
drrrrtt drrrrtt... terdengar suara ponsel Raina bergetar, sebuah nomor baru yang masuk dalam panggilan nya
"ini no siapa ?"
gumam Raina kala memperhatikan layar ponsel nya, perlahan ia pun menjawab panggilan itu
"hallo"
"hay Raina.."
sapa nya dengan suara tak asing, suara itu rasa nya pernah Raina dengar
"kak Dion ya ?"
"iya ini gue, sorry ya tadi gue minta nomor lo ke Dewi"
"oh iya kak ga papa kok, ada apa ya ?"
"lo sibuk ga Rain ? jalan yuk"
ajak Dion yang membuat Raina terdiam, sebenar nya ingin sekali menerima ajakan itu, hati nya bahagia kala mendengar Dion mengajak nya jalan hari ini, namun saat kembali teringat akan Rayyan membuat ekspresi Raina seketika berubah
"maaf kak, kaya nya gue ga bisa. next time ya, soal nya gue lagi sibuk hari ini"
jawab Raina beralasan, ia sengaja mengorbankan harapan nya demi Rayyan, padahal jalan bersama Dion adalah salah satu harapan terindah nya, namun kini ia harus melupakan harapan itu hanya untuk Rayyan yang masih belum bisa memaafkan nya.
"ga bisa ya ? hemm yaudah deh next time. sorry ya kalau gue ganggu lo"
"ga papa kok kak"
tut tut tut panggilan nya pun terputus
"sebener nya gue pengen banget terima ajakan lo kak, tapi abang gimana ? Sekarang aja dia belum bisa maafin gue, dan kalau sekarang gue jalan sama lo, bisa bisa abang ga mau kenal gue lagi"
gumam Raina yang terduduk di tepi tempat tidur nya, kini perlahan Raina beranjak, ia melangkah keluar dan kembali mengetuk pintu kamar Rayyan, berharap kali ini ia mau membuka pintu nya
"abang, bang Rayyan, keluar dong Raina mau bicara, sebentar aja. bang Raina kangen tau, dari kemarin abang diemin Raina. bang please ya bukain pintu nya, Raina mau masuk. abang"
ucap Raina yang tetap tak mendapat jawaban, dan pintu itu pun masih tetap terkunci, pemandangan itu membuat Raina menghela nafas, dan dengan lesu ia kembali melangkah berjalan menuju taman halaman belakang rumah nya. ia terdiam tanpa kata, kembali memikirkan akan Rayyan yang sampai saat ini tak mau berbicara pada nya
"gue harus gimana ya ? biar abang mau ngomong lagi sama gue"
__ADS_1
ucap Raina yang terus berfikir, berbaikan dengan Rayyan adalah harapan besar nya, meski hanya sehari semalam ia tak bertemu dengan Rayyan, karna Rayyan yang terus mengurung diri didalam kamar nya, namun rasa nya seperti setahun, tak ada lagi keseruan yang dapat Raina rasa jika tak bersama Rayyan. sementara Rayyan yang kini melintas, seketika langkah nya terhenti setelah melihat Raina yang duduk seorang diri
"kasihan juga Raina, dari kemarin ketuk ketuk pintu kamar gue terus, tapi ga gue gubris"
ucap Rayyan dengan pandangan yang terus tertuju pada gadis mungil yang terduduk diantara bunga bunga indah milik bunda nya
"abang, gue kangen banget sama lo, kenapa lo harus marah sama gue coba ? apa se fatal itu kesalahan gue ? asal lo tau bang, hari ini gue rela tolak ajakan kak Dion buat jalan, semua demi lo bang, gue ga mau lo tambah marah. biar pun lo nyebelin tapi gue sayang tau ga, gue sayang banget sama lo, separuh raga gue seketika hilang saat lo marah sama gue kaya ini"
ucap Raina seorang diri, pandangan nya terus tertuju pada sebuah bunga mawar merah milik Wulan yang tumbuh subur ditaman rumah nya, sedangkan Rayyan yang kini tampak sedikit tersenyum setelah mendengar ucapan yang terlontar dari bibir adik perempuan nya itu
"asal lo tau bang, gue ga pernah mau lo marah sama gue kaya gini, gue sedih bang, gue sedih, lo tau ga sih ? sepi tau kalau lo diem terus, dasar ya abang yang ga pernah mikirin perasaan adik nya, ga pernah mikirin kalau lo udah buat gue galau. abaaaaaang"
tambah Raina yang membuat Rayyan tambah tersenyum, kini langkah nya mendekat, namun kehadiran nya tak terlihat dimata Raina. triakan Raina yang menyebut nama nya membuat Rayyan kini menjawab
"iya abang disini"
ucap Rayyan yang membuat Raina melebarkan mata, dan seketika menoleh pada sumber suara, ia terkejut lantaran ia dapati Rayyan yang telah berdiri dibelakang tubuh nya
"abang, abang ? serius ini abang kan ? Raina ga salah liat kan ? Abang jawab bang, ini abang kan ?"
