memperhatikan wajah laki laki yang kini berekspresi bingung.


"Terus kamu diem aja Rain? kamu mau dilamar laki laki itu."


"Mau gimana lagi bang, Raina ngga bisa berbuat apa apa, abang kan tau gimana ayah."


"Ya tapi abang gimana Rain? apa perasaan kamu ke abang udah selesai?" ucap Rayyan yang membuat Raina kini memperhatikannya dengan tajam.


"Ngga akan pernah berubah bang, Raina tetep sayang sama abang. Tapi, Raina takut bang kalau harus menolak ayah."

__ADS_1


"Sayang, abang ngga mau ya kamu lamaran sama Gilang. Abang kan udah janji abang bakal nunggu kamu sampe nanti saatnya, apa kamu ragu sama abang?"


"Bukan gitu bang, Raina cuma..."


"Atau kalau ngga kita pergi aja yuk dari rumah ini, biar kamu ngga jadi tunangan," ucap Rayyan yang membuat Raina melebarkan mata.


"Abang gila, ngga mungkin lah bang kalau bukan karena ayah kita ngga mungkin bisa sekolah, ngga mungkin bisa makan dan sekarang malah abang ngajak pergi, engga Raina ngga mau, Raina ngga mau mati konyol diluar sana karena kelaparan."


"Itu tandanya kamu terima pertunangan itu Rain, abang ngga nyangka ternyata selama ini perasaan abang bertepuk sebelah tangan. yaudah kalau emang itu yang kamu mau, abang ngga akan maksa kamu buat nunggu abang lagi, terserah kalau pun kamu mau tunangan sama Gilang. yang jelas abang nyesel pernah sayang sama kamu Rain," ujar Rayyan yang membuat Raina terbelalak.


"Loh abang, kok gitu sih? bang dengerin Raina dulu bang. abang," ucap Raina yang terus mengejar langkah kebut Rayyan meninggalkan tempat. Namun, diiiaaaar pintu kamar pun tertutup rapat.


"Aduh, kenapa abang jadi marah sih? maksud gue kan ngga gitu, gue cuma ngga mau jadi sasaran kemarahan ayah karena gue tolak pertunangan itu, gue ngga berani ambil resiko, tapi sekarang malam abang ngambek," gumam Raina yang perlahan meninggalkan tempat.


••••


Ekspresi keduanya tanpa senyuman, tampaknya antara Raina dan Gilang pun tak ada kesepakatan, hanya karena kedua orang tuanya saja yang kekeh ingin menjodohkan.


Namun diacara kali ini, Rayyan tak tampak, ya ia tak mungkin datang hanya untuk menyaksikan orang tersayangnya bertunangan dengan laki laki lain, dan karena hal ini juga yang membuat hati Raina saat ini sedikit gelisah, karena batang hidung Rayyan yang sedari tadi tak terlihat.


"Abang kemana sih? kenapa dari tadi dia ngga keliatan?" batin Raina dengan terus memandang ke sekitarnya mencoba mencari keberadaan Rayyan, namun hasilnya nihil Rayyan tak nampak di pandangannya.


"Apa abang bener bener marah sama gue?" tambahnya yang kemudian menunduk.


"Sekarang gue harus gimana? diluar ada Gilang yang lagi ngelamar Raina, terus apa gue harus relain Raina buat dia? iya emang sih cuma pertunangan bukan pernikahan, tapi bukankah dari pertunangan itu mereka pasti akan menikah?" gumam Rayyan didalam ruang kamarnya.


Pikirannya saat ini benar benar terpenuhi dengan acara yang terlaksana dirumahnya hari ini. Entah apa yang harus ia lakukan saat ini? apa kah ia harus terdiam dan menerima melihat Raina bertunangan dengan laki laki lain.


Apakah hatinya akan baik baik saja, jika sebuah keadaan mengharuskan mereka untuk saling melupakan? lantas dengan cara bagaimana lagi yang harua Rayyan lakukan untuk kembalinya sebuah persaudaraan mesra dengan sebuah perasaan saling sayang?

__ADS_1


Sementara seseorang kini telah mengisi hatinya, meski entah perasaan yang sebenarnya bagaimana?


"Saya pulang dulu makasih untuk hari ini," ucap Gilang yang membuat Raina terkekeh.


"Bapak ngga usah basa basi deh, saya tau kok bapak juga terpaksa kan melamar saya? kalau bukan karena orang tua kita, bapak juga ngga mungkin melamar saya."


"Kenapa kamu bicara seperti itu?"


"Keliatan kali pak, dari wajah bapak, yang tanpa senyuman, apa lagi namanya kalau bukan karena terpaksa? Jangan mentang mentang saya murid bapak deh, bapak jadi bisa mengelabuhi saya," jawab Raina yang kini membuat Gilang sedikit menjauh.


"Bukan sepenuhnya karena terpaksa atas perjodohan itu, hanya saja saya masih sedikit trauma dengan masa lalu saya, dan saya takut kamu mengulangi hal yang sama dengan mantan saya dulu," ucap Gilang yang membuat Raina tertegun.


Perlahan Gilang pun menceritakan atas semua yang terjadi padanya satu tahun yang lalu. saat dimana ia hendak menikahi seorang wanita namun malah ia ditinggalkan. Mendengar cerita itu membuat Raina terdiam, dan terenyuh.


Ternyata ada sebuah kejadian yang membuat Gilang hampir tak sanggup bangkit.


"Terus kalau ternyata saya melakukan hal yang sama kaya mantan bapak, gimana?"


Terlontar sebuah pertanyaan yang membuat Gilang kini memperhatikan Raina dengan tajam.


"Saya tidak akan membiarkan itu terjadi, kejadian satu tahun yang lalu sudah cukup memberi saya pelajaran, dan saya akan mempertahankan kamu semampu saya, karena saya mencintai kamu," jawab Gilang yang membuat Raina melebarkan mata.


"Dan cepat atau lambat saya akan membuat kamu jatuh cinta sama saya," tambah Gilang yang membuat Raina bergidik ngeri.


Tak menjawab apapun atas ucapan itu Raina yang kini dengan cepat meninggalkan tempat, dan membuat Gilang tersenyum lalu menggelengkan kepala.


"Apa? jadi pak Gilang beneran suka sama gue? aduhh kenapa jadi gini sih? gue kira dia juga terpaksa sama pertunangan ini tapi ternyata. Aduuh terus gimana dong sama abang? jujur gue ngga tega nyakitin abang kaya gini."


••••

__ADS_1


__ADS_2