ucap Raina yang tak percaya bahwa kini Rayyan benar benar dihadapan nya
jawab Rayyan yang membuat Raina kini mendekat dan seketika memeluk tubuh nya. pelukan dari Raina ini rasa nya nyaman sekali, sayang untuk dilepas, rasa nya tak ingin waktu segera berlalu, agar ia dapat merasakan pelukan itu lebih lama. cukup lama dapat dekapan nya sebelum akhir nya Raina melepas pelukan nya dan menepuk dada Rayyan
"Raina kangen tau sama abang, Raina sedih abang diemin Raina kaya gitu, Raina galau tau ga ? ga ada yang ajak Raina main, ga ada yang jahil in Raina, ga ada yang bikin Raina triak, ga ada yang panggil sayang ke Raina, semua gara gara abang marah"
"ohya ? abang kira kamu ga akan sedih, kan udah ada ketos tengil itu yang bisa buat kamu bahagia, kenapa harus sedih ?"
"abang, beda lah. kehadiran abang dalam hidup Raina ga ada yang bisa gantiin, termasuk kak Dion, tetep abang yang no satu di hati Raina"
jawab Raina yang membuat Rayyan tersenyum
"abang minta maaf ya Rain, soal nya abang kesel banget sama kamu yang suka ngeyel. tapi abang janji abang ga akan marah lagi ya sama kamu, soal nya abang juga ga bisa kalau terlalu lama marah sama kamu"
"makasih ya abang Rayyan yang paling ganteng, Raina juga minta maaf udah buat abang kecewa"
ucap Raina yang membuat Rayyan tersenyum dan mengangguk.
"hemmm, tadi abang denger separuh jiwa nya ada yang hilang nih, beneran ? hemm cuma modus aja"
"ihhh serius bang, semua yang Raina ucapin tadi itu dari lubuk hati Raina yang paling dalam, itu kata hati Raina semua tau"
__ADS_1
jawab Raina yang membuat Rayyan menyebikkan bibir nya
"oh, abang kira cuma modus. eh eh Rain itu apa ?"
ucap Rayyan yang kembali iseng, mendengar itu membuat Raina tak berani menolehkan wajah nya
"ada apa bang ? ada cicak ya atau apa ?"
"iya Rain ada cicak. awas Rain cicak"
ucap Rayyan yang malah berlari masuk rumah
"aaaaaaa takut mana cicak nya bang ? abang"
wajah nya terkejut saat melihat Rayyan kini telah berlari
"abaaaaaaaang, mulai ya. awas aja Raina kejar"
pekik Raina yang lalu dengan cepat berlari mengikuti langkah Rayyan, kini semua sudah kembali keadaan rumah yang ramai pun telah kembali setelah Raina dan Rayyan kini berbaikan
"astafirullah alazim"
ucap Wulan kala ia dapati Rayyan dan Raina yang bertriak triak dan terus berlari memutari ruangan tv nya, Raina yang kini ingin membalas perbuatan Rayyan karna telah membohongi nya akan cicak.
"Rayyan, Raina udah udah stop nak, kok lari larian di dalam rumah ?"
ucap Wulan yang membuat Raina dan Rayyan seketika berhenti, kini ia berdiri sejajar dengan tangan yang saling terpaut
"jadi udah pada baikan ? maka nya rumah jadi rame lagi kaya gini ? perasaan dari kemarin ga ada suara kaya gini"
ucap Wulan yang membuat Raina dan Rayyan saling pandang dan kemudian tersenyum
"Rayyan, Raina. jangan lagi kalian ulangi kejadian kemarin. kalian itu ga boleh marahan, ga boleh diem diaman, kalian ini saudara harus saling menjaga bukan malah saling marah dan saling diam, bunda seneng karna hari ini kalian udah kembali lagi, ya meski pun suasana rumah harus jadi pasar lagi, tapi bunda bersyukur akhir nya Rayyan dan Raina baikan lagi, inget ya nak jangan di ulangi"
"iya bunda, maafin Rayyan"
"iya ga papa sayang, yaudah bunda ke dapur lagi ya, jangan lari larian jatuh loh"
ucap Wulan yang lalu kembali berjalan menuju dapur, melihat kepergian Wulan membuat Raina dan Rayyan seketika tertawa dan tanpa berfikir panjang ia kembali melanjutkan keseruan nya.
••••••
__ADS_1